
"Aku merasakan firasat buruk sekarang," Kevin bergumam disela langkahnya yang kian mendekat ke arah Omanya Nana yang masih sibuk menyantap makan malam.
Seperti domba yang hendak disembelih oleh sang tuan jagalnya, langkah Kevin begitu berat, amat sangat berat seperti ada perekat menempel di kedua telapak kakinya. Tidak hanya itu, hati dan pikirannya juga ikut kacau dan semakin memperparah kondisi Kevin saat ini.
"Ayo! Kita harus kembali ke meja kita sebelum Oma semakin curiga," paksa Nana.
"Tapi Nana ... apa kamu tidak punya perikemanusiaan? Kenapa kamu masih saja memaksa aku sih? Kenapa kita gak cari aman aja sih?" cecar Kevin. Pikirannya semakin kalut menghadapi kenyataan pahit ini. "Aku janji akan kembalikan uang kamu secepat mungkin, asal kamu tidak memaksaku untuk bertunangan dengan kamu minggu depan. Please!" melas Kevin.
Meski Kevin sudah memasang tampang melas yang begitu sangat meyakinkan. Tapi Nana tidak menanggapinya dengan serius. Nana masih tidak rela kalau dia harus digantung hidup-hidup oleh Omanya. Lagi pula, dia sudah tahu cara menampik perintah Omanya kali ini dan Nana yakin kalau bantahannya ini akan jadi pertimbangan Oma agar mengurungkan niatnya.
"Tidak usah cemas. Aku akan pastikan kalau kita tidak akan sampai tunangan apalagi sampai menikah. Lagi pula tujuanku mengajak kamu bekerja sama kan, supaya aku memiliki jeda lebih lama melajang. Kalau aku tak ikutan menggagalkan rencana Omaku itu sama aja bohong! Jadi kamu jangan khawatir, aku juga tidak mau tunangan sama kamu."
"Apa kamu yakin? Feeling aku malah gak yakin. Kalau kita tidak berkata jujur sekarang, nanti malah kita semakin terjerembab di permainan ini, dan semakin sulit juga buat nanti mengelak."
"Aku bilang tidak usah cemas. Apa kamu tuli? Serahkan saja semuanya padaku. Aku yakin semua akan berjalan sesuai rencana kita tanpa kita harus tunangan. Kamu harus percaya sama aku!"
"Tapi—"
"Aku bilang tidak usah cemas! Kamu terlalu banyak bicara!" sentak Nana.
Gadis itu masih bersikukuh meyakinkan Kevin kalau semua akan baik-baik saja. Rencana tunangan mereka tidak akan pernah terlaksana meski tanpa membongkar kebenarannya di depan Omanya. Nana sudah memiliki alternatif lain demi menyangkal kemauan omanya— untuk tidak melangsungkan pertunangan Nana dan Kevin dalam waktu dekat.
"Kamu percaya padaku kan?" lanjut Nana.
Seperti anak kecil yang polos, Kevin hanya bisa mengangguk pasrah dan patuh. Entah darimana datangnya sikap patuh itu menghampiri Kevin, yang jelas Kevin sekarang seperti bukan Kevin beberapa menit yang lalu yang selalu ngegas dan keras kepala.
"Sekarang bersikaplah biasa aja. Jangan tunjukan wajah muram kamu di depan Omaku, beliau bisa curiga dan semua perjuangan kita akan sia-sia nantinya. Kamu tidak bisa kan mengembalikan uangku 60 juta?Jadi ikuti saja aturan mainku," tukas Nana sedikit berbisik pada Kevin yang entah mengapa pria itu semakin tidak bisa tenang sekarang, dan ironisnya Kevin lagi-lagi tak berkutik.
Nana meraih tangan Kevin dengan lembut. Mereka harus kembali berakting menjadi sepasang kekasih yang romantis di mata Oma.
'Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak dalam permainan beginian sih? Kalau tahu hidupku akan berakhir tragis di tangan si singa betina ini, kemarin-kemarin aku tidak akan mau mengirim friend request ke Facebooknya. Sekarang aku harus gimana Tuhan? Aku terjebak! Kumohon Tuhan bantu aku! Aku tahu aku ini banyak dosa, tapi bisakah kali ini saja Kau menyelamatkan diriku dari si gadis kolot ini?' curhat Kevin pada Tuhan.
"Tarik sudut bibirmu ke atas! Kamu nampak jelek ketika sedang murung begitu," tukas Nana memerintah pada Kevin.
Kevin mendelik malas pada Nana yang berjalan di sampingnya.
"Lantas aku harus bagaimana?"
"Tarik bibirmu tiga senti keatas."
Alhasil Kevin menurut, walau sebenarnya hati kecilnya begitu enggan menarik sudut bibirnya. Jangankan berpura-pura bahagia dengan menarik sudut bibirnya tiga senti, tiga mili meter saja dia begitu enggan dan tidak rela sama sekali.
Selang beberapa menit, Nana dan Kevin telah kembali ke meja mereka. Oma masih setia duduk manis di sana, sambil terus menyantap makanan super mahal dengan elegan khas nenek-nenek konglomerat pada umumnya.
"Jadi gimana? Setelah kalian berdiskusi apakah kalian setuju dengan rencana Oma?" ucap Oma to the point.
"Tidak Oma. Kami tetap tidak setuju. Lagipula kami sepakat kalau kami akan menikmati momen pacaran kamu dulu dan kami memutuskan kalau kami tidak mau buru-buru menikah," sahut Nana.
Kevin diam. Dia tidak mau ikut campur karena takut salah bicara. Otaknya begitu sulit melontarkan kalimat bantahan yang tepat agar tak keceplosan menyebutkan indentitas aslinya perkara pacar bohongan pada Omanya Nana. Alhasil, Kevin hanya membiarkan Nana saja yang bicara.
"Oh jadi begitu alasan kamu tidak mau tunangan cepat-cepat. Baiklah—"
__ADS_1
Nana memotong kalimat Oma dengan super cepat.
"Jadi Oma setuju kan kalau aku sama Kevin tunangannya nanti?" girang Nana. Saking girangnya dia saat ini, sampai-sampai tidak tertarik mendengar kalimat Oma secara lengkap.
"Jangan girang dulu Nana sayang ...," Oma menarik sebelah ujung bibirnya ke atas, membentuk senyum evil. "Kamu ingin menikmati momen bareng Kevin kan? Maka dari itu kamu harus tunangan dan dua hari kemudian kalian harus mengadakan resepsi pernikahan kalian!"
Shock! Itulah kata pertama yang terbesit di otak Nana dan Kevin saat ini. Niat hati ingin berkilah dan mangkir dari pertunangan mereka, nyatanya Omanya malah berinisiatif mempercepat acara pernikahannya juga.
"Tapi Oma—"
"Tidak ada tapi-tapian. Oma tidak menerima alasan apapun lagi dari kamu, Nana."
Kevin yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Dia tidak mau hidupnya tragis dengan menikahi gadis kolot yang sama sekali tidak dia kenal betul tabiatnya seperti apa. Terlebih, Kevin tidak mencintai Nana. Dia tidak mau menyerahkan dirinya terkungkung Nana— singa betina yang cerewet dan banyak aturan.
"Oma ... biar aku jelaskan sebe—"
Nana sadar Kevin akan membeberkan kebenarannya, dengan sigat gadis itu langsung menginjak kaki Kevin tanpa aba-aba. Hal itu ia sengaja lakukan untuk membungkam mulut Kevin yang tidak mau diajak kompromi. Alhasil Kevin sukses menjerit mengaduh kesakitan dan tak jadi melontarkan kejujurannya pada Oma.
Drak!
"Auch! Sakit!"
"Loh kamu kenapa? Apanya yang sakit?"
Oma langsung panik, sementara Nana malah memasang wajah inosen seolah-olah kalau dia bukan pelakunya.
Kevin langsung memberengut kesal ke arah Nana. Lelaki keturunan Tionghoa itu berkali-kali terintimidasi dan dikuasai Nana. Dia seperti bukan Kevin yang kuat dan banyak akal. Kali ini Kevin seperti seonggok daging tanpa kaki dan tangan bahkan mulut yang tak mampu berbuat apa-apa selain menyerah pasrah.
Dalam hati kecil Kevin, dia ingin sekali memekik dengan lantang ke hadapan wajah Nana. Lalu menyemburkan kalimat sumpah serapah pada gadis yang sok imut itu. Tapi sayang seribu sayang, Kevin hanya bisa melenguh menahan sakit dan murkanya yang entah sudah diujung mana berdirinya.
'Singa betina ini benar-benar mempermainkan aku. Awas aja! Setelah ini akan aku pastikan dia akan mendapat balasan yang setimpal karena berani-beraninya menginjak kaki aku begitu keras. Enak banget kamu ya? Aish! Akan kubalas kamu nanti singa betina! Kamu tidak akan aku ampuni sampai dunia ini kiamat.'
"Kamu kenapa Vin?" ulang Omanya Nana.
Kevin pun dengan terpaksa melengkungkan sudut bibirnya, serta menampilkan sederet giginya yang putih membentuk senyum masam.
"Tidak Oma ... aku tidak apa-apa kok."
Nana menyambar.
"Kamu yakin? Kalau sakit bilang aja nanti kita obatin!" dusta Nana yang kini berlagak sok perhatian pada Kevin.
Kevin memandang Nana dengan tatapan super sebal.
'Wah! Si singa betina ini sudah pandai berakting rupanya. Bisa-bisanya dia sok perhatian padaku padahal jelas-jelas ini ulahnya. Dasar singa betina! Awas kamu ya!' gerutu Kevin dalam benaknya.
Selang beberapa detik seolah tak ada kata menyerah, Oma kembali menuturkan kalimat perintahnya mengenai pertunangan dan pernikahan cucunya dan Kevin minggu depan.
"Pokoknya kalian tetap harus tunangan dan menikah."
Bukan Nana namanya, kalau dia menyerah begitu saja. Sebanyak apapun Omanya memerintah, maka sebanyak itu pula Nana akan menampik dengan keras perintah Omanya yang terkesan seperti seorang diktator tukang cari perkara.
__ADS_1
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak!" tolak Nana. "Lagi pula aku masih ingin menikmati masa lajang aku."
"Mau sampai kapan? Sampai Hellena menetaskan cucunya, baru kamu akan berfikir tentang menikah? Pokoknya tidak bisa! Oma tetap ingin kalian bertunangan minggu depan, Dan dua hari setelah pertunangan, kalian harus segera menikah!"
"Tapi Oma—"
Kevin tak tinggal diam. Dia lantas dengan sekuat tenaganya mencoba memberanikan diri untuk kembali membuka suara agar dapat menengahi perdebatan cucu dan neneknya yang tak kunjung berkesudahan.
'Tak bisa dibiarkan! Aku harus segera menghentikan semuanya. Aku tidak ingin hidupku berakhir ditangan si singa betina dan neneknya. Aku akan berkata jujur,' tandas Kevin dalam hatinya.
Awalnya Kevin akan berkata jujur mengenai statusnya, tapi lagi-lagi Nana menahannya. Kali ini Nana tak menahan Kevin dengan cara menginjak kakinya, melainkan memegang erat telapak tangan Kevin seperti sebuah isyarat— memohon agar Kevin tak mengungkapkan fakta sebenarnya.
Melihat wajah Nana yang tegang sekaligus memelas, Kevin jadi merasa sedikit iba pada gadis itu. Alhasil dia kembali mengurungkan niatnya.
"Oma ... berikan aku waktu dua menit untuk menjelaskan dan meluruskan semuanya alasanku dan Nana belum siap tunangan," celetuk Kevin menginterupsi.
Oma yang sedari tadi berjibaku dengan Nana akhirnya diam seketika.
"Baiklah. Silahkan jelaskan!"
"Terimakasih Oma," Kevin mengumpulkan udara sebanyak-banyaknya lantas membuangnya perlahan-lahan sebelum akhirnya melanjutkan kalimat penjelasannya pada Oma. "Alasan pertama, aku belum mendapat restu dari kedua orang tuaku. Karena aku tinggal jauh dengan keluargaku, orang tuaku tinggal di Banyuwangi sementara aku dan Nana kan tinggal di Jakarta, jadi belum sempat mengenalkan Nana pada mereka."
"Itu perkara mudah. Kamu tinggal telpon kedua orang tua kamu atau kalau perlu saya akan gunakan pesawat jet pribadi saya untuk jemput orang tua kamu ke sini, agar kamu bisa ngomong langsung sama mereka," sambar Omanya Nana secara enteng dan lugas.
Meski demikian, Kevin tetap melanjutkan kalimatnya. Jika Nana tak bisa mengelak perintah Omanya, maka Kevin akan mati-matian melontarkan ribuan alasan agar haknya tidak terenggut. Lagi pula, Kevin rasa pertunangan itu harus didasari cinta, sementara Kevin dan Nana hanya pura-pura pacaran. Lantas bagaimana Kevin bisa menerima hal tersebut secara gambang? Kevin tak akan menyerah begitu saja.
"Kedua, aku hanya berasal dari keluarga sederhana. Aku punya banyak tanggungan, selain membiayai kedua orang tua aku di kampung, aku juga punya dua adik yang harus aku biayain sampai mereka kuliah nanti."
"Itu juga cuma perkara mudah. Saya tidak peduli kamu berasal dari keluarga kalangan apa. Selama kamu baik pada Nana dan kamu mencintai Nana sepenuh hati kamu, saya pasti akan restuin tanpa terkecuali. Dan masalah adik kamu, bawa saja adik kamu nanti kesini, saya akan bayarin pendidikan mereka sampai kuliah," tukas Omanya Nana tak kalah enteng dari perkataan sebelumnya.
Kevin tak menyerah untuk melontarkan kalimat-kalimat sanggahan agar Omanya Nana percaya kalau Kevin tak bisa tunangan apalagi menikah dalam waktu dekat.
"Dan yang ketiga, aku juga belum punya pekerjaan tetap. Apa tidak masalah nantinya kalau cucu Oma aku ajak hidup serba kekurangan?" tukas Kevin— masih berupaya agar Omanya Nana berpikir dua kali mengenai rencananya itu.
Oma tak langsung menjawab. Dari raut wajahnya bisa dilihat kalau wanita tua yang sudah dipenuhi kerutan itu nampak menimbang-nimbang ucapan Kevin.
Kevin dan Nana sudah hampir girang ketika melihat ekspresi Oma yang hampir terpengaruh ucapan terakhir Kevin mengenai hidup susah.
Hingga pada akhirnya Oma menepuk tangannya tiga kali—memanggil ajudannya yang sedari tadi berdiri seperti patung di belakang kursi yang Oma duduki saat ini.
Lantas Oma berkata pada ajudannya.
"Carikan Wedding Organizer yang paling bagus dan handal untuk acara pertunangan sekaligus pernikahan cucu saya minggu depan!"
Oma langsung bangkit dari duduknya dan meniggalkan Kevin dan Nana yang termangu tak percaya.
Seperti tersambar petir di siang bolong. Kevin dan Nana shock bukan kepalang. Jantung mereka hampir copot dari rongganya, mata mereka membulat sempurna, mulut mereka menganga begitu lebar, dan dada mereka megap-megap menahan sesak setelah mendengar penuturan Oma barusan.
"Aku kira Oma akan terperdaya ucapanku! Nyatanya Oma tak goyah sedikitpun dengan pendiriannya," ceplos Kevin masih dengan ekspresi terkejutnya yang belum kelar.
"Kuharap ini mimpi," ceplos Nana.
__ADS_1
Bersambung.