
Lazarus mengusap air matanya, bangkit berdiri menopang tubuhnya dengan tak bersemangat. Berjalan lunglai selangkah demi selangkah ke meja kerjanya. Ia duduk di kursi kerjanya, menghela nafas berat menyandarkan belakang kepalanya ke sandaran kursi.
Manik matanya yang masih basah, menatap kosong ke atas langit-langit ruangan kerjanya. Mengingat kembali pertengkaran dengan istrinya.
Tok! Tok! Tok! Ketukan di pintu menyadarkan pikiran lazarus.
Lazarus sekali lagi membersihkan wajahnya dari air mata, tidak ingin tersisa jejak-jejak kelemahannya. "Masuk!"
Pintu ruang kerja terbuka, pengurus rumah berjalan masuk dengan membawa sebuah map.
"Tuan muda, ini surat cerai yang siap ditanda tangani. Tuan besar juga memanggil anda ke ruang kerjanya," ucap pengurus rumah bernama paman peter.
"Hm, paman bisakah kita bicara sebentar," minta Lazarus kepada paman peter yang sejak lama berada di harem bahkan lebih lama dari sebelum dirinya lahir.
"Tentu saja tuan muda, silahkan saya mendengarkan"
__ADS_1
"Paman, aku tau sejak dulu paman selalu bersikap netral, tidak pernah memihak siapapun. Hanya perintah Papa yang paman turuti. Tapi paman, jika paman sedikit saja pernah menyayangiku tolong aku dengan dua hal saja."
"Hal pertama jika paman kebetulan mengetahui ada yang berniat jahat pada Angela dan bayiku, cepat beritahu aku. Aku tau paman mengetahui semua rahasia dirumah ini, tentu saja paman juga tau jika yang dikandung Angela adalah anakku."
"Hal kedua, hanya paman yang boleh tau kebenaran ini. Aku minta paman pun bisa berbohong pada Papa dan juga penghuni lainnya. Aku tidak ingin untuk kedua kalinya kehilangan bayiku lagi."
Peter terdiam sangat lama sebelum menjawabnya. "Baik"
"Terimakasih paman, sekarang tolong panggilkam greta dan albert. Panggilkan lebih dulu albert, beritahu greta periksa dahulu keadaan angela sebelum datang kesini." Perintahnya.
"Baik" Peter berbalik badan berjalan menuju keluar, membuka pintu dan menutupnya perlahan.
Tak lama terdengar lagi ketukan di pintu.
"Masuk!"
__ADS_1
Albert asisten pribadinya berjalan mendekati lazarus, menunduk memberi hormat. "Tuan"
Lazarus membuka laci mejanya, mengambil beberapa tumpukan map. Ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah sofa dan menaruh tumpukan map itu di meja.
Albert mengikutinya, berdiri di depannya menunggu perintah dari tuannya.
"Rumah ini yang akan aku berikan pada angela, beberapa kartu kredit, black card dan juga mobil. Kau cari beberapa pengawal yang bisa bersembunyi, jangan sampai angela tau aku mengirim para pengawal itu. Aku ingin mengirim greta bersamanya, tapi angela pasti menolak." Mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di meja berpikir siapa yang bisa dia kirim untuk berada di samping anjela.
"Aku akan memikirkan lagi siapa yang bisa menemani menjaga angela, sementara ini aku harus menyingkirkan salah satu mata-mata yang sudah kita temukan. Aku ingin saat nanti angela kembali, rumah ini akan menjadi surga baginya. Kau sudah mendapatkan orangnya?"
"Maaf tuan, saya baru menemukan satu mata-mata. Kami akan terus mencari lagi dengan hati-hati seperti perintah anda."
"Singkirkan dia dengan hati-hati, jangan sampai orang yang menyuruhnya curiga. Jika ada yang bertanya atas menghilangnya, sebarkan berita jika dia sudah berani mencuri dan diasingkan ke suatu tempat"
"Baik tuan"
__ADS_1
"Pergilah, siapkan semuanya dan bawa berkas ini!"
Mengambil map di meja, albert lalu undur diri meninggalkan lazarus sendiri lagi dengan kesedihannya. Ia lalu teringat Ayahnya memanggilnya, dengan malas bangkit berdiri dari sofa. Dengan langkah juntai Lazarus menuju bangunan terbesar di harem.