Hallo Nana!

Hallo Nana!
Malam Jahanam


__ADS_3

Malam semakin larut, suana canggung tak kunjung mencair di benak Nana. Ia tak mengerti dengan perubahan sikap Kevin yang dari semula memang sulit di tebak. Pagi sampai sore, Nana merasa Kevin masih menyebalkan. Sementara saat jam makan malam, lelaki itu tampak bertingkah manis dengan tidak mengeluarkan kata-kata nyinyiran andalannya. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?


"Singa Betina, terimakasih atas makan malamnya tadi. Itu sangat lezat," puji Kevin untuk yang kesekian kali.


"Oo.. i..iya tidak masalah," ucap Nana dengan nada kikuk dan terpatah-patah. Gadis itu semakin bertanya-tanya apa sebenarnya yang tengah direncanakan Kevin? Mengapa Kevin terus-terus memberikan pujian untuk masakan Nana? Nana tercenung memikirkan semua itu.


"Kalau gitu, aku tidur duluan ya," sambung Kevin membuyarkan lamunan Nana.


"A... itu ..iya silahkan," Nana semakin terlihat bingung dan kikuk.


"Karena kamu telah memberikan aku makanan yang lezat, sekarang kamu boleh memakai kasurku. Biar aku yang tidur di sofa."


Nana memelotot tak percaya. "Ap-apa? Kamu serius?"


"Hmm.. kamu boleh memakainya. Lehermu pasti sakit selalu tidur di sofa. Jadi aku akan memberikan sedikit rasa kemanusiaan aku agar kamu bisa menikmati empuknya kasur."


Nana semakin amat ragu. Ini bukan seperti Kevin yang biasanya. Nana lagi-lagi tercenung mendadak.


"Kamu kenapa?" tanya Kevin sembari menurunkan wajahnya. Menatap Nana dalam-dalam.


Nana mendongak gugup. "Ah, aku rasa kamu tidak perlu melakukan itu. Biar aku tidur di sofa seperti biasanya. Aku tidak mau mengotori tempat tidurmu," cetus Nana sangsi. Ia kemudian buru-buru melenggang menjauhi Kevin yang menurutkan mencurigakan.


'Si Muka Tembok itu kelakuannya semakin membuat aku khawatir. Tidak biasanya dia bersikap begitu manis dan lembut. Apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan padaku? Apa jangan-jangan dia sengaja bersikap kaya gitu buat meminta hak sebagai suami? Hiiiy.. nggak! Nggak akan aku biarkan dia bersikap tidak senonoh padaku," curhat Nana dalam hati. Ia mulai ketakutan sendiri setelah berpikir yang tidak-tidak tentang perubahan manis Kevin.


Nana buru-buru bergelung dengan selimutnya. Ia selaksa menjadi mumi yang dibalut kain serapat mungkin. Ia sengaja melakukan semua itu serta merta untuk melindungi dirinya dari hal yang tidak-tidak. Hitung-hitung untuk jaga-jaga dari Kevin yang kian detik kian menguatkan asumsi Nana kalau lelaki itu tengah merencanakan sesuatu untuk dirinya.


Ketika Nana tengah bergelut dengan pikiran-pikiran negatifnya. Tiba-tiba saja suara Kevin terdengar begitu dekat dengan dirinya yang terbalut selimut rapat-rapat. Nana yakin lelaki itu posisinya tak jauh dari sofa yang di tempati dirinya kini.


"Singa Betina apa kamu sudah tidur?" ucap Kevin sembari mengguncang tubuh Nana yang sudah terbalut selimut.


Nana enggan merespon. Ia sengaja pura-pura tertidur.


"Hmm.. rupanya kamu sudah tidur ya? Secepat itu kamu tertidur. Padahal aku yang meminta tidur duluan," lanjut Kevin.


Kevin duduk di bawah sofa Nana. Sebilah telapak tangannya tak sengaja ia taruh di atas perut Nana. Nana ingin sekali menepisnya, tapi jika ia menepis tangan Kevin maka kepura-puraannya akan diketahui oleh Kevin. Nana juga khawatir Kevin akan menyerangnya. Oleh sebab itu, demi mencari aman Nana hanya bisa mempasrahkan perutnya yang tersentuh oleh Kevin.


Saat Nana tengah frustrasi dengan situasinya saat ini. Nana merasa ini adalah malam jahanam baginya. Bagaimana bisa Kevin merasa tak berdosa dengan menaruh lengannya di atas perut Nana? Meski tak ada hal aneh terjadi, tapi bagi Nana ia ingin sekali mematahkan lengan brengs*k yang sudah berani menyentuh perutnya tanpa izin.

__ADS_1


Di tengah kemelut pikiran Nana perkara tangan Kevin, tiba-tiba ia merasakan hembusan helaan nafas begitu berat dari Kevin. Entah kenapa Nana merasa Kevin seperti sedang punya banyak masalah.


"Nana, seandainya kamu tahu hari ini aku bertemu siapa? Mungkin kamu akan terkejut," curhat Kevin tiba-tiba. Lelaki itu tampaknya mengira Nana benar-benar telah tertidur lelap di dalam selimutnya.


Padahal, di dalam selimutnya Nana tengah menyimak apa yang hendak dilontarkan Kevin selanjutnya. Dan Nana semakin menaruh curiga pada Kevin saat ini.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana ceritaku. Tapi ini begitu rumit dan mengganggu pikiranku semenjak bertemu Paijo, bapak tua yang menabrakku tadi siang. Kau ingat kan? Ah, maaf ya kalau aku sengaja pura-pura tidak mengenalinya di depan kamu. Aku tidak mau kamu tahu hidupku yang sesungguhnya," tambah Kevin masih belum menyadari kalau Nana tidak sedang tertidur.


'Hah? Benarkan dugaanku kalau Kevin dan lelaki tua tadi saling mengenal. Tapi kenapa dia memilih berbohong? Kenapa dia menutupi semuanya dariku? Memangnya untuk apa?' Nana semakin bertanya-tanya dalam hatinya.


Kevin melanjutkan kembali ceritanya. Ia merasa nyaman bercerita pada Nana yang tengah tertidur ketimbang Nana yang tengah sadar. Kevin tahu, curhat dengan orang tidur adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, Kevin belum siap menceritakan hal sesungguhnya pada Nana tentang siapa dirinya sesungguhnya, siapa keluarga Kevin sesungguhnya. Kevin belum siap mengungkap semuanya secara gamblang. Kevin perlu waktu untuk berbicara jujur.


Memang pada awalnya, Kevin menyetujui perjanjian dengan Nana atas dasar kepepet. Namun lambat laun, Kevin merasa terjebak dengan perasaannya. Kevin tahu dan sadar betul jika menaruh perasaan pada Nana adalah hal yang salah. Apalagi, rasa trauma yang dialaminya beberapa tahun silam dengan perempuan lain, semakin menguatkan Kevin untuk menutup jati dirinya di depan publik termasuk Nana— istri sahnya.


Kemudian Kevin menghela napas untuk kesekian kalinya. Helaan napasnya kini terdengar begitu amat lebih berat dari yang pertama, seperti tengah meloloskan seluruh beban yang mengungkung jiwa dan raganya.


"Bagaimana jika kamu tau semuanya? Apakah kamu akan membenciku?" ujar Kevin lantas tersenyum kecut. "Ah bodoh, tentu saja kamu akan membenciku.. bahkan tanpa cerita yang sejujurnya pun kamu sudah membenciku. Aku takut Na, aku takut!"


Nana mengernyit di dalam selimutnya. Ada banyak tanda tanya yang bergelayutan mengisi seluruh rongga kepalanya. Kenapa sebenarnya Kevin? Apa mungkin kepala Kevin telah terbentur benda keras makanya dia berbicara asal? Ah, Nana jadi begitu pusing bertanya-tanya sendiri tanpa mendapat jawaban.


"Sepertinya aku sudah banyak berbicara, semakin larut aku jadi semakin melantur. Eumm.. kalau gitu aku juga akan tidur. Selamat malam Singa Betina!" ucap Kevin mengakhiri sesi curhatnya dengan orang tidur.


Mendengar ada pergerakan, Nana buru-buru menyingkap selimutnya. Kepalanya sungguh penuh tanda tanya, ia jadi pusing dicecar oleh tanda tanya itu.


"Yak! Muka Tembok?!" tegur Nana sembari mendudukkan tubuhnya.


Kevin memutar kepalanya secara cepat. Ia membelalak kaget bukan main melihat Nana bangun dari tidurnya.


"Ke-kenapa kamu terbangun?"


Nana bangkit dengan sorot mata yang tajam. Lantas mendekat ke arah Kevin yang tengah mematung disertai kegugupan luar biasa.


"Kamu bilang apa tadi?" Nana balik bertanya. Matanya menyelidik dalam-dalam ke dalam pusat mata Kevin.


"Mem-memangnya aku bi-bilang apa?" Kevin ikut-ikutan bertanya balik dengan nada terpatah-patah. Ia juga memilih mengedarkan matanya ke arah lain.


Nana mencondongkan wajahnya semakin menyelidik sesuatu dari dalam wajah Kevin yang tergugup. Jelas sekali kalau lelaki itu memang nampak tengah berusaha menghindari tatapan Nana.

__ADS_1


"Kamu lihat apa?" ucap Kevin ketika risih diselidik dalam-dalam oleh Nana.


Nana menegaknya lehernya.


"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya!" sentak Nana melebarkan bola matanya.


Glek! Kevin meloloskan salivanya seketika. Ia bertingkah gugup layaknya maling ayam tertangkap basah oleh pemiliknya. Mungkinkah Nana tadi belum tidur?— pikir Kevin menerka-nerka.


"Yak! Kenapa kamu malah diam?! Apa mulutmu mendadak bisu hah?!"


Kevin mendongak disertai meloloskan saliva untuk kedua kalinya. Entahlah, ia merasa tenggorokannya mengering seperti di Padang Pasir.


"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?" tanya Nana lagi. Ia tak ingin berbasa-basi, ia ingin mendengar semuanya lebih jelas dari mulut lelaki di hadapannya kini. "Katakan! Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Me-menyembunyikan sesuatu? Me-menyembunyikan sesuatu bagaimana maksudmu?" tepis Kevin berpura-pura inosen. Bahkan kini dia menampilkan deretan giginya yang rapih seperti keledai bodoh yang tengah menyengir masam.


"Jangan sok polos!! Aku sudah mendengar semua curhatan kamu barusan. Jadi berhentilah berpura-pura seakan-akan kamu tidak memiliki suatu rahasia," tegas Nana galak.


Mulut Kevin otomatis menganga lebar. Dia tidak menyangka kalau Nana nyatanya belum pindah ke alam mimpi. Kevin benar-benar salah besar sudah menyangka Nana tertidur tadi.


"Ja-jadi kamu tadi tidak tidur?"


Nana melipat kedua lengan di depan dada dengan santai. "Untuk ukuran jam segini, apa kamu percaya kalau aku sudah tidur pulas?! Bukankah kamu tahu aku terbiasa tidur menjelang pagi?" tandas Nana satir.


Kevin membuang mukanya ke arah samping kanan. Betapa malunya ia tertangkap basah seperti ini.


"Sial!! Aku pikir si Singa Betina ini sudah tidur tadi!!" cicit Kevin mengumpat.


"Kamu bilang apa tadi?"


Kevin menyengir bodoh. "Aku rasa ini sudah malam, aku harus tidur! Bye!"


Dengan gerakan cepat Kevin langsung berlari menuju kasurnya. Menenggelamkan tubuhnya di balik selimut. Ia yakin, Nana tak akan berani mendekat jika Kevin bergumul di kasur.


"Yak! Muka Tembok, kamu belum menjawab pertanyaanku!! Yak!! Kenapa kamu malah kabur yak!!" jerit Nana saat Kevin kabur. Benar saja, Nana tak berani mendekat ke arah ranjang Kevin.


"Haish.. benar-benar kamu ini!! Kamu berhutang penjelasan padaku Muka Tembok!" dumel Nana menyerah. Ia berbalik ke tempat tidurnya lagi, membiarkan Kevin yang sudah lebih dulu tenggelam di dalam selimut hangat di atas kasur besar.

__ADS_1


"Awas kamu! Besok aku tidak akan melepaskan kamu!!" dumelnya sebal.


Bersambung.


__ADS_2