Hallo Nana!

Hallo Nana!
Dia Sebenarnya Gay


__ADS_3

Setelah menyudahi perang dunia ke-III, Nana dan Kevin serta Tania duduk di meja makan barengan. Kevin masih memasang wajah cemberut karena kalah perang tadi, wajahnya ditekuk secara sempurna, bibirnya mengkerut berlipat-lipat, sementara matanya tak beralih menatap pelik ke arah Nana yang sedang menyesap teh dengan santai.


Peperangan kali ini dimenangkan sang Ratu bawel, berkat panci penyelamatnya. Sayang, seribu kali sayang Tania masuk dan merusak segalanya. Andai tadi Tania tak menimbrung, mungkin Nana akan lebih puas dua kali lipat karena berhasil memukul Kevin si muka tembok sesukanya.


"Kenapa kalian memutuskan pulang ke sini bukannya semalam kalian menginap di rumah Oma ya?" tanya Tania yang berusaha mencairkan suasana di tengah hawa panas yang masih ketara dari sisa peperangan tadi.


Gadis itu menatap Nana dan Kevin secara bergantian tanpa berhenti menyumpal mulutnya dengan sehelai roti tawar.


"Dari semalam kita juga udah tidur di sini kali Tania. Kamunya saja yang tidurnya kaya kebo sampai gak denger semalem kita ke sini," Nana menjawab dengan sewot sembari menaruh kembali cangkir tehnya pada piring tatakan.


Sudah menjadi tabiat Nana jika meladeni lawan bicaranya penuh kesewotan yang tiada tara. Tapi jawabannya kali ini malah mengundang keterkejutan dari Tania.


"Masa sih? Berarti semalam kalian tidur ber—"


Tania seketika menutup mulutnya dan menggantung kalimatnya yang merujuk pada hal-hal sensitif. Pikiran kotor mulai hinggap di kepalanya, membayangkan adegan 21+ keatas yang pasti lumrah dilakukan oleh sepasang suami istri, apalagi itu malam pertama Kevin dan Nana. Dan buntutnya Tania mesem-mesem aneh.


"Tentu saja tidak!"


"Tentu saja tidak!"


Senyum mesem-mesem Tania berubah menjadi cengiran polos saat Kevin dan Nana menyambar secara kompak. Satu sisi, mereka terlihat menggemaskan jika sedang kompak seperti itu, tapi di sisi lainnya mereka terkadang menyebalkan kalau sudah beradu mulut dari A sampai Z.


"Aku pikir kalian semalam melakukan apa yang sepasang semua istri lakukan pada umumnya. Hehe."


"Cih! Sampai kiamat pun aku tidak mau melakukan hal tersebut dengan si manusia tembok itu," balas Nana pongah.


Kevin menatap sengit kearah Nana. Rasanya Kevin tak tahan ingin menghardik gadis itu karena berbicara dengan begitu pongahnya.


"Kamu pikir aku mau? Aku lebih baik mencium tembok daripada melakukan hal itu dengan kamu. Kamu terlalu percaya diri nona. Di mataku kamu tidak menarik sama sekali. Dasar wanita gendut! Singa betina sialan!"


"Ck! Kamu pikir kamu menarik? Hanya wanita-wanita bermata rabun yang mau terjerat denganmu!"


"Kau ini ya—" bola mata Kevin menyorot begitu tajam seperti ingin keluar dari rongganya saat Nana lagi-lagi merendahkannya. Tapi gadis itu tidak ada takut-takunya sama sekali.

__ADS_1


"APA? APA KURANG CUKUP KU PUKUL SELURUH TUBUHMU PAKAI PANCI?" sambar Nana dengan berkacak pinggang menantang Kevin.


Kevin ciut. Biar bagaimana pun panci itu lumayan membuat tulang-tulangnya sakit, jadi dia tak berkutik dan hanya mengumpat dalam hatinya. Dia tak bisa melawan Nana kali ini, alhasil dia yang tadinya hendak bangkit langsung terduduk lagi pada kursinya.


Tahu kalau Kevin nyalinya mulai ciut, Nana memamerkan bibirnya yang semula terkatup rapat menjadi tersungging lebar. Setelah sekian lama terintimidasi, gadis itu akhirnya berhasil menunjukkan taringnya sekarang. Panci itu membuatnya berhasil memenangkan peperangan sengit dengan Kevin tadi pagi. Akhinya, Kevin memberengut kesal dan meleguk kopinya dengan kasar sambil menahan emosinya agar tak meledak.


Selanjutnya, Nana kembali memusatkan dirinya bercakap-cakap dengan Tania. Dia harus memberi tahu Tania sesuatu yang penting.


"Lagi pula kamu tahu kan Tan, kalau aku sama si muka tembok ini hanya menikah rekayasa jadi tidak etis kalau kami melakukan hal seperti itu. Jadi berhentilah memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan!"


"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu merasa tidak enak kalau mau lebih lama menumpang di apartemen kamu, Na. Toh kalian bukan sepasang suami istri sungguhan walau secara agama dan hukum kalian sah."


"Nah justru itu Tan, kebetulan kamu mengucik soal tumpang menumpang. Kamu lebih baik keluar dari apartemen aku ya Tan, soalnya kalau kamu di sini terus justru nanti Omaku jadi curiga. Dan pernikahan rekayasa ini akan berjalan sia-sia. Jadi dengan berat hati aku minta kamu cari tempat lain aja ya!" Nana menaikkan turunkan kedua alisnya, membujuk Tania agar mau mengerti kondisinya sekarang.


Tania terperangah tak percaya saat rungunya menangkap kalimat pengusiran dari Nana. Tania pikir dengan Nana menjelaskan kalau Nana sama sekali tidak ada perasaan pada Kevin, itu akan menjadi kabar baik untuk dirinya yang masih betah mengungsi di apartemen Nana. Nyatanya, hal itu malah menjadi kabar buruk buat Tania.


Tania tak terima, ia pun melayangkan protes pada sang empunya apartemen.


"Apa? Maksud kamu, aku di usir? Kenapa aku di usir sih?"


"Iya aku tahu ... tapi kenapa harus aku yang keluar? Kenapa kamu gak suruh Kevin aja yang tinggal terpisah sama kamu. Lagian kamu emang gak takut tinggal berdua sama si Kevin? Kamu gak takut kalau si Kevin nanti berbuat yang macam-macam seperti meminta haknya sebagai suami kamu? Emang kamu gak takut hah? Biar bagaimanapun dan mau sekeras apapun kamu mengklaim kalau pernikahan kamu sama si Kevin cuma rekayasa, tetap saja kalian sepasang suami istri. Bisa saja kan si Kevin tiba-tiba berubah pikiran dan ngapa-ngapain kamu. Nah kalau ada aku kan, hal itu bisa aku cegah tuh."


Sebelum Nana menjawab, dalam gerakan cepat Kevin langsung angkat bicara dan menyeru dengan lantang cetusan Tania yang mulai memprovokasi Nana agar lebih memilihnya ketimbang suami Nana yang sah.


"Bodoh! Kalau aku yang tinggal terpisah berarti semakin jelas dong kalau aku hanya menikah pura-pura. Gimana sih kamu Tania," decak Kevin kesal.


"Diamlah! Aku tidak ada urusan dengan kamu, " sungut Tania tanpa beralih menatap serius ke arah Nana yang mulai sedikit terperdaya omongannya. Berharap kalau Nana mulai merubah pikirannya.


"Ish ... ya ... ya ... lanjutkan saja obrolan tidak bermutu kalian! Aku tidak akan ikut campur. Lagian kalau si singa betina ini mau mengusirku juga gak masalah. Toh, aku masih punya rumah," cerocos Kevin.


"Aku bilang diam! Apa telingamu bermasalah hingga tak menangkap apa yang tadi kuperintahkan hah?" sinis Tania. Gadis itu mengenduskan hidungnya saat Kevin mengucapkan kata ya tapi mulutnya berbusa mengatakan ini dan itu.


"Ish ... ish ...."

__ADS_1


Kevin hanya mampu mencebik geram. Lalu memilih bungkam dan tak berkomentar apapun lagi. Daripada dia tidak diajak dalam obrolan tersebut, akhirnya Kevin memilih menyeruput kopinya dengan nikmat. Lagi pula, sayang kalau tidak segera dinikmati padahal Kevin harus melewati perjuangan yang sangat pelik demi mendapatkan kopi tersebut tadi. Sampai-sampai badannya saja menjadi korban pukulan panci Nana tadi.


Kevin menyesap kopinya dengan khidmat, sementara Nana masih menimbang-nimbang ucapan Tania.


"Emangnya kamu gak takut kalau nanti Kevin nggrepe-grepein kamu?" ucap Tania lagi- sepelan mungkin dia mengucapkan kata yang ambigu agar Kevin tak menimbrung seperti tadi.


Nana menyurukkan kepalanya mendekat ke telinga Tania dan menjawab dengan suara yang agak pelan namun masih bisa ditangkap oleh Kevin masih duduk di tempatnya dengan gaya pura-pura tidak peduli. Entah kenapa Nana melakukan hal itu, mungkin karena Nana sengaja ingin menyindir Kevin juga.


"Sebenarnya Kevin itu gay. Jadi kamu gak perlu khawatir, Tan."


Tania terkejut bukan main. Jantungnya seperti berhenti berdetak.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Uhukk ... uhukk," Kevin terbatuk saat mendengar statemen Nana barusan. Kopi yang sedang dia leguk pun muncrat seketika. Berantakan dan bercecer kemana-mana.


Bukan! Bukan karena pernyataan Nana membuat Kevin batuk tiba-tiba, melainkan Kevin ingat kejadian sebelum Nana bangun. Bagaimana Kevin bisa menjadi gay kalau beberapa puluh menit yang lalu dia hampir terbawa perasaan oleh wajah menarik Nana? Kevin ngibrit dari duduknya tanpa berkomentar apapun. Ia serta merta hanya ingin menghilangkan pikiran kotornya tentang Nana yang entah kenapa menghinggapi kepalanya lagi sekarang.


"Lihatlah! Dia terbatuk dan tidak berkomentar apapun ketika aku menyinggungnya dengan kata 'gay' itu artinya dia cukup tersindir oleh kalimatku barusan," decak Nana yakin seyakin-yakinnya kalau perkiraannya terhadap Kevin tak melenceng kali ini.


"Apa kamu yakin?" heran Tania. Ia bingung harus percaya apa tidak kalau Kevin itu gay. Atau mungkin itu hanya strategi Nana agar bisa membuat Tania hengkang sesegera mungkin dari apartemen tersebut. "Kamu gak bercanda kan?" selidik Tania.


"Buat apa aku bercanda sama kamu? Aku tidak pernah sebercanda ini kalau menyangkut si muka tembok. Pria sialan yang selalu menguras dompetku tiap waktu, buat apa aku menghabiskan waktuku untuk bercanda tentang si pria payah itu."


"Tapi dia sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kalau dia itu gay. Kamu jangan ngarang, Nana!"


"Cih! Yasudah kalau tidak percaya. Itu sih urusanmu. Yang jelas dari buku-buku yang aku baca tentang gelagat seorang gay, ya mirip-mirip si muka tembok itulah."


"Arghh masa sih?" Tania mengerang, bibirnya mengernyit geli bercampur jijik. Entah harus percaya atau tidak tapi kelihatan dia sedikit goyah dengan pernyataan Nana yang cukup meyakinkan.


Kevin yang berjalan ke arah kamar mandi, sayup-sayup masih dapat mendengar obrolan dua wanita yang sedang membicarakan dirinya. Di murka tertahan.


"Ck! Gay? Bagaimana aku bisa menjadi gay sementara otakku di penuhi bayangan si singa betina itu yang seolah menari-menari mengusik pertahanan diriku. Aish! Kamu tuh kenapa sih Vin? Kenapa otakmu error begini sih, seperti tidak ada wanita lain yang lebih menarik saja! Payah!" rutuk Kevin seraya memukul-mukul kepalanya berulang kali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2