
Kevin membuka matanya secara perlahan saat cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela dan mengusik netranya. Dan penampakan indah pagi ini yang Kevin dapat adalah wajah sendu Nana yang tengah tidur terlelap di sofa.
Sejenak Kevin terhanyut dalam pemandangan di depannya itu. Ini memang bukan pertama kalinya Kevin memandang wajah sendu dan damai gadis itu saat sedang tertidur, kemarin dia juga mengalami hal serupa yaitu terhanyut oleh wajah menarik Nana. Tapi entah kenapa, Kevin seperti menikmati momen tersebut meski logika menolak dengan keras.
"Aku benar-benar sudah gila," tukas Kevin saat pikirannya lebih banyak bekerja menggunakan logika daripada perasaan.
Ditepuklah jidatnya agar pikiran kotor itu segera menghilang dan menjauh darinya. Kevin masih bersikukuh tidak mau mengakui perasaannya secara blak-blakkan. Dari awal, dia memang tidak mau terjerat terlalu dalam oleh pesona Nana. Pasalnya, Kevin mengatakan kalau Nana tidak masuk dalam kriteria wanita idamannya sama sekali. Jadi sebisa mungkin Kevin akan menolak dengan keras mengenai perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di benaknya itu.
Kemudian Kevin pun bangkit dari tempat tidurnya. Hal pertama yang ingin dia lakukan tentu saja mengomeli Nana yang tengah tertidur karena gadis itu selalu berhasil membuat otak dan hatinya bersebrangan.
"Akan aku beri dia pelajaran karena telah membuatku jadi orang payah seperti ini," cetus Kevin menggerutu seraya bergegas ke arah Nana yang masih setia bergelung dengan selimutnya.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan ...
Sreeet!
Gedebuk!
Entah ada angin darimana, kaki Kevin tiba-tiba terserimpet dan membuat keseimbangan tubuhnya tak stabil. Alhasil dia terpelanting jatuh ke sofa yang dimana ada Nana tertidur di atasnya. Beruntung, tadi Kevin langsung berusaha menahan tubuhnya dengan lengannya sendiri agar tak menimpa Nana. Jika dia terlambat menahan tubuhnya satu detik saja, tak menutup kemungkinan tubuhnya akan menindih Nana yang tengah tidur. Gadis itu pasti akan menuduhnya macam-macam. Dan Kevin tidak mau hal itu terjadi.
Kendati demikian, posisi Kevin saat ini tetap tak menguntungkannya. Sebab, posisi antara wajahnya dengan wajah Nana nyaris bersentuhan, hanya berjarak kurang lebih 50 senti meter. Hal itu, membuat Kevin dapat mencium aroma kulit serta hembusan nafas teratur Nana yang tengah tidur.
Deg
Deg
Deg
Jantung Kevin memburu dengan cepat. Seperti besi yang tertarik oleh magnet, Kevin kembali terhanyut oleh wajah Nana. Bahkan sebilah tangannya tak segan-segan mengelus pucuk kepala Nana, membelai anak rambut gadis itu dengan sayang.
'Aku tidak mengerti perasaan apa ini. Tapi aku selalu saja tidak bisa menahan diriku jika melihat kamu tengah tertidur seperti ini. Kamu tidak seburuk yang aku kira,' cetus Kevin dalam benaknya.
Merasa terusik dengan aksi Kevin, gadis itu pun langsung menggeliat pelan. Hal itu lantas membuat Kevin buru-buru bangkit dan membenarkan posisinya.
'Vin kontrol dirimu, Vin! Jangan sampai kamu terbawa perasaan. Ingat! Dia itu sama sekali bukan tipemu. Dia hanya singa betina menyebalkan yang membuat hidupmu kerepotan,' lanjut Kevin.
Detik berikutnya, Nana membuka matanya dan refleks terbangun secara kaget saat melihat Kevin sudah berdiri di depannya sembari berkacak pinggang dan menampilkan ekspresi dingin seperti bongkahan es batu di Kutub Utara.
"Hey muka tembok! Ngapain kamu berdiri di situ? Kamu pasti ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, kan?" tuduh Nana.
Gadis itu langsung memundurkan tubuhnya kebelakang padahal jelas-jelas sudah tak ada space lagi di sana. Tak lupa ia juga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya khas orang yang tengah ketakutan akan dilahap buas oleh Kevin.
"Ck! Jangan kepedean kamu, singa betina! Kamu pikir kamu menarik? Lagi pula tidak ada yang bisa kumanfaatkan selain uang mu. Jadi jangan berpikiran kotor terus tentangku!" balas Kevin berdusta.
Padahal dalam hatinya Kevin menjerit merutuki kelakuannya sendiri.
'Bodoh! Kamu tuh apa-apaan sih, Vin?! Kenapa kamu bisa-bisanya selalu terhanyut oleh si gendut dihadapanmu ini sih? Selera kamu payah, Kevin!'
Kevin mengerutkan wajahnya, kesal sejadi-jadinya dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Halah ... jangan ngelak kamu! Kalau kamu tidak mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan saat aku tengah tertidur, lantas kenapa kamu berdiri di depanku seperti itu? Kamu pasti berbohong, kan? Kamu mau melahapku kan?"
Nana menatap Kevin penuh tanda tanya sekaligus menyelidik. Pikirannya mulai mengarah ke hal-hal yang negatif, contohnya seperti menyentuh tubuh Nana tanpa sepengetahuannya saat ia tertidur tadi. Pasalnya, Nana khawatir kalau apa yang sempat diperingatkan Tania kemarin, akan benar-benar jadi kenyataan. Karena bagaimanapun, harimau yang telah dijinakkan tetap akan bertindak liar jika sedang kelaparan.
"Kubilang jangan kepedean! Lebih baik aku melahap roti selai daripada melahapmu yang tak karuan bentukannya. Kamu gendut, payah dan menyebalkan! Mana mungkin aku tertarik melahapmu. Tidak berfaedah sama sekali. Lagian nih ya, aku berdiri di sini hanya ingin mengawasimu agar liurmu tidak tumpah di sofa itu. Cobalah lihat liurmu masih membasahi ujung bibirmu. Benar-benar menjijikan!" Kevin mulai mengeles lagi seperti bajaj, pasalnya hanya cara itu yang bisa Kevin kemukakan agar Nana tak menaruh curiga padanya.
'Oh shit! Kamu semakin bodoh, Vin. Alasanmu sangat tidak berbobot,' gumam Kevin dalam hatinya lagi.
Dan benar saja. Alih-alih curiga, gadis itu malah mengusap ujung bibirmu takut apa yang dikatakan Kevin benar adanya—kalau air liurnya masih menggantung di sana.
"Aku tidak mengeluarkan liur, hey! Jangan ngarang kamu!" protes Nana.
"Yailah. Orang liurmu sudah menempel di sofa," tukas Kevin tak mau kalah.
Nana semakin jengah dengan kelakuan Kevin. Otaknya pusing jika berhadapan dengan Kevin. Baru dua hari merasakan tinggal dengan Kevin saja sudah membuat kepalanya mau pecah. Bagaimana melewatkan hari-harinya dengan Kevin sampai tua? Bukan pecah lagi, tapi ambyar berkeping-keping.
Tapi Nana harus tahan. Lebih baik tinggal bersama Kevin dengan sebuah kontrak pernikahan, daripada harus merelakan dirinya menikah dengan anak kolega Omanya yang jelas-jelas tak tahu bentukannya seperti apa. Nana tak mau hal itu terjadi.
Paling tidak, jika dia menikah dengan Kevin, dia masih bisa berkeliaran bebas tanpa harus direpotkan oleh urusan merawat rumah sekaligus suami. Nana masih bisa shopping bebas, hang out bersama teman-temannya, bahkan mencari pria idamannya. Pasalnya, dalam kontrak pernikahannya dengan Kevin poin-poin di atas termasuk kedalam hal yang diperbolehkan dalam surat kesepakatan.
Dia tidak mau terus-terusan dikungkung oleh Omanya apalagi kalau seandainya menikah dengan pria pilihan Omanya. Dapat Nana pastikan, dia tak akan sebebas sekarang. Jadi sudi tak sudi, suka tak suka, rela tak rela, Nana harus bertahan dengan Kevin.
"Hey! Singa betina! Kenapa kamu melamun?" tanya Kevin saat melihat Nana terbawa dunia imajinya.
Nana mendongak dengan wajah ditekuk.
"Kepo!" tandas Nana sengit, lalu gadis itu bangkit menuju kamar mandi.
Kevin ternganga tak percaya mendengar celetukan Nana.
15 menit berlalu.
Nana keluar dari kamar mandi dengan setelan lengkap. Gadis itu ternyata sengaja langsung ganti baju di dalam kamar mandi demi menghindari mata buaya dari seorang lelaki bernama Kevin.
"Kamu mau kemana sudah rapih begitu? Kerja?"
"Kepo!"
Untuk kedua kalinya, Nana hanya menjawab pertanyaan Kevin dengan kata 'Kepo'. Seolah, cuma kata itu yang bisa gadis itu lontarkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Kevin.
Kevin pun memberengut kesal. Dia geram bukan kepalang. Tapi jika dia lawan, belum tentu juga si singa betina itu akan mau meladeninya dengan kata lain.
Nana melenggang melewati Kevin. Mengambil sling bag serta ponselnya dengan santai. Dia sedang malas berdebat panjang lebar dengan Kevin. Dia ingin menenangkan pikirannya. Dan caranya, dia harus keluar sejenak dari apartemennya itu. Mencari angin segar mungkin bisa sedikit meredam darah tingginya yang mencuat hingga ke pucuk kepalanya.
Melihat Nana mendekati pintu utama apartemen, otak Kevin pun semakin penasaran dibuatnya. Lantas, Kevin pun menyeru lagi kepada Nana.
"Kamu mau kemana sih, singa betina?"
Nana memutar kepalanya sejenak. Tatapannya begitu pelik, mimik wajahnya tak menyenangkan sama sekali untuk dilihat. Kemudian Nana menimpali pertanyaan Kevin dengan kata yang serupa seperti sebelum-sebelumnya.
"Kepo!"
Kontan saja membuat Kevin yang sudah geram, semakin geram sampai ke ubun-ubun mendengar jawaban Nana yang tidak bervariatif.
"Dasar istri gak ada akhlak!" hardik Kevin.
__ADS_1
Kegeraman Kevin tak berhenti disitu. Bukannya menanggapi ocehan Kevin dengan baik-baik, Nana malah sengaja membanting pintu dan menciptakan kegaduhan yang tiada tara. Hal itu tentu saja membuat Kevin sedikit terlonjak kaget.
Brak!
"Yak! Istri kurang ajar! Singa betina sialan!" raung Kevin saat Nana bersikap culas dan mengabaikannya lagi dan lagi.
Gadis itu tak tampak lagi wujudnya setelah pintu apartemennya tertutup kembali. Kevin yang sedari tadi dibuat dongkol akhirnya mencoba mengelus dadanya berkali-kali. Tingkat kesabaran sedang diuji sekarang.
"Aku bisa mati jantungan kalau si singa betina banting pintu kaya gitu terus. Hufttt ...." Kevin mencoba mengatur nafasnya dalam-dalam, merilekskan kembali seluruh urat-uratnya yang menegang gara-gara ulah Nana.
"Tapi si singa betina itu mau kemana ya? Apa dia jangan-jangan mau menemui pria payah bernama Jonatan itu? Makanya dia sedari tadi bungkam terus," tebaknya.
Ada sebersit rasa khawatir yang terlintas di otak Kevin. Setelah itu, tanpa berpikir panjang, Kevin langsung menyambar hoodienya yang berwarna kuning dan putih. Lantas, mengikuti Nana yang entah mau kemana perginya.
Setelah sampai di parkiran, Nana tak lantas membawa mobilnya. Gadis itu memilih berjalan kaki. Dan Kevin semakin curiga.
"Mau kemana sebenarnya si singa betina itu? Tumben dia gak bawa mobilnya? Apa mungkin dugaanku benar, kalau si singa betina itu mau menemui si Jonatan di sekitaran sini?"
Kevin tetap mengawasi Nana dari radius kurang lebih dua meter di belakang gadis itu. Pikiran Kevin mulai menerka-nerka bahwa Nana akan menemui Jonatan. Kakinya tetap melangkah mengikuti kemana pun gadis itu bergerak.
"Dia sebenarnya mau kemana sih?" tanya Kevin pada dirinya sendiri.
Matanya tetap fokus melihat ke pemandangan di depannya. Sementara benaknya mulai diliputi perasaan khawatir sekaligus penasaran yang luar biasa karena semakin diikutin semakin Nana susah ditebak mau pergi kemana.
Sampai pada akhirnya, Nana menghentikan langkahnya di salah satu halte bus. Kevin juga ikutan berhenti tapi di tempat yang agak berjarak dengan Nana. Sebisa mungkin Kevin berusaha membuat Nana tidak sadar kalau dirinya dibuntuti oleh Kevin. Dan tak berlangsung lama, gadis itu mendapatkan busnya. Sayangnya, ketika Kevin ingin menaiki bus yang sama dengan yang Nana naikin, bus itu keburu melaju meninggalkan Kevin.
"Argggh sial! Aku ketinggalan busnya," erang Kevin.
—o0o—
Nana membuka ponselnya, mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Gadis itu sedang berkirim chat dengan Tania.
(Via Whatsapp)
Nana: Tan, kamu ada di kontrakan gak? Aku suntuk banget nih gara-gara habis perang dunia sama si muka tembok.
Tak lama, Tania pun membalas pesan yang dikirim Nana beberapa detik yang lalu.
Tania: Ada. Tapi aku lagi mau ke minimarket dulu bentar. Kamu kalau sudah sampai kontrakan aku langsung masuk aja, kuncinya aku taro di ventilasi udara.
Nana: Oke. Eh! Sekalian deh aku nitip beli roti sama susu. Aku belum sarapan soalnya. Males banget aku sarapan berdua sama si muka tembok tadi.
Tania: Weleh ... weleh ... Na, kamu jangan ribut terus sama si Kevin. Nanti kamu bisa jatuh cinta sama dia.
Nana: Dih ... amit-amit tujuh turunan mesti jatuh cinta sama si muka tembok. Jangan ngarang kamu, Tania!
Tania: Haha ... asal kamu tahu Na, aku pernah lihat nih sebuah kutipan yang cocok banget buat kamu sama Kevin. Mau tahu gak?
Nana: Apaan emang?
Tania: Mungkin kamu tidak menyukainya sekarang, tapi siapa tahu besok atau lusa kamu akan menyukainya. Itu kutipan dari drama-drama Korea yang aku tonton. Haha ... cocok banget buat keadaan kamu sekarang yang lagi ribut-ribut sama Kevin.
Nana: Please deh, Tania. Gak berbobot banget sih kutipan kamu. Kuberitahu satu hal, aku tidak akan menyukai ataupun tertarik sama si muka tembok itu sekarang, besok atau lusa. Pokoknya sampai kapanpun aku tidak akan menaruh rasa pada si muka tembok!!!! Gak pakai titik atau koma, tapi pakai tanda seru tiga. –_–
Bersambung
__ADS_1