
Sembari mengutip satu persatu siput yang berserakan di mana-mana, Nana membuka obrolan dengan Kevin yang juga tengah serius dengan siputnya.
"Hey Muka Tembok, memangnya kamu dari mana sih? Kenapa kamu tadi minta turun di tengah jalan?"
"Aku tadi harus bertemu seseorang," jawab Kevin seadanya. Ia tak beralih dari aktivitasnya. Tangan-tangannya terlalu sibuk menangkap siput yang jumlahnya lumayan banyak itu.
"Apa orang tersebut ada kaitannya sama bapak-bapak yang negur kamu pas di restoran Oma?" tanya Nana menyelidik. Ia masih merasa janggal dengan Paijo yang diklaim Kevin adalah orang asing yang tak sengaja menyenggol Kevin.
Kevin memutar kepalanya menghadap Nana, kedua alisnya bertaut heran. "Kenapa kamu nanya begitu? Apakah itu pertanyaan penting?"
"Ish.. jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, dasar bodoh!" desis Nana geram. "Harusnya tinggal jawab aja ada atau tidak. Beres. Gitu aja kok repot!" sewot Nana.
"Tidak ada," jawab Kevin singkat. Ia lantas fokus kembali terhadap siput-siputnya.
Nana masih belum percaya. Ia tetap merasa semuanya terasa mengganjal. Ia perlu menggali dan mengorek kebenarannya.
"Lantas kamu dari mana?" tanya Nana sekali lagi.
Kevin memutar kepalanya lagi ke arah Nana, ia hendak menjawab namun Nana lebih dulu menyerobot dan memotong sesi Kevin berbicara.
"Jangan hanya mengatakan bertemu seseorang. Katakan namanya siapa dan ada urusan apa?"
"Hey, sejak kapan kamu jadi kepo? Bukankah dalam surat perjanjian, kita dilarang untuk mencampuri urusan masing-masing? Kenapa kamu sekarang ingin tahu urusanku?"
"Aku hanya ingin tahu suamiku pergi kemana, itu saja!" Nana membela diri.
"Ouh.. jadi sekarang kamu menganggap aku suami kamu? Apa kamu lupa, kita hanya suami istri di atas kertas? Di dalam perjanjian, kita tidak boleh ikut campur urusan masing-masing. Bukankah kamu juga melarang aku buat mencampuri urusan kamu dengan Jonatan? Jadi berhentilah ikut campur apalagi mencurigai aku!!"
Serasa tertampar oleh cerocosan Kevin barusan, Nana hanya bisa menunduk sebal. Ia terpaksa membungkam mulutnya sebelum lelaki itu memuntahkan seluruh peraturan yang tertera dalam surat perjanjian yang mereka buat.
Kevin bangkit dan menyerahkan baskom berisikan siput-siput hasil tangkapannya pada Nana. Ia sudah tidak mood beradu mulut dengan Nana. Terlebih, Kevin takut Nana semakin kepo terhadap hidup Kevin.
"Maafkan aku," cicit Nana hampir tak terdengar saat Kevin hendak mengayunkan kedua kakinya. Lelaki itu terdiam membelakangi Nana. Geram dan dongol. Terlihat dari lehernya yang tiba-tiba mengeras, menampakan urat-uratnya seolah tengah menahan amarah.
Nana ikut bangkit, menahan Kevin. Ia tak bermaksud mencampuri urusan Kevin. Ia juga tak bermaksud ingin tahu dengan urusan Kevin apalagi membuat lelaki itu tersinggung. Nana hanya merasa heran saja dengan sikap Kevin. Nana merasa Kevin tengah menutupi sesuatu yang besar darinya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencampuri urusan kamu dan membuat kamu marah. Aku hanya—"
"Jika kamu tidak mau aku mencampuri urusan kamu, maka lakukan hal yang sama seperti apa yang pernah kamu katakan padaku!" tegas Kevin. Lelaki itu meninggalkan Nana yang mematung tak percaya.
__ADS_1
Bagaimana bisa, seorang Kevin yang tak pernah serius dalam berbagai hal kini marah dengan amat sangat serius hanya karena hal sepele? Sungguh hal tersebut semakin menguatkan kecurigaan Nana jika lelaki itu memang tengah menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Nana sendiri bingung harus mencari tahu apa jawabannya.
"Kenapa dia harus semarah itu? Tidak biasanya si Muka Tembok marah begitu?" tutur Nana selepas Kevin pergi dari hadapannya.
"Sebenarnya lelaki itu ada masalah apa sih di hidupnya? Ujug-ujug marah gak karuan. Aku kan cuma nanya dia habis ketemu sama siapa? Emang salah? Ish.. bener-bener bikin keki aja deh itu orang!" Nana berdecak heran sekaligus gemas.
Otaknya jadi ruwet memikirkan sebab musabab Kevin marah tiba-tiba. "Daripada ruwet gak jelas, mending aku masak ajalah. Siapa tahu dengan aku masak siput ini mood si Muka Tembok jadi membaik lagi. Serem juga sih lihat dia jadi galak begitu," pikir Nana bergidik ngeri.
***
"Muka Tembok.. buka pintunya! Kamu mau makan malam gak?" pekik Nana memanggil Kevin.
Lelaki itu tak menyahut, membuat Nana jadi berpikir kalau Kevin masih marah padanya.
"Muka Tembok, buka pintunya! Apa kamu masih marah padaku?"
Tetap tak ada respon dari dalam sana. Nana jadi sedikit khawatir dibuatnya.
"Muka Tembok.. jika kamu masih marah padaku, maka maafkanlah. Aku tidak mau hubungan kita jadi dingin hanya karena masalah sepele. Jujur, aku tidak bermaksud buat kepo apalagi mencurigai kamu. Seharusnya kamu gak bisa marah seperti ini, rasanya tidak manusiawi! Maafkan aku sekali lagi."
Nana masih memekik memohon maaf, namun roman-romannya yang dilakukan Nana sia-sia. Lelaki itu masih belum juga menyahut, membuat Nana harus menahan rasa sabarnya berlipat-lipat.
"Hmm.. rupanya dia benar-benar marah padaku!"
Klek! Nana kontan memutar tubuhnya ke posisi semula. Dilihatnya Kevin tengah menggosok kedua kelopak matanya berkali-kali.
"Kamu berisik banget sih Singa Betina?! Apa hobimu berteriak hah?" sungut Kevin setengah sadar.
"Kamu tidur?"
"Kamu pikir aku ngapain berlama-lama di dalam kamar? Mati suri?!" cebik Kevin sarkas. "Ada apa sih?"
"Aku pikir kamu gak mau keluar kamar karena masih marah sama aku perkara tadi? Ternyata kamu tidur toh. Berarti kamu udah gak marah lagi kan sama aku?" tanya Nana polos. Ia harap lelaki itu memang tak marah lagi padanya.
Kevin memicingkan matanya, "Marah? Untuk apa?" jawab Kevin tak kalah polos.
Entah Kevin lupa beneran atau hanya pura-pura lupa dengan sikapnya beberapa jam yang lalu terhadap Nana? Yang jelas, Kevin benar-benar terlihat polos dan inosen selaksa anak balita yang cepat melupakan emosinya.
Nana menghela napas lega. "Syukurlah kalau kamu tidak ingat." Dia pikir lelaki itu mengurung diri beberapa jam karena masih marah padanya, nyatanya lelaki itu tertidur.
__ADS_1
Kendati Nana dan Kevin lebih sering bertengkar dan baku hantam selayaknya Tom And Jerry, tapi Nana tetap saja terasanya tak nyaman bila Kevin marah terlalu lama, begitu pun sebaliknya.
Biar bagaimanapun, mereka tinggal satu atap. Amat sangat tidak menyenangkan bila salah satu dari mereka harus salah paham berlarut-larut.
"Apa kamu mau coba masakan aku?" tawar Nana mendadak ramah.
"Kamu tidak akan meracuni aku kan?" ceplos Kevin berburuk sangka, membuat Nana langsung mengerutkan wajahnya kesal. Baru juga berbaik hati dan bersikap manis, sudah mulai dituduh-tuduh yang aneh-aneh oleh Kevin.
"Kalau tidak mau yasudah!"
Nana memutar tubuhnya sesegara mungkin. Ia merasa berang dengan Kevin yang sama sekali tidak bisa diajak berdamai. Apakah lelaki itu tidak diajarkan menghargai perasaan seseorang? Seperti tidak. Keputusan yang salah ketika Nana mencoba bersikap manis terhadap suami di atas kertasnya itu.
Dengan sigat, Kevin meraih tangan Nana. Menahan gadis itu agar tak pergi akibat terlanjur kesal dengan ucapan Kevin. "Aku cuma bercanda."
Seulas senyum yang terbit di ujung bibir Kevin seperti sihir yang membuat Nana mematung beberapa detik. Sebelum lelaki itu sendiri yang menyadarkan Nana dari keterhanyutannya.
"Ayo kita makan bersama. Aku tidak sabar mencicipi siput-siput nakal yang merepotkan kamu tadi," celoteh Kevin sembari melenggang menuju meja makan tanpa melepas tangan Nana.
Nana mengikuti dari belakang, ia seperti seorang robot yang diam saja ketika diseret oleh suaminya ke meja makan. Nana merasa seperti seorang istri pada umumnya ketika suaminya bersikap romantis. Terlebih, Kevin sikap Kevin saat ini tidak seperti biasanya. Lebih kalem dan cenderung manis.
'Sebenarnya apa yang membentur kepalanya? Kenapa dia jadi bersikap aneh begini?' curiga Nana dalam hatinya.
Mereka berdua telah sampai di meja makan, Kevin lagi-lagi memamerkan deretan giginya yang rapih pada Nana. Nana sempat terhanyut dalam pesona Kevin untuk kedua kalinya. Namun kejadian itu tak berlangsung lama, saat logikanya kembali berjalan.
"Makanlah duluan, aku akan ambil minum dulu sebentar," kata Nana sembari buru-buru menghindar dari senyuman maut Kevin.
Nana berlama-lama menuang air dari dalam botol ke gelas miliknya. Matanya memantau Kevin yang tengah memulai menyendok makanannya ke dalam mulut besarnya.
"Ada apa dengan dia?" cicit Nana sepelan mungkin.
"Aku merasa dia bukanlah Kevin yang aku kenal. Dia tidak protes atau menyinyiri masakanku? Sungguh ajaib! Padahal tadi sore dia masih sempat-sempatnya mencela kemampuanku? Kenapa sekarang gelagatnya jadi berubah? Ini pasti ada yang membentur kepalanya makanya jadi aneh begitu," pikir Nana
Sebenarnya Nana sengaja berlama-lama menuang air ke dalam gelasnya. Itu hanya akal-akalan Nana saja agar dapat mengawasi gelagat Kevin yang makin mencurigakan.
"Singa Betina, masakan kamu enak!" pekik Kevin memuji. Nana terkesiap, ia bahkan baru sadar kalau gelas yang tengah ia isi dengan air tersebut sudah mulai melampaui kapasitas ruangnya alias meleber. Untung tidak sampai ketahuan Kevin. Jika saja ketahuan, lelaki itu pasti akan kegeeran dan menyangka Nana tengah mencuri pandang terhadapnya.
"Terimakasih," jawab Nana sedikit tergugup.
"Aku suka masakan kamu, lain kali kamu masakin aku lagi ya! Aku tidak akan menghina kamu lagi jika kamu memasaki aku dengan menu selezat ini," tambah Kevin.
__ADS_1
Nana hanya mampu melongo antara percaya dan tidak dengan semua yang dikatakan Kevin. Mungkinkah siput itu pemersatu dirinya dan Kevin?
Bersambung