Hallo Nana!

Hallo Nana!
Malam Pertama


__ADS_3

Selepas acara resepsi pernikahan, Nana dan Kevin memilih untuk tidak tidur di rumah Nyonya Widia melainkan mereka langsung ke apartemen Nana di daerah Jakarta Pusat.


Sengaja Nana memilih ke apartemennya ketimbang bermalam di rumah Oma yang memiliki kamar luas dua kali lipat apartemen minimalisnya. Bukan tanpa alasan Nana memilih langsung pergi ke apartemennya, sebab dia takut kalau tetap memutuskan bermalam di rumah Oma—pernikahan rekayasa dengan Kevin akan terbongkar begitu saja.


Daripada hal yang tidak diinginkan itu terjadi, lebih baik Nana mencari aman dengan melipir ke apartemennya setelah acara pernikahannya selesai.


"Oma, Nana sama Kevin pulang dulu ya," pamit Nana pada Omanya.


"Kenapa tidak tinggal di sini saja sih? Lagi pula ini sudah larut malam. Kamu bisa pergi besok atau hari berikutnya, asal jangan sekarang."


"Maaf Oma, kami butuh privasi jadi kami memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen saja, iyakan sayang?" dusta Nana dan kemudian mengalihkan atensi bicaranya pada Kevin.


Kevin yang belum siap dilibatkan dalam pembicaraan tersebut—hanya bisa mengatakan jawaban singkat dengan sedikit terbata diikuti kekehan konyol.


"I-iya ... hehe."


"Hmm ... padahal Oma masih pengen kalian tinggal di sini untuk beberapa saat," ucap Oma dengan nada sendu.


Tapi bukan Nana namanya kalau dia tak memiliki sanggahan jitu agar Omanya mau melepaskan dirinya untuk tinggal di apartemen sendiri. Gadis itu kadang jadi manusia paling cerdik kalau urusan berkilah agar Omanya percaya dan menuruti keinginannya.


"Oma mau cicit kan?" ucap Nana dengan nada sensual yang kontan membuat mata Omanya langsung berbinar-binar.


Oma pun mengangguk dengan cepat ketika mendengar kata cicit. Memang itu tujuannya kemarin-kemarin meminta Nana segera menikah.


"Jadi izinkan kami untuk tinggal di apartemen agar kami bisa lebih leluasa membuat dan menetaskan mahluk-mahluk kecil lucu itu untuk Oma," lanjut Nana yang tidak mau membuang kesempatan agar bisa lepas dari pantauan Omanya.


Sementara Kevin yang sedari tadi berdiri dan menyimak di sebelah Nana mendadak perutnya mual seketika.


'Hoek! Cicit? Membuat mahluk kecil bersama si singa betina ini? Apa aku tidak salah dengar? Baru membayangkannya saja sudah membuat diriku ini ingin mengeluarkan semua isi perutku apalagi beneran membuatnya bersama si singa betina ini. Rasanya aku lebih baik dicemplungin ke laut saja biar ditelan paus bungkuk sekalian daripada harus membuat anak bersama si singa betina ini. Menjijikan!' batin Kevin berdecih jijik.


"Baiklah kalau maksudnya begitu, Oma setuju. Kalian boleh tinggal di apartemen."


"Woaaah terimakasih Oma ... Nana sayang banget sama Oma," girang Nana sambil memeluk dan mencium pipi Omanya bertubi-tubi.


"Ya ... ya ... sekarang segeralah pergi dan jangan lupa buat cicit yang banyak untuk Oma malam ini juga," heboh Oma.


Melihat kelakuan Oma dan cucunya yang heboh sendiri, membuat Kevin lagi-lagi hanya mampu bermonolog ria dalam batinnya.


'Astaga! Nggak Omanya nggak cucunya, dua-duanya menyebalkan. Semoga keturunanku nanti tidak begitu ya Tuhan. Eh? Kenapa aku malah berbicara keturunan sih? Otakku jadi ikutan ngawur semenjak bergaul dengan keluarga ini.'


Menit berikutnya, setelah berbasa-basi sebentar dengan jurus drama-drama yang Nana kutip dari sinetron yang ditontonnya, akhirnya Oma menyetujui permintaan Nana.


"Yaudah Nana pamit ya Oma," ulang Nana berpamitan pada Oma.


Nana pun langsung mencium punggung tangan Omanya dengan sopan, Kevin juga melakukan hal serupa dengan Nana.


"Kalian hati-hati ya!"


"Iya Oma ..."


Nana dan Kevin langsung masuk ke dalam mobil sport berwarna merah milik Nana. Tak lama mobil itupun melesat menuju apartemen yang dituju.


Di setengah perjalanan menuju apartemen, Nana terlihat sibuk dengan kemudi mobilnya, sementara Kevin berdiam diri sambil memandang ke arah jendela mobil tersebut. Menyadari kalau Kevin sedari tadi hanya diam saja, Nana pun membuka suara untuk memecah keheningan di antara mereka.


"Kamu lagi liatin apa sih? Serius banget dari tadi."


Kevin menoleh sinis.


"Kepo!" tandasnya dengan nada judes bin julid.


"Ish! Siapa juga yang kepo. Nggak penting banget kepo urusan kamu."


"Kalau nggak penting kenapa kamu nanya-nanya?" sungut Kevin.

__ADS_1


Nana tak mau kalah membalas sungutan Kevin dengan kalimat yang lebih sengit. Maklum, mereka memang selalu baku hantam kalau salah satu dari mereka sudah ada yang memantik api perdebatan.


"Memangnya gak boleh kalau aku bertanya?"


"NGGAK!"


Mendengar respon Kevin yang selalu bertingkah menyebalkan membuat Nana selalu tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Emosinya selalu meletup-letup seperti popcorn kalau berhadapan dengan Kevin si muka tembok.


"Cih! Kenapa sih kamu selalu ketus dan menyebalkan sama aku? Kita ini akan hidup satu atap. Jadi bisakah kamu sedikit melembut padaku?" berang Nana.


"Aku tidak bisa lembut sama kamu. Kamu juga menyebalkan! Jadi jangan harap aku bisa lembut sama singa betina macam kamu."


"Berhentilah memanggilku singa betina, dasar muka tembok!"


"Harusnya kamu yang berhenti memanggilku muka tembok!"


Dan secara kompak mereka membuang muka ke arah berlawanan. Seolah tidak ada capeknya, kedua insan yang baru saja mengikat janji suci beberapa jam yang lalu itu, kini telah memulai perang dingin mereka yang entah sampai kapan akan berakhir.


Bahkan saat mobil sport merah yang mereka tunggangi itu telah sampai menghantar mereka ke tempat yang dituju, mereka masih berjibaku satu sama lain.


Selanjutnya, keduanya masuk ke dalam apartemen sederhana milik Nana.


Ceklek!


Pintu apartemen itu terbuka secara otomatis saat Nana menempelkan card system pada key box yang tertempel di tepi daun pintunya.


"Masuklah!" titah Nana dengan suara datar dan dingin.


Dengan ritme yang pelan, Kevin langsung masuk ke dalam apartemen tersebut. Matanya menyapu ke sekeliling ruangan sambil menautkan kedua tangannya ke belakang tubuhnya.


"Apartemen kamu bagus juga. Bersih dan nyaman," puji Kevin.


"Tentu saja. Lagipula aku bukan wanita jorok yang membiarkan tempat tinggalku berantakan sehari saja."


"Lalu ada berapa kamar tidur di sini?"


"Dua," balas Nana singkat. Tangannya sibuk mengeluarkan bajunya dari dalam koper dan memasukkannya ke dalam lemarinya.


"Baguslah kalau ada dua. Setidaknya aku tidak perlu khawatir akan tidur di mana malam ini."


"Tapi kamar yang satunya dipakai sama Tania. Kamu belum bisa menggunakan kamar itu sekarang, mungkin baru besok aku akan suruh dia pindah dari sini," seloroh Nana santai tanpa mempedulikan Kevin yang tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.


Kevin tertohok mendengar selorohan Nana barusan. Detik berikutnya dia menelan salivanya dengan rakus. Pikirannya mulai tidak karuan, jantungnya berdegup begitu kencang, bahkan dia dapat mendengar suara deguban jantungnya sendiri sekarang.


"Ka-kalau Tania masih ada di sini? Berarti aku harus tidur seran—" Kevin menggantung kalimatnya beberapa saat sebelum Nana memangkas kalimatnya dengan lugas.


"Tentu saja kamu tidur di sofa. Jangan harap kamu bisa tidur seranjang denganku!" sinis Nana.


"APA? Sofa? Jadi aku harus tidur di sofa?" Kevin mengernyitkan dahinya tak percaya.


Semiskin-miskinnya Kevin, dia belum pernah tidur di sofa. Bisa riweuh urusannya kalau Kevin disuruh tidur di sofa.


"Aku tidak mau tidur di sofa!" tolak Kevin dengan lantang.


"Kalau kamu tidak mau tidur di sofa, lantas kamu mau tidur di mana? Tidak mungkin kan kita harus seranjang? Aku tidak sudi jika harus berbagi ranjang dengan kamu muka tembok!"


"Tentu saja tidak. Siapa juga yang mau tidur seranjang dengan kamu. Sampai negara api menyerang bikini bottom pun aku tidak akan pernah mau tidur seranjang bersama singa betina seperti kamu," tekan Kevin.


Karena Nana sedang malas berdebat, akhirnya gadis itu hanya menanggapi ocehan Kevin dengan santai.


"Baguslah kalau begitu."


Tanpa aba-aba, Nana langsung merebahkan tubuhnya di kasur berseprai motif polkadot—membiarkan Kevin yang masih berdiri di depannya dengan tatapan terperangah.

__ADS_1


"Hey! Jangan tidur dulu. Gimana ini nasib aku?"


Dengan gerakan cepat Nana pun melempar sebuah bantal tepat mengenai dada Kevin yang tengah berdiri.


Pluk!


"Tidur di sofa sana," usir Nana.


"Aku tidak mau. Lagian aku tidak biasa tidur di sofa, leherku akan pegal-pegal besok pagi kalau aku tidur di sofa. Kenapa gak kamu aja sih yang tidur di sofa?" protes Kevin.


"Yasudah kalau tidak mau. Kamu tidak usah tidur kalau gitu, berdiri aja terus sampai pagi," balas Nana simpel.


Kevin pun memberengut kesal, perlahan tapi pasti lelaki berwajah bulat itu langsung mendekati kasur di mana Nana sudah merebahkan tubuhnya di sana.


Jarak Kevin hanya tinggal beberapa jengkal dengan Nana yang kini sudah terbaring di kasurnya dengan nyaman. Kevin tak tinggal diam membiarkan Nana menikmati kasur itu sendirian, kemudian Kevin pun mencondongkan badannya ke dekat kaki Nana.


"Ish ... aku bilang aku tidak bisa. Dasar singa betina!" ucap Kevin seraya mencekal kedua kaki Nana tanpa aba-aba. "Rasakan ini!"


Grep!


Sreettt!


"Yaaaak! Apa-apaan kamu!"


"Kalau kamu tidak bisa diajak kompromi untuk pindah dari kasur ini, maka jangan salahkan aku jika aku bertindak yang tidak-tidak karena keadaan memaksaku jadi orang egois."


Melihat perubahan ekspresi Kevin yang cenderung ke arah liar kontan saja Nana langsung menjerit-jerit panik ketakutan. Ia takut Kevin menyerangnya seperti laki-laki ****** nan mesum di cerita-cerita novel yang sering dia baca di kala senggang.


Meskipun Kevin itu sering mengatakan kalau dia tak tertarik sama sekali dengan Nana, tapi Nana tahu persis seekor harimau yang telah dijinakkan tetap memiliki insting liar jika dihadapkan dengan seonggok daging segar. Pun dengan Kevin.


"Hey muka tembok sialan! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku bodoh!"


"Aku akan melakukan apapun agar aku bisa tidur di kasur ini. Tidak peduli jika aku harus melakukan sesuatu yang nakal padamu agar mau pindah dari kasur ini."


Nana semakin panik dan takut. Terlihat dari caranya memandang Kevin saat ini dengan mata yang membulat sempurna.


"Sialan ... lepaskan kaki aku dasar sialan!" Nana berontak dengan cara merangsek-rangsekkan kakinya ke atas ke bawah agar cekalan tangan Kevin melonggar. "Yak! Muka tembok! Hentikan bodoh. Apa kamu tuli? Ini kasur aku. Yaaaak!" jerit Nana.


Kevin tetap acuh dengan jeritan Nana yang menggema ke seluruh ruangan itu. Dia tetap melancarkan aktivitasnya mencekal kedua kaki Nana meskipun gadis itu sudah berontak berkali-kali. Apalagi saat Kevin berhasil menangkap mimik wajah Nana yang mulai ketakutan, dia tetap tidak mau mengendurkan semangatnya mengerjai wanita yang diklaimnya singa betina.


Pun dengan Nana, gadis itu pantang untuk menyerah. Dia tetap mempertahankan kasur sekaligus harga dirinya dari Kevin. Lagipula dia yang paling berhak atas kasur itu, sebab itu adalah apartemennya meski status Kevin sekarang adalah suaminya.


"Lepaskan aku atau aku akan berteriak kalau kamu sedang mencoba memperkosa aku. Jeritan aku ini sangat kencang sehingga bisa terdengar sampai luar, jadi kamu akan dipukuli karena berani-beraninya melecehkan aku."


Alih-alih takut, Kevin malah terbahak begitu renyah.


"Bhuahahaha ... apa kamu lupa kalau aku ini suami sah kamu di mata hukum dan agama? Jadi mau kamu menjerit-jerit sampai ke ujung benua juga tidak akan ada yang peduli. Memperkosa istrinya sendiri itu bukan suatu kesalahan. Jadi cepatlah pergi dari sini atau aku beneran akan memperkosa kamu," gertak Kevin.


Sontak saja Nana memelotot takut. Saking takutnya, Nana akhirnya menyerah dan bangkit dari posisinya sekarang.


"Aish! Kenapa malah jadi aku sih yang harus ngalah?" gerutu Nana.


"Cepat tidur di sofa sana!" usir Kevin sekali lagi. "Dan hilangkan pikiran mesum kamu wahai singa betina! Jangan harap aku mau menyetubuhi perempuan tua yang kelakuannya seperti singa betina. Kamu tidak menarik sama sekali di mataku," ledek Kevin untuk ke seribu kalinya.


"Cih! Kamu pikir aku mau melakukan itu bersama kamu? Jangan terlalu kepedean!"


Setelah Nana beringsut, Kevin langsung membanting tubuhnya seketika. Dia pun melenguh nyaman saat seluruh badannya menyentuh kasur empuk milik Nana.


"Memang tidak ada yang lebih menyenangkan selain daripada merebut kasurmu yang nyaman ini. Malam pertama yang menyenangkan, singa betina!" seru Kevin setelah berhasil merebut paksa kasur tersebut dari sang empunya.


Dengan perasaan dongkol yang kian mencuat-cuat sampai ke ubun-ubun, Nana akhirnya cuma bisa elus dada, lalu mendesis sebal sambil terus menajamkan tatapannya ke arah Kevin yang kini tengah menikmati kasur yang disabotase darinya.


'Awas kamu muka tembok! Akan ku balas nanti!' umpat Nana dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2