Hallo Nana!

Hallo Nana!
Siput Pemersatu Kita


__ADS_3

Waktu merangkak menuju sore. Kevin telah berada di lobi apartemen istrinya. Berlama-lama di rumah orang tua aslinya, membuat seluruh rongga kepala Kevin memanas. Bagaimana tidak, pertemuannya dengan Mama Papanya hanya untuk membahas masalah Nana dan juga calon cucu. Sangat tidak menguntungkan untuk Kevin. Rasanya ia seperti ingin geleng-geleng kepala terus menerus. Kalau perlu, ia ingin membenturkan kepalanya sendiri agar bisa menghilang dari muka bumi ini.


"Aku pulang," ucap Kevin dengan lesu saat berhasil sampai memasuki unit apartemen Nana. Ia langsung membanting tubuhnya ke sofa dengan kasar.


"Kamu darimana saja?" Nana datang tiba-tiba. Ia berdiri dihadapan Kevin, membuat Kevin sedikit menjengkat bangun. Padahal baru saja Kevin merebahkan tubuhnya agar dapat meminimalisir lelah yang dirasanya. Namun kehadiran Nana yang tiba-tiba, malah membuat semuanya jadi kacau balau.


"Dasar singa betina, kebiasaan deh kalau datang tuh suka dadakan kaya jelangkung. Bikin kaget orang aja," protes Kevin sembari mengerucutkan bibirnya beberapa senti.


"Lah, kan kamu tadi yang teriak duluan 'Aku pulang' gitu, ya aku sambut lah. Lagian kamu ngapain mesti kaget sih? Jelas-jelas aku ada di sini," timpal Nana bersungut-sungut. Betapa kesalnya dia kalau Kevin mulai bersikap menyebalkan apalagi menyematkan julukan aneh-aneh padanya.


Kevin menutup mulutnya tak percaya. Bukan karena terpesona, tapi betapa tidak percayanya dia jika mendengar Nana menyerocos seperti itu selaksa ibu-ibu komplek yang hobinya marah-marah.


"Kenapa menutup mulut begitu?" tanya Nana curiga.


"Kamu lama-lama makin mirip deh sama ibu-ibu komplek di tempat tinggal aku dulu."


"Sembarangan! Kamu pikir saya ibu-ibu tukang gosip?" Nana berkacak pinggang tak terima.


"Dih seriusan. Kamu cerewet dan galak kaya penggosip! Sebelas dua belas sama ibu-ibu komplek."


Nana tak menjawab. Namun wajahnya berubah merah menyala. Ia murka. Tanpa berlama-lama, Nana pun langsung meraih bantal sofa dan menghujani Kevin pukulan bertubi-tubi.


"Rasakan ini!"


"Aww.. aw.. aw.. ampun!" Kevin mengerang kesakitan. Tapi Nana tak mau berbelas kasihan pada orang yang telah menyamakannya dengan emak-emak penggosip. Nana terus memukul Kevin dengan bantal sofa tanpa ampun.


"Aww.. aw.. hentikan Singa Betina!"


"Tak akan aku biarkan sebelum kamu menarik ucapan kamu, dasar Muka Tembok!"


"Yak, dasar Singa Betina sialan! Bisa-bisanya kamu menganiaya manusia baik hati seperti malaikat selembut kapas ini! Yak, Singa Betina!! Hentikan!!"


"Aku gak akan berhenti sebelum kamu meminta maaf!" Nana masih memberondong Kevin dengan pukulan bantalnya. Begitupun Kevin, ia masih berusaha menangkis pukulan Nana.


"Yak, Singa Betina!! Stooopp!" teriak Kevin setengah menjerit, membuat Nana membeku beberapa saat.


"His, kok malah jadi galakan kamu sih? Aturan mah biasa aja nanggepinnya, orang aku juga biasa aja tadi nanggepinnya. Sakit tau!!" protes Kevin sembari mengelus lengannya yang dominan terkena pukulan Nana.


"Biarin. Saya punya tangan, tangan-tangan saya, terserah saya dong kalau saya mau melakukan apapun," Nana memelototi Kevin dengan jutek.


"Ya tapi gak pakai mukul aku juga kali. Ish, kamu mau jadi istri durhaka hah?"


Nana melempar bantal sofa yang tengah di pegangnya secara kasar ke arah Kevin.


"Lebih baik jadi istri durhaka daripada aku mati dongkol gara-gara punya suami mulutnya lemes," tandas Nana sembari menyelonong pergi meninggalkan Kevin.


Kevin hanya mendesis sebal. Mimpi buruk apa .. dia bisa sampai punya istri sekejam Nana? Padahal Kevin merasa bahwa dirinya adalah manusia baik hati seperti malaikat. Benar-benar tidak menguntungkan buat Kevin. Punya istri tapi serasa memiliki Singa Betina. Kejam dan tak mau mengalah.

__ADS_1


"Ish, bisa-bisanya ya kamu main pergi gitu aja saat aku belum selesai bicara. Hey, Singa Betina!! Hey, singa betina!"


Nana abai. Ia menulikan telinganya dan tetap melenggang ke arah dapurnya. Mau tak mau Kevin pun mengekor mengejar Nana.


"Dasar Singa Betina! Aku kan belum selesai, kenapa main pergi gitu aja sih?"


"Aku sudah selesai!!"


"Tapi aku belum!" Kevin menarik tangan Nana secara kencang, membuat Nana terhentak menghadap ke arah Kevin secara langsung.


Tanpa disadari, jarak mereka sangat dekat bahkan terlampau hampir tak berjarak hingga membuat suasana jadi nampak canggung.


Dag dig dug! Suara jantung Kevin berpacu tak beraturan ketika tubuh Nana berjarak beberapa senti dengannya. Lidah Kevin juga kelu dan sulit sekali berucap, bahkan untuk meloloskan air liur saja rasanya sangat sulit.


'Debaran apakah ini? Kenapa aku jadi gugup begini berhadapan dengan si Singa Betina sedekat ini?' ucap Kevin dalam hati. Ia tidak menyangka kalau aksinya barusan malah menjebaknya dalam situasi seperti sekarang.


Ctak! Secara mengejutkan Nana mengambil kesempatan untuk mengeplak jidat atas Kevin dan tentu saja membuat sang empunya langsung mengaduh kesakitan dan tersadar dari momen kecanggungannya.


"Aww... apa yang kamu lakukan dasar Singa Betina sialan?!" hardik Kevin meringis kesakitan sembari mengelus jidatnya yang terasa panas.


"Buahahahahaaa rasakan! Itu akibatnya berani macam-macam denganku!"


Nana tak kuasa menahan gelak tawanya melihat Kevin kesakitan. Ia merasa menang saat berhasil mendaratkan satu keplakan mulus di jidat atas Kevin.


"Dasar istri durhaka!" rutuk Kevin.


Namun Nana tak peduli. Ia melenggang masuk ke dapur sembari terus menghujani Kevin tawa jahat. Sungguh sangat membuat telinga Kevin panas bawaannya.


Kevin memutar tubuhnya dan kembali ke sofa yang sempat ia tinggalkan beberapa menit. Setelah itu, dengan kasar ia membanting bokongnya pada sofa empuk itu.


Kevin duduk sembari menangkup dan menarik sebagian wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan gusar. Kejadian barusan sungguh membuat Kevin merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia merasa bukan seperti dirinya yang asli. Kemudian dia meraba dadanya, ia mendapati jantungnya berdetak tak beraturan.


"Sebenarnya ada apa sih dengan aku? Kenapa aku dag dig dug begini? Debaran apa ini?" cicit Kevin tak mengerti. "Apa mungkin aku mulai.."


Secepat kilat, Kevin menggelengkan kepalanya dari pikiran - pikiran anehnya tersebut. Mengusir semua hal-hal yang merujuk pada kata paling keramat di hidup Kevin yaitu cinta. Kevin sungguh tidak ingin bermain-main dengan yang namanya cinta. Apalagi harus jatuh cinta pada Nana—wanita yang telah merenggut masa depan cerahnya dalam sekejap. Itu sangat amat tidak diperbolehkan untuk seorang Kevin jatuh cinta pada Nana.


Setelah itu, Kevin mencoba menormalkan diafragmanya yang tak beraturan. Ia merasa tak boleh terbawa suasana apalagi sampai memiliki perasaan pada Nana. Ia merasa hubungannya dengan Nana tak boleh lebih jauh dari sebatas partner bisnis. Ya, hanya sebatas profesionalitas saja, tidak lebih dan tak akan lebih.


"Aku gak boleh begini, aku harus membuang perasaan ini. Terlalu berbahaya jika aku sampai memiliki perasaan pada wanita itu," tekad Kevin takut.


Namun saat ia baru beberapa detik mengatur ritmenya, tiba-tiba Kevin dikejutkan jeritan suara Nana dari dalam dapur, membuat Kevin terbelalak kaget.


"Aaaaaaaaaaaaa!"


"Nana, ada apa dengan si Singa Betina itu?"


Kaki-kaki panjang Kevin langsung berlari menjangkau sumber suara.

__ADS_1


"Nana, apa kamu tidak apa-apa?" Ia berlari sambil berteriak. Meskipun Kevin berulang kali menepis pikirannya jika dia tidak boleh ada perasaan pada Nana, tetap saja saat mendengar gadis itu menjerit Kevin tak dapat mengontrol kekhawatirannya pada gadis yang ia sebut Singa Betina itu. Ia sungguh takut Nana kenapa-kenapa. Secara naluriah, Kevin memang tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu. Makanya ia sekarang sepanik itu mendengar Nana menjerit di dalam sana.


Dan ketika kaki panjangnya tepat memijak ambang pintu dapur, Kevin hanya bisa melongo dengan apa yang dilihatnya.


"Hey, Singa Betina.. apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menjerit?" cebik Kevin merasa menyesal telah buru-buru menjangkau dapur dengan tergesa-gesa.


"Itu... itu... hiiiy!" jawab Nana diselingi bergidik geli.


Kevin merasa seperti dipermainkan oleh Nana. Bagaimana tidak, gadis itu menjerit hanya karena melihat siput-siput yang hendak di masaknya merayap ke dinding-dinding dapur.


"Hiiiy... dasar siput sialan! Kenapa kau malah bergerak! Hiiyy menjijikan!"


Kevin yang berada di ambang pintu hanya menyaksikan pemandangan di depannya sambil melipat kedua tangannya dan geleng-geleng kepala. Betapa konyolnya Nana saat ini. Ia ketakutan setengah mati hanya karena ulah siput? Sungguh sangat konyol di mata Kevin.


"Singa Betina.. Singa Betina, betapa payahnya dirimu. Masa sama siput laut sekecil itu saja takut? Gimana kalau sama bekicot?" cibir Kevin santai.


"Ish, ini bukan masalah kecil atau besarnya. Apa kamu tidak lihat, mereka mengeluarkan lendir?" tunjuk Nana pada siput masih dengan ekspresi gelinya.


"Ya siput mengeluarkan lendir lah, kalau mengeluarkan uang namanya mesin ATM."


"Ish.. GAK LUCU!!" desis Nana sebal.


"Lagian siapa juga yang sedang melucu," ucap Kevin sembari mendekat dan memungut salah satu siput yang tengah bergerak.


"Kamu takut dengan hewan ini?" lanjut Kevin sembari mengacungkan siput yang berhasil ditangkapnya. "Sangat tidak manusiawi!" cibir Kevin sembari melempar hewan itu pada baskom.


"Jangan mencibirku terus menerus dasar Muka Tembok!" Nana mendebat tak terima. "Sudah aku bilang aku tidak takut. Aku cuma geli dengan lendirnya!"


"Lagian kamu mau ngapain sih main-main sama hewan ini?" tanya Kevin polos.


"Ya mau di masaklah. Kamu pikir mau aku koleksi?"


Kevin mengangkat ujung bibirnya. Tersenyum miring dan meremehkan. "Sejak kapan kamu masak? Bukankah kamu lebih suka makan di luar atau delivery jika lapar? Lagian kamu kan bukannya gak bisa masak ya selain masak mie dan air?"


"Hey, jangan merendahkan aku!! Gini-gini aku adalah cucu dari pemilik restoran terkenal, otomatis sedikit demi sedikit aku belajar memasak. Aku bisa masak sea food yang enak asal kamu tau!!" Nana menjawab dengan nada nyolot. Sungguh, ia tak terima jika Kevin selalu menyinyiri kemampuannya.


"Sekarang bantu aku mengutip para siput sialan ini!!" titah Nana.


"Siput sialan, ditinggal sebentar sudah mau melarikan diri saja. Lihat saja, sebentar lagi akan ku rebus kau!" imbuh Nana mengumpat.


Gadis itu ragu-ragu mencoba menangkap siput-siput tersebut dengan kedua tangannya. Kendati menjijikan, ia tetap berusaha mengutipnya sebelum siput itu melarikan diri terlalu jauh.


Kevin hanya mampu menipiskan bibirnya, menahan tawanya agar tak pecah dengan kekonyolan Nana.


'Singa Betina.. Singa Betina.. ternyata kamu manis juga!' ucap Kevin dalam hati secara refleks yang langsung segera diralat oleh dirinya sendiri.


'Haish... apa-apaan kamu ini Vin, masa ngatain si Singa Betina ini manis? Manis dari Hongkong!' lanjut batin Kevin.

__ADS_1


Dengan sebal, ia memutuskan untuk ikut mengutip siput-siput itu bersama Nana.


Bersambung,


__ADS_2