
Nana Dan Tania menunduk takut saat orang yang tadi keluar dari mobil Audi A6 silver mendekat ke arah mereka berdua dengan tampang galak nan judes khas tokoh-tokoh antagonis di dalam sebuah sinetron kesukaan ibu-ibu, orang tersebut langsung menatap intens ke arah Nana dan Tania yang sudah tertunduk pasrah. Tatapannya itu tajam dan mematikan membuat Nana dan Tania ciut seketika.
"Habis darimana kalian?" pungkas sang empunya mobil Audi A6 silver yang tak lain dan tak bukan adalah Omanya Nana. Orang yang paling ngebet memaksa Nana untuk segera mencari pasangan hidup. Orang yang over protective pada Nana, satu-satunya keluarga yang Nana miliki saat ini.
"Kita habis dari pesta pernikahan Samudra dan Hellena, Oma ...," balas Nana masih dengan wajah tertunduk.
Nana tidak berani menatap langsung manik mata Omanya yang tajam seperti burung pemangsa itu. Entah kenapa ia selalu kehilangan nyalinya kalau sedang berhadapan dengan perempuan tua yang diklaim Nana adalah Omanya itu.
"Kamu menghadiri pernikahan si Samudra dan Hellena tanpa membawa pasangan? Apa kamu tidak waras Nana?! Kamu pasti akan diejek habis-habisan sama si Hellena itu," sentak Omanya dengan nada super tinggi.
Seperti yang Nana tahu, kalau Omanya dan Omanya Hellena juga musuhan seperti dirinya. Mereka itu seperti cerminan Nana dan Hellena versi tua, sama-sama tidak bisa akur. Makanya, Omanya Nana sangat mengenal betul karakter Hellena yang senang mengejek Nana seputar pernikahan.
"Aku kan barengan sama Tania datangnya Oma ... gak mungkin kan aku bawa pasangan kalau aku niatnya mau dateng sama Tania," sanggah Nana.
Sementara Tania tak berani membuka suara apalagi ikut campur urusan Nana dan Omanya itu. Ia sengaja memilih diam seribu bahasa ketimbang menimbrung dan memberi elakan pada Omanya Nana yang terkenal dengan tegas itu. Pokoknya Tania tidak mau ikut campur selagi belum dilibatkan dalam adu mulut antara cucu dan neneknya itu.
"Alasan saja kamu ... pasti kamu yang maksa Tania buat gak bawa pasangannya kan?! Biar Tania nemenin kamu ke pesta si Hellena yang bermulut besar itu?!"
Nana mengelang dengan cepat, sejalan dengan menggoyangkan telapak tangan kanannya khas orang yang sedang membantah dengan keras.
"Nggak Oma ... Tania yang maksa mau ditemenin soalnya pacar dia lagi sibuk kerja," ceplos Nana asal.
Untuk kedua kalinya Nana menggunakan nama Tania sebagai tumbal dari ceplosannya itu. Hal itu tentu membuat Tania langsung mendelik ke arah Nana, mungkin dalam hati, Tania menjerit pilu karena lagi-lagi namanya dijadikan alasan Nana sebagai bahan elakkan ketika sedang tersudut.
"Apa bener yang dikatakan Nana barusan, Tania?!" selidik Oma kepada Tania.
Langsung saja Nana menyenggol lengan Tania untuk segera mengiyakan pertanyaan intimidasi dari Omanya itu.
"I ... i ... iya Oma. Tadi aku yang minta Nana buat barengan ke pestanya Samudra dan Hellena. Hehe," ucap Tania kikuk.
"Yasudah kalau begitu adanya. Sekarang masuklah ke mobil, biar Oma antar kalian ke apartemen kalian."
"Baik Oma ...," sahut Nana dan Tania berbarengan.
Keduanya mengekor mengikuti Omanya masuk ke dalam mobil Audi A6 berwarna silver itu.
__ADS_1
"Kenapa aku lagi sih yang kamu korbanin, padahalkan kamu tadi yang minta-minta buat aku jangan ajakin Vallen ke pesta, kenapa di depan Oma kamu malah bilang kebalikannya," protes Tania setengah berbisik saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Diamlah ... aku terpaksa pakai nama kamu biar Oma percaya," ujar Nana.
"Ish ... benar-benar menyebalkan kamu ini," cebik Tania jengah.
Setelah semuanya masuk, mobil Audi A6 silver itu kemudian melesat membelah jalanan yang tampak lengang dan sepi dimakan waktu. Baik Oma, Nana, serta Tania, ketiganya tidak ada yang mau membuka obrolan. Ketiganya sibuk dengan aktivitas masing-masing sepanjang perjalanan. Oma tampak fokus dengan kemudi mobilnya, sementara Nana dan Tania sibuk dengan ponsel masing-masing.
Selang beberapa puluh menit, mobil yang ditunggangi Oma serta Nana dan Tania itu berhasil mencapai apartemen Nana di daerah Jakarta Pusat.
Nana mendadak jadi dag dig dug kala Oma menahannya saat hendak mau keluar dari dalam mobilnya.
"Mulai besok, kemasi barang-barangmu dari apartemen ini ... pulanglah ke rumah Oma," pungkas Omanya Nana enteng.
"Tapi ... Nana kan masih pengen tinggal di sini Oma. Lagian, Nana lebih nyaman tinggal di sini biar lebih deket ke kantor," sanggah Nana.
Oma tersenyum meremehkan, "Kantor? Kantor mana yang kamu maksud?! Kamu pikir Oma gak tahu kalau kamu sudah di PHK dari kantor kecil tempat kamu bekerja itu?!"
"Sial ... kenapa Oma bisa sampai tahu kalau aku sudah dipecat dari kantorku? Pantas saja Oma mendadak datang lagi ke hidup aku," batin Nana mengumpat.
"Anu ... Nana cuma gak habis pikir kalau—" ucapan Nana terjeda saat Oma lagi-lagi berhasil memotong kalimatnya dengan cepat.
"Kamu harus ingat Nana ... kamu itu Setyana Atmajaya. Cucu tunggal dari pewaris keluarga Atmajaya, orang terkenal di Jakarta. Kolega Oma banyak, mudah buat Oma cari tahu hal-hal yang berkaitan dengan kamu. Meskipun kamu sendiri menutupi identitas kamu yang sebenarnya, tapi Oma masih bisa memantau kamu dari jarak mana pun," terang Oma.
Entah harus bangga atau tidak, selama ini Nana memang sengaja tidak memakai embel-embel Atmajaya pada namanya. Bagi Nana, menyandang status penerus tunggal keluarga Atmajaya sangatlah memberatkan dirinya. Dia jadi tidak bebas berkeliaran dan bergaul dengan siapa saja.
Tak banyak yang tahu memang dengan identitas dan asal-usul Nana yang sebenarnya. Nana sengaja menyembunyikan itu semua semata-mata hanya ingin sedikit hidup bebas. Melekatkan nama Atmajaya pada namanya, sama seperti memenjarakan dirinya dalam sebuah kastil tak berpintu. Pengap dan banyak aturan.
"Nana gak peduli Nana itu siapa dan dari keluarga mana. Nana cuma pengen ngerasain hidup bebas kaya teman-teman Nana yang lain Oma ...," rengek Nana.
"Kebebasan apa yang kamu inginkan? Selama ini Oma sudah kasih kamu kebebasan dengan menuruti kemauan kamu, seperti bekerja di perusahaan lain padahal kamu jelas-jelas tinggal meneruskan perusahaan yang ada. Sekarang apa yang kamu dapat? Baru dapat job sebagai karyawan biasa di PT super kecil saja kamu langsung kena PHK. Coba kalau kamu pakai nama belakang kamu, Oma yakin perusahaan tempat kamu bekerja itu akan nyesel karena memecat cucu Oma sembarangan."
"Oma ... kan sudah Nana bilang, lebih baik Nana bekerja sebagai staff biasa di PT yang kecil tapi hasil jerih payah dan kerja keras Nana sendiri, ketimbang Nana langsung jadi direktur tapi mengandalkan dinasti kekeluargaan alias instan. Nana gak mau seperti itu. Itu gak ada tantangannya sama sekali."
"Benar-benar aneh kamu itu ... di saat semua orang ingin mendapatkan jabatan yang instan, kamu malah lebih memilih bersusah-susah payah. Bener-bener tidak habis pikir Oma sama jalan pikiran kamu, Na."
__ADS_1
"Nana pokoknya tetap bersikeras menolak untuk bergabung dengan perusahaan Oma," tolak Nana penuh penekanan.
"Oke ... tidak masalah kalau kamu masih gak mau bekerja di perusahaan Oma. Tapi dengan satu syarat ...," Oma menggantung kalimatnya, membuat semua orang penasaran, termasuk Tania.
Nana memandang Omanya dengan kening berkerut. "Syarat? Syarat apa emang Oma?! Kenapa harus main syarat-syaratan sih sama cucu sendiri?" protes Nana.
"Syaratnya gampang, kamu boleh bekerja atau mencari pekerjaan di perusahaan lain tapi kamu harus janji sama Oma buat kenalin calon suami kamu ke Oma sesegera mungkin."
Nana terperangah tak percaya dengan syarat yang diajukan Omanya. Tania yang sedari kalem tak bergeming juga ikutan kaget mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Omanya Nana. Ia sebenarnya ingin membantu Nana, tapi dia takut kalau ikut campur dan membela Nana malah dia yang akan kena semprot. Makanya Tania mencari aman saja sekarang.
Karena Tania adalah orang lain yang tak berhak ikut campur urusan Nana dan Omanya, dan pepatah juga mengatakan kalau diam adalah cara paling bijaksana demi menghindari salam paham. Jadi sekarang Tania menutup mulut dan telinganya rapat-rapat seolah tidak terjadi apa-apa. Daripada dia ikut campur dan memperkeruh suasana kan?.
"Oma kenapa sih apa-apa harus ikut campur terus urusan aku?! Oma tahu kan kalau aku udah putus sama Jonatan. Sekarang malah minta calon suami, gimana coba aku menuhin kemauan Oma itu," gerutu Nana kesal.
"Maka dari itu, gara-gara Oma gak ikut campur, semua urusan kamu gak ada yang bener. Dimulai dari pekerjaan, sekarang urusan pencintaan kamu juga gak bener. Coba kalau mereka semua tahu kalau kamu adalah pewaris tahta Atmaja Group, mereka semua tidak akan menyepelekan kamu Nana."
"Sudah aku bilang, aku tidak mau menyematkan nama Atmajaya pada namaku. Kalau orang menganggap keberadaanku karena aku menggunakan nama Atmajaya, berarti orang tersebut gak bener-bener menganggap aku ada. Mereka cuma takut atas kekuasaan Oma, karena aku adalah cucu dari keluarga Atmajaya."
"Terserah kamu deh. Yang jelas sekarang Oma kasih waktu kamu satu minggu buat kenalin calon suami kamu ke Oma."
Nana membuka mata serta mulutnya lebar-lebar, dia shock bukan main. "APA? Apa aku tidak salah dengar?!
"Tentu saja tidak. Pokoknya Oma kasih kamu waktu seminggu," ucap Oma enteng.
"Tapi Oma ... mencari calon suami itu tidak semudah membalikkan telapak tangan atau meneguk air dalam gelas ... tidak segampang itu Oma," bantah Nana.
"Terserah kamu. Yang jelas Oma tunggu seminggu lagi. Kalau kamu tidak berhasil berarti kamu harus pilih antara bergabung dengan perusahaan Oma atau kamu ...," Oma menggantung kalimatnya lagi, membuat Nana penasaran dengan lanjutan kalimat Oma tersebut.
"Kamu apa Oma?" tanya Nana tak mengerti.
"Kamu akan Oma jodohkan dengan anak kolega Oma ...,"
Nana menjengit kaget, lebih kaget dari sebelumnya. "Ta-ta ... tapi Oma ...," Nana terbata.
"Tidak ada tapi-tapian."
__ADS_1
Bersambung.