
Malam merangkak dan berubah menjadi pagi. Kevin tampak lesu karena semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Bukan. Bukan karena tidak bisa tidur nyenyak, melainkan ia memilih untuk tidur sambil berjaga-jaga. Ia takut Nana akan mengorek-ngorek informasi tentang dirinya yang sebenarnya melalui ponsel yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.
Kevin sering melihat adegan-adegan sinetron di mana si istri mengecek ponsel suaminya ketika tertidur dan Kevin tidak mau itu terjadi pada dirinya sebab ia tahu Nana wanita yang nekat. Demi menjaga hal-hal yang tidak ia inginkan itu tidak terjadi, Kevin rela membiarkan dirinya tidak benar-benar terlelap. Alhasil, pagi ini kepalanya sedikit pening efek otaknya yang kurang rileks saat tidur.
"Aish.. berapa lama lagi aku akan bertahan dalam kebohongan ini?" ucapnya pelan sembari memijat tepian pelipisnya. Ia kemudian melirik ke arah sofa tempat dimana Nana terbaring. Melihat istrinya terbaring begitu pulas dan damai, Kevin jadi merasa bersalah. Ia pun tergerak untuk turun dari ranjangnya dan mendekat ke sofa.
"Singa Betina, jika kamu sedang tertidur seperti ini kamu terlihat sangat manis. Tapi saat sadar.. beuhh boro-boro manis. Bawaannya bikin tensi darahku naik terus. Maafin aku ya Singa Betina, aku belum berani jujur semuanya ke kamu," sesal Kevin sembari berjongkok di bawah sofa yang ditiduri Nana.
"Pernikahan kita sudah berjalan hampir satu bulan, dan saat ini aku merasa bingung dengan perasaanku. Aku tidak tahu ini perasaan apa tapi yang jelas terasa menggangguku. Aku takut, aku takut jika memiliki perasaan padamu yang pada akhirnya akan membuat kecewa."
Sebilah tangan Kevin mengelus kepala Nana dengan lembut. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa suka sekali memandang Nana saat tertidur. Baginya, wajah Nana ketika terlelap sangat amat indah dan sedap untuk dinikmati setiap pagi. Ia seperti tersihir acap kali melihat Nana menutup mata, rasanya Kevin ingin selalu berlama-lama di posisinya sekarang. Menikmati wajah Nana saat yang menenangkan dan menyejukkan pemandangan pagi.
"Aku juga tidak pernah menyangka bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Ya.. memang pada awalnya aku menerima tawaranmu karena uang demi menyambung hidupku selama berpura-pura jadi orang biasa, tapi semakin kesini aku merasa uang bukan lagi jadi tujuanku. Kamu tahu kenapa? Itu karena.. ah, aku belum bisa mengatakan semua ini," lanjut Kevin ambigu sejurus dengan itu Kevin melihat sepasang bola mata yang terlelap itu bermengerjap-ngerjap pelan menandakan bahwa sang empunya akan segera bangun. Betapa paniknya Kevin saat ini? Hal itu membuat Kevin langsung beringsut dan buru-buru menjauh dari sisi Nana. Ia takut Nana akan salah paham dan memakinya. Entah kenapa nyali Kevin mendadak ciut dan takut tertangkap basah setelah diam-diam bermain-main dengan rambut Nana.
"Hoaaammm.." Nana menguap lebar-lebar meski kesadarannya belum seratus persen kembali.
Kevin buru-buru berlari-lari kecil menuju dapur sebelum Nana benar-benar terbangun. Ia pura-pura menyibukkan diri di dapur. Yang penting Nana tidak curiga kalau tadi Kevin sudah berbuat nakal padanya. Beruntungnya, Kevin masih bisa selamat dari Nana.
"Astaga, hampir saja aku ketahuan," tutur Kevin sembari menyendok gula dari dalam toples dengan sedikit gemetar. Sebegitu takutnya ia ketahuan sama Nana? Ah, Kevin seperti bukan menjadi dirinya yang biasa.
Tap
Tap
Tap
Terdengar derap langkah mendekat ke arah dapur. Kevin tahu betul itu adalah derap langkah Nana karena di apartemen ini hanya ada dia dan Nana. Namun sebisa mungkin Kevin berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tak terjadi sesuatu. Ia fokus membuat kopinya.
"Hoamm.. selamat pagi Muka Tembok!" sapa Nana dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. Gadis itu bahkan masih sempat-sempatnya melempar senyuman pada Kevin.
Kevin menoleh dan mengernyit heran. Tidak biasanya Nana bersikap manis seperti itu.
"Apa di dalam mimpimu kepalamu terbentur batu? Atau mungkin kepentok pintu? Atau kejedot sesuatu mungkin?" singgung Kevin sekenanya.
Nana mengambil panci lalu mengisinya dengan air dan menanaknya sebelum akhirnya menimpali pertanyaan Kevin.
"Apa kepalamu hanya diisi kebodohan sehingga pertanyaanmu tidak berbobot sama sekali?" balas Nana pedas dan judes.
__ADS_1
"Ish, pagi-pagi sudah mau ngajak baku hantam aja," cebik Kevin sebal.
"Kamu yang mulai duluan ngatain kepalaku kebentur, kepentok atau kejedot di dalam mimpi. Gimana gak bikin aku emosi coba?!" balas Nana sengit. Ia kemudian membuka laci atas dari kitchen set-nya, mengambil satu bungkus mie instan kesukaannya dan memasukan mienya pada air yang sudah setengah mendidih.
Kevin diam tak berani menjawab lagi. Ia tahu ia salah, namun ia tak dapat menyangkal bahwa dia merasa heran dengan sikap Nana yang manis tiba-tiba padanya. Yang Kevin tahu, biasanya gadis itu setiap pagi sudah mengomel atau mengumpat. Terlebih, semalam juga mereka sempat beradu mulut. Oleh sebab itu menyapa Kevin dengan nada pelan adalah hal langka yang mesti Kevin pertanyakan.
"Kamu mau masak mie?" tanya Kevin mengalihkan saat melihat Nana mengambil mie instan di dalam laci dan merebusnya.
Nana mendelikkan bola matanya saat Kevin mengalihkan pembicaraan dan jadi sok inosen. "Bukan. Aku mau masak telur!" tandasnya asal.
Kevin tersenyum remeh nan sangsi. "Dih, sudah jelas-jelas mau masak mie. Dasar payah, masa setua itu tidak bisa membedakan mana mie mana telur."
"Kalau sudah tahu kenapa masih tanya?!" geram Nana. Ia sungguh malas ditanya-tanya apalagi pertanyaannya tak berbobot sama sekali. Sungguh, Nana tidak ingin berbasa-basi apalagi mengakrabkan diri dengan Kevin. Baginya, Kevin adalah sumber keruwetan semua hidup Nana. Ah bukan, sepertinya ia sendiri yang membuat semuanya jadi ruwet dan ditambah ada manusia bernama Kevin yang terlibat di dalamnya. Sudah dapat dipastikan ruwetnya melebihi batas tinggi gedung Burj Khalifa di Dubai. Ruwet wet wet wet.. tak terkira.
"Ish.." hanya desisan itu yang mampu Kevin ucapkan. Benarkan dugaan Kevin, jika Nana dalam keadaan sadar maka tensi darah Kevin naik bahkan sampai ke ubun-ubun. Gadis itu selalu mengajaknya perang seolah tidak ada bosan-bosannya sama sekali.
"Kenapa sih dia gak ada manis-manisnya sama sekali? Tiap hari bikin urat-urat saraf gue mengeras aja!" umpat Kevin hampir tak terdengar.
Ajaibnya, Nana masih bisa mendengarnya dengan jelas umpatan Kevin barusan, ia pun langsung saja menyergah sengit.
"Aku tidak akan bersikap manis sebelum aku mendengar semua tentang rahasia yang coba kamu sembunyikan dariku," ancam Nana tanpa menoleh menghadap Kevin. Ia fokus mengaduk-ngaduk mie yang sudah setengah mengembang di dalam pancinya.
"Aku tidak percaya!"
"Terserah. Yang jelas aku tidak punya rahasia. Kamu hanya membuang-buang waktu saja jika masih berpikir aku punya rahasia," tutup Kevin mengakhiri pembicaraan dengan Nana. Ia melenggang meninggalkan Nana sembari membawa kopinya yang telah jadi.
Nana memperhatikan punggung Kevin dengan seksama. Hatinya berbisik bahwa Kevin tengah berbohong saat ini. Nana yakin betul bahwa lelaki itu pasti menyimpan rahasia besar. Dan Nana bertekad akan menyelidikinya. Tapi bagaimana caranya? Nana sendiri belum tahu.
"Kamu pikir aku gadis bodoh atau naif yang bisa percaya padamu begitu saja? No. Aku Setyana Atmajaya, kau berhutang penjelasan padaku Kevin Sanjaya!" Nana berkacak pinggang dengan pipi digembungkan. Ia sungguh penasaran dan ingin segera memecahkan rahasia yang disembunyikan Kevin.
"Aku akan menyelidikinya! Lihat saja, kamu tidak akan menang dariku Muka Tembok!"
***
Nana tiba di sebuah Kafe. Hari ini ia akan bertemu dengan Jonatan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan lelaki kesayangannya itu. Rasanya Nana rindu sekali dengan Jonatan.
"Maaf ya sayang, aku agak telat," ucap Nana sembari mengelus pipi Jonatan yang sudah lebih dulu tiba. Mereka pun saling bertukar elusan pipi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, aku juga baru sampai kok," timpal Jonatan diiringi senyum khasnya yang langsung dibalas oleh senyuman dari Nana saat itu juga.
Nana mendaratkan bokongnya di kursi di depan Jonatan. Ia masih merasa menyesal telah membuat lelakinya menunggu. Ini semua gara-gara Kevin yang seperti menahannya untuk pergi.
Ya, tadi Kevin menyuruhnya untuk mencuci dan membersihkan dapur terlebih sebelum pergi. Kevin juga menyuruh Nana menyapu lantai terlebih dahulu dan membelikan beberapa sayuran segar lewat ponselnya dengan dalih lelaki itu ingin masak. Pokoknya, Kevin benar-benar membuat waktu Nana terkuras banyak. Tapi jika tak dituruti, lelaki itu mengancam akan memberi tahu Omanya perkara Nana yang bermain api dengan Jonatan.
"Sayang, kamu kenapa?" kata Jonatan saat melihat Nana termenung tiba-tiba. Ia mengusap pipi Nana dan membuyarkan lamunan Nana.
"Aa-ah tidak.. aku tidak apa-apa," sanggah Nana tersenyum kikuk. Ia buru-buru melihat buku menu serta merta untuk membuat Jonatan tak mengkhawatirkannya.
Alih-alih teralihkan, Jonatan malah mencengkram tangan Nana dan menghentikan aktivitas. Menatap dalam-dalam Nana dengan seksama. Jonatan yakin Nana tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu terlihat sangat kelelahan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jonatan menyelidik.
Nana menutup buku menunya, lantas menghela nafas panjang. "Sebenarnya sebelum aku kesini, Kevin menyuruhku untuk membersihkan apartemen terlebih dahulu. Disuruh inilah itulah.." ucap Nana terjeda.
"Jadi dia menjadikan kamu pembantu?! Beraninya dia bersikap seperti itu padamu! Kurang ajar!!" tukas Jonatan memotong.
"Ah, bukan. Bukan begitu, ini hanya pertama kalinya aja sih sebenarnya. Biasanya dia yang ngurusin dan bersih-bersih apartemen kami. Tapi entah kenapa, pas aku bilang hari ini aku mau bertemu kamu dia mendadak seperti menahan aku. Hmm.. makanya aku lelah sekali hari ini sayang," curhat Nana sembari menjatuhkan wajah lelahnya dengan manja.
Jonatan mengelus pucuk rambut Nana selaksa menyalurkan seluruh cinta dan energi untuk wanita di hadapannya itu. Ia memang lelaki yang dikenal Nana penuh kelembutan dan romantis. Tak heran, Nana selalu tergila-gila padanya meski pernah dikhianati. Dan sekarang pun lelaki itu menunjukan bakatnya sebagai lelaki romantis di depan Nana.
"Jika aku jadi dia, aku tidak akan pernah membuat kamu melakukan pekerjaan seperti itu. Berani-beraninya dia membuat kamu kelelahan seperti ini," ucap Jonatan membuat Nana semakin merasa beruntung memiliki lelaki itu kembali.
"Oh, sayang.. kamu baik banget. Terimakasih ya."
"My pleasure honey.. sekarang ayo kita pesan makanan. Kamu harus makan yang banyak supaya kembali bertenaga. Kamu mau pesan apa?" Jonatan kemudian membukakan dan menyodorkan daftar menu pada Nana. Nana semakin merasa tersanjung diperlakukan lembut dan manis seperti sekarang. Ia merasa amat sangat amat beruntung hubungannya dengan Jonatan telah kembali meski semesta tak memberikan jalan mudah untuk hubungannya kali ini.
Ya, hubungan Jonatan dan Nana kini tak lagi bisa dikatakan hubungan resmi. Pasalnya Nana telah menikah dengan Kevin. Jika Omanya tahu Nana menjalin hubungan dengan Jonatan lagi, beliau pasti akan mengutuk dan marah besar pada Nana. Oleh karena itu, Nana tidak berani menjamin kalau hubungannya dengan Jonatan akan mendapat jalan mudah. Seperti kata pepatah Nana sedang menghadapi badai besar. Tapi Nana akan bersikeras berjuang demi lelakinya.
"Aku tidak sabar untuk segera bercerai dari si Muka Tembok dan menikah dengan lelaki yang kucintai. Tapi sebelum bercerai aku harus segera mencari tahu rahasia yang disembunyikan oleh si Manusia Tembok, aku tidak akan mengampuninya jika rahasianya merugikan diriku dan keluargaku," Nana membatin tegas. Sungguh, ia berada di posisi penasaran sekaligus jengah harus main rahasia-rahasiaan dengan Kevin.
Ingin rasanya Nana mengulang waktu dan tak pernah mengajak Kevin kerjasama. Mungkin semuanya tak akan serumit ini.
"Aku sayang kamu," seloroh Nana tiba-tiba.
"Me too," jawab Jonatan singkat.
__ADS_1
"Sekarang kamu telah masuk dalam perangkapku Nana. Aku tidak akan melepaskan kamu. Aku juga tidak akan membiarkan lelaki sialan itu menghalangi jalanku.. Lihat saja, aku akan mendapatkan kamu dengan cara apapun," tekad Jonatan dalam hati. Betapa liciknya lelaki itu yang akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang ingin dia capai.
Bersambung.