Hallo Nana!

Hallo Nana!
Permisi, Sepertinya Saya Kenal!


__ADS_3

Nana dan Kevin terpaksa harus ke restoran Oma Lidia, karena beliau meminta cucu dan cucu menantunya itu datang menemuinya sesegera mungkin. Alhasil, mau tak mau Nana dan Kevin harus mengesampingkan perang mereka demi membuat citra baik di depan Oma Lidia.


Mereka berdua sepakat harus terlihat kompak jika sedang dihadapan Oma, mereka harus terlihat seperti sepasang suami istri sungguhan meski dalam hati mereka berdua agak canggung.


"Aku heran deh, kenapa Oma jadi sering menghubungi kamu sih ketimbang aku? Sebenarnya yang cucunya itu aku atau kamu, sih?" sewot Nana seraya mendelikan ekor matanya ke arah Kevin yang tengah fokus dengan kemudi mobilnya.


"Ya mana aku tahu. Mungkin karena kamu jarang di apartemen kali makanya Oma lebih sering menghubungi aku. Lagipula bagus dong ...," balas Kevin ambigu. Diangkatnya sebelah bibirnya tersungging sinis.


"Bagus apanya?" tanya Nana tak mengerti.


"Ya baguslah, itu artinya waktu pacaranmu dengan si playboy cap biawak itu tak terganggu dering ponselmu lantaran Oma menelpon kamu terus-menerus."


Nana mendesis kasar saat gendang telinganya menangkap kata 'Playboy cap biawak' yang pasti ditujukan untuk Jonatan kekasihnya. Dasar Kevin ini, masih sempat-sempatnya mengejek kekasih Nana saat di situasi serius seperti ini.


"Ish, siapa juga yang merasa terganggu sama telpon Oma? Lagipula nih ya, semisal Oma mau menelponku ya tinggal telpon saja. Aku tidak pernah melarang siapapun untuk menelepon aku meskipun saat aku sedang bersama Jonatan, dia juga tidak akan merasa terganggu kok hanya karena sebuah panggilan telpon, apalagi Omaku sendiri."


Bibir Kevin berkecipak meremehkan perkataan Nana, lantas menuturkan sebuah fakta yang membuat Nana lagi-lagi hampir hilang kesabarannya.


"Prettt ... tidak akan terganggu apaan! Kemarin aku nelpon beberapa detik saja langsung dimaki-maki sama kamu, apanya yang tidak terganggu sama sekali?" cibir Kevin tanpa beralih menatap lurus ke jalanan.


"Hey, itu lain urusannya ya! Kalau sama kamu mah wajib hukumnya marah-marah habis muka kamu ituloh jengkelin banget," timpal Nana.


"C'mon! Yang ngejengkelin tuh siapa ya? Aku atau kamu?" ucap Kevin melemparkan peluru sindirin balik pada Nana, membuat gadis itu mengerutkan wajahnya berlipat-lipat, lalu memalingkan wajahnya ke arah samping.


Sepanjang perjalanan menuju restoran Oma Lidia, Kevin memilih tak bergeming begitu pula Nana, malahan gadis itu sudah tertidur dengan pulasnya sehabis bertikai dengan Kevin.


Ketika Kevin mendapati Nana tertidur dengan kepala miring ke arah samping kiri, tiba-tiba sebilah tangannya dengan sengaja menarik kepala Nana agar menegak. Perhatian kecil Kevin itu rupanya membuat tidur Nana sedikit terusik.


"Lehermu akan pegal jika tertidur dengan posisi seperti itu," ucap Kevin seraya membagi dua fokusnya, membenarkan posisi tidur Nana serta menatap lurus jalanan.


Selang beberapa puluh menit, mobil yang ditumpangi Kevin dan Nana telah sampai di tempat tujuan. Namun sayangnya Nana masih belum membuka matanya, dia tertidur cukup pulas siang itu. Mau tak mau Kevin pun berusaha membangunkan Nana dengan cara menepuk-nepuk pipi Nana yang menggembung, tidak peduli jika wanita itu akan memekik nantinya, yang penting dia harus bangun sekarang.


"Singa betina bangunlah, Ini sudah sampai. Cepat bangunlah sebelum Oma kamu nanti menyusul kemari, singa betina!"


Jangankan membuka mata, bergeming saja tidak. Nana begitu menikmati tidurnya sampai tak sadar Kevin menepuk-nepuk pipinya beberapa kali, bahkan Kevin terpaksa menggoyangkan bahu Nana agar wanita mau bangun.


"Cih, dasar kerbau! Susah sekali membangunkan singa bertubuh kerbau ini," decih Kevin saat usahanya membangunkan Nana gagal berkali-kali.


Alih-alih bangun, tak disangka Nana malah mendengkur dengan halus. Bukan dengkuran yang memekik telinga, melainkan lebih mirip helaan napas dengan ritme teratur, membuat Kevin langsung terpana seketika.


"Kalau sedang tertidur begini kamu nampak seperti malaikat dan aku senang sekali berlama-lama memandang wajahmu. Coba kalau kamu sedang sadar, beuh ... sudah pasti membuatku jengkel setiap saat," curhat Kevin.


Tanpa sadar, tangan Kevin sudah mulai mengelus-elus pipi Nana dengan lembut. Sejurus itu pula, senyumnya juga turut mengembang begitu tulus. Kevin seolah memiliki kesenangan baru yaitu selalu menyukai pemandangan Nana ketika tertidur, rasanya seperti tengah memandang hamparan sawah hijau yang indah dan meneduhkan mata. Segar dan tertram.


Perasaan itu murni terpatri di benak Kevin. Entah sejak kapan datangnya, yang jelas perasaan itu mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan lajunya. Meski berulang kali menolak dengan keras kalau Kevin tidak akan terpikat, nyatanya perasaan itu muncul mengalahkan logika dan akal sehatnya. Tapi sayangnya saat ini Kevin masih gengsi mengakuinya. Dia juga enggan mengakui secara blak-blakan kalau ada secuil perasaan sayang pada Nana.


Sesaat, Kevin termenung ketika menatap wajah damai nan teduh Nana. Ada seberkas hantaman rasa bersalah pada Nana karena telah melanggar perjanjian mereka, dalam perjanjian itu terdapat butir-butir jika salah satu dari mereka tidak boleh ada yang terlibat dengan perasaan. Nyatanya Kevin tidak bisa menepatinya, ia menginginkan Nana lebih dari sekedar istri setengah sahnya.

__ADS_1


Terlebih, saat Kevin tahu kalau Nana tengah masuk dalam rencana busuk Jonatan, rasanya Kevin tidak rela melihat Nana dihancurkan untuk kedua kalinya oleh Jonatan, Kevin benar-benar ingin melindungi Nana dari lelaki bermuka dua itu. Kalau bisa sebelum lelaki itu berhasil mencapai puncak rencananya.


Ketika Kevin tengah asik memandang wajah Nana yang sedang tertidur dibarengi dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk di otaknya, tiba-tiba kelopak mata Nana bergerak-gerak menandakan kalau si pemiliknya akan segera bangun dari tidur lelapnya.


Sontak saja Kevin langsung menarik tangannya dari pipi Nana dengan segera sebelum ia kepergok si pemiliknya.


"Hmmm ... apa kita sudah sampai?" tanya Nana dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. Kemudian, wanita itu menggeliat serta menguap kecil, mengumpulkan pundi-pundi kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali.


Sejujurnya Kevin begitu dag dig dug cemas kalau Nana mengetahui aksinya tadi, namun sekuat tenaga Kevin berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menunjukan tanda-tanda kalau dia telah berbuat sesuatu yang akan membuat wanita itu marah besar.


Sebagai pria dengan bakat akting yang bisa dibilang mumpuni, agaknya Kevin berhasil membuat Nana tak menaruh curiga sedikitpun. Malahan, kini dia menunjukan sisi jahilnya dengan melontarkan ejekan pada Nana.


"Woah, enak sekali ya jadi kamu, tidur begitu pulas sementara aku harus menyetir layaknya supir, bahkan kamu sampai mengeluarkan liurmu saking lelapnya, keren banget pokoknya!" kata Kevin dengan nada sarkastisnya, membuat Nana secara naluriah langsung mengusap tepian bibirnya.


"Ish, jangan ngarang kamu! Aku tidak mengeluarkan liur."


Meski yakin kalau dirinya tidak mengeluarkan liur saat tidur, rupanya Nana masih saja terpengaruh oleh ucapan Kevin. Lamat-lamat dia pun segera mengambil kaca kecil di dalam sling bagnya, memeriksakan apakah benar kalau dia telah mengeluarkan liur ketika tidur.


"Tak kusangka kalau cucu konglomerat dengan label Atmaja ini kalau tertidur mengeluarkan begitu banyak liur. Jorok juga ternyata ya kamu," ledek Kevin dibarengi senyum tengil terbit di ujung bibirnya, memasang ekspresi menyebalkan yang akan membuat siapapun ingin mencekik leher Kevin tanpa ampun, termasuk Nana.


"Hish, gak ada liur sama sekali kok. Kamu ngarang aja, dasar muka tembok sialan!" protes Nana yang langsung mengeplak bahu Kevin dengan cukup keras lantaran berhasil mengelabui dirinya.


"Aku tidak mengarang aku melihatnya tadi, mungkin sekarang sudah mengering. Asal kamu tahu ya, selain mengeluarkan liur, kamu juga mendengkur begitu keras. Benar-benar membuat telingaku sakit. Kebiasaan burukmu itu benar-benar tidak mencerminkan seorang cucu yang berasal dari keluarga terpandang, kalau Oma tahu kamu seperti itu, aku sangat yakin kalau beliau akan mengutukmu."


"Aku tidak percaya sama kamu. Kamu pasti mengarang lagi, kan? Dasar tukang fitnah!" sentak Nana, semakin tak terima saja dirinya diklaim negatif.


"Siapa juga yang fitnah. Aku serius, aku tadi dengar sendiri dengan kedua telingaku kalau kamu mendengkur kaya baby pig."


"Yee ... aku gak pernah memfitnah orang. Kamu mana tahu kalau kamu mendengkur, kamu kan sedang tidur, iya kan?"


Seketika Nana diam, ada benarnya juga yang dikatakan Kevin kali ini. Nana tidak mungkin tahu kalau dirinya mendengkur begitu hebat jika posisinya tadi tengah tidur. Tapi Nana tidak mau percaya begitu saja, bagi Nana sekali cheater always be cheater, dan Kevin masuk dalam kategori itu. Lelaki itu pasti berbohong lagi, Nana yakin 1000%.


"Mana buktinya kalau aku mendengkur tadi?" tantang Nana.


"Ada," jawab Kevin seadanya tanpa ada keraguan sama sekali meski pada dasarnya dia serta merta tak memiliki bukti. "Apa kamu mau melihat ponselku? Barusan aku merekamnya kalau kamu ingin bukti."


Nana mendekatkan wajahnya, menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik, mencari-cari celah kebohongan lewat kedua bola mata Kevin. Namun sayangnya nihil, Nana tak menemukan kebohongan sama sekali di mata Kevin. Tapi Nana masih ragu, hatinya mengatakan kalau Kevin tengah berbohong.


"Kalau kamu ingin lihat buka saja galeri ponselku," kata Kevin sembari menyodorkan ponselnya kepada Nana. Balik menantang Nana yang pendiriannya mulai tergoyahkan lagi.


Dilihat dari matanya, Kevin benar-benar pandai berakting. Dia cukup rileks menanggapi tatapan Nana yang tengah menyelidik layaknya seorang polisi mengintrogasi tersangka kriminal. Cukup tenang, sangat amat tenang dan begitu percaya diri, sehingga seperti tidak ada kebohongan sama sekali, membuat Nana malah jadi balik takut. Nana takut kalau dia kalah. Lalu kemudian, Nana jadi malu sendiri nantinya.


"Tidak perlu," pada akhirnya Nana pun menyerah. Dia takut kalau di dalam ponsel Kevin benar-benar ada video dirinya yang tengah mendengkur begitu hebat. Mau ditaruh dimana mukanya Nana kalau sampai dia menyaksikan langsung video tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Nana belum siap melihat aibnya sendiri.


"Kamu butuh bukti, kan? Ini buktinya, cek aja sendiri," tambah Kevin seolah sengaja membuat Nana semakin percaya kalau Kevin benar-benar memiliki rekaman Nana ketika mendengkur.


Nana diam tak bergeming. Begitu ragu hingga membuat Kevin melancarkan jurusnya yang lain, membuat wanita di sampingnya itu tak berkutik dan hanya mampu menelan air salivanya sendiri demi membasahi kerongkongannya yang serasa mengering mendadak.

__ADS_1


"Ini, ambil saja ponselku!" seru Kevin semakin semangat membuat Nana skak matt.


"Aku bilang tidak usah," tukas Nana. Wanita itu langsung membuka seat beltnya dan bergegas turun.


Selepas Nana turun, helaan napas lega lolos begitu saja dari mulut Kevin.


"Aman," celetuknya saat dia berhasil mengelabui Nana untuk kesekian kalinya. Senyum tengilnya tak luput menghiasi kemenangannya saat ini. Kevin jadi setuju dengan perumpamaan dunia yang mengatakan bahwa umur bukanlah patokan kedewasaan seseorang. Buktinya dia berhasil mengelabui Nana yang notabenenya lebih tua lima tahun darinya.


Melihat Nana sudah hampir mencapai pintu masuk restoran, buru-buru Kevin berlari mengejar Nana agar dapat mensejajarkan langkahnya dengan Nana. Saking buru-burunya Kevin mengejar Nana, dia tidak memperhatikan keadaan sekeliling. Alhasil, dia pun tidak sengaja menubruk seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Bruk!


"Maaf," kata Kevin. Dia berusaha membantu orang yang tak sengaja ditabraknya itu untuk berdiri kembali. "Bapak gak kenapa-kenapa?" sambung Kevin.


Si bapak yang jadi korban Kevin pun mendongak, "Mas Kevin?" raut wajah lelaki berumur cukup tua itu nampak berbinar sekaligus shock.


"Bapak tau darimana nama saya?"


"Saya tahu Mas Kevin karena Mas Kevin kan anak majikan saya. Masa gak kenal sama saya Mas. Saya Paijo supir keluarga Mas Kevin. Mas Kevin kemana aja? Kenapa tidak pulang? Semua orang di rumah menunggu Mas Kevin pulang."


Kevin diserang kepanikan luar biasa saat si bapak tua yang Kevin tidak tahu namanya itu mendadak mengenal dirinya dengan baik. Bahkan bapak tua itu menyuruh Kevin untuk segera pulang.


"Bapak sepertinya salah orang," ucap Kevin mulai berdalih. Dia tidak mau identitas aslinya terbongkar akibat ulah si pak tua dihadapannya ini, apalagi situasi dan kondisinya tidak menguntungkan saat ini. Masih ada Nana di sekitaran Kevin.


Dengan gerakan cepat, Kevin berusaha menghindar dari si bapak tua itu. Namun sayangnya, ketika Kevin berusaha kabur, lelaki tua itu malah mencekal Kevin dengan erat, membuat Kevin tidak bisa lari kemana-mana.


"Mas Kevin mau kemana, ayo pulang lah! Saya sudah berbulan-bulan mencari Mas Kevin, kumohon pulanglah ke rumah Mas Kevin supaya saya juga bisa pulang ke rumah keluarga saya," mohon si pak tua bernama Paijo itu, membuat Kevin risih seketika.


Nana yang berjalan lebih dulu pun sontak berhenti sejenak saat telinganya samar-samar mendengar kegaduhan di belakangnya. Ia langsung menoleh ke sumber kejadian dimana Kevin kini tengah ditahan oleh Pak Tua, yang Nana kira kalau Kevin pasti telah berbuat kecerobohan lagi.


"Ish, dia pasti berbuat yang nggak-nggak lagi dengan Pak Tua tak berdosa itu," desis Nana.


Dengan terpaksa Nana mencoba memangkas jaraknya dengan Kevin yang berada di belakangnya. Entah sedang apa, Nana hanya bisa berasumsi kalau Kevin pasti ditahan karena kecerobohannya dan kali ini korbannya adalah lelaki paruh baya berseragam seperti seorang pesuruh.


Melihat Nana hendak menghampiri dirinya, Kevin semakin panik. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan Pak Tua sesegera mungkin. Jangan sampai Nana tahu identitas Kevin yang sebenarnya.


"Kumohon lepaskan aku, istriku bisa curiga kalau bapak menahanku seperti ini," mohon Kevin. Semakin bergemuruh saja jantungnya saat Nana benar-benar semakin dekat dengannya.


"Tidak Mas, sebelum Mas Kevin berjanji akan pulang," tolak Paijo.


"Aku gak mau pulang."


"Yaudah kalau gitu biar saya seret paksa."


"Aish, jangan macam-macam kamu! Aku mohon pergilah dari sini, jangan sampai istriku tahu."


"Saya tidak peduli Mas, yang penting Mas Kevin janji mau pulang!" paksa Paijo, tangannya semakin erat mencekal pergelangan tangan Kevin. Sementara Kevin semakin panik luar biasa seiring dengan derap langkah Nana yang tinggal menghitung beberapa jengkal saja.

__ADS_1


"Kevin?" tegur Nana, memperhatikan Kevin dengan tingkah janggalnya.


Bersambung.


__ADS_2