
"Kabuuuuuuur!"
Grep!
"Mau kemana kalian?! Kalian pikir kalian bisa kabur dari aku? Tidak akan kubiarkan kalian lolos dariku kali ini," tukas pemilik akun Facebook Kevin Sanjaya seraya mencengkram tangan Nana dan Tania dengan erat.
Nana dan Tania berusaha berontak, dengan menyentak-nyentakkan cengkraman tangan orang itu ke atas dan ke bawah agar sedikit melonggar.
"Lepaskan tangan kami bodoh!" hardik Nana.
"Tidak akan," orang itu menyahut.
"Lepaskan! Atau aku akan teriak kalau kamu mau melukai kita," imbuh Tania.
Orang itu tak ciut sama sekali dengan ancaman yang diberikan Tania barusan, malahan orang itu sengaja melayangkan ancaman balik pada kedua gadis di dalam genggaman tangannya itu.
"Jika kamu berani berteriak, maka aku juga akan bertindak nekat dengan memenjarakan kalian dengan tuduhan penganiayaan karena melukai keningku."
Nana dan Tania tak goyah untuk melepaskan diri dari orang itu, namun sayang tenaga orang itu lebih kuat dari tenaga kedua wanita yang kini ada di dalam genggaman tangannya itu. Apalagi, kini orang itu malah mengancam akan memenjarakan mereka berdua karena telah melukai keningnya kemarin malam. Alhasil, Nana dan Tania menyerah dan tak berkutik lagi.
"Baiklah ... Baiklah ... kita tidak akan berteriak, tapi tolong lepaskan cengkraman tangan kamu dari pergelangan tangan kami, kamu telah menyakiti kami berdua," tukas Nana menyerah.
"Apa jaminannya kalau aku melepaskan tangan kalian, kalian tidak akan kabur?!"
"Percayalah kami tidak akan lari," sambar Tania.
"Aku tidak akan mudah percaya sama gadis seperti kalian! Aku sudah kenyang dengan pengalaman hidup. Gadis seperti kalian pasti banyak akal bulusnya, jadi aku harus waspada agar kalian tidak melarikan diri dariku lagi."
Nana terperangah tak percaya dengan penuturan lelaki dihadapannya yang baru ketemu sudah semenyebalkan ini. "Kubilang lepaskan bodoh!" berontak Nana. "Aku tidak akan lari."
"Aku tetap tidak percaya."
Dengan kekuatan super, Nana mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman orang itu dari pergelangan tangannya.
Srak!
"Lihat! Aku tidak akan lari sejengkal pun darimu," lanjut Nana sembari mendudukkan bokongnya di kursi tanpa aba-aba setelah berhasil melepaskan cengkraman orang itu dengan paksa.
Melihat reaksi Nana yang jujur, orang itu pun langsung melepaskan cengkramannya pada lengan Tania juga. Dan tanpa rasa berdosa sedikitpun, orang itu juga ikut duduk di hadapan Nana yang sudah duduk di kursi terlebih dahulu.
Sementara Tania masih berdiri sambil mengelus-elus pergelangan tangannya yang terasa perih akibat cengkraman erat pria aneh yang mengklaim dirinya adalah orang yang kemarin malam tertimpuk stiletto Nana.
"Kita selesaikan perkara kita baik-baik!" seru Nana setelah berhasil membuat orang itu yakin kalau dirinya tidak akan kabur seperti kemarin malam.
"Kenapa gak dari semalam saja kamu menyelesaikan perkara kamu denganku, kalau kaya gini aku tidak akan repot-repot berjibaku denganmu," sewot orang itu.
"Kemarin malam aku sebenarnya sudah ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik tapi—" ucapan Nana tergantung. Sejenak, matanya melirik ke arah Tania yang masih berdiri, dan reaksi Tania langsung melebarkan matanya seperti memberi kode 'jangan bilang gara-gara aku' tanpa bersuara.
"Tapi apa?" orang itu langsung menginterupsi kala Nana menggantung kalimatnya.
"Tidak, tidak. Lupakanlah! Sekarang lebih baik membicarakan kerja sama kita. Soalnya aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi."
__ADS_1
"Berbasa-basi katamu? Menimpuk orang pakai stiletto dan melukai kening orang, kamu bilang berbasa-basi? Ck! Gadis luar biasa. Bahkan kamu tidak meminta maaf padaku. Di mana rasa perikemanusiaan kamu?!" sergah orang aneh dengan nada super menyebalkan.
"Yaudah sekarang aku minta maaf yang sedalam-dalamnya karena tidak sengaja membuat keningmu terluka gara-gara lemparan stiletto aku."
Bukannya menerima permintaan maaf yang diutarakan Nana, orang itu malah melipat kedua tangannya di depan dada dengan cuek sambil berkata, "Tidak semudah itu Nona ... kamu pikir dengan sebuah permintaan maaf, semuanya bisa kelar begitu saja?"
"Lantas kamu maunya gimana?" jengah Nana.
"Pertama, kamu harus mengganti biaya berobatku ...."
"Oke deal!" potong Nana cepat. Sejujurnya dia enggan beradu mulut dengan orang itu. Jadi dia lebih baik setuju saja tanpa curiga sedikitpun.
"Wah baguslah kalau kamu setuju, sekarang aku minta 10 juta untuk ganti biaya berobatku."
"Apa?!!" Nana terkejut bukan main saat mendengar nominal yang diajukan orang itu dengan harga yang tak masuk akal. "Apa kamu mencoba memerasku? Kenapa mahal sekali ... kamu kan tidak geger otak, kenapa meminta uang ganti berobat sebanyak itu?"
"Uang segitu kan tidak seberapa dibanding dengan bekas luka yang menempel seumur hidup," orang itu berspekulasi begitu enteng, membuat Nana geram ingin mencekik lehernya.
"Tapi lukamu cukup kecil, dan itu tidak akan menganggu penampilan kamu."
"Itu menurutmu, tapi menurutku tidak. Aku ini seorang freelance model, jadi penampilan dan wajahku adalah nomor satu. Tak boleh tergores atau lecet sedikitpun, karena itu akan menggangu kelancaran endorsementku."
Tania yang sedari tadi menyimak, akhirnya ikut jengah dan menyambar dengan lantang. "Lebay!"
Orang itu langsung memutar kepalanya ke arah Tania yang masih enggan duduk dan memilih berdiri seperti patung tanpa pegal sedikitpun.
"Diamlah! Aku sedang tidak ada urusan denganmu," ucap orang itu memperingatkan Tania agar tidak ikut campur urusannya dengan Nana.
"Terserah sih ... kalau tidak sanggup ya aku akan melaporkan kalian berdua ke polisi."
"Aishhh ... baiklah-baiklah. Aku akan transfer sesuai permintaanmu nanti. Tapi bisakah kita membicarakan rencana kita yang kita bahas kemarin malam?" ujar Nana mencoba menyinggung niat awalnya mengajak bertemu orang tersebut itu untuk hal lain.
"Baik. Tapi kamu tidak akan membohongi aku kan kalau kamu tidak akan mangkir dari tanggung jawab kamu?"
"Tidak. Tenang saja, setelah ini aku akan ke Bank untuk transfer uangnya, karena saldo I-banking aku tidak cukup."
"Oke kalau gitu. Sekarang kita bahas kerja sama kita. Ngomong-ngomong seperti apa tipe pacar idaman kamu?" ucap pemilik akun Kevin Sanjaya to the point.
"Sebelum itu, aku ingin memperkenalkan diri dulu pada kamu. Namaku Setyana ... dan yang berdiri itu adalah temanku ... namanya Tania," Nana memperkenalkan dirinya serta Tania ke pria yang duduk kurang dari se-meter di hadapannya kini.
"Namaku Kevin Sanjaya. Biasa dipanggil Kevin atau Mpin."
"Jadi itu nama asli kamu? kupikir nama di akun Facebookmu palsu. Ck!" Nana menarik tipis sudut bibirnya dengan tengil.
"Sembarangan! Kamu pikir aku memanipulasi data di akun Facebook aku?"
"Ya siapa tahu kan. Secara, sosial media kan penuh kepalsuan. Banyak orang yang sengaja memakai nama palsu, atau foto profil palsu bahkan data pribadi seperti kampus juga palsu, semata-mata supaya terlihat sempurna di mata khalayak."
"Tapi tidak denganku," orang yang bernama Kevin itu menyanggah dengan keras ketika Nana menyebutkan kalau sosial media penuh dengan kepalsuan termasuk memalsukan identitas. "I am better be myself." tukas Kevin penuh percaya diri.
"Baiklah. Sekarang kita lanjut ke kerjasama kita. Oh ya ... kamu sudah tahu kan kalau aku memintamu buat jadi pacar bohongan aku dihadapan Oma aku?" Kevin mengangguk, lantas Nana langsung melanjutkan kalimatnya. "Kamu cukup pura-pura menjadi pacar aku ketika aku mengenalkanmu pada Oma aku nanti, terus kamu bilang kalau kamu sangat mencintai aku dan tidak akan pernah meninggalkan aku ...."
__ADS_1
"Hanya itu? Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku yang pertama, seperti apa kriteria pacar idaman kamu? Supaya aku bisa lebih meyakinkan semua orang terutama Oma kamu nanti."
"Kriteria? Aku sama sekali tidak punya kriteria khusus. Cukup menjadi pasangan yang baik dan selalu menjadi dirinya sendiri ketika didekat aku."
"Ck! Klasik banget ucapan kamu," cibir Kevin santai, membuat Nana mengerucutkan bibirnya beberapa senti. "Perempuan memang selalu mengatakan seperti itu diawal-awal, nanti ketika sudah menjalin hubungan dan tahu pribadi asli cowoknya kaya gimana, terus gak sesuai ekspektasi. Langsung deh ketar-ketir kaya kebakaran jenggot," sambung Kevin.
"Cih! Kamu ini bar-bar sekali kalau urusan menjatuhkan harga diri perempuan."
"Setidaknya jelaskan lebih detail kriterianya seperti apa biar para cowok tuh gak disuruh nebak-nebak. Perlu kamu tahu ya ... aku adalah satu diantara puluhan ribu cowok yang tidak suka disuruh menebak-nebak. Nebak-nebak keinginan perempuan itu sungguh membuatku jangar!. Apalagi, ada tagline menyesatkan yang bunyinya 'cewek selalu benar!' rasanya ... aku ingin sekali mendamprat wajah orang yang membuat tagline sialan itu," entah kenapa Kevin jadi begitu sewot dan bar-bar kalau menyangkut hak asasi kaum laki-laki yang terenggut. Mungkin masa lalunya, Kevin adalah korban dari ketidak adilan itu.
"Ish ... baik-baiklah ... aku akan perjelas. Gak usah sewot kaya emak-emak gitu kali. Jadi gini ... kriteria aku sederhana. Memiliki wajah tampan, kulit putih bersih, style oke, serta tubuhnya atletis. Ya ... mirip-mirip aktor Korea bernama Ji Chang Wook atau Kim Soo Hyun lah."
"Orang gila!!! Itu mah bukan sederhana. Itu mah kebagusan. Aku gak bisa seperti itu," Kevin semakin sewot setelah mendengar kriteria yang dituturkan Nana barusan. Mana bisa Kevin berubah seperti itu.
"Ya terus aku harus gimana ... tadi kamu bilang katakan lebih detail, giliran aku mengatakan lebih detail soal kriteria aku, kamu malah mengatakan aku orang gila. Ish ... membuatku sakit kepala saja!"
"Ya ... maksud aku dari sifatnya, kalau dari wajahnya sih gak mungkin lah aku mirip mereka. Lagian wajahku juga tak kalah ganteng dari lelaki dari negri ginseng itu, aku juga punya wajah ganteng versiku sendiri. Hehe."
Penuturan Kevin yang dibalut kenarsisan yang menjulang tinggi itu, membuat Nana berdecih jijik. Ia tidak menyangka kalau pria dihadapannya itu sangat amat narsis dan kepedean.
"Hentikan leluconmu itu. Fokuslah ke masalahku!. Tapi yang jelas, aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa kriteria aku, karena aku sudah terlalu lama membiarkan hatiku kosong melompong gak berpenghuni, mungkin sudah ada sarang laba-labanya. Jadi untuk sekarang kamu cukup jadi seperti apa yang kamu mau, tapi dengan syarat ... kamu harus bisa meyakinkan Oma aku dan mengambil hatinya agar Oma tidak menerorku harus buru-buru menikah, apalagi kalau harus menikah dengan kolega Omaku ...," curhat Nana pada Kevin.
"Memang umur kamu berapa sih sampai Oma kamu ngebet meminta kamu segera menikah?"
"30 Tahun."
"What?" Kevin menjengit kaget, lantas terkikik begitu renyah. "Pantas saja Oma kamu meminta kamu segera menikah, ternyata kamu sudah tuwir. Ckck!"
"Hentikan ejekanmu itu dasar pria bodoh! Dan fokuslah ke rencana kita, aku tidak akan mengampuni atau membayarmu kalau sampai rencanaku tidak berhasil," hardik Nana tak suka.
"Kamu tenang saja, semua akan berjalan lancar. Aku ini cukup profesional, kamu tidak salah menemuiku untuk mengatasi masalahmu itu," ucap Kevin congkak.
"Sekarang sebutkan berapa uang yang kamu minta sebagai imbalan kalau kamu nanti berhasil menjalankan apa yang kuperintahkan?"
"Cukup 50 juta."
"AAPAA??!" Tania yang sedari menyimak dan hanya bertugas sebagai pendengar dari obrolan Kevin dan Nana mendadak memekik kaget kala mendengar nominal fantastis yang diajukan Kevin.
Lain hal dengan Tania, Nana hanya mampu mencebik dengan santai seolah tahu kalau Kevin bukanlah tipe orang yang akan melakukan sesuatu dengan imbalan kata ikhlas. Nana mampu melihat kalau lelaki dihadapannya ini sangat matrealistis sejak pertama kali mereka tadi melakukan mediasi perkara stiletto itu. "Ck! Sudah kuduga, kamu pasti akan memerasku dengan memberikan tarif sangat tak lazim itu."
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas aku tidak memberimu belas kasihan dengan menurunkan tarif padamu," balas Kevin simple.
"Baiklah. Aku setuju!" ucap Nana tanpa berbasa-basi lagi. Sementara Tania lagi-lagi hanya mampu menjengit kaget, seolah-olah cuma ekspresi itu yang bisa dia tampilkan saat ini.
"Deal?" Kevin mengulurkan tangannya pada Nana, membuat tanda kesepakatan perihal kerja sama mereka.
Nana membalas jabat tangan Kevin, seraya berkata, "Deal" tanpa pikir panjang lagi.
Jangan tanya keadaan Tania sekarang! Baru mendengar nominal-nominal uang yang diajukan Kevin tadi saja, sudah membuat Tania hampir pingsan seketika. Apalagi kalau menerima langsung uang tersebut. Mungkin dia berencana mau berubah profesi jadi tukang penjajak pacar palsu biar cepat kaya.
Bersambung.
__ADS_1