
Waktu bergulir begitu cepat, padahal baru kemarin Kevin berkenalan dengan Nana, sekarang hari pernikahannya sudah di depan mata, bahkan tinggal menghitung jam.
Ijab kabulnya akan dilangsungkan pada jam 9 pagi, dan sekarang masih jam 6 pagi. Masih ada beberapa jam untuk Kevin sedikit melegakan dirinya sebelum akhirnya terkurung rapat-rapat oleh statusnya sebagai suami orang.
Perasaan Kevin campur aduk, antara harus senang atau tidak. Yang paling mendominasi tentu perasaan tidak senang. Jangan tanyakan alasannya kenapa! Siapapun tidak akan merasa senang kalau ditodong menikah dengan orang yang sama sekali tak dikenal bibit bebet bobot sebelumnya. Jangankan berbicara cinta, kenal saja baru seminggu mana bisa Kevin memiliki perasaan secepat itu pada Nana.
Tapi apa daya Kevin sekarang? Lelaki itu sungguh malang, karena harus terjebak dalam masalah serumit itu di usianya yang bahkan baru menginjak 25 Tahun lewat tujuh hari.
"Kenapa Mas Kevin murung?" Tanya seorang anak kecil bermata sipit yang wajahnya seperti miniatur Kevin versi imut. "Bukankah Mas Kevin mau menikah?" imbuhnya dengan memasang tampang polos khas anak kecil.
Kevin hanya merespon pertanyaan anak itu dengan senyuman tipis nan miris seraya mengacak rambut si anak tersebut secara lembut. Terlukis jelas kalau Kevin sedang dirundung masalah besar.
"Kalau adek sudah besar semoga jangan seperti Mas mu ini ya!" ucap Kevin lirih, lalu tersenyum lagi seolah sedang menutupi luka dibalik senyum tipisnya.
"Kenapa memang? Bukankah Mas orang yang paling beruntung karena bisa menikah dengan anak orang kaya? Orang-orang di kampung pasti akan iri pada Mas. Kalau aku sudah besar nanti, aku juga mau mencari calon istri anak orang kaya biar semua orang merasa iri padaku, hehe."
Lagi, Kevin hanya tersenyum tipis dan miris. Adiknya yang paling bungsu itu memang sangat polos kalau sudah berceloteh. Berbicara perasaan Kevin, adiknya itu tidak tahu kalau Kevin tidak merasa bangga sama sekali bisa menikah dengan Nana, sebab dia sadar kalau dirinya hanyalah seseorang yang payah karena mau saja dijebak Nana.
"Mas pasti sangat mencintainya kan? Semoga pernikahan Mas bisa langgeng ya sama Mbak Nana," pungkas adiknya Kevin lagi. Sebut saja namanya Junior. "Aku rasa Mbak Nana itu orang yang baik," tambahnya.
Mendengar ucapan adiknya yang begitu amat polos dan jujur, Kevin hanya mampu tersenyum lagi untuk kesekian kalinya tanpa bisa berkata-kata apapun. Seolah perbendaharaan kosa kata di otaknya telah habis untuk sekedar mengatakan kalimat sederhana demi menanggapi kepolosan Junior.
Kemudian, Kevin menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar tersebut dengan intens.
'Kamu belum tahu dek, Mas kamu ini tidak seberuntung yang kamu kira. Mas kamu ini terjebak sekarang. Kamu juga harus tahu dek, Mbak Nana yang kamu duga wanita baik itu, tidak sebaik tampangnya. Dia sangat menyebalkan seperti singa betina yang tengah mengandung alias sangar! Boro-boro Mas kamu ini akan jatuh cinta sama dia, melihat bayangannya saja Mas mu sudah merasa ngeri, semoga adek tidak mengalami hal serupa kelak kalau adek sudah dewasa!" batin Kevin sedih.
Meski mulut Kevin diam seribu bahasa, faktanya hatinya menggerutu luar biasa. Kevin sebenarnya ingin lari dari sana, tapi melihat keluarganya— terutama adiknya yang bernama Junior yang begitu antusias menyambut pernikahan Kevin saat ini, lelaki itu lagi-lagi hanya bisa pasrah.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, hal itu menghentikan aktivitas Kevin yang sedang termangu meratapi kemalangannya.
"Siapa?" pekik Kevin.
Tak lama, seseorang mendorong daun pintu ruangan tersebut agar bergeser beberapa senti. Lalu orang tersebut langsung menyembul kepalanya diambang pintu.
"Apa aku boleh masuk?" izin orang itu yang tak lain adalah Nana— singa betina calon istri Kevin beberapa jam lagi.
"Ada apa?"
"Aku ingin berbicara sesuatu yang penting."
Kevin nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
"Masuklah!"
Nana pun langsung masuk sepenuhnya setelah sebelumnya hanya kepala saja yang menyembul dibalik pintu.
Gadis itu menghampiri Kevin yang kini tengah terduduk di tepi ranjang bersama adik bungsunya— Junior.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu mau bicara apa memangnya?" ulang Kevin.
Nana diam beberapa detik, dia mendelikkan matanya ke arah Junior, seolah memberi kode pada Kevin bahwa dia hanya ingin mengobrol berdua dengan Kevin tanpa adanya gangguan kecil meskipun itu Junior.
Kevin yang mengerti gelagat aneh Nana tersebut, akhirnya hanya mampu melenguh dengan berat.
"Adek, bisakah adek keluar dulu sebentar soalnya Mas sama Mbak Nana mau membicarakan sesuatu yang penting," tukas Kevin pada Junior dengan berat hati.
Beruntungnya, Junior adalah anak yang pengertian jadi ketika Kevin menyuruhnya untuk keluar sebentar— anak berusia tujuh tahun itu langsung menurut begitu saja tanpa berkomentar apapun.
Setelah kepergian Junior dari ruangan tersebut, tanpa aba-aba Nana langsung membanting bokongnya untuk duduk di tepian ranjang sebelah Kevin.
Dengan raut gusar dan tak karuan, Nana langsung uring-uringan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Vin gimana nih kita Vin?"
Kevin meninggikan sebelah alisnya tak mengerti.
"Gimana apanya sih Nana? Please deh kalau ngomong tuh yang jelas!" entah kenapa Kevin kalau di dekat Nana bawaannya sewot terus. Bahkan dia lupa cara buat jadi orang sabar kalau di dekat Nana.
"Apa kamu yakin kita harus menikah? Aish! Aku benar-benar tersudut sekarang."
"Kamu pikir kamu doang yang merasa tersudut? Aku juga sama. Semua ini gara-gara salah kamu! Kamu bilang kan padaku kalau pertunangan kita tidak akan pernah terlaksana meski aku tidak membeberkan kebenarannya pada Oma? Tapi mana buktinya? Sampai kita akan menikah saja kamu masih belum bertindak apa-apa. Dasar tidak berguna!" umpat Kevin berapi-api.
Nana membiarkan Kevin mengumpati dirinya, karena percuma saja menanggapi umpatan Kevin yang kalau dijawab malah akan semakin mengundang Kevin darah tinggi dan naik pitam.
"Iya aku minta maaf. Sekarang cepatlah lakukan sesuatu sebelum kita benar-benar mengikat janji suci."
Di situasi seperti ini Nana memang diwajibkan harus lebih bisa mengontrol emosinya sendiri. Sebab, dia harus sabar jika berbicara dengan Kevin si manusia tembok yang tengah mengomelinya bukan membantunya berpikir agar bisa keluar bersama-sama dalam permainan gagal total tersebut.
Nana sebenarnya agak dongkol pada Kevin karena terus-terusan mengomel dan mengomel seolah tidak ada habisnya kata-kata kasar buat Nana. Tapi di sisi lain, Nana sadar kalau semua ini memang salahnya karena waktu itu bersikukuh menyuruh Kevin tidak jujur perihal status hubungan mereka yang sebenarnya. Alhasil, sekarang mereka benar-benar terjebak dan tak bisa lari dari kenyataan.
"Berhentilah mengomel! Daripada kamu habiskan tenaga kamu buat mengomeli aku, lebih baik kamu bantu aku berpikir supaya kita bisa mangkir dari pernikahan ini," ucap Nana dengan nada sedikit melembut.
"Ck! Dari kemarin-kemarin kamu selalu mengatakan mangkir mangkir dan mangkir. Sampai waktunya telah tiba kamu masih mengatakan mangkir, kamu ini benar-benar pendusta dan tak bisa diharapkan!"
Nana jengah. Tapi dia kalah telak sekarang. Daripada terpancing emosi dan masalahnya tidak kunjung kelar sampai ijab kabul nanti terucap, lebih baik Nana mengelus dada sambil berdoa pada Tuhan agar dilipat gandakan kesabarannya saat ini.
"Duh Kevin please deh! Bisa gak sih kamu tuh jangan mengomel dan mengomel terus. Kalau kaya gitu terus kapan aku bisa mulai berpikirnya! Kamu memperkeruh situasi aja deh!" tandas Nana sembari mengipas-ngipas lehernya yang terasa panas mendengar ocehan Kevin yang tak kunjung berkesudahan.
"Aku belum puas mengomeli kamu! Jadi jangan mengatur aku!"
"Terserah!"
Nana bangkit dari duduknya, tapi dengan cepat Kevin langsung mencekal pergelangan tangan Nana dan menariknya untuk duduk kembali di tempatnya.
"Kamu mau kemana? Apa kamu mau mangkir?" sindir Kevin karena sedari tadi kupingnya terbiasa mendengar kata 'mangkir' yang keluar dari mulut Nana.
"Ish! Aku tidak tahan berlama-lama dengan kamu. Lebih baik aku mencari idenya di luar saja daripada mengajak kamu buat bantu cari ide barengan, sampai kiamat pun gak bakal ketemu tuh jalan keluarnya. Kamu tidak berguna sama sekali!" kali ini giliran Nana yang mengutip kalimat barbarnya dari Kevin.
Nana mencoba bangkit lagi, secepat kilat Kevin kembali mencekal lengan Nana dan menariknya lagi agar terduduk kembali.
"Gak usah dicari jalan keluarnya. Karena percuma saja kamu bersusah payah buat cari jalan keluarnya sementara waktu tidak berpihak padamu."
__ADS_1
Nana tak mengerti kalimat Kevin yang ambigu. Dia pun berinisiatif bertanya pada Kevin dengan laga polosnya.
"Maksudnya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Nana barusan, Kevin malah mengedikkan dagunya secara santai tepat menunjuk ke arah jam yang tertempel dengan manis di dinding atas kamar tersebut.
Dengan perlahan, Nana memutar kepalanya mengikuti gerak dagu Kevin. Dan saat melihat jarum jam yang menunjukan pukul 8 pagi, Nana langsung terngaga tak percaya. Biji matanya juga melebar hampir copot dari kelopaknya.
"Sekarang jelaskan padaku bagaimana kamu mau mencari ide sementara waktu tidak berpihak pada kamu?" ulang Kevin.
Nana tak menjawab. Lehernya bergetar mengikuti saliva yang tertelan dengan rakus.
"Perasaan pas aku masuk ke ruangan ini baru jam enam? Kenapa waktu selalu bergulir begitu cepat saat aku sedang di situasi tertekan?" gumam Nana.
"Karena sedari tadi kamu hanya mengoceh dan mengoceh tanpa bertindak," omel Kevin sekali lagi. Lelaki itu seperti tidak ada puasnya mengajak Nana berjibaku.
"Lalu kita harus gimana?" gusar Nana.
"Tidak pilihan lain selain menikah."
Double shock! Itulah kata yang terlintas dibenak Nana saat ini. Gadis itu tidak pernah menduga kalau Kevin malah menyetujuinya di menit-menit terakhir sebelum ijab kabul itu diselenggarakan.
"Kenapa kamu malah ingin menikah? Aish! Apa kamu gila?!" hardik Nana.
"Justru karena aku waras, makanya aku memilih menikah sajalah daripada ribet-ribet nyari ide yang belum jelas dapat apa nggak nya!"
"Loh kok kamu malah bilang gitu sih? Apa jangan-jangan kamu sebenarnya memang menantikan bisa menikah dengan cucu keluarga Atmajaya ya? Kamu sebenarnya sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kan? Ngaku aja deh!" curiga Nana.
Dengan cepat, Kevin menampik perkataan Nana yang mulai menuduh dirinya yang tidak-tidak. Padahal jelas-jelas Kevin merasa dirugikan saat ini, tapi kenapa malah Nana yang sewot?
"Hush! Jangan ngada-ngada deh! Siapa juga yang menantikan menikah sama kamu? Sudah aku bilang kamu itu bukan tipeku, singa betina! Jangan kepedean deh!"
"Kalau kamu memang tidak menantikan pernikahan ini? Lantas kenapa kamu malah menyerah begitu aja sih?"
Secara mengejutkan Kevin malah melayangkan jentikkan jarinya tepat mengenai jidat Nana yang lebar. Hal itu sukses membuat Nana langsung mengaduh lantang.
"Aww! Aduh sakit woy!"
"Makanya kalau punya otak tuh dikasih vitamin kek biar gak mandek-mandek amat!" seloroh Kevin.
Nana langsung mengerucutkan bibirnya seiring dengan mengelus dahinya yang sedikit sakit.
"Gausah bertele-tele deh Vin. Kita tidak punya banyak waktu," Nana mendengus kesal saat Kevin mulai berkelit. "Cepat jelaskan apa alasanmu mau menikah dengan aku kalau bukan karena hartaku?"
Dengan santai Kevin mulai bersiap memberi tahukan idenya yang entah sejak kapan muncul di kepala Kevin begitu saja.
"Daripada kamu repot-repot cari cara buat gagalin pernikahan kita, lebih baik kita buat kesepakatan pra-nikah."
Nana memicingkan matanya tak mengerti.
"Kesepakatan pra-nikah?"
Bersambung.
__ADS_1