Hallo Nana!

Hallo Nana!
Bertemu Pria Aneh


__ADS_3

"Sudah aku bilang, aku tidak mau ikut ke acara pernikahan si mulut besar itu. Dia jadi semakin seenaknya sama aku. Ish ... benar-benar membuatku geram." Nana berdecak kesal sepulang dari pesta pernikahan Hellena dan Samudra.


Bahkan saking kesalnya, Nana malah melepas stilettonya yang menempel cantik di kedua kakinya. Rupanya tak hanya kepala dan dadanya saja yang merasa sesak efek dikuasai amarah yang membuncah, kakinya juga mendadak sesak setelah berjam-jam menggunakan stiletto tersebut.


"Sabar Na, orang sabar kan di sayang Tuhan. Lagian kenapa sih mempedulikan si Hellena?! Harusnya kamu kan udah kebal tuh sama ledekan si Hellena."


"Aku sudah berusaha kebal, tapi entah kenapa telingaku tidak bisa diajak kompromi. Semakin aku diam, semakin kejam juga mulut si Hellena mengata-ngatai aku. Kurang ajar memang ... awas aja akan kubalas nanti!" Emosi Nana semakin tak terkendali. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras ketika dia teringat semua ucapan-ucapan pedas Hellena selama di pesta tersebut.


Sementara Tania hanya mampu mengelus-ngelus bahu Nana agar amarahnya meredam. Lagipula pestanya sudah kelar, mau mengeluarkan sumpah serapah pun tak ada gunanya.


"Aku akan membuat perhitungan pada si mulut besar itu," tukas Nana seraya melempar sebelah stilettonya dengan keras.


"Loh Na ... kenapa kamu lempar sepatu kamu Na? Itukan mahal Na ...," Tania menatap sedih pada sepatu yang dilempar Nana barusan.


"Aku tidak peduli. Kalau perlu aku akan membuang sebelahnya lagi seperti ini ...," kali ini Nana membuangnya ke arah belakang.


Mungkin ia mencoba melampiaskan seluruh amarahnya melalui stiletto yang berharga lumayan mahal itu. Nana tidak peduli meski kini dia harus berjalan tanpa alas kaki, emosinya terlalu dipuncak sehingga ia butuh pelampiasan.


Pluk!


Duk!


"Aduhhhh!"


Terdengar suara mengaduh dari seseorang bersuara serak yang entah darimana datangnya. Nana dan Tania tak bergeming antara takut dan was-was.


"Jangan-jangan hantu Na?!" panik Tania.


"Jangan ngarang. Mana ada hantu tengah malam gini?! Mereka pasti sudah tidur." ceplos Nana berusaha tenang.


"Ish ... hantu kan emang keluarnya malem-malem Nana ...," cebik Tania.


Nana hendak menanggapi cebikan Tania, namun tak jadi karena suara seseorang yang tadi mengaduh mulai menginterupsi.


"Hey kalian berdua?!" teriak seseorang yang tadi mengaduh.


Nana dan Tania sontak menoleh ke arah belakang. Berharap kalau orang yang mengaduh tadi bukan karena lemparan stiletto Nana.


Orang tersebut memasang wajah garang sembari memegang dahinya, sementara tangan yang lainnya memegang stiletto Nana yang tadi dilempar.


Orang itu mencoba mendekat ke arah berdirinya Nana dan Tania yang entah mengapa kaki mereka seperti sulit digerakkan.


"****** kita Na!" tukas Tania cemas. Lantas ia memundurkan langkahnya untuk berlindung di belakang Nana.


"Diamlah. Jangan panik!"

__ADS_1


"Tapi orang itu semakin mendekat ke arah kita, Na."


"Aku bilang jangan panik dan jangan grasak-grusuk. Aku akan menyelesaikannya secara kekeluargaan, siapa tahu dia mau diajak damai."


Nana masih berusaha kalem, seolah tidak takut sama sekali, lagipula dia harus meminta maaf karena telah membuat orang tersebut mengaduh akibat lemparan stiletto miliknya.


Orang itu semakin mendekat dan mempersempit jarak dengan Nana dan Tania.


Nana tetap berdiri biasa saja, berbanding terbalik dengan Tania yang semakin panik menjadi-jadi. Keringat dingin mulai menghantui tengkuk Tania, bahkan tubuh Tania bergetar hebat menahan takut yang menderanya saat ini.


"Kita harus lari Na ...," ajak Tania masih diliputi ketakukan yang luar biasa. Bahkan kini, dia sudah siap ancang-ancang untuk angkat kaki seribu.


"Aku tidak akan lari."


"Tapi orang itu menyeramkan, lebih seram dari hantu ... Bagaimana kalau orang itu beneran hantu?" ajak Tania lagi, dia masih berusaha menarik paksa Nana untuk melarikan diri.


Nana tetap diam di tempat walau Tania berulang kali mencoba menyeret paksa Nana untuk kabur. "Sudah aku bilang dia bukan hantu, cobalah lihat kakinya napak ke tanah begitu ... mana mungkin hantu?!" imbuh Nana.


"Tapi bagaimana kalau orang itu ternyata mabuk? Kamu tahu kan kalau orang mabuk suka bertindak gegabah, jadi lebih baik kita segera kabur Na ...," Tania semakin memprovokasi jiwa Nana agar mau kabur, tapi Nana tetap acuh dengan ucapan Tania.


Orang itu semakin mendekat.


Tania semakin takut.


Orang itu selangkah lebih dekat lagi dengan Nana dan Tania yang sudah berdiri tak karuan.


Dan ...


"Kabuuuuuuur!" pekik Tania sembari menyeret lengan Nana secara paksa. Alhasil Nana ikut terseret dan lari sesuai perintah Tania.


Kaki panjang Nana dan Tania memudahkan mereka menjangkau langkah yang lebih lebar, sehingga dalam sekejap mata mereka mampu melarikan diri dari orang aneh yang di temui mereka itu.


"Hey ... kalian jangan kabur! Kenapa kalian malah kabur?! Kalian harus bertanggung jawab karena sudah membuat dahiku terluka. Dasar wanita sialan!" jerit orang yang terkena lemparan stiletto Nana.


--o0o--


Nafas Nana dan Tania memendek tertahan sesak yang mengungkung dadanya setelah lari marathon meloloskan diri dari manusia aneh yang ditemui mereka tanpa sengaja, jantung mereka juga berdegub lebih kencang dari sebelumnya seiring dengan peluh yang mengucur deras dipermukaan kening dan area tubuh lainnya.


"Hosss ... Hosss ... hampir saja kita tertangkap Na," ucap Tania disela nafasnya yang memburu.


"Hosss ... Hosss ... Lagian ngapain sih kita pakai acara kabur segala? Niatku kan mau meminta maaf tadi, jadi kita gak bakal tersiksa kaya gini ...," timpal Nana yang juga tak kalah ngos-ngosan.


"Aku takut dia orang jahat Na, makanya aku narik kamu tadi. Lebih baik kabur daripada mengajak damai orang yang bahkan gak jelas asal-usulnya."


"Kebanyakan nonton sinetron sih kamu Tan, makanya bawaannya parno mulu. Mana aku gak pake alas kaki pula, ish ... kamu udah bikin telapak kaki aku lecet-lecet nih," gerutu Nana.

__ADS_1


"Lecet dikit mah gak apa-apa Na, daripada kita di apa-apain sama orang tadi gimana?!"


"Jangan su'udzon mulu sama orang Tania ... siapa tahu orang tadi bukan orang jahat."


"Bukan gimana sih, kamu gak lihat tadi penampilannya lusuh begitu? Kalaupun dia bukan orang jahat ... Dia itu pasti orang gila. Jadi tetap saja berbahaya," terka Tania tak mau kalah.


"Kamu selalu mengatakan yang tidak-tidak sama orang lain. Padahal kan kita gak tahu orang itu siapa dan bagaimana, jangan menilai seseorang dari penampilannya. Pepatah mengatakan don't judge a book by it's cover," Nana mulai sok menggurui, padahal dia sendiri suka su'udzon sama orang.


"Tapi ada pepatah mengatakan, You're what you wear! Itu artinya penampilan mencerminkan diri seseorang yang sesungguhnya," sanggah Tania tetap tak mau kalah.


"Sudahlah terserah kamu aja ... kita gak usah berdebat lagi masalah orang itu. Lebih baik kita cari taxi aja. Kaki aku udah mulai perih-perih nih karena tergesek aspal," keluh Nana sembari mengecek kakinya yang lecet.


"Siapa suruh kamu buang stiletto kamu ... Emang enak kakinya jadi lecet-lecet!" pungkas Tania menyalahkan kecerobohan Nana.


Nana mencebik kesal ke arah Tania, ditatapnya Tania dengan intens. "Bisa gak sih gak perlu mendumel kaya tadi?"


"Gak bisa."


"Ish ... teman macam apa kamu?!"


Secara mengejutkan mereka memalingkan wajah mereka kearah yang berlawanan secara bersamaan. Mereka diam dan tak ada yang mau membuka mulut lagi, sepertinya perang dingin antara Tom and Jerry segera dimulai.


Citttt~


Suara ban mobil berdecit terdengar oleh daun telinga Nana dan Tania secara tiba-tiba. Suara decitan tersebut dihasilkan dari mobil Audi A6 berwarna silver yang entah ada angin apa mendadak berhenti tepat di samping Nana dan Tania yang tengah perang dingin sejenak.


Melihat mobil itu berhenti di dekat mereka, secara otomatis Nana dan Tania saling memandang heran satu sama lain dan melupakan perang dingin mereka yang baru saja dimulai.


"Kayanya aku kenal mobil itu Tan," ujar Nana.


"Aku juga ... kaya nggak asing di mata aku."


"Kira-kira mobil siapa ya Tan?!" lanjut Nana.


"Mana aku tahu, mungkin keluarga kamu."


Mendengar kata 'keluarga' kontan membuat Nana terhenyak, matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar.


"Jangan-jangan ...," Nana menggantung kalimatnya sejalan dengan membekap mulutnya yang menganga lagi dan lagi, kala ia ingat sesuatu.


Si pemilik mobil Audi A6 berwarna silver itu kemudian turun dari mobilnya secara perlahan. Dan nampaklah orang yang sangat familiar di mata Nana dan Tania.


"M*mpus kamu Na ...," Tania membelalak tak kalah kaget saat mengetahui sang empunya mobil tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2