
Nana kembali ke apartemennya. Raut sumringah serta mesem-mesem tak jelas terpatri di wajahnya yang bulat. Entah apa yang membuat Nana bahagia, hanya Tuhan dan Nana yang tahu.
"Habis darimana kamu?" Kevin langsung menodong pertanyaan itu saat Nana baru dua langkah masuk ke dalam apartemennya. "Dan kenapa kamu mesem-mesem kaya orang gila gitu?"
Nana tak menggubris, dia terlalu malas berdebat dengan Kevin si muka tembok. Hati dan pikirannya amat sangat gembira hingga tak merelakan siapapun merusak moodnya, termasuk Kevin.
Jadi yang Nana lakukan saat ini adalah mengacuhkan Kevin yang sudah siap mengajaknya baku hantam dan bersitegang sepanjang saat.
"Hey singa betina, aku ngomong kok gak di jawab sih? Bisu ya, kamu?" tukas Kevin dengan nada tengilnya.
"Bo to the Do, bodo!" balas Nana simple. Dia benar-benar sedang bahagia sekarang. Jadi dia tidak mau ambil pusing ejekan Kevin saat ini. Yang ada dipikiran Nana adalah Jonatan. Lelaki yang dicintainya telah kembali.
Perasaan bahagia, berdebar-debar, dan berbunga-bunga bersatu padu membentuk satu kesatuan yang dimanakan cinta lama bersemi kembali. Seperti itulah gambaran perasan Nana saat ini. Sehabis pulang dari kontrakan Tania dan bertemu Jonatan kembali, membuat perasaannya menjadi meluap-luap tak terelakkan.
'Aku ingin kita perbaiki semuanya'
Sebaris kalimat sederhana yang keluar dari mulut Jonatan selalu terdengung di kepala Nana, hingga membuatnya lupa akan luka lama yang menyanyat dan membuatnya menderita bertahun-tahun.
Nana terbuai. Nana tak bisa menampik jika perasaan untuk Jonatan tak pernah ada habisnya. Buaian lelaki berahang kekar itu seperti nikotin yang membuatnya lupa segalanya. Lupa akan statusnya sekarang yang telah memiliki Kevin di dalam kehidupannya.
Nana terus mesem-mesem setelah melepas sepatu dan menggantungkan Sling Bagnya di kastop yang bercokol manis di dinding kamar apartemennya. Perasaan bahagianya benar-benar tidak bisa dieskpresikan dengan kata-kata.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi aneh banget?" semakin penasaran saja Kevin melihat Nana bertingkah aneh dan tak karuan.
Nana lagi-lagi tak menggubris. Dia berjalan melewati Kevin yang tengah memandangi gerak-geriknya yang makin aneh. Dan keanehan semakin berlanjut ketika Nana mengambil selimut dan bantal di kasur yang selalu menjadi rebutannya dengan Kevin setiap malam.
"Kamu mau tidur di mana? Tumben kamu gak ngajak aku ribut perkara ranjang?" tanya Kevin untuk kesekian kalinya.
Nana menggelengkan kepalanya seiring dengan menggoyangkan telunjuknya bersamaan. Gadis itu benar-benar tidak memiliki nafsu untuk bertengkar dengan pria berwajah oriental yang berstatus suaminya itu.
"Karena hari ini sedang berbahagia jadi aku akan mengalah padamu. Aku akan tidur di sofa tanpa harus ribut-ribut dulu sama kamu. Jadi nikmatilah ranjang itu!"
Kevin melongo tak percaya. Semakin tak percaya saat Nana benar-benar mendaratkan tubuhnya di sofa dan langsung bergelung manis dengan selimutnya.
"Benar-benar aneh," cicit Kevin.
"Selamat malam, muka tembok!" ucap Nana yang membuat Kevin semakin melebarkan mulutnya. Terngaga dan tak mampu berkata-kata lagi.
Kevin bergidik ngeri sekaligus risih, dia langsung beranjak dari tempatnya. Merebahkan tubuhnya di kasur sambil tetap memasang mata elangnya mengintai ke arah Nana yang sudah mulai terlelap ke alam mimpi. Bahkan wanita dihadapannya itu mendengkur begitu nyaring, seolah sangat menikmati tidurnya.
"Aku harus mencari tahu penyebabnya."
Dengan sigat, Kevin beringsut dan menyambar ponselnya yang tergeletak pasrah di nakas samping tempat tidurnya. Menarikan jari jemarinya pada tombol qwerty ponselnya dan mengetik kata —apa penyebab wanita galak mendadak senyum-senyum— pada mesin pencari bernama Google.
Dan jawaban mesin pencari Google itu membuat Kevin melotot tercengang sekaligus meringis geli.
Cie yang senyum-senyum! Kamu pasti sedang jatuh cinta!
__ADS_1
Wajah galak! Tapi mendadak suka senyum-senyum? Fix! Anda tengah jatuh cinta.
Wanita galak berubah menjadi si ramah? Tanda-tanda jatuh cinta pada anda.
Senyum-senyum sendiri. Kenali 10 Fakta wanita naksir sama cowok!
Gegalat si dia menjadi aneh? Pancaran cinta mulai terlihat.
Refleks, Kevin membuang ponselnya tiba-tiba saat kedua bola matanya menangkap hasil pencarian mesin Google yang sangat amat membuatnya geli, jijik, dan juga mual.
"Iyuuuuhh ... menjijikan! Rupanya si singa betina tengah jatuh cinta," Kevin terdiam sejenak. Bahunya terangkat refleks. "Tapi jatuh cinta sama siapa dia sekarang? Apa mungkin jatuh cinta lagi sama si pria brengsek itu?"
Ada sebersit rasa tak suka saat mengingat lelaki yang pernah mencampakkan Nana. Kevin memegangi spresi dengan erat, melampiaskan emosinya lewat sprei tak berdosa itu. Otaknya serasa mengepul seiring dengan dadanya yang panas.
Dia menoleh ke arah Nana lagi, kemudian berdecak menghardik Nana dalam cicitannya.
"Dasar gadis payah! Untuk apa kamu kembali sama si brengsek itu? Sudah jelas-jelas si brengsek itu hanya akan membuat kamu terluka lagi. Biar bagaimanapun tabiat buruk seseorang tak mungkin berubah begitu saja. Dan bodohnya lagi, kamu malah kembali pada si pria payah itu tanpa menaruh curiga sama sekali. Otak kamu di mana sih, hah?"
Dipandangnya Nana yang tengah terlelap tidur. Rona merah di pipi Nana serta senyum simpul menghiasi bibir Nana dan tertangkap kedua bola mata Kevin. Dan lagi-lagi Kevin terpana dan terhanyut oleh wajah Nana yang tengah tertidur. Ini merupakan pemandangan indah setiap malam Kevin, lebih indah dari sekadar menyaksikan bulan dan bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.
Perasaan Kevin selalu dag dig dug tak karuan saat melihat kedamaian di tidur Nana. Dia menjadi bodoh seketika acap kali terbius pemandangan damai dan menyejukan wajah lelap Nana. Biar bagaimanapun, Kevin lelaki normal yang memilki hasrat ingin memiliki.
Tak mau dirinya semakin menggila karena Nana, Kevin langsung merebahkan tubuhnya. Menarik selimut sampai menutupi kepalanya dan kemudian meneguhkan hatinya.
Kevin berusaha untuk terlelap, tapi sayangnya matanya tak bisa diajak kompromi. Matanya tidak bisa terpejam sama sekali. Alhasil yang Kevin lakukan saat ini hanya berguling kesana-kemari dengan raut gelisah.
Kevin pun beringsut. Disambarnya sandal tidur berwarna biru miliknya dan kemudian langkah kakinya membawa tubuh Kevin mendekat ke arah Nana yang tengah tertidur.
Setelah mempersempit jaraknya dengan sofa Nana, dia langsung berkacak pinggang. Lantas bersiap memuntahkan seluruh unek-unek yang membuncah di otak dan hatinya.
"Dasar singa betina payah! Kamu pasti ngadu sama Tuhan supaya menghukumku, kan? Kamu sengaja membuatku jadi gelisah dan tak bisa tidur, kan? Kamu juga sengaja mencuci otakku supaya terjerat oleh wajahmu itu, kan? Dasar singa betina sialan!" cecar Kevin menyalahkan Nana yang tengah tertidur pulas.
Di alam tidurnya, sayup-sayup Nana mendengar suara cicitan yang entah dari mana datangnya. Mengusik dan mengganggu Nana seolah meminta Nana untuk segera bangun. Dengan gerakan perlahan nan pasti, Nana mencoba membuka matanya.
"Hoaaaam! Kamu sedang apa?" ucap Nana dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. Mengerjap-ngerjapkan matanya serta sedikit meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang dan kaku.
Sontak saja Kevin langsung terbelalak kaget saat Nana terbangun saat dirinya tengah asyik mengomeli Nana. Kevin takut gadis itu salah paham dengan semua ucapannya yang keluar tanpa kendali.
"Ke-kenapa ka-kamu bangun?" Kevin gelagapan setengah mati.
"Aku mendengar suara-suara aneh di dalam mimpi. Suara-suara itu begitu menyebalkan, karena berisi umpatan-umpatan kasar yang mengganggu tidurku. Makanya aku jadi bangun," balas Nana tanpa menaruh curiga kalau suara-suara aneh tersebut berasal dari mulut Kevin.
Kevin agak lega saat Nana tidak sadar kalau umpatan-umpatan itu bukan berasal dari alam mimpi, melainkan dari alam nyata yaitu dirinya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Nana seraya mendudukkan tubuhnya.
"Aku tidak bisa tidur karena banyak pikiran yang menggangguku," tandas Kevin seraya ikut duduk di sofa yang menjadi tempat tidur Nana saat ini.
__ADS_1
"Kamu sedang banyak masalah?"
'Ya. Semua masalah itu tercipta gara-gara ulahmu, singa betina! Gara-gara kamu aku jadi gelisah dan tidak bisa tidur,' omel Kevin dalam hatinya.
Lain hal dengan yang keluar dari mulutnya. Gengsi buat Kevin mengungkapkan kalau penyebab dirinya tidak bisa tidur lantaran gelisah memikirkan Nana.
"Ya. Masalah itu begitu membuatku gelisah dan frustrasi."
"Hmmm ... karena aku sedang berbaik hati, kamu boleh cerita padaku tentang masalah kamu itu."
Kevin menoleh ragu ke arah Nana yang masih diliputi kantuk samar-samar.
"Ck! Sejak kapan kamu jadi sok peduli padaku?"
"Ish ... kan sudah aku bilang kalau aku sedang berbaik hati, makanya sekarang aku mau menjadi pendengar yang baik. Kamu tahu, setiap orang pasti punya masalah. Dari satu masalah ke masalah lainnya dan yang paling penting kamu berhak mendapatkan teman yang mau mendengarkan masalah kamu. Karena kamu tidak punya teman saat ini, jadi aku akan menawarkan diriku untuk menjadi teman curhatmu."
Kevin terbahak nyaring. Dia merasa heran sekaligus ngakak melihat Nana menunjukan sikap lemah lembut seperti kapas.
"Sejak kapan kamu jadi menjadi bijaksana begitu?" cibir Kevin.
"Cih! Dasar muka tembok! Aku baik salah, aku ngomel-ngomel juga salah. Lantas kamu maunya bagaimana, sih? Asal kamu tahu ya, saat ini aku benar-benar tidak berselera berdebat dengan kamu soalnya aku sangat amat bahagia. Bahkan kebahagiaan aku ini sampai terbawa ke alam mimpi. Tapi sayangnya suara-suara umpatan yang entah siapa pemiliknya mengacaukan mimpiku itu."
Alis Kevin berkerut saat melihat Nana mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Dia menjadi kepo apa sebenarnya yang membuat Nana bahagia sampai-sampai membuat Nana tak asyik lagi diajak berjibaku oleh Kevin.
Kevin pun tak membiarkan otaknya diserang pertanyaan-pertanyaan perkara alasan Nana bahagia. Dia pun berinisiatif mencari tahu lewat Nana langsung.
"Emang apa sih yang membuat kamu sebahagia itu?"
Nana mesem-mesem terlebih dahulu. Pipinya kembali merona merah seperti buah apel fuji. Membuat Kevin semakin penasaran menantikan jawaban Nana.
"Hari ini aku bertemu dengan Jonatan—"
"Lantas?" potong Kevin yang langsung ditimpali desisan sebal oleh Nana.
"Bisa gak sih jangan motong dulu kalau aku belum selesai cerita."
Kevin menyengir kuda. Wajahnya terlihat sangat inosen dan polos.
"Lanjutkan, lanjutkan!" titah Kevin.
"Kamu tahu, Jonatan tadi mengajak aku buat balikan. Aku seneng banget akhirnya penantian aku selama ini membuahkan hasil. Jonatan ternyata masih mencintai aku. Tadi dia mengatakan menyesal karena telah selingkuh dengan si ****** itu," girang Nana.
Kevin bingung harus ikut bahagia atau justru sebaliknya. Hatinya tiba-tiba sakit sekali mendengarkan ocehan Nana, lebih sakit daripada sekadar berjibaku dipukuli Nana dengan panci tempo lalu. Mungkin itu yang dinamakan sakit tapi tak berdarah. Belum menyatakan perasaan, tapi sudah patah terlebih dahulu.
Meski berulang kali logikanya menolak kalau dia tidak akan kepincut Nana, faktanya masih ada serbersit perasaan tak rela saat Nana balikan dengan Jonatan.
Kevin tersenyum kecut sembari tetap mendengarkan Nana mengoceh tentang Jonatan.
Bersambung
__ADS_1