Hallo Nana!

Hallo Nana!
Buang-Buang Waktu


__ADS_3

"Cepat beritahu aku apa yang mau kamu bicarakan hingga membuatmu menelponku berkali-kali?" ucap Nana buru-buru.


"Santai dong, sis."


Alih-alih menjawab dengan cepat, Kevin malah menyisipkan candaan ditengah peliknya masalah Nana dan dirinya. Kevin seolah tidak mau ketegangan tercipta diantara dirinya dan Nana. Lagipula, Kevin sedang enggan berdebat dengan istrinya itu. Ia merasa capek berdebat. Bukan! Sepertinya bukan karena capek, melainkan karena Kevin lebih tertarik ngepush rank daripada berdebat dengan Nana kali ini.


Sebab, menurut Kevin perdebatan mereka sudah mirip jadwal minum obat, alias pagi siang malam. Bahkan ada part ekstranya, menjelang tidur biasanya akan berdebat dulu entah meributkan masalah ranjang, entah meributkan masalah suhu pendingin ruangan, atau bahkan berdebat soal lampu. Semua mereka ributkan, makanya Kevin sekarang ingin mencari kegiatan yang baru selain berdebat, ribut, atau berjibaku.


"Arggh! Cepat katakan! Aku tidak suka berbasa-basi," dumel Nana kesal.


"Tadi Oma kamu menelpon aku," jawab Kevin singkat, padat, dan jelas. Bahkan wajahnya tak beralih dari benda persegi panjang yang tengah asyik dia mainkan itu. Push rank lebih menarik daripada wajah Nana.


"Lalu?" wajah Nana mulai nampak serius kali ini, mendaratkan bokongnya di tepian ranjang, serta memasang rungunya baik-baik, bersiap untuk fokus mendengarkan kelanjutan kalimat Kevin mengenai Omanya yang menelpon tadi.


Nana takut Omanya ingin membicarakan sesuatu yang penting di saat dirinya tadi tak ada di apartemen. Lebih parahnya, dia takut kalau Kevin mengadukan dirinya yang tengah jalan sama Jonatan pada Oma. Ribuan pertanyaan itu seolah mengisi penuh otak Nana yang sudah semrawut tak karuan.


Kevin mendongak sekilas saat melihat Nana duduk di sisinya dengan menampilkan ekspresi serius. Perubahan raut wajah Nana sangat aneh setiap mendengar nama Omanya, Kevin jadi mengerutkan wajahnya tak mengerti dengan mimik wajah Nana yang berubah drastis dari marah-marah menjadi serius dan sedikit cemas. Seciut itukah Nana pada Omanya? Kevin jadi berpikir begitu.


"Lalu apanya?" Kevin malah bertanya balik, membuat Nana harus ekstra sabar menghadapi Kevin.


"Lalu apa lagi yang Oma omongin ke kamu?" Nana semakin tak sabaran ingin mengetahui pembicaraan Omanya dengan Kevin. Barang kali itu penting, Nana tak boleh melewatkannya.


"Nggak ngomong apa-apa, cuma bilang Nana dimana, terus aku jawab, lagi pergi sama temennya. udah selesai."


"Udah gitu doang?"


Kevin mengangguk polos sembari melanjutkan memainkan game Pubg di dalam ponselnya. Saking polosnya, membuat Nana melongo tak percaya dengan informasi yang tak penting dan tak berbobot yang di sampaikan Kevin barusan.


Seperkian detik berikutnya, bagai sapi yang dicucuk hidungnya, Nana murka bukan kepalang. Dia amat sangat geram dengan kelakukan Kevin yang bodoh atau memang sengaja ingin membuat Nana darah tinggi. Nana merasa buang-buang waktu.


Jika dianalogikan sebuah gambar di komik, pasti wajah Nana sekarang sudah berubah menjadi merah menyala dengan asap yang mengepul keluar dari telinga serta hidungnya. Bahkan di atas kepalanya sudah tumbuh tanduk runcing yang siap membaduk lelaki dihadapannya itu.


Merasa dipermainkan, Nana langsung menyentak Kevin dengan nada 4 oktaf sekaligus.


"LALU KENAPA KAMU NYURUH AKU PULANG, DASAR BODOH?!!"


Kaget, terkesiap, sekaligus pengang adalah tiga kata yang paling pas menggambarkan keadaan Kevin saat disentak Nana tiba-tiba, membuat Kevin memundurkan punggungnya secara refleks, layaknya daun yang terhempas angin yang begitu lebat. Tak berdaya dan bergerak-gerak mengikuti angin yang menghempasnya. Tapi anehnya, alih-alih merasa berdosa, Kevin malah mengorek kupingnya dan menanggapi kalimat Nana dengan santai.

__ADS_1


"Marah-marah mulu. Kamu memangnya mau wajahmu yang bulat itu dipenuhi kerutan yang bergelambir efek ngegas mulu tiap ngomong, kamu mau seperti itu, hah?" tandas Kevin. Semakin tak tahan saja Nana menghadapi muka tembok berlabel bapaknya biawak bernama Kevin itu.


"Kamu tuh ya ... minta di Hiih!" geram Nana.


Gadis itu bangkit meninggalkan Kevin dengan kesabarannya yang kian lama kian menipis. Jika saja ada orang yang menjual kesabaran, Nana sepertinya akan menyetok banyak persediaan kesabaran guna mengantisipasi kalau-kalau Kevin mengajaknya baku hantam dua puluh empat jam.


Dengan begitu, Nana tak perlu merasa cemas akan kehabisan banyak kesabaran menghadapi Kevin yang kian detik kian minta ditenggelamkan ke samudra atlantik, atau mungkin dihempaskan ke jurang curam.


"Kamu mau kemana, singa betina? Kamu kan baru pulang, masa mau pergi lagi?" tanya Kevin saat Nana beranjak entah mau kemana.


Nana mengurut ujung hidungnya, kepalanya serasa pening tiap kali berurusan dengan Kevin.


"Hey aku nanya kok gak dijawab? Apa kamu mulai bisu, hah?" pekik Kevin saat tak diindahkan pertanyaannya yang pertama.


"Bodo amat!" jawab Nana ngegas.


Kevin menaikan sebelah alis kirinya, "Kamu pasti mau ketemu si Jonatan playboy cap biawak itu lagi kan?" cetusnya.


Dengan amat sangat terpaksa Nana menghentikan laju langkahnya saat rungunya mendengar kata paling menyebalkan yang selalu disematkan pada Jonatan oleh Kevin.


Nana memutar badannya, menghadap lurus ke arah Kevin dengan wajahnya yang mengerikan. Lantas memekik ganas pada lelaki yang sedari mulutnya nyetus meledek.


"What? Apa aku tidak salah dengar?" dengan gaya tengilnya, Kevin malah menempelkan telapak tangannya di telinga kanannya membuat gerakan seolah-olah tidak dengar. "Coba ulangi kalimatmu yang tadi?"


"Jangan menyebut kekasihku dengan embel-embel biawak! Apa kamu tuli, hah?"


Seketika, tawa Kevin pecah dan menggema ke seluruh ruangan. Dia merasa lucu dengan keluguan atau mungkin kebodohan Nana yang mendeklarasikan kalau Jonatan adalah pacarnya.


"Bwahahaha ...."


"GAK LUCU!!!"


"Kamu tuh sebenarnya naif apa bodoh sih, singa betina? Kok ya bisa kamu terperdaya sama si playboy cap biawak itu untuk kedua kalinya. Bwhahahaha ...," celetuk Kevin diikuti tawa jahat yang begitu memengangkan telinga bagi siapa saja yang mendengar.


"Aku mencintainya. Lagipula Jonatan sudah berubah. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, jadi berhentilah mengejek dan mentertawakan aku. Karena itu sama sekali GAK LUCU!" ujar Nana seraya menekankan kata 'Gak lucu' agar Kevin berhenti membungkam tawa jahat nan jahanamnya itu.


"Gini loh, singa betina ... Kisahmu dengan si Jonatan itu bagai membaca ulang novel yang telah selesai kamu baca. Endingnya tetap sama, tak akan ada berubah!" tegas Kevin, memaparkan. "Jadi sebelum kamu patah hati yang kedua kalinya, lebih baik kamu udahan aja sama si playboy cap biawak itu sesegera mungkin," usul Kevin.

__ADS_1


"Jangan sok tahu! Aku tidak akan memutuskan hubunganku dengan Jonatan, kami akan menikah setelah aku menggugat cerai kamu nanti," balas Nana sewot. Merasa tak terima dengan kesoktahuan Kevin.


"Hmmm ... aku bukannya sok tahu, aku ini juga seorang laki-laki. Aku tahu ciri-ciri bejatnya kaum kami itu seperti apa, kebetulan si Jonatan itu masuk kategori bejat. Tapi terserah sih, kalau kamu tetep mau melanjutkan hubungan kamu sama si Jonatan itu, tapi siap-siap aja kamu pasti akan nyesek nantinya. Aku hanya memperingatkan kamu biar lebih waspada, agar kamu tak sakit hati."


"Oh ya? Apa kamu sekarang sedang berperan menjadi suamiku sesungguhnya? Orang yang peduli terhadap urusanku, begitukah?" cetus Nana meremeh temehkan nasihat Kevin yang panjang kali lebar kali ruwet.


"Aku tidak sedang berperan menjadi siapapun. Aku hanya sedikit peduli saja sama kamu, SE-DIKIT ya! Kamu jangan kegeeran," ujar Kevin mulai mencari alasan.


"Cih! Untuk apa aku harus kegeeran dengan rasa pedulimu. Demi krabby patty yang tak pernah kucicipi seumur hidupku, aku mendeklarasikan bahwa aku tak akan pernah merasa keegeran padamu."


"Kuberi tahu satu hal, Jonatan itu cuma manusia penuh dusta dan pembual. Dia mau kembali padamu, bukan berarti dia beneran cinta sama kamu. Dia itu cuma mau harta kamu. Dia itu matre, dia itu hanya memanfaatkan kamu. Kamu harusnya bisa membuka mata kamu lebar-lebar bahwa Jonatan itu bukan pria yang baik buat kamu," tandas Kevin yang langsung disergah sengit oleh Nana.


"Oh ya? Jika Jonatan matre, lantas kamu apa? Kamu juga kan memanfaatkan aku. Kamu numpang tinggal di sini, kamu morotin uang aku, kamu juga memeras hartaku."


"Aku dan Jonatan jelas berbeda. Aku mendapat uang darimu bukan hasil morot ya. Aku mendapat imbalan atas kerja kerasku yang mengorbankan segalanya untukmu. Dimulai dari masa depanku, karirku, bahkan cintaku," terang Kevin, merasa tak rela dirinya di samakan dengan orang seperti Jonatan.


"Terserah!"


Gadis itu mencebik seraya mengepakkan sebelah telapak tangannya, menepis segala informasi yang di sampaikan Kevin mengenai Jonatan. Ia juga menulikan telinga, serta membutakan matanya saat Kevin berusaha menasihati Nana. Nana tahu yang terbaik untuknya, jadi tak ada alasan buat Nana percaya pada Kevin. Rasa percayanya pada Jonatan seribu kali lipat lebih baik dibanding rasa percayanya pada suami setengah sahnya itu.


Gadis itu memutar badannya, membuat Kevin mengerutkan kedua alisnya saat gadis itu terus-terusan tak mengindahkan semua nasihatnya.


"Kamu mau kemana lagi, sih?" tanya Kevin setengah menjerit saat gadis yang dituju semakin melebarkan langkahnya.


"Bukan urusanmu!"


Brak!


Kebiasaan Nana saat menyelesaikan perdebatannya dengan Kevin adalah membanting pintu sekuat tenaganya. Dengan begitu, ocehan Kevin akan mereda. Telinga Nana pengang jika terus-terusan dinasehati oleh Kevin yang mulai so posesif padanya. Makanya, daripada Nana buang-buang waktu, gadis itu lebih baik melakukan kebiasan barunya yang menurut Nana efektif membungkam mulut Kevin.


Setelah Nana keluar dari apartemennya, Kevin hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Ia merasa payah, saat tak berhasil memberitahu Nana tentang bejatnya Jonatan.


"Kenapa kamu susah sekali sih dibilangin? Aku tahu aku bukan lelaki yang baik, tapi aku lebih tahu mana lelaki yang hanya memanfaatkan seseorang sama laki-laki yang tulus."


Kevin sadar dirinya tak sempurna. Tapi Kevin bukan orang seperti Jonatan yang tega mempermainkan perasaan Nana demi sesuatu yang negatif. Meskipun tak ada bukti konkret kalau Jonatan bejat, Kevin berani bertaruh kalau lelaki itu memang bukan orang baik. Dan Kevin bertekad akan membuktikan kecurigaannya itu sesegera mungkin.


Dengan gerakan cepat, Kevin mengotak-ngatik ponselnya. Menghubungi seseorang diseberang sana dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Hallo?"


Bersambung.


__ADS_2