Hallo Nana!

Hallo Nana!
Sampai Ketiduran


__ADS_3

Waktu bergulir begitu sangat cepat, yang tadinya baru jam 9 malam kini udah sudah hampir jam 12 malam, tapi Nana masih belum ada tanda-tanda lelah sama sekali menyudahi ocehannya mengenai Jonatan. Malahan, gadis itu selalu menggebu-gebu ketika menceritakan kisah klasiknya selama pacaran dengan Jonatan.


Tidak ada tanda-tanda lelah, tidak ada tanda-tanda kantuk, bahkan tidak ada tanda-tanda bosan selama kurang lebih tiga jam Nana bercerita pada Kevin dengan topik yang sama, yaitu Jonatan dan Jonatan.


Padahal, lawan bicara Nana sudah amat sangat mengantuk dan juga malas mendengarkan. Terlihat dari cara Kevin merespon hanya dengan geraman 'hmm' tanpa dibubuhi kata lain yang lebih panjang dan relevan. Dia juga terlihat menguap berkali-kali saat mulut Nana terus saja mengoceh antusias.


'Dia yang menawarkan diri mau jadi pendengar yang baik dari curhatanku, eeeh ... malah dia yang curhat. Hmm ... Dasar singa betina, payah!' hardik Kevin dalam hatinya.


Kendati demikian, Kevin tetap berusaha untuk tetap terjaga. Kadang dia menopang dagunya dengan bantal, kadang menopang kepalanya dengan telapak tangan agar tak terjatuh tiba-tiba saking tidak kuatnya menahan kantuk, dan kadang dia juga mengurut ujung hidungnya agar matanya tetap bisa melek demi Nana.


Jika Kevin boleh jujur, sebenarnya telinganya sangat amat panas berkali-kali mendengar nama Jonatan terus diagung-agungkan oleh Nana. Kepalanya panas, sepanas darahnya yang mendidih hebat. Tapi sekali lagi, Kevin tak bisa meluapkan keengganannya meski sudah berada dititik terendah dari rasa malasnya. Dia tidak habis pikir dengan Nana yang mudah terjerat lagi oleh bisikan syetan berbentuk Jonatan yang terkutuk.


Kevin memang baru bertemu dengan Jonatan sekali, tapi Kevin bisa menangkap kalau lelaki bernama Jonatan itu bukan laki-laki baik-baik untuk Nana. Jonatan itu pembual dan penuh dusta.


Sebenarnya, itu memang bukan kapasitas Kevin untuk menentukan siapa yang Nana suka dan tidak suka, tapi dia hanya sedikit menyayangkan sikap Nana yang seperti ABG labil dan bucin. Masa tidak bisa membedakan pria baik dan pria yang cuma bermodal gombal saja.


Rasanya Kevin ingin memberitahu Nana kalau Jonatan bukan pria yang baik, tapi apa daya Kevin sekarang? Dia tidak memiliki bukti kongkret yang mendukung sangkaannya. Kalaupun Kevin menjelaskan kepada Nana secara pelan-pelan mengenai Jonatan, gadis itu pasti akan lebih percaya dengan mulut manis Jonatan ketimbang dirinya. Jadi yang Kevin lakukan sekarang hanya membiarkannya saja tanpa debat.


Kevin masih berusaha mendengarkan curhatan Nana meskipun matanya hampir meredup dan mungkin sebentar lagi nyawanya akan terbang berkelana ke alam mimpi. Jika dianalogikan dengan sebuah batrei ponsel, keadaan Kevin sekarang tinggal 1% alias lowbat atau about die. Tapi Kevin masih bersikukuh untuk bertahan, kali ini posisi kepalanya disandarkan pada sandaran sofa, berusaha untuk rileks sambil mendengarkan curhatan Nana yang tak kunjung berkesudahan.


"Kamu tahu, aku dan Jonatan memiliki begitu banyak kesamaan. Kami memiliki selera musik yang sama, makanan favorit yang sama, rasa ice cream yang sama, dan bahkan kami menyukai idol k-pop favorit yang sama. Hehe," jelas Nana sembari tersenyum malu-malu.


"Hmmm ...."


"Kamu mau tahu, siapa idol K-pop yang kami sukai?"


"Hmmm ...."


"Aku dan Jonatan sama-sama suka Kyuhyun. Kamu tahu siapa Kyuhyun?"


"Hmmm ...."


"Kyuhyun itu member termuda dari Grup Super Junior. Dia itu tampan, tinggi, dan suaranya merdu dan lembut seperti permen kapas. Kamu tahu Super Junior, kan?"


"Hmmm ...."


"Ituloh, grup idol Korea yang menyebarkan Korean Wave pertama kali di Indonesia. Aku masih sangat ingat konser mereka yang bertajuk Super Show 4 yang di gelar di Jakarta. Beuh ... meriah banget. Waktu itu aku sama Jonatan masih kuliah. Kami berdua pas lagi sibuk-sibuknya di semester-semester akhir, tapi kami berdua masih sempet-sempetnya pergi nonton konser tanpa minta izin dulu sama Omaku. Bukankah aku sangat bandel dulu? Hehe ...," Nana berceloteh bangga mengingat masa-masa indahnya bersama Jonatan. Senyumnya mengembang dengan sangat indah saat menceritakan Jonatan.

__ADS_1


Seolah tak ada habisnya cerita manis bersama Jonatan dibenak Nana, gadis itu berapi-api bercerita ini dan itu. Bahkan celotehannya itu sudah sebelas dua belas dengan komentator pertandingan sepak bola yang heboh sendiri. Saking berapi-api dan heboh, Nana sampai tidak memperhatikan lawan bicaranya yang sudah terlelap tanpa sepengetahuannya. Dia terus membeo pada Kevin panjang lebar.


"Oh ya, kalau 2012 aku dan Jonatan udah kuliah di semester akhir, berarti kamu masih SMA ya, Vin?"


Tak ada respon. Nana pun memutar bola matanya. Memfokuskan matanya menatap Kevin di antara cahaya kamar yang remang-remang. Dan yang Nana tangkap adalah dengkuran halus nan teratur dari lelaki berwajah oriental itu.


"Yah, dia malah tidur. Dasar tidak sopan! Diajak ngobrol malah molor. Benar-benar menyebalkan!" Nana berdecak kecewa.


Nana kecewa karena Kevin tidur di saat Nana belum hatam menceritakan tentang kekasihnya yang baru kembali itu. Nana memajukan bibirnya beberapa senti, menyilang kedua tangannya di depan dada, dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan sekali hentakan. Kemudian dia melirik ke arah Kevin yang tidur dengan gaya bersender pada sofanya.


Entah ada kekuatan sihir dari mana, mata Nana terhipnotis saat mendapati penampakan langka Kevin yang tengah terlelap damai dan tenang, membuat bola mata Nana seperti tersedot untuk terus memandang Kevin.


"Wajahmu seperti bayi kalau sedang tidur seperti ini. Kalau dilihat-lihat kamu tampan juga, Vin. Pasti di luaran sana banyak perempuan yang mengejar kamu, iyakan? Oh apa jangan-jangan kamu juga sedang belajar menjadi generasi **** Boy? Eummm?"


Mimik wajah Nana seketika berubah saat mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Seperti ada seberkas rasa sesal yang mendalam yang terpancar di wajahnya. Kemudian, Nana mengelus pangkal kepala Kevin. Membelai rambutnya dengan sayang.


"Maafkan aku, gara-gara aku hidupmu jadi harus menderita dan terjebak dalam permainan aku. Harusnya di usia kamu yang sekarang, kamu sedang bebas merayu dan memilih wanita yang kamu sukai. Sekali lagi aku minta maaf, tapi untuk sekarang aku belum bisa membebaskan kamu karena umur pernikahan kita baru berjalan hitungan hari. Aku tidak mau media men-cap pernikahan kita main-main walaupun secara kenyataan kita memang menikah main-main. Tidak ada cinta diantara kita. Tapi aku janji, secepatnya kita akan bercerai. Aku gak tahu sih kapan tepatnya kita akan bercerai, yang jelas tidak akan lebih dari tiga bulan. Aku janji. Setelah itu kamu akan terbebas dariku, kamu bisa menaksir, merayu, menggoda bahkan mungkin sedikit bermain api dengan wanita pilihanmu," celoteh Nana seraya terus mengelus-ngelus kepala Kevin tanpa henti.


Setelah asik berceloteh, Nana melirik jam yang bercokol di dinding. Waktu menunjukan pukul 01.31 dini hari, itu artinya Nana harus mulai memejamkan matanya juga. Tak lama, Nana berusaha menutup matanya dalam keadaan serupa dengan Kevin yaitu tidur bersandar di sofa di sebelah Kevin yang lebih dulu terpejam.


Suara alarm pagi yang dihasilkan oleh ponsel Kevin berteriak begitu nyaring. Memekik dan mengganggu pendengaran Kevin. Sesaat, Kevin mengerjap-ngerjap dan mengucek matanya secara perlahan. Mencoba mengumpulkan nyawa-nyawanya kembali setelah semalaman berkelana.


Semalaman dia tidur dengan posisi bersender ke sandaran sofa, hal itu membuat lehernya jadi kram dan sakit. Dengan mata yang masih remang-remang dan belum sepenuhnya seluruh nyawa Kevin kembali, dia mencoba menggerakkan tengkuknya, mengendurkan urat-urat lehernya yang terasa kaku dan pegal.


"Arrrgh sial! Kenapa aku segala pakai ketiduran di sofa, sih?" erangnya kasar.


Bagai disiram air es, seluruh nyawa-nyawa Kevin kontan kembali ke dalam raganya. Dia membeku dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.


"Sofa?" ulang Kevin.


Perlahan tapi pasti dia melirik ke arah kiri tubuhnya.


Kevin terjengkat setengah mati. Terkejut, tercekat, serta kikuk, seolah ketiga kata tersebut menggerogoti tubuh Kevin saat ia melihat wanita yang tak asing tertidur di sebelahnya dengan posisi kepala bersandar pada sandaran sofa sebagai bantalannya. Percis seperti posisi dirinya ketika ketiduran di sofa itu.


Bulu kuduk Kevin naik seketika. Bagai landak yang mengangkat seluruh durinya saat dilanda ketegangan luar biasa dari musuhnya. Kevin panik dan bergidik ngeri.


Dua detik berikutnya, Spontan Kevin menjerit kaget seraya menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya seperti seorang wanita yang ternoda. Sejalan dengan dua hal di atas, Kevin juga refleks mendorong tubuh Nana dengan kakinya hingga membuat gadis yang baru terlelap itu jatuh terpelanting ke samping.

__ADS_1


Gdebuk!


Suara bokong Nana yang menghantam lantai membuat Nana tersadar seketika dari alam tidurnya.


"Aduh! Bokong gue!" Nana meringis perih saat bokongnya mendarat mulus dan keras ke lantai. Padahal dia baru saja memejamkan matanya beberapa jam yang lalu, bahkan belum genap 6 jam. Tapi sudah kacau karena Kevin merusak semuanya.


"Kenapa kamu nendang aku, sih?" protes Nana cemberut.


"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Kevin dengan nada ketakutan ala-ala gadis yang baru habis diperkosa.


Nana memicingkan matanya, tak mengerti dengan ekspresi gelisah yang tertampil di wajah Kevin, ia pun langsung balik melayangkan kalimat pertanyaan ke Kevin.


"Kamu pikir apa yang telah aku lakukan?"


"Jangan bertanya balik! Sekarang jawab pertanyaanku dulu! Apa yang kamu lakukan padaku? Kamu pasti sedang memanfaatkan kesempatan dan kesempitan, kan?" Kevin mulai menduga Nana yang tidak-tidak. Dia bahkan kelabakan setengah mati saat mendapatkan tubuhnya tidur di samping Nana.


Meskipun Kevin sering mengelabui Nana kalau dia akan memperkosa gadis itu jika macam-macam, tapi sesungguhnya dari lubuk hati yang paling dalam, Kevin benar-benar tak merekalan tubuhnya terjamah oleh gadis yang bukan pilihannya.


"Pertanyaan macam apa sih ini? Apa kamu mengira aku telah memperkosa kamu, hah?" ucap Nana to the poin dan bar-bar. Persetan dengan rasa malu. Urat malunya sudah sirna jika berhadapan dengan Kevin yang bebal dan keras kepala.


Lagi pula, harusnya Nana yang panik. Dia yang harusnya takut serta kelabakan kalau diapa-apakan oleh Kevin. Tapi ini malah sebaliknya, Kevinlah yang kelabakan tak jelas. Membuat Nana semakin yakin kalau lelaki di hadapannya itu benar-benar pengidap impoten.


"Ya. Kamu pasti memperkosa aku, kan? Kamu pasti sudah melakukan hal-hal menjijikan pada tubuh aku, kan?" ujar Kevin bergidik ngeri.


"Cih! Atas dasar apa kamu berani berkata seperti itu? Lagi pula mana ada istri yang memperkosa suaminya? Dasar mesum!" hardik Nana mencibir Kevin dengan nada sengit.


Kevin membisu. Tubuhnya bergetar takut. Dia masih sedikit shock dengan kejadian yang menimpanya. Otaknya sungguh tak bisa berpikir jernih sekarang. Dia takut kejantanannya ternoda oleh Nana tanpa sepengetahuannya. Dengan gerakan cepat, dia langsung membungkus seluruh tubuh termasuk kepalanya dengan selimut. Berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.


Nana beringsut meninggalkan Kevin yang tengah bersembunyi di dalam selimut. Disambarnya handuk yang menggantung di kastop. Lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk menunaikan ritual paginya. Gadis itu masih menggerutu kecil lantaran telah dituding yang tidak-tidak oleh Kevin. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara kerja otak Kevin yang aneh. Seumur-umur Nana baru melihat lelaki yang malah takut diapa-apakan oleh wanita.


"Lelaki gila! Dia pikir aku ini wanita mesum? Mana ada wanita yang memperkosa laki-laki. Cih! Laki-laki gak ada akhlak!" decih Nana super kesal.


Saking kesalnya, dia sampai membanting pintu kamar mandinya begitu keras. Membuat Kevin sedikit terhenyak kaget mendengarnya.


"Yak! Singa betina sialan. Kamu mau membuatku mati jantungan, hah?" Kevin memekik kaget pada Nana dengan high intonation. Kemudian dia melempar selimut yang menutupi seluruh tubuhnya ke sembarang arah. Dia kacau. Sekacau pikirannya yang mulai digerayangi imajinasi liar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2