Hallo Nana!

Hallo Nana!
Tidak Buruk!


__ADS_3

"Kesepakatan pra-nikah? Maksudnya?"


"Aish! Kamu bodoh banget sih Nana, pantas saja setua ini kamu belum ada yang meminang. Laki-laki normal manapun akan enggan menikah dengan gadis bodoh sepertimu meskipun kamu orang kaya," seloroh Kevin dengan rentetan umpatan yang tak ada habisnya pada Nana.


"Berhentilah mengejekku dasar muka tembok! Ini bukan waktunya kita berdebat. Sekarang cepat beritahu aku tentang kesepakatan pra-nikah itu!" titah Nana yang tak kalah ngegas.


Seperti kucing dan anjing, Nana dan Kevin memang selalu baku hantam dan tak ada yang mau mengalah kalau salah satu dari mereka ada yang sudah melancarkan aksinya mengejek dan menjatuhkan satu sama lain.


Bahkan di situasi genting seperti ini pun mereka masih sempat-sempatnya bersitegang dan melempar ejekan. Kendati demikian, baik Kevin maupun Nana, mereka menyadari kalau itu sudah jadi ciri khas mereka kalau bertemu. Sebab, kerasnya kepala Kevin sama dengan kerasnya kepala Nana, jadi itu adalah hal yang wajar buat mereka.


Tidak peduli, mereka mau menikah sebentar lagi. Karena pada dasarnya tidak ada cinta diantara mereka sedikit pun, yang ada hanyalah benci yang tak berkesudahan. Begitulah mereka, tiada hari tanpa cekcok. Mungkin akan turun hujan salju saat musim kemarau kalau mereka tak pernah cekcok lagi.


"Cepat beritahu aku apa itu kesepakatan pra-nikah?" ucap Nana tak sabaran. "Kita tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, karena masa depan kita sedang dipertaruhkan!"


Dengan perasaan yang masih dongkol, Kevin akhirnya melontarkan rencananya pada Nana mengenai kesepakatan pra-nikah yang ia usulkan beberapa menit lalu. Bagi Kevin, itu adalah jalan terbaik daripada melarikan diri saat mereka benar-benar dalam kondisi terpojok seperti sekarang.


"Menurutku karena kita sudah terlanjur terjebak dalam situasi begini, lebih baik kita lanjutkan saja permainan kita meskipun itu harus menikah."


"Apa? Apa kamu gila!" potong Nana. Gadis itu pun langsung melayangkan protesnya pada Kevin yang mendadak plin-plan. Padahal sebelumnya Kevin bersikukuh menolak. "Aku tidak mau menikah dengan kamu. Aku tahu ini semua salahku, tapi aku tidak mau bermain-main dengan pernikahan. Aku masih ingin melajang dan menikmati kesendirian aku sampai benar-benar menemukan tambatan hatiku yang siap menyayangi dan menerima aku apa adanya, bukan ada apanya. Kalau aku sampai menikah dengan kamu, bagaimana aku bisa menikmati masa lajang itu?"


Mendengar Nana membeo sok bijak, hal itu tentu saja menuai desisan sebal sekaligus jijik dari mulut Kevin.


"Ish ... menjijikan! Kamu pikir aku sudi menikah dengan kamu? Tidak! Tapi cobalah dengarkan rencana aku dulu jangan selalu memotong kalimatku seperti itu. Kamu pasti akan setuju setelah mendengarnya secara detail."


"Iya ... iya ... cepatlah katakan!"


Setelah meloloskan udara dari mulutnya, Kevin bersiap untuk melontarkan rencananya perihal pra-nikah pada Nana. Sementara, Nana bersiap untuk menyimak dengan seksama.


"Karena kita hanya memiliki satu jam lagi sebelum ijab kabul itu dimulai, kita sebaiknya membuat surat kontrak pra-pernikahan. Dimana isi surat itu berisi perjanjian yang tidak akan merugikan aku ataupun kamu. Dan kita harus berkomitmen untuk mematuhinya."


"Maksudnya gimana sih? Aku masih belum mudeng deh," ucap Nana polos karena sejujurnya dia memang masih belum paham inti pokok ucapan Kevin yang bertele-tele.


"Aishh ... kenapa kamu mendadak lemot sih Nana!" kesal Kevin.


Kendati demikian, pemuda keturunan Tionghoa itu tetap melanjutkan penjelasannya perihal surat kontrak pra-nikah pelan-pelan pada Nana.


"Jadi gini ... kita kan gak saling mencintai, otomatis kita gak mau dong hak-hak kita terenggut begitu saja karena status kita nanti. Oleh karena itu, kita harus membuat kontrak pra-nikah dimana nantinya surat kontrak tersebut harus mengedepankan aturan-aturan yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Misalnya gini, kamu tidak boleh melarang aku buat berpacaran atau kelayaban dengan teman-teman aku saat kita sudah menikah. Pun dengan aku, aku tidak akan melarang kamu untuk mencari pacar lagi dan menikmati hidupmu sebagai jomblo tua. Meski nanti kita diharuskan satu atap bukan berarti kita bisa tidur seranjang. Kita bisa hidup masing-masing seperti hari-hari biasanya tanpa sepengetahuan Oma kamu maupun keluarga aku, gimana?" terang Kevin secara jelas dan panjang.


Nana pun menampilkan evil smirknya sambil berkata dengan gayanya yang khas, tengil.


"Tidak buruk! Baiklah, sekarang kita harus buat surat perjanjian itu sesegera mungkin."


"Oke! Sekarang aku butuh laptop untuk membuat kontrak itu. Apa di sini ada laptop?"


Kevin mulai mengedarkan matanya mencari benda persegi panjang tersebut di dekatnya.

__ADS_1


"Kamu bisa pakai laptopku. Kebetulan laptop lamaku aku simpan di lemari coklat itu," tunjuk Nana.


Kevin pun bergegas bangkit mengambil laptop Nana yang disimpan di lemari berwarna coklat yang berdiri kokoh di sudut ruangan tersebut.


Setelah dapat, Kevin langsung membuka laptop Nana dan mulai menarikan jari jemarinya di atas keyboard laptop Nana.


"Aku akan mengetikkan awalannya. Sambil menunggu awalannya siap, mending kamu mulai rancang dan tentukan isi peraturan yang mau kamu cantumin di kontrak ini, biar nanti aku isi bagian aku belakangan."


"Baiklah aku akan mencatat poin-poin penting bagian aku."


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua pun bergegas melaksanakan tugas masing-masing. Kevin mengetik bagian awalan kontrak pra-nikahnya, sementara Nana mulai merumuskan poin-poin penting yang wajib ada di kontrak tersebut.


Nana dan Kevin nampak serius dengan job desk masing-masing, terlihat dari mimik wajah mereka yang nampak seperti dikejar bom waktu. Serius dan fokus satu titik. Jika biasanya mereka selalu terlihat bersebrangan alias tidak pernah akur, maka kali ini mereka mendadak kompak layaknya sebuah team marketing dalam memenangkan tender.


Selang beberapa menit, surat itu pun telah jadi. Kevin dan Nana langsung membaca ulang surat kontrak itu dengan seksama. Mereka tidak mau kalau ada kesalahan isi ataupun ada poin-poin yang merugikan sebelah pihak sebelum mereka berdua benar-benar menanda tanganinya di atas materai nanti.


"Aku rasa isi suratnya cukup adil," ucap Kevin setelah selesai membaca surat tersebut. "Sekarang mana pulpennya, biar aku yang tanda tangani duluan."


Nana langsung menyerahkan pulpen berwarna biru tua itu pada Kevin dengan antusias. Setelah Kevin selesai menanda tangani surat tersebut, giliran Nana yang menanda tangani surat tersebut.


Usai keduanya menandatangi surat tersebut. Mereka berdua pun melayangkan tos dan saling melempar senyuman licik.


"Permainan di mulai!"


"Permainan di mulai!"


Di saat keduanya telah menyepakati kontrak pra-nikah, di saat itu pula seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruangan tersebut dan tentu saja menuai decak panik sekaligus was-was di antara keduanya.


Nana dan Kevin memandang satu sama lain saat gendang telinga mereka mendengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Siapa?" panik Kevin.


"Saya Aswini, tuan."


Kevin dan Nana langsung menghela nafas lega saat mereka tahu kalau yang mengetuk pintu ruangan tersebut adalah Aswini, salah satu asisten rumah tangga keluarga Atmajaya yang saat ini dilibatkan dalam acara pernikahan Nana dan Kevin sebagai salah satu panitianya.


"Apa saya boleh masuk tuan? Soalnya saya bawa jas yang harus tuan kenakan, karena sebentar lagi tuan diminta untuk segera turun ke bawah," pekik Aswini dari luar saat Kevin tak menyahut.


"Masuklah! Pintunya tidak dikunci."


Setelah mendapat izin dari Kevin, asisten rumah tangga yang bernama Aswini itu pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa jas berwarna hitam rancangan dari Jo Wong's Tailor— perancang busana terkenal langganan keluarga Atmajaya.


Dan setelah badannya masuk sepenuhnya ke dalam ruangan tersebut, Aswini begitu terkejut ketika melihat ada dua orang di dalam ruangan itu.


"Nona muda, kenapa nona ada di sini?" tanya Aswini ragu-ragu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau saya ada di sini? Ini kan kamar saya, jadi saya berhak masuk ke kamar ini sesuka saya!" seru Nana dengan nada judes khas anak-anak konglomerat yang menyebalkan.


"Tapikan Nona ... untuk sementara, kamar ini digunakan oleh tuan Kevin dulu buat ganti baju atau mempersiapkan lainnya selama acara berlangsung," balas Aswini masih dengan nada ragu-ragu. "Lagi pula nona muda harusnya ada di kamar ujung dan gak boleh ketemu dulu sama calon mempelai prianya. Kalau kata orang mah di pingit dulu beberapa jam sebelum dipertemukan di pelaminan. Hehe."


"Bodo amat! Orang aku mau disini kok kenapa kamu ngatur-ngatur sih?" sewot Nana.


Aswini menggaruk pelipisnya meski tak gatal, semata-mata untuk berpikir sejenak agar bisa melontarkan kalimat relevan agar Nana mau mendengarkan perintahnya mengenai calon mempelai wanita dan pria yang tidak boleh dipersatukan dulu sebelum ijab kabul di mulai.


"Tapi Nona ...."


Alih-alih menuruti perintah Aswini, Nana malah semakin merekatkan bokongnya ke tepian ranjang dan tak mau beranjak dari tempat itu.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau! Kenapa sih maksa banget."


Detik berikutnya, seperti mendapat cahaya di tengah gelap gulita, Aswini pun malah menampilkan mesem-mesem aneh dari bibirnya yang kecoklatan.


"Ah! Sekarang saya tahu kenapa nona muda gak mau beranjak pergi dari sini ...," goda Aswini masih diikuti senyum mesem-mesem gajelas seperti orang yang kena cepirit. "Pasti nona muda sudah tidak sabar kan mau merasakan malam pertama sama tuan Kevin? Ngaku hayo ngaku!" tambahnya.


Sontak saja wajah Nana langsung merah padam seperti udang rebus. Dari lubuk hati Nana yang paling dalam, tidak terbesit sedikitpun ia memikirkan perkara malam pertama dengan Kevin, yang ada dia malah merasa geli dan jijik yang bercampur jadi satu padu membentuk kemualan yang hakiki.


"Cih! Jangan sok tahu kamu! Sekarang pergilah cepat! Ngerusak mood aku aja sih," usir Nana seraya mendorong paksa tubuh Aswini agar mau keluar dari tempat itu.


"Tapi Nona ... saya ini mau nyerahin jas untuk tuan Kevin. Lagian nona nggak sabaran banget sih mau berduaan sama tuan Kevin, padahalkan tinggal nunggu beberapa menit lagi disahkannya status nona muda yang baru jadi istrinya tuan Kevin. Hehe."


"Ish! Ngaco kamu!"


"Cieee Nona ...," goda Aswini sekali lagi.


Dengan cepat, Nana pun merebut paksa jas yang akan diserahkan Aswini pada Kevin tanpa babibu. Semakin mual saja perut Nana mendengar ocehan godaan Aswini yang terdengar mengerikan.


Setelah berhasil mengusir Aswini dari tempat itu, Nana lantas membanting pintu ruangan itu agar segera tertutup rapat.


"Huh! Akhirnya pergi juga itu si ART kepo!" lega Nana.


Kevin yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan Nana dengan asisten rumah tangga bernama Aswini, akhirnya angkat bicara dan menyindir dengan suara dingin nan maskulinnya.


"Wah malam pertama ya? Hmmm ... melewatkan malam pertama bersama singa betina seperti kamu tuh sama seperti diteror mimpi buruk setiap malam. Hiyyyy!" Kevin bergidik ngeri.


"Jadi kamu pikir aku ini hantu?"


"Kamu bukan hantu sih. Tapi kamu ratunya hantu. Hahaha."


Tanpa aba-aba Kevin langsung melesat setelah berhasil mengejek Nana untuk kesekian kalinya. Bahkan tawanya pecah begitu saja dan terdengar begitu jahat di telinga Nana, membuat Nana ingin mencekik leher pemuda itu sampai putus.


"Yak! Dasar muka tembok sialan! Berani-beraninya kamu berkata seperti itu padaku. Mau kemana kamu muka tembok! Awas kamu ya!" pekik Nana dongkol.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2