Hallo Nana!

Hallo Nana!
Ribut Terus Sampai Kiamat


__ADS_3

Keesokan paginya, Nana sayup-sayup membuka matanya saat suara kokokan ayam menyeru dari dalam ponselnya begitu nyaring. Ditatapnya layar persegi panjang tersebut yang menunjukkan pukul 5 pagi. Lalu dengan gerakan cepat tangannya langsung menggeser tombol merah agar suara tersebut tidak aktif lagi. Dengan begitu dia bisa melanjutkan aktivitas tidurnya yang terpenggal beberapa menit.


Berbeda dengan Nana, Kevin justru sudah menunaikan aktivitas paginya yaitu mandi. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, Kevin mengomentari Nana yang sedang tertidur.


"Ck! Katanya anak gahul ... anak gahul kok bunyi alarmnya ayam berkokok kaya alarm hape jadul aja. Norak!" Kevin berkacak pinggang sambil terus mengomeli Nana yang bahkan tak terganggu sedikitpun dari tidurnya. "Benar-benar mirip singa betina! Jam segini masih aja tidur! Aku heran kenapa anak orang kaya pada doyan banget tidur sih? Udah siang juga, dasar tukang tidur!."


Tiba-tiba Nana merubah posisi tidurnya menghadap ke arah Kevin yang tengah berdiri. Entah ada sihir dari mana Kevin terpaku seketika. Mata Kevin malah menatap lurus ke seluruh permukaan wajah Nana. Bola matanya seolah tersedot oleh wajah damai Nana hingga tak bisa berpaling. Bahkan omelannya berganti dengan gumaman pelan.


"Kalau dilihat-lihat singa betina ini cantik juga kalau sedang terlelap tidur begini. Meskipun dia memiliki tubuh serta wajah yang bulat tapi aku tidak menampik kalau dia memiliki daya tarik sendiri."


Kevin terus menatap dalam-dalam ke arah Nana yang masih setia menutup matanya. Semakin dalam, semakin dalam, dan semakin dalam Kevin memandangi wajah tertidur Nana yang damai seperti bayi. Hingga 15 detik berlalu, Kevin menyadari kalau aksinya itu salah. Kemudian dia langsung menepis pikirannya sesegara mungkin.


"Aihh kenapa aku melakukan ini sih? Menjijikan! Berpikirlah realistis Kevin. Singa betina ini bukan tipemu, ngapain kamu mencuri-curi pandang ke si singa betina yang tengah tidur? Bodoh! Bodoh! Jangan sampai terbawa perasaan Vin. Buang jauh-jauh perbucinan ini. Ingat Vin, dia itu adalah sumber uangmu bukan benar-benar istrimu. Bersikaplah profesional!"


Tidak mau perasaannya semakin salah kaprah, akhirnya Kevin merutuki dan mengomeli dirinya sendiri sampai puas. Bukankah dia berulang-ulang kali mengatakan kalau dia tidak akan tertarik sama sekali dengan Nana? Lalu kenapa dia jadi terbawa perasaan sekarang?


"Dan kenapa juga jantungku berdegup begitu kencang? Argggh! Aku semakin tidak waras kalau berdekatan dengannya," erangnya frustrasi. Ia lantas semakin mempercepat gerakkan mengeringkan rambutnya serta merta untuk menghilangkan kekeliruan yang hinggap di kepalanya tiba-tiba.


"Lebih baik aku membuat kopi biar pikiran aku relax dan membuang jauh-jauh perasaan konyolku ini."


Kevin pun berinisiatif bergegas ke dapur untuk membuat kopi agar pikiran kotornya segera menghilang. Mungkin dengan satu tegukan kopi serta menghirup aroma segar kopi espresso akan membuat otaknya bekerja normal lagi seperti biasanya.


Setelah sampai di dapur, Kevin pun sibuk mencari-cari toples kopi di lemari yang tergantung manis di dinding dapur apartemen Nana. Tapi entah kenapa bayangan wajah damai Nana selalu terbesit di otaknya, sehingga dia jadi kesal sendiri.


"Kopinya di mana sih? Apa si singa betina itu tidak menyediakan kopi?" tanya Kevin sambil terus mencari-cari keberadaan toples kopi dengan keadaan marah-marah.


Cukup lama toples kopi itu tak Kevin temukan, dan hal itu tentu saja langsung mengundang decak omelan dari Kevin lagi dan lagi. Entahlah, kenapa Kevin melakukan hal itu, padahal jelas-jelas Kevin tak perlu se-marah itu hanya karena tak menemukan kopi.


"Aish! Si singa betina pasti sengaja nyembunyiin toples kopinya di tempat tertentu biar aku gak bisa menemukannya. Dasar pelit!" Kevin berkacak pinggang dengan begitu sebalnya karena tak mendapatkan apa yang dia cari.


Lelaki itu sepertinya tak serta merta mengomel karena tak ada kopi, tapi karena bayangan Nana yang masih saja terngiang-ngiang di kepalanya, hingga membuatnya jadi naik pitam.


"Awas aja kalau si singa betina itu bangun. Akan aku pastikan dia tak akan kuampuni. Dasar pelit!"


Tiba-tiba suara parau khas orang baru bangun tidur menyela Kevin yang sedang uring-uringan tanpa sebab.


"Siapa yang pelit?"


Sontak saja Kevin berbalik dan menghentikan aktivitasnya. Matanya melebar sempurna saat Nana sudah bersender dengan santai di mulut pintu dapur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Yak! Singa betina, apa kamu sengaja mengagetkan aku hah?!" sewot Kevin.


Nana menguap sebelum menanggapi kesewotan Kevin yang tiada tara.


"Siapa yang pelit?" ulang Nana tanpa mempedulikan kalimat Kevin sebelumnya.


"Tentu saja dirimu wahai singa betina! Dimana kamu sembunyikan toples kopinya? Kamu pasti sengaja menyembunyikannya dariku kan karena kamu tahu aku akan tinggal di sini?"


"Ish ... mana sempat aku menyembunyikan toples kopi sementara seminggu kemarin pikiranku semrawut dihadapkan pernikahan dadakan kita. Jangan su'udzon terus jadi orang!"


"Lalu di mana toplesnya kalau gitu?" tekan Kevin menggunakan intonasi tinggi.

__ADS_1


Nana mengedikkan bahunya pertanda tak tahu. Kemudian dia mempersempit jarak dengan Kevin yang kini berdiri di dekat meja kompor. Gadis itu berinisiatif membuat sarapan untuk dirinya.


Kevin berang. Tapi dia tak patah arang sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.


"Kamu mau kemana?"


Nana menatap tubuh tegap Kevin yang kini meregangkan tangannya untuk memblokade langkah Nana.


"Kamu tidak boleh mendekat ke dapur ini. Aku tidak akan mengizinkan kamu mendekat sebelum kamu berikan kopi padaku," cegah Kevin.


"Yak! Muka tembok! Ini kan dapurku, kenapa kamu melarang aku sih?" semprot Nana yang kebetulan nyawanya sudah terkumpul seluruhnya.


Gadis itu pun langsung menepis kasar tangan Kevin yang mencoba menghalangi jalan Nana seenak jidatnya. "Minggir kamu!"


"Aku tidak mau minggir."


"Aku mau buat teh, jadi menyingkirlah dari jalanku dasar muka tembok!"


"Aku tidak mau. Kalau aku tidak bisa minum kopi maka kamu juga tidak boleh meminum teh," kata Kevin sembari memasang tampang pongah nan tengil.


Nana terperangah tak percaya. Bisa-bisanya Kevin mensabotase lagi miliknya setelah semalam Nana harus merelakan kasurnya dikuasai lelaki itu.


Tak mau lagi haknya diambil begitu saja, Nana langsung mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang dapat membuat Kevin menyingkir dari hadapannya.


Dan Dewi fortuna sedang berpihak pada Nana, gadis itu menemukan sebuah benda yang bisa dia jadikan senjatanya agar Kevin may menyingkir dan tak menghalangi jalannya. Tak mau membuang-buang waktu, Nana segera mengambil panci yang kebetulan tergantung di salah satu rak dekat dirinya berdiri dengan gerakan cepat.


Grep!


"Hey mau kamu apakan panci itu?" Kevin mendadak panik seketika.


"Hey! Jangan bertindak anarkis!" Kevin memperingatkan, tapi Nana acuh. Nana tetap mendekati Kevin yang sudah kepalang tersudut.


"Kalau aku gunain panci ini buat mementung kepala seseorang kayanya sih lumayan bisa bikin orang pingsan seketika," ancam Nana sembari tetap memasang ekspresi tengil.


"Jangan macam-macam kamu!" cegah Kevin masih dengan raut panik luar biasa. "Kamu akan dikenakan pasal tentang KDRT karena berani-beraninya mau menganiaya orang baik berhati mulia selembut kapas seperti diriku."


Nana menaikkan ujung bibir sebelah kirinya. Seluruh organnya seolah menolak dengan keras apa yang baru diucapkan Kevin tadi.


"Hoeek! Selembut kapas matamu soek!" geram Nana. "Tingkat pedemu semakin tak bisa kutolerir. Lebih baik rasakan ini. Hiyaaaaaaa ...."


Nana melayangkan jurus pancinya. Kevin langsung berusaha mengahalau gerakkan dan melindungi kepalanya agar tak terkena hantaman panci tersebut. Sebisa mungkin dia harus membuat pertahanan kuat sekaligus perlawanan dari aksi Nana yang makin brutal dan menjadi-jadi.


Prang!


Trang!


Buk!


Buk!


Bam!

__ADS_1


Suara panci yang mengenai tubuh Kevin sudah tak terdengar beraturan bunyinya, karena Nana terus menghujani Kevin pukulan-pukulan tanpa ampun.


"Aw ... aw ... aw... sakit Nana gendut! Hentikan singa betina sialan! Kamu mau buat aku babak belur hah? Aw ... aw ... sakit. Aw ...," berontak Kevin.


"Rasakan ini bodoh! Ini akibatnya selalu mensabotase milikku."


"Yak! Wanita tua! Singa betina! Hentikan yak! Sialan."


"Tidak akan kuhentikan sebelum aku puas membuatmu sadar!"


Nana acuh tak acuh. Menurutnya, jika Kevin tak mau diajak berkompromi baik-baik, maka dengan senang hati Nana akan bertindak hal-hal mengerikan seperti sekarang.


Suara gaduh yang dihasilkan peperangan antara sepasang pengantin baru itu, ternyata mampu membuat Tania yang kebetulan tidur di kamar sebelah langsung membuka matanya secara terkejut.


"Suara apaan tuh? Apa Nana dan Kevin sudah kembali ke sini? Kalau memang ya ... lantas kenapa ada bunyi-bunyi aneh seperti bunyi besi-besian? Apa jangan-jangan mereka saling baku hantam pakai benda tajam?" Tania yang belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi awalnya hanya menerka-nerka dengan ekspresi biasa, tapi dua detik berikutnya mulut serta matanya terbuka lebar secara bersamaan. "APAAAA? BAKU HANTAM? ASTAGA NANA!"


Tania langsung beringsut sesegera mungkin. Pikirannya kalut setelah mendengar kata 'baku hantam' yang keluar dari mulutnya sendiri.


Dengan ritme yang seribu kali lipat lebih cepat dari biasanya. Tania langsung menyambar sandal tidurnya dan bergegas ke arah dapur dimana tempat suara-suara gaduh itu tercipta.


"Aku harus segera selamatkan Nana. Si pria matre itu pasti sedang menganiaya Nana. Tidak akan aku biarkan dia menyakiti temanku!" geram Tania.


Langkah Tania segera dipercepat seiring dengan perasaan khawatirnya yang membabi buta.


Semakin cepat.


Semakin cepat.


Semakin cepat.


"Hentiikaaaaaaaaan! JANGAN SAKITI SAHABATKU DASAR PRIA MATREEEE!" jerit Tania tanpa melihat terlebih dahulu kejadian sebenarnya. Dia sengaja menutup matanya karena tidak tega kalau melihat Nana babak belur seperti dugaannya. "NANA WANITA YANG LEMAH PLEASE JANGAN SAKITI DIA ... AKU AKAN MELAPORKAN KAMU KE POLISI KALAU BERANI-BERANINYA MEMBUAT NANA TERLUKA SECUIL KUKU PUN!"


Refleks, Nana langsung memutar tubuhnya menghadap Tania yang berdiri di ambang pintu. Nana mengerutkan dahinya membentuk tiga lipatan, sementara tangannya yang memegang panci masih tergantung di udara. Nana mematung tanpa berkata-kata.


"PLEASE JANGAN SAKITI NANA, KALAU KAMU MAU BALAS DENDAM MENDING PUKUL AKU AJA. HIKS ... HIKS ...," raung Tania diiringi buliran air mata yang terjatuh dengan deras. "NANA ANAK BAIK, JANGAN SAKITI DIA MESKIPUN KAMU BENCI DIA. Hiks ... Hiks ...."


"Hey Tania bodoh! Buka matamu! Baik darimana teman kamu yang bernama Nana ini? Mana ada anak baik berani memukuli suaminya pakai panci?" Kevin menyela.


Sayup-sayup mendengar Kevin menyela, dengan perasaan was-was Tania membuka matanya sebelah, sebelum akhirnya membuka semua. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Kevin lah yang tengah teraniaya bukan Nana.


"EH? Nana! Apa yang kamu lakukan pada suami kamu itu?" Tania menatap peristiwa di depannya itu dengan tatapan keheranan.


"Memberikan si muka tembok ini pelajaran!" dengus Nana sembari bersiap melayangkan jurusnya lagi, namun segera di sergah oleh Kevin.


"YAK! APA KAMU TIDAK PUAS MEMUKULI SUAMI KAMU INI HAH?" omel Kevin. Sejurus kemudian, dia mengomeli Tania karena telah menuduhnya tadi. "KAMU JUGA TANIA! KENAPA KAMU MEMAKI AKU TADI? AKU YANG TERLUKA KENAPA KAMU MALAH MEMBELA SI SINGA BETINA INI HAH?"


Tania menundukkan kepalanya. Ia malu sejadi-jadinya karena sudah salah tuduh. Dia pikir Nana yang tengah dipukuli oleh Kevin seperti tokoh-tokoh dalam dunia novel, karena biasanya wanita selalu ditindas, nyatanya Nana bukan wanita lemah seperti itu. Justru Nana lah yang berperan menganiaya Kevin, untung tidak sampai biru-biru.


"Kalian berdua sama-sama manusia menyebalkan!" gerutu Kevin sambil berlalu dari Nana dan Tania.


Setelah kepergian Kevin, Tania langsung memusatkan fokusnya pada Nana yang berdiri dengan senyum kemenangan.

__ADS_1


"Ribut terus sampai kiamat, bentar lagi juga jadi bucin kayanya," gumam Tania sembari menepuk jidatnya dengan kasar tanpa sepengetahuan Nana maupun Kevin.


Bersambung.


__ADS_2