Hallo Nana!

Hallo Nana!
He isn't a poor man!


__ADS_3

"Dahsyat emang lo, Jo. Semudah itu Lo bisa ngadalin si Nana dua kali. Haha .. luar biasa Lo!"puji Daniel sembari menepukan kedua telapaknya ringan.


"Siapa dulu dong, gue gituloh," balas Jonatan. Seringaian licik penuh kebanggaan pun terbit di sebelah ujung bibirnya penuh kebanggaan.


"Gak ada tandingannya emang Lo!" puji Daniel untuk kesekian kalinya.


Ia merasa sangat bangga memiliki teman seperti Jonatan yang penuh pesona dan mampu meluluhkan hati gadis-gadis kaya nan lugu seperti Nana.


Terlebih, Daniel tahu persis seperti apa loyalnya Nana pada Jonatan. Gadis itu cenderung bodoh untuk dikeruk isi dompetnya oleh Jonatan. Maka tak heran, Daniel memuji Jonatan tak ada habisnya.


Mereka berdua pun bersulang ria seolah habis menang lotre Milyaran Rupiah. Mereka begitu semangat menertawakan kepolosan Nana yang kini sudah terperangkap oleh pesona Jonatan.


Mereka berdua juga tampak bangga hingga tidak sadar bahwa di meja pengunjung lain ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka sembari memasang kuping lebar-lebar dibalik daftar menu yang menutupi kepalanya.


Tania, orang itu adalah Tania sahabat Nana yang kebetulan tengah berada di kafe yang sama dengan Jonatan dan temannya sedari tadi.


"Kurang ajar!! Benarkan dugaanku kalau si manusia kerdus bernama Jonatan itu tidak benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Nana. Nyatanya dia memang mau memanfaatkan Nana saja, sialan! Akan kubongkar semuanya pada Nana sebelum kalian semua menyakiti Nana lagi, kalian tak akan kubiarkan menang. Dasar parasit berkedok manusia!" umpat Tania pelan. Ia pun segera bergegas dari tempat itu sebelum ketahuan menguping.


Sebagai sahabat yang baik, Tania amat sangat marah dengan sikap Jonatan yang tidak banyak berubah. Ingin rasanya Tania melempar lelaki itu ke dalam jurang jika saja ia mampu. Namun sayangnya, Tania tak senekat itu. Yang bisa Tania lakukan sekarang adalah mencegah perbuatan jahat Jonatan.


***


Nana mondar-mandir ke sana kemari seperti sebuah gangsing yang enggan berhenti. Ia tampak gusar mencari cara agar bisa menolak ajakan Omanya.


Sementara Kevin sedari tadi hanya duduk dengan menopang dagunya menggunakan kedua telapak tangannya. Ia juga sama gusarnya dengan Nana saat ini. Sama-sama gusar memikirkan cara mengelak ajakan Oma mertuanya yang bebal.


"Jadi gimana nih Singa Betina?" tanya Kevin tiba-tiba memecah keheningan.


"Gimana apanya?" Nana menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.


"Kamu yakin kita harus datang? Duh malesin banget deh ah."


"Apalagi aku, lima kali lipat lebih males."


"Arghh.. aku tidak siap jika diadakan pesta macam pernikahan kita waktu itu," lanjut Kevin mengeluh kala mengingat acara pernikahannya yang megah.


Ia lantas menarik wajahnya begitu lucu saking gusarnya. "Kau tahu kan, Oma kamu kalau ngadain pesta bilangnya kecil-kecilan tapi seluruh kolega Oma kamu di undang semua, haduhh.. kita harus cari cara buat menolak acara tersebut nih. Kalau tidak, bisa rontok tulang-tulang kita gara-gara harus berdiri lama sampai acara selesai seperti acara pesta pernikahan kita dulu."


"Ya tapi gimana?"


"Ya kamu mikir lah!" seru Kevin ngegas. "Kenapa malah nanya ke aku?"


"Ya, dari tadi kamu pikir aku mondar mandir ngapain kalau bukan lagi mikir?" sewot Nana tak kalah ngegas.


"Tapi mana hasilnya? Dari tadi juga gak dapet-dapet tuh ide. Emang payah kamu tuh!" Kevin semakin tak mau kalah. Pun dengan Nana yang siap melemparkan peluru balik, namun sebelum hal itu terjadi, Kevin memilih untuk bangkit sembari melipat kedua lengannya di depan dada.


"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus selesaikan ini sendiri!" lantas ia pun mengayunkan kakinya ke luar apartemen membuat Nana tertohok tak percaya.


"Dasar muka tembok sialan!! Tidak berguna! Payah!!" teriak Nana menghardik Kevin yang telah berlalu.


Sepeninggal Kevin, Nana kembali mondar mandir tak karuan. Ia harus mencari cara agar keinginan Omanya mampu ia gagalkan.


"Aku gak bisa diem aja, aku harus cari cara. C'mon Nana, berpikirlah.. berpikir lebih keras!! Si Muka tembok itu tidak bisa diandalkan, jadi kamu harus bertindak sendiri."

__ADS_1


Nana terus mondar-mandir tidak karuan. Entah kenapa ide briliannya sungguh tidak muncul di situasi genting ini. Payah memang, di saat begini otaknya seolah mandek dan tak bisa berpikir cepat. Semuanya terasa buntu begitu saja.


"Ah, aku harus meminta bantuan seseorang!" Nana meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Lantas mencari kontak orang yang akan ia tuju.


Selang beberapa menit, Nana pun berhasil menghubungkan ponselnya dengan orang yang ia tuju. Tania.


Ya, Tania memang satu-satunya orang yang bisa Nana andalkan. Selain teman, Tania juga berperan sebagai pemberi solusi terbaik bagi Nana. Maka tak heran, apapun masalahnya maka Nana akan selalu menghubungi Tania terlebih dahulu ketimbang yang lain.


Pada menit ke 2, Tania pun mengangkat panggilan telepon dari Nana.


"Halo.. Na, ini gawat! gawat banget" serobot Tania di ujung sana, membuat Nana harus mendenguskan udara dari hidungnya.


"Ish, harusnya aku yang bilang gawat. Kenapa malah kamu?"


"Tapi ini gawat dari yang tergawat Na, kita harus ketemu!" pinta Tania agak memaksa.


"Lebay!" celetuk Nana sekenanya.


"Terserah Lo mau ngomong apa, yang jelas kita wajib ketemu!"


"Ish.. emang apa sih? Kenapa gak bilang to the point aja di sini? Aku yang ada urusan kok malah jadi kamu yang riweuh?"


"Ini gak bisa dibicarakan lewat telepon Setyana Atmajaya!! Terserah kamu mau nilai aku riweuh atau apa, yang jelas ini G.A.W.A.T dan gak bisa ditunda-tunda."


"Yaudah, kamu mau ketemuan dimana? Nanti aku kesana. Lagian aku juga lagi butuh bantuan kamu."


"Di Kafe Melon, kita ketemuan di sana!"


"O..." belum sempat Nana mengatakan kata 'oke' namun, Tania lebih dulu menutup telepon Nana. Membuat Nana geram dibuatnya. "Dasar kebiasaan, padahal kan aku belum selesai."


***


Kevin telah sampai di sebuah Kafe K, rasanya ia sudah lama tidak pernah ke kafe semenjak menikah dengan Nana. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang melakukan 'me time' nya di luar.


Ya, semenjak menikah dengan Nana tidak banyak kegiatan yang Kevin lakukan. Ia sangat amat jarang pergi keluar kalau saja Nana tak mengajaknya atau tidak ada urusan penting yang harus ia kerjakan.


Yang Kevin bisa lakukan hanya menyibukkan diri di rumah seperti main game, memasak untuk dirinya sendiri, atau kalau tidak malas ia akan membersihkan apartemen.


Maka tak heran, kini Kevin merasa penat berada di dalam apartemen setiap saat, terlebih ia butuh ide untuk menggagalkan rencana Oma Lidia, jadi ia memutuskan untuk keluar agar mendapatkan suasana segar dan tenang untuk menemukan ide brilian.


"Siapa tahu dengan duduk manis berjam-jam ditemani secangkir kopi akan menghasilkan ide bagus," pikir Kevin.


Ia pun masuk ke dalam Kafe dengan senyum simpul yang tersungging di kedua ujung bibirnya. Namun ketika ia memasuki Kafe tersebut, senyum Kevin memudar saat seorang pelayan menegurnya dengan sedikit gelagapan.


"Pa-Pak Kevin? Ke-kenapa Bapak kesini?"


"Shut!" Kevin buru-buru membekap mulut pelayan tersebut dengan sebilah telapak tangannya. Celingukan ke sana ke mari memastikan pengunjung Kafe yang lain tidak ada yang melihat apalagi sampai curiga terhadap aksinya itu.


"Hmmp.. hmmp.." pelaya tersebut berontak namun Kevin malah memberi kode untuk tetap tenang. Setelah pelayan itu dirasa tenang dan bisa diajak kompromi, barulah Kevin bicara.


"Bisa gak sih kamu tuh berpura-pura gak kenal sama saya?" kata Kevin sambil melepaskan bekapannya.


"Ta-tapi.. Pak!"

__ADS_1


"Kan saya udah bilang selama saya tidak bekerja di sini, kamu dilarang sok kenal sama saya. Apa kamu lupa, heh?"


"Ya, maaf Pak, tapi saya refleks tadi, tiba-tiba aja Bapak nongol ke Kafe ini."


"Ya emang saya gak boleh ke sini?"


"Boleh lah, kan ini Kafe bapak. Tapi yang saya heran kenapa Bapak tiba-tiba ke sini kalau bukan mau bekerja?"


"Saya mau minum kopi."


"Oohh.. yaudah kalau gitu, silahkan bapak pilih meja. Nanti saya buatkan kopi kesukaan bapak."


"Yaudah sana buatkan. Kenapa masih di sini?"


"Siap!!" pelayan itu pun langsung sigat memberi hormat ala-ala tentara. Kevin hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.


Ketika pelayan tadi pergi, dan Kevin hendak memilih meja tiba-tiba saja Jonatan dan Daniel baru akan keluar dari kafe. Membuat mereka bertiga tidak sengaja bertemu.


"Lo?" kata Jonatan terkejut. Kevin menoleh ke sumber suara.


"Lo ngapain di Kafe mahal?" lanjut Jonatan.


"Ya ngopi lah, Lo pikir gue mau berak di sini?" jawab Kevin ketus dan malas.


Jonatan menaikan ujung bibirnya. "Wuidih gegayaan Lo minum kopi di Kafe, padahal tiap hari juga Lo minum kopi sachetan."


"Suka-suka gue lah. Emang urusannya gue ngopi di sini sama Lo apa, HAH?" timpal Kevin sengit.


Mendengar respon Kevin yang cukup songong agaknya membuat Jonatan tidak terima. Ia pun mulai naik pitam.


"Jelas aja ada urusannya. Enak Lo ya ngopi-ngopi mahal pake duit Nana cewek gue? Mau sampai kapan Lo manfaatin cewek gue? Apa Lo semiskin ini sampai-sampai Lo tega manfaatin Nana?"


"Cewek Lo?" ucap Kevin balik meremehkan. "Lo harus inget kalau Nana istri sah gue!"


"BRENGSEK LO!"


"Jo.. Jo.. sabar Jo, tahan emosi Lo! Jangan sampai Lo diamanin sekuriti gara-gara gak kontrol emosi Lo."


Amarah Jonatan hampir tak terkendali, ia hampir melayangkan satu bogeman keras ke wajah Kevin saking tak terimanya dengan pernyataan Kevin. Beruntungnya Daniel ada di sana, sehingga aksi brutal Jonatan bisa dihalau oleh Daniel.


"Tapi gue gak terima dia seenak jidatnya ngomong kaya gitu ke gue, Niel."


"Kita gak perlu ladenin dia. Ngeladenin dia sama aja Lo kalah. Inget Jo, biar bagaimanapun Lo harus main cantik ngadepin manusia macam dia. Bisa rusak rencana kita nanti," pungkas Daniel setengah berbisik pada Jonatan.


"Kali ini Lo selamat ya, br*ngsek!" pekik Jonatan menunjuk Kevin.


Daniel pun menarik bahu Jonatan dan membawanya pergi ke luar meninggalkan Kevin yang tidak ada takut-takutnya sama sekali. Malahan Kevin seperti sengaja memantik amarah Jonatan semakin besar.


"Lo pikir gue takut! Dasar payah Lo berdua!" pekik Kevin menantang. "Sini Lo berdua, gue jabanin."


Sejujurnya Kevin lumayan kesal dengan sikap Jonatan barusan. Tapi bukan Kevin namanya kalau ia juga ikut terpancing emosi meladeni Jonatan. Terlebih saat Jonatan dengan tidak sopan mengolok-olok dan menjudge Kevin tukang manfaatin Nana. Rasanya Kevin ingin sekali merobek mulut Jonatan saat itu juga.


Untungnya, Kevin masih bisa mengendalikan emosinya. Cukup bahaya kalau Kevin sampai tak bisa menahan emosi. Bisa-bisa Kevin keceplosan menyebutkan identitas aslinya. Hal itu jauh lebih bahaya baginya. Belum saatnya semua orang tau siapakah Kevin sebenarnya.

__ADS_1


"Ngatain gue miskin? What?! Yang ada Lo yang miskin dasar manusia parasit!" dumel Kevin saat Jonatan dan temannya benar-benar enyah dari hadapannya.


Bersambung.


__ADS_2