Hallo Nana!

Hallo Nana!
Iri Bilang Boss!


__ADS_3

Hari berikutnya, pukul 12 siang kurang 5 menit.


"Kita mau kemana?" ucap Kevin dengan raut penasaran saat tiba-tiba Nana mengajaknya pergi. Entah mau dibawa kemana Kevin saat ini, hanya Tuhan dan Nana yang tahu.


"Tidak usah banyak bertanya, kamu akan tahu kalau sudah sampai," balas Nana sembari tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Tapi aku ingin tahu sekarang. Lagipula apa kamu lupa kalau aku tidak suka kalau disuruh menebak-nebak?"


"Diam. Atau aku akan menyumpal mulutmu dengan tissue!" ancam Nana.


"Cih! Sungguh menyebalkan kalau berurusan dengan wanita, apalagi wanita tua sepertimu."


Nana menatap Kevin dengan ekor matanya yang mirip burung elang, sementara mulutnya enggan menggubris kalimat Kevin yang cenderung sedang mengejeknya saat ini. Lantas, Nana kembali fokus menatap ke depan.


Melihat reaksi Nana yang cuma menatapnya sekilas tanpa minat menggubris membuat Kevin kembali membeo lagi.


"Aku sudah salah berurusan dengan singa betina sepertimu. Selain menyebalkan, kamu juga tuli."


Lagi, Nana cuma mendelikkan ekor matanya tanpa berniat meladeni kalimat Kevin yang lagi-lagi mengata-ngatai dirinya. Pertama, Kevin mengatai Nana wanita tua. Kedua, Kevin mengatai Nana seekor singa betina. Ketiga, Kevin menambahkan kata tuli sebagai bentuk ejekannya pada Nana. Kalau saja Nana tak sedang mengemudi, mungkin dirinya sudah mencabik-cabik mulut Kevin yang lemes itu. Bukankah singa memang suka mencabik-cabik mangsanya? Nana akan melakukan hal itu kalau Kevin sekali lagi mengatainya singa betina.


"Kenapa kamu diam saja sih? Apa mulutmu juga bisu?"


Nana jengah, tapi tidak mampu menggubris. Lagipula dia sedang membutuhkan jasa Kevin, jadi dia akan membiarkan Kevin babibu ngalor ngidul mengatai Nana sepuas hatinya. Nana akan ikhlas menutup telinganya seolah-olah benar-benar jadi tuna rungu sesuai perkiraan Kevin.


Kemudian, Nana mematikan mesin mobilnya. Lantas mendelik lagi ke arah Kevin yang mulai mingkem memberengut kesal.


"Turunlah!" ucap Nana singkat.


Kevin menoleh ke arah Nana, dan mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Turun?"


"Ya, apa kamu tuli?!" Kali ini giliran Nana yang ngegas menjawab dengan kalimat yang dikutip dari ejekan Kevin untuk dirinya.


Kevin berdecih sebal.


"Kenapa kita harus turun? Apa kamu kesal karena aku mengatai kamu singa betina? Makanya kamu sengaja menurunkan aku di sini?" cecar Kevin mulai berprasangka buruk pada Nana.


Nana menghela nafasnya dengan ikhlas saat Kevin selalu menyelipkan kata 'singa betina' dalam setiap lontaran kalimatnya. Andai Kevin tak sedang dia butuhkan, mungkin Nana benar-benar akan mencabik-cabik dan setelah itu ia menelan bulat-bulat daging Kevin. Tidak peduli jika Nana akan dijuluki kanibal menggantikan Sumanto Si Kanibal. Nana benar-benar jengah terus-terusan disebut singa betina oleh Kevin.


Tapi sekali lagi, saat ini Nana harus ikhlas dikatai singa betina. Karena Kevin adalah calon malaikat penyelamatnya, jadi Nana harus bersikap baik demi masa depannya yang sedang dipertaruhkan. Dia tidak ingin masa depannya tragis karena harus menikah sama anak kolega Omanya.


"Kamu mau tahu kan kemana aku membawa kamu pergi? Ini tempatnya!" sentak Nana sejurus dengan menunjuk sebuah bangunan yang berdiri kokoh tepat di depan mobilnya.


Kevin mengikuti arah telunjuk Nana yang mengacung, seketika matanya yang sipit semakin dibuat sipit ketika melihat bangunan yang ia yakini adalah sebuah butik terkenal.


"Jo Wong's Taylor?" takjub Kevin saat melihat plang yang tertera di atas gedung yang ada di depan mobil Nana. "Ke-ke-kenapa kita kesini?" saking takjubnya ia sampai terbata.


"Kamu harus fitting jas buat nanti malam."

__ADS_1


"Fitting? Memangnya buat acara apa?" Kevin masih belum mengerti maksud dan tujuan Nana membawanya ke tempat itu.


"Nanti malam Oma memintaku untuk bertemu dengan membawa pasanganku. Jadi aku ingin kamu tampil sempurna dengan memakai setelan jas yang bagus," jelas Nana tanpa mempedulikan keterkejutan Kevin yang tidak ada habisnya.


"Pa-pakai jas dari Jo Wong's Taylor? Tapi butik ini kan milik designer terkenal yang jasnya sering dipakai oleh artis-artis kondang ibukota atau pejabat-pejabat terkenal. Bahkan aku juga sering lihat di media, kalau pemilik butik ini sering mensponsori acara-acara Gala Dinner untuk para atlet badminton Indonesia di Guangzhou. Apa kamu yakin mau mengajakku kesini?"


"Kalau aku tidak yakin, aku tidak akan membawa kamu ke sini. Lagi pula, Omaku selera fashionnya sangat tinggi. Aku tidak mau Oma curiga kalau aku datang bersama pacar bohongan karena Omaku mempunyai prinsif 'you are what you wear' apa yang kamu kenakan adalah cerminan dari diri kamu."


"Cih! benar-benar prinsif yang menyesatkan," Kevin membuang wajahnya ke arah lain. Pikirannya semrawut kalau mendengar kutipan-kutipan murahan yang selalu dikait-kaitkan dengan prinsif hidup. "Kalau aku jadi presiden, aku akan menghukum kaum-kaum penebar kutipan-kutipan yang menyesatkan itu. Aku benar-benar muak dengan kutipan yang menyudutkan kaum lemah. Mereka pikir, mereka mampu menilai seseorang dari baju yang ia kenakan? Jelas saja tidak! Banyak kok yang berjas mahal tapi nyatanya dia tikus berdasi, dan banyak juga yang pakaiannya alakadarnya asal bersih nyatanya orang baik-baik," sewot Kevin. Emosinya mendadak naik hingga ke ubun-ubun.


Nana menanggapi dengan santai dan tenang setiap kesewotan Kevin. Bahkan Nana benar-benar tidak berselera meladeni Kevin yang cerewetnya mengalahkan emak-emak komplek kalau sedang membeli sayur di abang sayur yang setengah bengek itu.


"Jadi kamu mau turun apa tidak?! Kalau tidak, aku akan cari tempat penyedia jas yang sesuai selera kamu," Nana berucap dengan amat datar sedatar sepatu teplek yang ia kenakan saat ini.


"Tentu saja mau," Kevin beringsut tanpa pikir panjang, meninggalkan Nana yang masih duduk di kursi kemudi mobilnya.


"Cih! Ngomong menyesatkan tapi mau juga dibelikan jas mahal. Dasar muka tembok!" hardik Nana.


Nana keluar dari mobilnya, menyusul Kevin yang berjalan lebih dulu ke arah pintu butik. Lantas, Nana buru-buru mensejajarkan langkahnya agar Kevin tak langsung menyelonong masuk begitu saja tanpa barengan sama dirinya.


Setelah sampai di depan pintu butik, Nana dan Kevin disambut salah satu pelayan butik yang sedang berjaga. Jenis kelaminnya pria. Mungkin.


Ada yang aneh dari pelayan tersebut, membuat Kevin melebarkan mata sipitnya. Bulu tengkuknya mendadak berdiri saat si pelayan tersebut menyapanya dengan heboh. Bukan! Bukan karena sapaannya yang membuat Kevin bergidik ngeri, tapi karena melihat kebiasaan jorok pelayan itu yang sering mencungkil kotoran di dalam lubang hidungnya. Ditambah sikap ngondeknya itu, Kevin rasanya ingin menenggelamkan manusia keturunan kadal itu ke neraka paling dasar.


"Hai ... selamat datang di butik Jo Wong's Taylor," ucap pelayan setengah ngondek itu sembari memelintirkan berlian hasil galiannya di gua kembar yang membuat Kevin jijik dan mual.


Apalagi, saat pelayan itu menempelkan lengan bekas menggali berliannya itu ke bahu Kevin.


Nana yang berdiri di samping Kevin hanya menatap aneh pada Kevin yang tiba-tiba mengeraskan rahangnya, bahkan wajahnya juga berubah memerah menahan kejijikannya itu.


"Kamu kenapa? Kenapa kamu mendadak aneh begitu?" tanya Nana tanpa curiga sedikitpun kalau Kevin sedang emosi sekaligus jijik.


"Aa-aku hanya mendadak mual," balas Kevin berdusta. Bagaimanapun dia tidak mau mengatakan kalau dia sedang risih dengan manusia kadal yang memiliki kebiasaan nyeleneh itu.


"Mas mual kenapa? Apa mas sedang sakit?" pelayan yang Kevin juluki manusia kadal itu malah menginterupsi dan menimbrung percakapannya dengan Nana.


Dan Kevin semakin jijik, risih, marah karena tangan bekas galian berlian di gua kembar itu malah berpindah meraba ke keningnya.


"Aish ... singkirkan tangan kotormu itu, dasar bodoh!" runtuh sudah kesabaran Kevin yang sedari tadi ditahannya agar tidak memuntahkan kalimat sumpah serapah pada lelaki setengah perempuan itu.


Bukannya marah, pelayan itu malah menyengir menampilkan deretan giginya yang gingsul.


"Si mas nya kalau sedang ngegas malah makin tampan deh. Haha," tukas pelayan yang tak diketahui namanya itu dengan songong, membuat Nana terkikik puas melihat Kevin tidak berkutik digoda manusia kadal.


Kevin hanya mampu berdesis jijik, sejijik-jijiknya. Perasaan Kevin campur aduk, antara ingin marah, kesal, dongkol dan mungkin ingin mencekik leher si manusia kadal itu karena berani-beraninya menggoda sesama jeruk. Biar bagaimanapun Kevin adalah lelaki tulen. Pantang untuknya melakukan jeruk makan jeruk.


"Sekarang daripada kamu menggodaku, lebih baik berikan jas yang cocok untuk aku," titah Kevin mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya sih, Kevin hanya ingin menjauhkan manusia kadal itu dari dirinya. Dia sungguh tidak kuat menahan betapa mualnya dirinya kalau berhadapan dengan manusia kadal yang ngondek itu.


"Aku punya koleksi yang bagus untuk kamu Mas, sebentar aku ambilkan dulu."

__ADS_1


Manusia kadal itu kemudian berlalu dari hadapan Kevin dan Nana, sejurus dengan kepergian manusia kadal itu Kevin akhirnya bisa bernafas sedikit lega.


"Fiuhhh ... geli banget aku deket-deket sama si manusia kadal itu."


"Eh! Manusia kadal? Kenapa kamu memanggilnya seperti itu?" Nana mengerutkan keningnya membentuk tiga lipatan.


"Soalnya dia agresif seperti kadal. Coba kamu perhatikan cara jalannya! Dia meliuk-liukan pinggulnya seperti kadal betina."


"Kamu memang paling bisa kalau menjuluki orang dengan sebutan buruk. Seperti kamu yang paling sempurna saja!" decih Nana sembari mengangkat ujung kiri bibirnya dengan risih.


"Setidaknya aku tidak neko-neko, lagi pula aku itu orangnya cukup manis dan menggemaskan jadi tak punya julukan negatif," tandas Kevin penuh percaya diri. Tepatnya, lebih ke arah sombong dan berlebihan alias lebay.


"Manis dari Hongkong. Dasar muka tembok!" geram Nana, tak kuat meladeni Kevin yang tingkat narsis serta kepedeannya yang super tinggi, mengalahkan tingginya gedung Burj Khalifa di Dubai. Menurut Nana, jika Burj Khalifa memiliki tinggi sampai 828 meter (2.717 kaki) maka tingkat ketinggian narsis sekaligus pedenya Kevin sepuluh meter diatas itu. Tak salah kan, kalau Nana menyebutnya muka tembok? Toh Kevin memang seperti tembok yang tidak punya urat malu sama sekali.


"Iri bilang bos!" Kevin tersenyum tengil mendengar kegeraman Nana.


"Terserah kamu sajalah," Nana pasrah. Ia benar-benar sudah kehabisan kata-kata menghadapi Kevin si manusia tembok.


Daripada kepala Nana makin semrawut mendengar mulut tengil Kevin, lebih baik dia menyusul pelayan butik yang sedang memilih dan memilah jas yang cocok untuk Kevin di sudut ruangan.


—o0o—


Malam harinya ....


Kevin nampak siap dengan setelah jas berwarna biru pucat, dipadukan dengan kemeja putih sebagai baju dalaman, serta hiasan dasi kupu-kupu yang melingkar manis di lehernya.


Sementara Nana menggunakan long dress dengan aksen bahu terbuka berwarna senada dengan jas yang Kevin kenakan. Karena rambutnya tidak panjang, maka Nana hanya mengkriting kecil rambutnya agar sedikit bergelombang.


Mereka nampak manis dan serasi.


"Kamu harus ingat, jaga sikap tengilmu dan bersikaplah profesional di depan Omaku. Aku tidak mau hanya karena sikap tidak wajarmu, semuanya jadi kacau. Apalagi kalau Omaku sampai tahu aku nekat membawa pacar bohongan ke hadapannya, bisa-bisa aku digorok sama beliau," ucap Nana memperingkat Kevin yang entah keberapa kali dia utarakan semenjak tadi siang.


"Tenang aja dih, kamu gak percayaan banget sama aku. Kamu sudah mengatakan hal tersebut berkali-kali padaku. Lagipula, aku ini tidak pikun dan tidak bodoh!. Sekali saja cukup buatku mencerna dengan baik semua arahan kamu itu!" geram Kevin.


"Pokoknya aku tidak mau sampai gagal."


Kevin memutar bola matanya dengan sebal, "Sudah cukup sewotnya?" ucap Kevin mencoba menghentikan perdebatannya dengan Nana kala mereka berdua sampai di restoran mewah yang ada di bilangan kota Jakarta.


"Awas ya ... kalau sampai kamu salah berucap, aku tidak akan mengampunimu!" tegas Nana sekali lagi.


"Iya, iya bawel banget sih kamu singa betina. Sekarang kita jadi masuk apa tidak?"


Nana turun dari mobilnya dengan keadaan sebal. Namun rasa sebalnya segera ia rubah kala Omanya menyambut mereka di parkiran.


"O..Oma, kenapa Oma ada di sini?" panik Nana.


Omanya Nana tak langsung menjawab, raut wajah beliau tidak bisa ditebak sama sekali, membuat Nana meleguk salivanya dengan rakus.


"Gawat! Sepertinya Oma sudah mendengar percakapanku dengan Kevin di dalam mobil tadi. Malam ini juga, aku pasti akan digorok sama Oma!" pikir Nana dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2