Hallo Nana!

Hallo Nana!
Suka Gayamu Manusia Tembok!


__ADS_3

"Oma aku bisa jelaskan semuanya. Please jangan marah!" melas Nana sembari memegang lengan Omanya.


Oma mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Kenapa kamu begitu panik Nana?" tanya Oma, tak mengerti kenapa Nana berbicara seperti orang yang sudah melakukan kesalahan besar. "Apa kamu kesambet Nana?" sebilah punggung tangan Oma kontan ditempelkan di dahi Nana, memastikan kalau cucunya itu tidak kenapa-kenapa.


"Eh! Memang Oma tidak marah padaku?"


Ctrik! Dengan sengaja Oma menjentikkan jarinya tepat mengenai dahi lebar cucu semata wayangnya agar berbicara normal. Beliau merasa sesuatu telah merasuki Nana, sehingga Nana berbicara melantur. Padahal, beberapa detik sebelumnya Oma begitu khawatir takut Nana kenapa-kenapa, tapi sekarang malah menyiksanya.


Hal itu juga yang membuat Nana sukses mengeluarkan suara mengaduh lebay, efek dari jentikan jari jemari lentik Oma yang lumayan keras.


"Aduh! Kenapa Oma menyentil dahi Nana sih? Apa Oma tidak waras?" Nana berdecak protes pada Omanya karena sudah tega menyentilnya tanpa alasan.


"Kamu yang tidak waras! Baru datang sudah merengek tidak jelas. Ngapain kamu mengatakan Oma tidak marah? Memang untuk apa Oma marah padamu hah?!"


Suara perempuan tua berusia 70 tahunan itu lantang mengucapkan kalimat bantahan. Membuat Nana sedikit ciut sekaligus ikut heran.


"Loh ... bukannya Oma mendengar semuanya tadi?" masih tak melepas keningnya, Nana mengira kalau Omanya tadi mendengar semua percakapannya dengan Kevin saat di dalam mobil. Nyatanya, Nana lupa kalau mobilnya itu kedap suara. Jadi ketika tadi Nana memperingatkan Kevin untuk lebih profesional jika berhadapan Oma, Nana mengira Omanya telah mendengar semuanya. Dan saat ini, yang ada dipikiran Nana perempuan tua yang ia hormati sedang marah padanya.


Oma tak kalah bingung dengan maksud perkataan cucunya itu yang ambigu dan membuat penasaran setengah mati. "Mendengar apa? Memang Oma dengar apa?"


"Yang tadi ...."


"Yang tadi yang mana?" Oma benar-benar dibuat bingung berkali-kali lipat oleh Nana. Entah, Omanya yang lemot atau mungkin Nana memang sengaja membuat suasana jadi nampak membingungkan dan aneh.


"Yang tadi ... pas aku lagi ngomong di dalam mobil."


"Aishhh lama-lama Oma bisa gila mendadak gara-gara kamu. Sebenarnya kamu ngomong apa sih? Membuat kepala Oma pusing saja! decak Oma, semakin semwarut saja kepalanya mendengar ocehan tidak jelas dari cucunya itu.


"Ituloh Oma—"


"Euheum ...," Kevin yang sedari tadi menyimak, akhirnya mencoba memotong kalimat Nana dengan berdehem cukup keras. Alhasil Oma dan Nana pun menoleh mengikuti arah sumber suara yang terkesan macho itu.


Sengaja Kevin melakukan itu, semata-mata demi melindungi rahasia Nana, agar ia tidak keceplosan menguak identitas Kevin yang sebenarnya akibat kecerobohan Nana sendiri.


'Si singa betina ini sepertinya sudah hilang akal sehatnya. Sudah jelas-jelas Omanya tidak mendengar ocehannya di dalam mobil tadi, tapi malah mau memperjelasnya. Dasar payah!' hardik Kevin dalam hatinya. Ia cukup kesal karena Nana mendadak jadi lemot dan tak mampu mencerna mimik seseorang kalau sedang tidak mengerti. Kalau saja Kevin tak menginterupsi, maka semua permainannya akan selesai sebelum dimulai. Dan impian Kevin mendapat 50 juta akan hancur lebur musnah tak bersisa.


Detik berikutnya, Oma bertanya pada Nana tentang pria yang kini tengah berdiri dengan gagah di dekat pintu mobil yang satunya lagi.


"Siapa dia?"

__ADS_1


"Ah itu pacar aku Oma," balas Nana sedikit canggung. Ia benar-benar belum terbiasa untuk menyebut orang selain Jonatan Lee sebagai pacarnya.


Kevin mendekat ke arah Omanya Nana. Lantas dia mengulurkan tangannya dengan gaya cool ala-ala aktor tampan di dalam drama Korea.


"Perkenalkan nama saya Kevin. Pacarnya Nana. Senang bertemu dengan Oma," pungkas Kevin ramah, sejurus dengan itu dia menampilkan senyum yang dapat membuat siapapun meleleh dan takjub saat melihat senyum tipis nan maskulin seperti aktor tampan Ji Chang Wook, tak terkecuali Omanya Nana.


"Wah ... jadi kamu pacarnya cucu saya?" mendadak heboh Omanya Nana, matanya tak berkedip sedetik pun menelisik fostur gagah Kevin yang nyaris sempurna di mata Oma. Saking terkesimanya, Oma bahkan melupakan perdebatannya dengan Nana tadi. Padahal, nyaris saja Nana membongkar sendiri kebohongannya itu. Beruntungnya, Kevin lebih dulu menggagalkan dengan cara menginterupsi percekcokan antara cucu dan neneknya.


Masih dengan gaya cool ala-ala **** boy yang katanya digandrungi remaja masa kini, Kevin mencoba mengakrabkan dirinya dengan Oma Nana.


"Iya Oma. Semoga Oma bisa menerima saya dengan seadanya saya," senyum manis Kevin masih terpatri di wajahnya yang baby face, dia benar-benar berakting sangat amat meyakinkan di depan Omanya Nana.


"Tentu saja saya akan menerima kamu apa adanya kamu. Lagi pula kamu sangat cocok dengan cucu saya. Semoga kamu tidak akan meninggalkan cucu saya seperti mantan-mantannya yang sebelumnya. Saya sangat berharap sama kamu," harap Oma pada Kevin, membuat Nana langsung bereaksi aneh.


'Mantan-mantan? Sejak kapan aku punya mantan banyak? Apa Oma lupa kalau aku hanya memiliki satu mantan yaitu Jonatan. Sampai detik ini Jonatan masih mantanku satu-satunya, dia juga yang membuatku bertahan menyendiri sampai saat ini,' pikir Nana dalam hatinya.


"Tentu saja Oma. Saya sangat mencintai cucu Oma. Saya tidak akan meninggalkannya meski semesta ini menolak. Saya akan tetap dan selalu berusaha membuat Nana bahagia," ucap Kevin penuh dusta. Tapi hal itu membuat Nana nampak jijik sekaligus senang. Nana memang tidak bisa menampik kalau Kevin menjalankan tugasnya dengan baik, tapi aktingnya itu terkesan lebay di mata Nana, membuat Nana ingin memuntahkan seluruh isi perutnya detik itu juga kalau dia bisa.


'Bagus sekali manusia tembok. Actingmu sangat luar biasa!. Meski aku jijik mendengarnya, tapi aku suka gayamu itu. Tapi aku mendadak mual sekarang!' Lanjut Nana dalam hatinya lagi.


"Wah kamu memang pria yang gentlemen. Oma benar-benar terkesima melihat kesungguhan kamu," puji Omanya Nana sekali lagi pada Kevin penuh kebanggaan. Secara tidak langsung, Oma mulai terbawa permainan Nana yang cenderung ke arah penipuan karena memperkenalkan pacar gadungannya itu dengan sangat amat meyakinkan. Mungkin karena bakat akting Kevin yang terlanjur handal makanya, dia bisa senatural itu mengambil hati Omanya Nana. Nana juga tak menampik hal itu, kalau manusia yang dipanggilnya manusia tembok itu memang ahli bersandiwara.


Saking handalnya kemampuan akting Kevin, bahkan Oma sampai tak menaruh curiga sedikitpun pada Kevin. Akting pria berusia 25 tahun itu memang sangat luar biasa. Profesional dan sangat amat meyakinkan. Mungkin Kevin sudah berguru pada laptopnya dua hari kebelakang, demi mendalami perannya jadi pacar gadungan wanita yang dipaksa cepat-cepat menikah oleh Omanya.


'Sial. Kenapa si muka tembok ini malah melingkarkan tanganya di pinggang aku sih?' Nana sebenarnya agak risih diperlakukan seperti itu oleh Kevin. Tapi, kalau dia protes karena Kevin melingkarkan tangannya di pinggang Nana, secara tidak langsung Nana akan berperan menghancurkan sendiri rencananya yang sudah tersusun rapih sejak dua hari yang lalu. Selain itu, Omanya pasti tak segan-segan menggorok lehernya kalau sampai ketahuan Kevin hanya orang bayarannya.


Glek!


Nana meleguk air liurnya sebanyak mungkin demi membasahi kerongkongannya yang mengering seketika. Sejenak, dia meloloskan udara melalui hidungnya yang terasa tersumbat mendadak.


'Tahan! Tahan! Kamu harus tahan Nana! Mungkin ini bagian dari rencana si manusia tembok ini demi meyakinkan Oma. Tapi ... aish! Aku risih sekali ketika tangan si manusia tembok ini menempel erat di pinggangku. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan si manusia tembok ini nanti. Ya, nanti ... selepas acara jamuan makan malam oma selesai. Sekarang aku harus tahan, meski sebenarnya aku tidak tahan sama sekali,' Nana masih berjibaku dengan batinnya sendiri. Meski batinnya menolak, tapi logikanya tak mengizinkan dia untuk meledakkan ribuan bom protes pada Kevin. Jadi dia hanya pasrah dan membiarkan semua perlakuan nakal Kevin pada pinggangnya.


"Oh ya ... kenapa kita malah jadi ngobrol di sini? Harusnya kan kita sedari tadi masuk ke restauran," Oma tersadar dari keterpukauannya menatap Kevin, yang mengakibatkan dirinya jadi teledor karena dengan tega membiarkan cucu dan calon cucu menantunya itu berdiri di parkiran begitu saja.


Sebenarnya, Omanya Nana begitu asyik menikmati obrolan demi obrolan dengan Kevin, tapi karena situasi dan kondisi yang kurang nyaman buat mengobrol intens, Oma pun berinisiatif mengajak Nana dan Kevin masuk. "Ayo kita masuk untuk melanjutkan obrolan kita!" ajak Oma.


Detik berikutnya, Oma membalikan badannya dan melangkahkan kakinya menuju restauran.


"Dari tadi kek Oma," dengus Nana pelan dan cuek. Bahkan dengusannya itu terkesan sangat amat pelan. Hanya semut saja yang mungkin bisa dengar.


"Jaga sikapmu Nana! Kamu pikir Oma tidak mendengar dumelan kamu barusan, tidak sopan dasar!" Oma memperingatkan Nana tanpa menoleh ke belakang dan tetap melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Sial! Kenapa Oma bisa mendengar dengusan aku barusan? Apa Oma punya radar penyadap suara? Atau mungkin Oma memiliki kemampuan membaca pikiran orang meski tidak mendengar ucapan orang lain secara jelas?" pikir Nana.


"Oma bilang berhenti mendumel Nana, atau akan Oma sumpal mulutmu dengan serbet!" ancam Oma yang sukses membuat Nana semakin melebarkan matanya.


Nana dan Kevin mengekor di belakang Oma dengan radius 2 meter.


"I-i-iya Oma. Maafin Nana ya!" takut-takut emosi Oma pecah tiba-tiba, Nana langsung menginterupsi dan meminta maaf pada Oma.


Ketika Nana ingin mempersempit jarak dengan Omanya, Nana merasa ada sesuatu yang janggal dan sedikit mengganggu pemandangannya.


Nana menoleh sejenak ke arah Kevin yang sedari tadi sebilah tangannya melingkar di tubuh gempal Nana dengan nyaman.


Tangan kiri Kevin masih tertempel di pinggang Nana, seolah tak mau melonggar sedikitpun di pinggang gadis itu, meskipun Nana hampir mengeluarkan tanduk merah seperti iblis-iblis di negeri dongeng, sayangnya Kevin tak menyadari hal itu.


Mata Nana memandang Kevin dengan intens, terlukis jelas didalam matanya terdapat kilat amarah tertahan. Merasa janggal dengan tatapan Nana ke Kevin, Kevin pun bertanya dengan polos. "Ada apa? Apa ada yang salah denganku?"


"Singkirkan tanganmu dari tanganku dasar muka tembok!" risih Nana, cenderung to the poin.


Refleks, Kevin langsung menarik tangannya dengan cepat. Mungkinkah ia lupa menurunkan tangannya saking menjiwai perannya sebagai pacar Nana saat itu? Hanya Tuhan dan Kevin yang tahu.


"Maaf aku tidak sengaja, soalnya aku terbawa suasana. Aku terlalu menjiwai peranku sebagai pacarmu," kata Kevin yang sok-sokan berlagak jadi aktor terkenal sekarang.


"Jangan memanfaatkan kesempatan dan kesempitan bodoh!"


"Ck! Jangan terlalu percaya diri Nona! Aku juga tidak sudi mengambil sesuatu dari tubuhmu. Kamu tenang saja, kamu bukan tipeku!"


"Baguslah kalau begitu! Kamu juga bukan seleraku!" Nana membuang mukanya ke arah lain, lantas mengimbuhi kalimatnya dengan congkak. "Kamu secuil pun bukan kriteria idamanku!"


"Kamu terlalu congkak Nona!. Dengar ya! Meskipun dunia ini hanya tersisa satu wanita yaitu dirimu, lebih baik aku menjadi gay daripada harus merebut sesuatu dari tubuhmu, jadi kamu jangan kepedean!"


"What! Jadi kamu pikir aku tidak cantik, sampai-sampai kamu memilih menjadi Gay?! Luar biasa anda!"


"Memang kamu tidak cantik! Kamu juga gendut dan tua! Apa kamu tidak punya kaca di rumahmu? Sepertinya tidak. Karena kalau punya mana mungkin kamu akan secongkak itu," hujat Kevin tak mau kalah.


"Hey! Jaga ucapan kamu ya! Berani-beraninya kamu berkata kejam seperti itu pada wanita," protes Nana.


"Wanita tua sepertimu memang pantas aku hujat begitu, wleeeeee ...," kilah Kevin diikuti dengan menjulurkan lidahnya ke arah Nana.


Kevin buru-buru menyusul Omanya Nana masuk ke dalam restauran, meninggalkan Nana yang membelalakan matanya, dan membiarkan Nana memuntahkan seluruh emosinya yang sudah mengungkung di dadanya tanpa peduli.


Nana murka tertahan, wajahnya berubah memerah seperti udang rebus. Tapi kali ini dia kalah, karena Kevin lebih dulu berhasil kabur dan menjauh darinya. "Cih! Dasar manusia tembok! Bisa-bisanya dia pergi sebelum aku menimpali kalimatnya. Dasar payah!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2