Hallo Nana!

Hallo Nana!
Pernikahan Yang Tak Diimpikan


__ADS_3

"Qobiltu nikahaha wa tajwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taupiq."


(Saya terima pernikahan dan perkawinannya dengan mahar yang telah disebutkan dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah memberikan anugerah)


Di depan penghulu, dengan suara lantang dan pasti Kevin mengikrarkan janji suci atas pernikahannya dengan Nana. Entah harus bahagia atau tidak, Kevin merasa semuanya seperti sebuah spinner yang berputar begitu cepat tanpa bisa dihentikan lajunya.


"Bagaimana saksi? Apakah sah?"


"Saaaaah!"


Terdengar kata 'sah' dari para saksi dan tamu undangan begitu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Raut-raut bahagia sekaligus haru juga terpancar di sana, tak terkecuali Nonya Widia Atmaja— Omanya Nana dan juga keluarga angkat Kevin yang hadir di acara sakral itu. Mereka semua berbahagia atas disahkannya pernikahan Nana dan Kevin.


Lain hal dengan Nonya Widia dan keluarga Kevin, sang pemeran utama justru malah menunduk lesu seperti ayam potong yang hendak disembelih lehernya. Layu dan tak ada percikan kebahagian sama sekali. Walaupun sudah menyepakati kontrak pra-nikah, nyatanya Kevin dan Nana tak bisa ikut bahagia seperti apa yang tengah orang-orang rasakan saat ini.


Pernikahan itu bukan pernikahan yang mereka impikan sejak awal. Sebab, pernikahan tersebut layaknya sebuah pernikahan dalam sinetron yang instan dan penuh rekayasa.


Kendati demikian, suka tidak suka, sudi tidak sudi, Kevin dan Nana tetap sah di mata hukum dan agama. Dan sekarang, mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


'Aku tidak menyangka kalau hidupku akan berakhir seperti ini. Semoga kedepannya aku tidak mengalami hal buruk lainnya,' harap Kevin dalam batinnya.


Setelah ijab kabul itu selesai, Kevin dan Nana langsung digiring menuju pelaminannya. Setelah tadi drama pernikahan cukup mengharu biru, kali ini giliran sesi salaman dan ucapan selamat dari tamu undangan untuk Nana dan Kevin.


Setelah sampai di pelaminan, ekspresi wajah yang sama masih tertampil di pemeran utamanya— Nana dan Kevin.


"Sampai kapan kita akan berdiri sambil pura-pura bahagia seperti ini?" ucap Kevin setengah berbisik pada Nana. "Mulutku rasanya kram karena terus-terusan harus menampilkan senyum palsu pada para kolega Oma kamu."


"Kamu pikir kamu doang yang merasa seperti itu? Aku juga sama kram, bahkan gigi aku terasa kering harus menampilkan senyum bodoh seperti ini," balas Nana.


Dengan gusar Kevin mendengus kesal, seolah cuma ekspresi itu yang bisa dia tampilkan sekarang.


"Mana banyak sekali kamera yang menyorot kita, seperti pernikahan selebriti saja."


"Entahlah ... kenapa Oma aku sampai-sampai mengundang wartawan di acara ini."


"Eh! Jadi beneran semua kamera itu berasal dari kamera para wartawan? Kupikir itu kamera dari Wedding Organizernya."


"Bukan. Apa kamu tidak bisa lihat mereka semuanya memakai seragam dari stasiun televisi dan beberapa portal media informasi?"


Mata Kevin membulat sempurna saat dirinya baru sadar kalau orang-orang yang berjejer sambil memegang kamera itu ternyata para wartawan yang sedang meliput acara pernikahannya dengan Nana. Seketika Kevin langsung menepuk jidatnya sejurus dengan mengusap wajahnya dengan gusar.


Dari lubuk hati paling dalam, Kevin merasa malu dan juga kesal. Dia tahu kalau gadis yang dia nikahi bukan gadis sembarangan, tapi Kevin tidak menyangka kalau acara pernikahan akan diliput secara langsung oleh media seperti selebritas tanah air atau pejabat.


"Astaga! Berarti acara ini ditayangkan di televisi?"


"Tentu saja. Kamu juga harus tahu kalau ini disiarkan secara langsung di semua channel TV swasta, jadi kita gak boleh bertindak yang aneh-aneh dulu."

__ADS_1


"APA?!!" Kevin menjengit kaget sekaget-kagetnya. "Oma kamu ada-ada saja sih. Norak tau gak! Kita kan bukan selebriti, kenapa harus ditayangin di televisi segala sih!" Kevin menyeru dengan sebal.


Sementara Nana hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon kalimat Kevin.


—o0o—


Di sisi lain, seorang lelaki tampan dengan rahang kekar dan fostur tubuh yang tegap, melangkah menuju kamarnya setelah seharian bekerja di kantor.


Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur setelah selesai membuka sepatu dan kaus kaki, serta melonggarkan dasi yang mengikatnya seharian.


Tak lama, lelaki itu meraih remote TV dan menekan tombol merah untuk menyalakan TV LED yang menempel manis di dinding kamarnya. Seharian bekerja, membuat tubuh dan otaknya merasa perlu penyegaran supaya tidak tegang dan stress.


Dan saat TV itu menyala, lelaki itu disuguhkan dengan penayangan acara pernikahan keluarga Atmaja— salah satu crazy rich Indonesia.


Merasa bosan, lelaki itu menekan tombol angka pada remote TV nya, mengganti channel TV dengan harapan dapat tayangan yang lebih menarik dan berbobot ketimbang acara pernikahan cucu konglomerat yang jelas-jelas tak dia kenal orangnya.


Namun sayangnya, beberapa kali mengganti channel TV, hanya penayangan pernikahan cucu konglomerat yang dia dapat. Hal tersebut tentu saja menuai decak kecewa sekaligus emosi pada lelaki berahang kekar itu.


"Aish! Norak banget sih ni orang kaya. Cuma acara meritan aja pakai ngeblokade semua stasiun televisi buat nayangin pernikahan cucunya. Dia pikir semua orang akan tertarik melihat tayangan ini? Tidak berbobot sama sekali. Norak! Norak! Norak!" dengus lelaki itu dengan penuh emosi.


"Mau apa coba pakai ditayangin beginian? Apa orang kaya norak ini mau pamer? Aish benar-benar membuatku naik pitam saja!" tambah lelaki itu.


Detik berikutnya, emosi lelaki semakin itu meledak-ledak memaki layar kaca yang menampilkan penayangan langsung pernikahan cucu dari keluarga Atmaja. Saking emosinya lelaki itu hampir melempari televisinya dengan remote TV yang sedari tadi dipegangnya erat-erat.


Beruntung, seorang reporter di dalam acara tersebut seolah menginterupsi dengan kalimat yang membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.


———


Seperti yang kita tahu bahwa Widia Atmaja adalah seorang pengusaha sukses yang sudah melanglang buana perusahaannya, tak ayal jika Widia Atmajaya masuk kedalam jajaran 50 Orang Terkaya Indonesia versi majalah Forbes yang dirilis tahun 2020 ini.


Mungkin kita memang tak asing jika mendengar nama itu, namun apakah pemirsa tahu ternyata bahwa Widia Atmajaya yang sering dijuluki Crazy Rich Indonesia ini memiliki seorang cucu yang luput dari media? Banyak orang yang tak tahu mengenai cucunya itu, karena wajah cucunya ini tidak pernah tereskpose sama sekali oleh khalayak.


Namanya Setyana Atmaja, nama itu pasti asing terdengar ditelinga pemirsa. Wajar! karena Setyana ini sosok yang cukup misterius dan tidak pernah tersorot oleh media manapun meski memiliki status pewaris tunggal Atmaja Group. Namun siapa sangka, saat ini di hari yang berbahagianya kita dapat kesempatan untuk meliput langsung prosesi pernikahannya dengan seorang pria biasa bernama Kevin Sanjaya.


Seperti apa sih sosoknya? Pemirsa pasti penasaran kan ingin melihat sosok Setyana ini? Pemirsa bisa lihat di belakang saya ada sebuah pelaminan yang telah diisi oleh Setyana Atmaja bersama pasangannya yang saat ini sedang di salami banyak sekali tamu undangan.


———


Mendengar nama Setyana, lelaki berahang kekar yang sedari menyimak acara tersebut langsung tertohok tak percaya. Matanya dikucek beberapa kali berharap apa yang dia lihat bukan Setyana yang dia kenal.


"A-apa! Jadi Setyana adalah cucu tunggal pewaris tahta Atmaja Group? Ke-kenapa dia tidak pernah mengatakan identitas yang sebenarnya padaku saat masih jadian dengan aku dulu?"


Jonatan Lee, lelaki berahang kekar dengan fostur tegap itu adalah Jonatan Lee— mantan kekasih Nana dua tahun yang lalu. Lelaki yang telah mencampakkan Nana atau Setyana itu menatap tak percaya pada layar kaca dihadapannya.


Rahangnya yang kekar mengeras seketika, matanya berkilat sempurna, sementara telapak tangannya mengepal dengan keras.

__ADS_1


"Kenapa dia berbohong padaku perihal statusnya? Dan kenapa sekarang dia malah menikah dengan lelaki itu? Bukankah terakhir kali aku bertemu dengannya dia bilang masih mencintaiku? Lantas kenapa dia menikah?"


Berbagai pertanyaan yang berkecamuk di otaknya tertuju untuk dirinya sendiri. Emosinya memuncak seiring dengan acara penayangan yang menampilkan senyum-senyum bahagia dari orang-orang yang tersorot kamera.


"Tidak akan aku biarkan lelaki itu berbahagia dengan Nana. Aku sungguh tidak rela melihat mereka berbahagia begitu saja. Aku sangat yakin Nana masih mencintai aku dan akan selamanya begitu," ucap Jonatan bermonolog dengan lagak congkaknya. "Aku akan menemui Nana besok, dan tidak akan kubiarkan Nana berpaling dariku begitu cepat apalagi lelaki pilihannya itu sangat cocok untuk Nana."


—o0o—


Di sisi lainnya, kediaman Widia Atmaja.


Kevin dan Nana masih tampak sibuk diberi ucapan selamat oleh beberapa tamu undangan. Beberapa dari mereka juga ada yang meminta foto bersama dengan kedua mempelai, hal itu membuat mood Kevin semakin bete tak terbantahkan.


Kepala Kevin sudah kleyengan, matanya perih, dan giginya terasa kering karena tak henti-hentinya menampilkan ekspresi yang kontras dengan hatinya. Selain itu, kaki dan tangannya serasa patah karena terus-terusan berjabat dengan tamu undangan yang entah berapa banyak jumlahnya.


Kemudian Kevin berbisik lagi pada Nana.


"Ini tamunya berapa banyak sih yang diundang sama Oma kamu? Kok perasaan dari tadi aku salaman gak kelar-kelar. Tangan aku berasa patah nih sedari tadi harus bersalaman terus menerus tanpa jeda," omelnya pada Nana.


"1000 orang, belum termasuk kerabat jauh dan teman-teman Oma di luar negri."


"Ebuset! Ini mau hajatan apa demo sih? Kenapa harus ngundang sebanyak itu?" dengus Kevin terhenyak kaget saat mendengar jumlah tamu yang diundang Omanya Nana melebihi kapasitas tenaganya untuk bersalaman. "Pantas saja dari tadi gak kelar-kelar, kayanya selesai acara ini tanganku akan benar-benar patah!"


"Tahanlah! Banyak media di sini, jangan terlalu ketara kalau kamu tidak menikmati acara ini," ucap Nana memperingatkan.


"Kamu harus memberiku uang tambahan buat mengganti biaya tukang pijit lenganku nanti. Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus memberikan 10 juta lagi setelah ini."


Nana mendelik ke arah Kevin saat lelaki itu menunjukkan tabiat aslinya yang matre. Tapi Nana tak bisa menggubris dengan sengit seperti biasanya karena terlalu banyak wartawan saat ini. Alhasil Nana cuma berbisik dan meyakinkan Kevin kalau dia akan menuruti permintaannya nanti.


"Kamu tenang saja! Apapun yang kamu minta, akan aku tepati nanti. Tapi please sekarang singkirkan raut tidak nyaman kamu itu sebelum ada media yang ngeuh dan curiga sama pernikahan ini. Aku tidak mau besok pagi ada berita dengan headline buruk mengenai pernikahan ini, apalagi sampai tahu kalau pernikahan ini karena terpaksa. Aku tidak mau mendapat masalah baru dari Omaku gara-gara kabar miring yang dicetuskan beberapa media perkara kamu yang bertingkah aneh-aneh seperti sekarang."


"Memangnya kenapa sih kok kamu takut banget sama mereka? Harusnya bagus dong kalau ada kabar buruk kita menikah karena terpaksa. Dengan begitu kita bisa ada alasan bercerai dengan cepat nantinya."


Nana tersenyum miring mendengar ocehan Kevin yang seperti menggampangkan semuanya sesuka dia.


"Dasar bodoh! Tidak semudah itu bodoh! Namanya wartawan kalau dapat info tuh gak sepenuhnya real diceritakan seperti apa yang dia dengar dan dia lihat, kadang ada beberapa dari mereka yang sengaja menambahkan sedikit bumbu-bumbu gosip berlebihan agar bisa trending dan demi menaikan rating juga. Yang ada bukan kita bisa bercerai dengan cepat, tapi kita malah akan terkungkung rapat-rapat dalam drama ini. Jadi berpikirlah sedikit cerdas sekarang!"


"Iya ... iya ... tapi sampai kapan ini akan berakhir?" rengek Kevin dengan ekspresi lucu.


Dengan cepat Nana langsung mencubit pinggang Kevin agar berhenti membuat ekspresi-ekspresi aneh yang dapat menuai kecurigaan wartawan. Hal itu tentu saja membuat Kevin meringis seketika.


"Aduhh! Kamu apa-apaan sih Nana? Sakit tau!" protes Kevin.


"Sudah aku bilang jangan menampilkan ekspresi aneh begituan di depan wartawan, apa kamu tuli?!" sewot Nana


Ia merasa jengkel setengah mati saat Kevin tidak bisa diajak kompromi. Padahal sudah diberitahu kalau Kevin jangan membuat ekspresi yang aneh-aneh di depan media, ironisnya lelaki itu malah mengulanginya lagi dan lagi. Rasanya Nana ingin membenturkan kepala Kevin kalau saja tidak ada wartawan di sana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2