Hallo Nana!

Hallo Nana!
Jonatan Menyesal


__ADS_3

Usai dari mini market, Tania tak mau membuang waktunya untuk berleha-leha di jalan pulang. Ia sesegera mungkin bergegas pulang ke kontrakannya. Ponselnya terus berdering berkali-kali menandakan ada notifikasi masuk. Namun gadis itu sudah tahu orang yang mengiriminya spam chat, jadi dia tak perlu menggubris atau membalas chat yang masuk ke ponselnya tersebut.


Tania sudah tahu meski dia tak melihat layar ponselnya secara langsung, siapa lagi kalau bukan si Ratu Bawel Nana yang mengirimkan rentetan chat menyuruhnya untuk segera pulang. Sebab, Nana pasti kebosanan selama menunggu sang empunya kontrakan pergi belanja. Makanya gadis itu mengirimi Tania spam chat terus menerus.


Dengan menenteng barang belanjaannya yang lumayan banyak, ditambah lagi sang Ratu Bawel merequest sesuatu yang awalnya hanya nitip roti dan susu, tahu-tahu disuruh beli ini itu juga, nampaknya Tania sedikit kerepotan sekarang.


Terlihat dari cara jalan Tania saat ini yang miring sana miring sini seperti kapal yang terombang-ambing tak beraturan karena keberatan membawa barang belanjaan yang bejibun.


"Belanja bulanan seperti ini memang benar-benar merepotkan. Lain kali aku harus menyewa jasa seseorang yang mau mengangkut barang belanjaan jika aku hendak belanja bulanan. Hufft ... benar-benar merepotkan!" umpatnya kesal.


Tania kembali melebarkan kaki panjangnya setelah membenarkan barang belanjaannya yang hampir melebihi kapasitas daya tampung plastik yang ditentengnya. Sesekali dia kembali menggerutu lagi seperti sedang mengisi kebosanan di sepanjang perjalanan menuju kontrakannya.


"Si Nana ini kalau nitip belanjaannya tuh emang suka kebangetan. Bilangnya nitip roti sama susu, tau-tau pas gue udah nyampe langsung diserbu suruh beli ini dan itu sekalian. Hishh bener-bener dah itu bocah kalau udah nitip sesuatu, udah kaya mau buka warung dia."


Tania merekatkan tentengan belanjaannya sembari tetap menyusuri jalan menuju kontrakannya. Namun saat dia sedang asyik mengomel, merutuk, dan menggerutu tiba-tiba ada salah seorang lelaki berperawakan tegap menyambar bahunya dari depan dan membuat Tania jadi sempoyongan tak karuan. Belum lagi, barang belanjaannya yang disimpan di dalam plastik langsung jatuh seketika. Berceceran dan berantakan kemana-mana.


Brugh!


"Aduh ... hati-hati dong kalau jalan. Gak punya mata kali ya anda!" omel Tania seraya memungut kembali barang belanjaannya.


"Dih, bukan salah aku kali mbak. Situ yang ngalangin jalan saya, kenapa situ yang marah sama saya?" orang yang menabrak Tania tak kalah sewot.


Kendati demikian, orang yang menabrak Tania tak membiarkan Tania memungut barang belanjaannya sendirian, dia tetap membantu Tania meskipun dia tak mau disalahkan.


"Ish ... sudah jelas-jelas anda yang salah. Masih aja memutar balikan fakta. Situ waras, Mas?" Tania masih bersikukuh mempertahankan harga dirinya, dia tak terima orang yang menabraknya lebih dulu malah menyalahkan dirinya, sampai-sampai Tania tak sadar dengan wajah si penabrak karena lebih sibuk mengambil barang belanjaannya yang terjatuh ketimbang menatap orang tersebut.


"Mbak gimana sih, sudah jelas-jelas Mbak yang salah. Tadi Mbak jalan sambil nunduk dan gak lihat-lihat arah."


'Ini orang kok nyebelin banget sih? Jelas dia yang salah, malah nyalahin gue balik. Kampr*t ini orang!' pikir Tania dalam batinnya.


Gerutuan Tania tak sampai disitu, dia tidak terima dengan ocehan si penabrak itu. Saking tak terimanya, Tania malah menepis tangan si penabrak yang sedang membantunya memunguti barang belanjaan Tania yang berceceran di jalan.


"Singkirkan tanganmu! Aku tidak perlu bantuan dari orang yang sudah salah tapi tidak mau minta maaf dan malah memutar balikan fakta."


Si penabrak itu berdesis sebal. Dia bangkit dari jongkoknya. Kemudian dia merutuki Tania dengan kata-kata yang lumayan kasar dan bar-bar.


"Dasar gadis payah! Dibantuin malah ngomel. Masih untung gue mau bantuin. Dasar payah lo!"


Sejenak, Tania menghentikan aktivitasnya setelah mendengar kalimat si penabrak yang memakinya. Dadanya panas, kepalanya panas, telinganya juga panas. Dia murka bukan kepalang saat si penabrak mengata-ngatainya terus menerus. Hingga pada akhirnya Tania tak tahan dan ingin memakinya balik.


"KOK JADI ANDA SIH YANG SEWOT?" Tania mendongakkan kepalanya mengarah pada orang yang sedari tadi tidak mau disalahkan.


Namun saat Tania berhasil mendongak, bola matanya tak asing dengan sosok di depannya. Pun dengan orang yang menabraknya, lelaki bertubuh tegap itu juga menatap Tania dengan sedikit terkaget.


"Tania," orang itu langsung berseru kaget saat dia sadar kalau perempuan yang hampir diajaknya baku hantam itu adalah Tania.


"Jonatan?" ucap Tania tak kalah kaget.

__ADS_1


Orang yang menabrak Tania dan tak mau disalahkan itu tak lain dan tak bukan adalah Jonatan, mantan kekasih Nana beberapa tahun silam.


"Tania kamu sedang apa di sini?" tanya Jonatan dengan nada melembut seketika.


"Aku tinggal di sekitaran sini, kalau kamu sedang apa di sekitaran sini?"


"Yang bener, Tan?" Jonatan bertanya balik dengan nada sangat antusias.


"I-iya," kikuk Tania.


"Wah kebetulan banget, aku juga tinggal di sekitaran sini."


"Oh gitu ...."


Tania benar-benar kikuk saking terlalu terkejutnya bertemu dengan Jonatan saat ini. Ada perasaan tak enak pada Nana setiap kali melihat wajah Jonatan. Tania selalu merasa bersalah pada Nana. Sebab, dia adalah orang yang menyukseskan Jonatan merebut hati Nana kala itu, tanpa tahu menahu sifat asli Jonatan seperti apa.


Tania diam tak bergeming, otaknya seperti kembali ke masa lalu dimana dia orang yang berperan mencomblangkan Jonatan ke Nana. Dia benar-benar merasa bersalah pada Nana, karena sudah sangat antusias mengompori Nana untuk menerima Jonatan menjadi pacarnya. Tapi faktanya, Jonatan bukan pria yang baik untuk Nana. Jonatan pria yang brengsek karena berani menyelingkuhi dan menduakan Nana. Oleh karena itu, Tania selalu jadi orang pertama yang sangat amat menyesal telah mempertemukan Jonatan dan Nana waktu itu.


"Tan, kamu kok melamun?"


Kontan, Tania langsung tersadar dari ketermanguannya.


"Ng-nggak kok. Aku hanya lagi banyak pikiran," kilah Tania.


"Kamu gak seneng ya ketemu aku lagi di sini? Kamu masih marah ya gara-gara aku belum minta maaf karena aku menabrak kamu tadi?"


"Bukan gitu. Aku hanya ...," Tania bingung mau jawab apa, kosa katanya seolah menghilang dari otaknya. Dia benar-benar tercekat.


Tania semakin kikuk. Alhasil, dia hanya menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


Sejatinya, Tania bingung harus bahagia atau tidak, bertemu lagi dengan Jonatan. Tania takut pertemuannya dengan Jonatan malah akan menguak luka lama bagi Nana. Sebab, di saat Nana susah payah move on dari lelaki itu, sekarang lelaki bernama Jonatan malah berkeliaran di sekitaran komplek kontrakannya.


Dan Tania yakin seratus satu persen, kalau Nana tahu Jonatan tinggal di komplek yang sama dengan kontrakan Tania, dia pasti berharap bertemu dengan Jonatan. Dan kemungkinan terburuknya, Nana pasti akan sering mengunjungi kontrakan Jonatan atau bahkan terbuai dengan mulut manis Jonatan.


Usut punya usut, Nana memang masih belum sepenuhnya move on dari Jonatan. Nana masih sering memimpikan bisa membangun kembali hubungannya dengan Jonatan yang sudah kandas. Namun ironisnya, hampir dua tahun Nana menantikan kejaiban itu, Jonatan tak kunjung datang. Saat sekarang Nana sudah memiliki suami, lelaki itu malah menunjukkan batang hidungnya. Tania merasa perlu mencegah sebelum semuanya menjadi merumit.


Tania, enggan menjadi pionir yang akan membuat Nana kecewa apalagi patah hati lagi. Sudah cukup sekali, bagi Tania membuat kesalahan dengan mempertemukan Jonatan dan Nana hingga mereka jadian dan berakhir pedih sebelah pihak. Tania, tidak mau menyebabkan sahabatnya jadi orang payah karena termakan mulut manis pria brengsek seperti Jonatan untuk kesekian kalinya.


"Tan, kenapa kamu melamun lagi sih?" tanya Jonatan saat melihat Tania kembali terbawa lamunannya.


Tania tersadar lagi, dia pun hanya tersenyum masam dan kembali kikuk.


"Maaf aku harus buru-buru," Tania berusaha menghindar, dia tidak mau berlama-lama dekat dengan Jonatan. Baginya, berada dekat dengan Jonatan malah akan bahaya untuk dirinya karena Jonatan ujung-ujungnya pasti akan menanyakan dan mengusik kehidupan Nana lagi.


"Tania tunggu sebentar!" tahan Jonatan.


Tania tak berbalik, meski tangannya dicekal oleh Jonatan. Dia benar-benar tidak mau berada dekat Jonatan.

__ADS_1


"Kalau kamu bertemu Nana, tolong sampaikan padanya kalau aku ingin ketemu sama Nana."


'Sudah aku duga, si Jonatan pasti nanyain Nana,' batin Tania.


Tania berbalik, tatapan Tania pada Jonatan berubah menjadi ketus dan dingin.


"Buat apa kamu nanyain Nana lagi? Bukannya kamu udah mencampakkan dia?"


"Aku tahu aku salah. Maka dari itu aku mau ketemu sama Nana buat meluruskan segalanya sama dia. Aku menyesal telah membuat Nana sakit hati."


"Kenapa kamu merasa sakit hatinya sekarang? Kemarin-kemarin kamu kemana aja, Jo? Kamu sadar gak kalau kamu udah bikin Nana menderita?"


Jonatan menunduk pasrah. Lelaki itu menampilkan tatapan sendu dan penyesalan yang sangat mendalam karena telah melakukan kesalahan besar dengan mencampakkan gadis baik seperti Nana.


"Jujur ya, Jo. Aku ini nyesel udah comblangin kamu sama Nana waktu itu. Aku nyesel jadi orang yang menyukseskan kamu dalam mengambil hatinya Nana. Kalau aku tahu endingnya kamu mau mengkhianati Nana, aku gak akan sudi membantu kamu secuil pun," lanjut Tania.


"Aku juga menyesal Tania, aku benar-benar menyesal telah melakukan itu pada Nana."


"Tapi penyesalan kamu udah gak ada gunanya lagi. Nana sudah menikah sama lelaki yang dia cintai. Jadi tolong kamu gak usah ungkit-ungkit masa lalu lagi. Biarkan Nana bahagia sama lelaki pilihannya," dusta Tania.


Sengaja Tania berbohong dan tak menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Jonatan perihal pernikahan rekayasa Nana dengan Kevin. Dia takut, Jonatan akan membuat Nana patah hati lagi nantinya kalau Jonatan tahu pernikahan Nana cuma pernikahan rekayasa.


"Aku tahu dia sudah menikah. Tapi please beritahu Nana kalau aku mencarinya. Aku ingin menjelaskan dan meminta maaf sama Nana."


"Duh Jo, udahlah kamu gak perlu jelasin apa-apa pada Nana. Dia udah bahagia, dan aku juga yakin kalau Nana udah maafin kamu. Jadi aku mohon kamu gak perlu jelasin apapun pada Nana."


"Tapi, Tan—"


Remember that when I told you


No matter where I go


I'll never leave your side


You will never be alone


Dering telpon Tania berbunyi begitu nyaring, membuat kalimat Jonatan terpotong seketika.


Tania menatap layar ponselnya, dia double shock saat mendapati nama 'Nana' tertera pada layar ponselnya di saat Tania sedang berhadapan dengan Jonatan.


"Itu pasti telpon dari Nana, kan?" tebak Jonatan.


"Sok tahu!" ketus Tania, dia menyelonong pergi sembari mengangkat telponnya. Paling tidak, dia bisa menghindar dari Jonatan saat mendapatkan panggilan telpon tersebut.


Jonatan menatap curiga punggung Tania yang menjauh. Sejujurnya dia kecewa karena Tania seolah melarangnya bertemu dengan mantan kekasihnya.


Tapi Jonatan tetap Jonatan, orang yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia mau. Saat ini yang dia mau adalah Nana, dia tidak peduli Nana sudah menikah atau belum, dia merasa perlu bertemu dengan Nana.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau memberitahuku dimana Nana sekarang, maka jangan salahkan aku kalau aku nekat membuntuti kamu," ucap Jonatan diikuti senyum licik saat Tania pergi tanpa pamit padanya.


Bersambung.


__ADS_2