
Nana kembali ke apartemennya setelah seharian berkelana mondar mandir kesana kemari mencari sepetak kontrakan yang dirasa cocok untuk sahabatnya Tania, beruntungnya ada kontrakan yang cocok dengan budget yang pas dengan dompet Tania.
Menemani Tania mencari kontrakan, ternyata cukup menguras tenaga dan membuat badan Nana pegal-pegal semua. Tidak hanya itu, kakinya juga terasa lecet karena seharian memakai heels bukannya wedges. Tak ayal, sekarang Nana jalan sedikit sempoyongan seperti orang yang kurang vitamin B12 dan Zat Besi.
Nana pun langsung bergegas masuk setelah menempelkan key card pada pintu apartemennya. Dia juga langsung menuju kamarnya agar dapat merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang sempat disabotase Kevin kemarin malam.
"Aku pulaaaang!" seru Nana dengan nada lesu.
Ketika sampai di sana, Nana langsung melempar tasnya ke sembarang arah. Mendudukkan bokongnya di tepian kasur tanpa aba-aba. Dan membuka paksa heels yang menempel di kakinya sepanjang hari.
Tak lama, Kevin menghampiri Nana yang tengah merunduk membuka heelsnya.
"Ambil ini!" ucap Kevin sembari menyodorkan segelas air putih pada Nana.
Nana mendongak ke atas, diliriknya Kevin yang masih bersetelan kolor bercorak kuning dan biru serta kaos biru seperti yang dikenakannya sewaktu pagi. Kemudian Nana refleks menutup hidungnya seketika.
"Hey singa betina! Aku memberimu air putih. Kenapa kamu malah menutup hidungmu sih? Memangnya air ini bau apa ... ? Dasar tidak sopan!" dengus Kevin.
"Bukan airnya yang bau, tapi dirimu! Kamu pasti belum mandi, kan?" tuding Nana.
Kevin pun mengerutkan wajahnya, tak terima dengan apa yang dituduhkan Nana barusan. Dia pun memarahi Nana karena sudah sok tahu.
"Yak! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Lagipula tahu darimana aku belum mandi? Memang kalau aku sudah mandi harus laporan dulu gitu sama kamu? Dasar singa betina payah! Jangan asal tuduh kamu!"
"Aku tidak asal tuduh. Buktinya kamu masih pakai baju dan kolor yang tadi pagi kamu pakai. Udah deh gak usah ngelak. Kamu memang gak mandi kan?"
Kevin seketika langsung menatap dirinya sendiri. Malu dan tertangkap basah adalah dua hal yang menghinggapi perasaannya kali ini. Dia seperti ditelanjangi bulat-bulat oleh Nana karena mengatakan sudah mandi tapi masih mengenakan pakaian yang tadi pagi.
Kevin memang belum mandi karena dia baru selesai membereskan dapur yang dia berantakin ketika Nana keluar. Namun Kevin enggan mengakui kalau dia belum mandi. Alhasil, dia pun akhirnya ngeles dan mengarang bebas.
"Jangan sok tahu kamu! Memangnya harus ya kalau setiap aku sudah mandi aku harus berganti baju lain? Memang tidak boleh kalau aku tidak ganti baju sejak pagi? Lagipula aku senang kok pakai baju ini jadi aku sengaja tidak ganti baju."
"Ngeles mulu kaya bajaj," timpal Nana datar.
"Terserah kalau kamu tidak percaya."
Nana hanya mendelikkan bola matanya kehadapan Kevin. Sementara Kevin malah menampilkan ekspresi inosen yang membuat Nana ingin mencabik-cabik wajah bulat lelaki dihadapannya itu.
"Sekarang kamu mau minum apa tidak? Kalau tidak, biar kutaruh lagi gelasnya."
"Lagipula siapa yang suruh kamu bawakan aku minum, aku bisa ambil sendiri kaleee ...," geram Nana seraya kembali melepas heels yang satunya.
"Ish ... sudah baik aku membawakan kamu minum. Memang gak ada akhlaknya kamu itu sebagai istri, payah!" Kevin mendesis sebal sembari membuang mukanya ke arah lain.
Sejatinya, Kevin memang sengaja membuang mukanya ke sisi lain. Semata-mata agar otaknya tak kembali merekam wajah Nana seperti pagi tadi. Kevin sadar, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menggelitik perutnya ketika otaknya menampilkan bayangan wajah Nana. Tapi Kevin berupaya agar tak semakin dalam terjerat dengan perasaan anehnya itu.
Lagi pula, Kevin belum siap jika seandainya dia ditolak oleh Nana. Menurutnya tidak etis kalau dia sampai ditolak oleh wanita yang bahkan tidak masuk kriterianya. Kevin belum sanggup di posisi tersebut.
"Ngomong-ngomong, gimana keadaan dapurku? Semuanya baik-baik aja kan?" tanya Nana seraya meraih gelas yang disodorkan Kevin sejak tadi.
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan menghancurkan dapurmu? Kan sudah aku bilang kalau aku ini ahli dalam masak memasak. Jadi tentu dapurmu baik-baik aja," kilah Kevin yang kemudian disambung oleh batinnya.
'Untung aku sudah membereskan dapurnya sebelum si singa betina ini sampai apartemen. Kalau tidak, maka tamatlah riwayatku! Ternyata membuat cah kangkung sederhana tak sesederhana yang kubayangkan. Aku harus memotong ini dan itu sampai-sampai berceceran kemana-mana. Belum lagi saat menumis bumbunya, minyak sampe menyiprat kemana-mana. Hish ... besok-besok aku mending delivery order aja deh daripada masak sendiri. Benar-benar merepotkan!'
Kevin tertegun membayangkan kejadian tadi siang. Dia hampir menghancurkan dapur Nana demi memasak seporsi cah kangkung yang dikiranya sederhana. Beruntung, kompornya tidak sampai meledak dan membuat kebakaran yang dapat memperparah ke semrawutkan dapur tersebut.
Dapur Nana tadi cukup berantakan akibat ulah Kevin yang sok-sok an ingin memasak cah kangkung padahal dia sama sekali tidak ahli dalam urusan perdapuran. Alhasil, dia sendiri yang menanggung resikonya. Membersihkan dapur berjam-jam hingga kinclong agar Nana tak curiga kalau Kevin hampir merusak seluruh properti apartemen Nana.
Belum lagi, tadi siang Kevin kedatangan tamu tak diundang yang mengobrak-ngabrik semua ruangan demi menemukan Nana. Itulah kenapa Kevin belum sempat mandi apalagi kepikiran ganti baju karena seharian penuh waktunya ia habiskan untuk membereskan apartemen yang berantakan tanpa sepengetahuan sang empunya.
Kevin melenguh disela ketertegunannya, membuat Nana yang sedang meneguk air putih tersebut langsung mengernyitkan dahinya seketika.
"Muka tembok! Kamu kenapa?" tanya Nana setelah berhasil meloloskan air ke dalam kerongkongannya.
Kevin sedikit terhenyak dengan suara Nana.
"Apa ada masalah?" tanya Nana lagi.
"Tidak."
"Kalau tidak ada masalah kenapa kamu tadi melenguh nafas panjang kaya orang banyak beban gitu?"
"Bebanku memang banyak. Dan beban aku semakin bertambah banyak ketika masuk dalam kehidupan kamu. Apalagi saat aku harus berhadapan dengan orang-orang menyebalkan yang mencarimu tiba-tiba. Itu membuat kepalaku migrain dan mau pecah rasanya," dusta Kevin.
"Maksudnya?"
Kevin tak lantas menjawab, ia malah duduk si sebelah Nana tanpa izin dari gadis itu. Nana menggeser sedikit duduknya agar tak berdempetan dengan Kevin.
"Siapa? Cewek apa cowok?"
Kontan Kevin langsung mengangkat bahunya seiring dengan melanjutkan kalimatnya.
"Cowok. Aku tidak tahu siapa orang tersebut. Dia cuma teriak-teriak nyariin kamu tanpa mau menyebutkan namanya. Dan satu lagi, dia bilang dia pacar kamu."
"Pacar?" Nana memandang Kevin dengan ekspresi keheranan. Namun seketika dia teringat seseorang yang pernah dekat dengannya. "Maksud kamu Jonatan?" imbuh Nana.
"Aku bilang aku tidak tahu. Dia tidak mau menyebutkan namanya padahal aku berulang kali nanyain dia siapa. Eeeh ... malah gak dijawab. Aku sempat nyangka dia itu tunawicara karena dia tak mau menjawab pertanyaan aku, tapi ternyata aku salah. Nyatanya dia masih bisa teriak-teriak manggil kamu."
"Apa mungkin Jonatan ya? Tapi kalau dia bilang pacar aku, gak mungkin Jonatan lah. Jonatan kan mantan aku, kami juga udah lost contact. Coba kamu sebutin ciri-cirinya seperti apa?" pinta Nana, dia begitu antusias ingin mengetahui siapakah gerangan yang mencarinya itu.
"Yang jelas sih wajahnya tirus. Rahangnya kekar, berperawakan tinggi dan tegap dengan otot-otot menonjol sana sini. Tingginya kira-kira 180 senti meter. Hidungnya mancung, kulitnya agak kecoklatkan dan yang jelas dia itu sombong dan menyebalkan," ujar Kevin mendeskripsikan tampilan dari si pria yang sudah tidak sopan mengacak-ngacak apartemen Nana tadi siang.
"Itu sih sudah bisa dipastikan Jonatan. Tidak salah lagi itu pasti Jonatan," balas Nana.
Entah kenapa ada secercah binar kebahagian dibalik ekspresi yang ditampilkan wajah bulat Nana, membuat Kevin jadi ingin tahu lebih mengenai lelaki payah yang sudah membuatnya dongkol tadi siang.
"Jonatan itu siapanya kamu?"
"Dia mantan pacar aku. Dulu kami saling mencintai," lirih Nana.
__ADS_1
Mata Nana yang tadinya berbinar kini berganti dengan ekspresi sedih ketika menyebutkan Jonatan sebagai mantannya, Kevin semakin tertarik ingin mengetahui lelaki itu. Dia ingin tahu lebih detail kenapa Nana sampai tak bisa move on dari lelaki bernama Jonatan itu.
"Apa sekarang kamu juga masih mencintainya?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ya."
"Lalu kenapa waktu itu kalian putus?"
Itu mungkin bukan kapasitas Kevin untuk bertanya, tapi dia saat ini berstatus suami Nana meski hanya rekayasa. Dia harus tahu seluruh cerita Nana agar dia tidak salah berucap ketika nanti dihadapkan dengan situasi yang berkaitan dengan mantan Nana.
Nana tak lantas menjawab, dia malah mendongakkan kepalanya menatap langit-langit atap apartemennya. Ia serta merta sedang menahan air matanya yang entah sejak kapan merembes dari balik bola matanya.
"Dia selingkuh, tapi aku masih saja berharap padanya. Harus aku akui kalau aku masih mencintainya, meskipun dia telah mencampakkan aku dan selingkuh dari aku."
Kevin tertohok sekaligus terenyuh dengan jawaban Nana. Sekarang Kevin dapat sedikit menyimpulkan kenapa Nana menjomblo sampai setua ini. Bahkan, Nana tidak mencari lelaki lain dan malah mengajaknya untuk kerja sama dengan membuat pernikahan diatas matrei. Hal itu pasti ada kaitannya dengan Jonatan yang masih Nana cintai.
Suasana semakin tegang dan tak menentu, Kevin tak suka hal itu. Gadis yang Kevin lihat sehari-harinya selalu menampilkan sisi menyebalkan dengan kesewotan yang tiada tara, kini sedang menampilkan dirinya yang lain. Gadis yang rapuh dan tercampakkan. Benar kata pepatah, orang yang terlihat ceria di luar adalah orang yang paling rapuh di dalam.
Tak mau membuat Nana semakin terbawa bayang-bayang masa lalunya, kemudian Kevin tanpa diduga-duga malah menjewer telinga Nana dan mengakibatkan wanita itu meringis serta mengumpat histeris ke Kevin.
"Aww ... aww ... yak! Muka tembok kenapa kamu jewer aku sih?" protes Nana sembari mencoba memukul-mukul tangan Kevin dengan keras. "Lepaskan tanganmu bodoh! Telingaku sakit! Lepaskan telingaku dasar pria payah!"
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu pergi dari kamar ini dan tidur di sofa seperti kemarin malam."
Nana terdiam sejenak. Pupil matanya melebar seketika.
"Apa??? Tidur di sofa lagi? Apa kamu tidak kasihan kalau aku sedang patah hati sekarang? Lagipula kenapa kamu tidak pakai kamar Tania aja sih, kamar ini biar jadi tempatku."
"Aku tidak mau di kamar Tania, kamar tersebut masih berantakan, jadi aku mau kamar ini. Aku juga tidak peduli cerita cintamu yang lebay. Jangan kamu pikir dengan kamu memberiku kisah pilu tentang dirimu yang diselingkuhi oleh pria payah itu, aku akan kasihan padamu? BIG NO!"
Kevin masih menjewer telinga Nana, dia bahkan menariknya lebih panjang agar Nana mau tak mau bangkit dari duduknya.
"Aw ... sialan! Jangan tarik telinga aku, bodoh! Kamu mau membuat telingaku putus, hah?!" kesal Nana.
Alih-alih melepaskan tangannya, Kevin malah semakin gencar dengan aksinya.
"Pergi dari sini, cepat!" usir Kevin yang masih setia menarik telinga Nana dengan gemas.
Nana mengendus kasar. Dia kembali lagi menjadi wanita terintimidasi sekarang. Padahal, tadi pagi dia baru berhasil memenangkan peperangan sengit berkat pancinya, sekarang dia kembali menjadi seonggok daging yang teraniaya oleh suaminya sendiri.
"Cepat pergi dari sini dan tidur di sofa!" ulang Kevin.
"Iya ... iya ... iya ...," pasrah Nana. Gadis itu memungut tasnya yang tadi dia lempar sembarangan, lantas bergegas ke arah sofa di pojok kamar tersebut. "Cih! Muka tembok sialan!"
Kevin diam-diam memperhatikan punggung Nana yang menjauh. Sayup-sayup masih bisa Kevin dengar kalau gadis itu sedang menggerutu. Kevin pun tersenyum tipis-tipis.
'Gadis malang. Maafkan aku karena membiarkan kamu tidur di sofa lagi malam ini. Aku cuma tidak mau kamu terlalu memikirkan si lelaki buaya itu. Aku lebih suka melihatmu menggerutu dan mengumpat seperti ini ketimbang melihatmu menitikkan air mata untuk si Jonatan payah itu,' pungkas Kevin dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tapi tiba-tiba logika Kevin kembali menampik curahan isi hatinya untuk Nana. Alhasil, Kevin mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aissh! Kenapa aku mesti peduli sih? Dasar Kevin payah!"
Bersambung.