HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
PENONTON ATAU DALANGNYA?


__ADS_3

Lazarus berjalan ke arah meja pesanannya, melihat adiknya menatap ke luar jendela yang sedikit bersalju. "Hm, salju turun. Apa kau punya keinginan seperti biasanya saat salju pertama kali turun?" Lazarus ingat kebiasaan adiknya.


Amanda tersenyun lebar, ternyata Kakaknya tidak pernah melupakan kebiasaannya, padahal selama lima tahun ini meskipun dirinya berada diluar negeri tapi ia banyak mendengar perihal Kakaknya yang hidup seperti mayat berjalan setelah Kakaknya itu kehilangan mantan istrinya. "Kakak masih ingat ternyata. Aku hanya ingin nomer Tuan Samuel. Sini berikan padaku, aku tertarik padanya."


Lazarus dengan cepat menggeleng. "Semua permintaanmu akan kakak penuhi, selain hal satu ini. Kakak peringatkan, jangan dekati Samuel. Dia sudah punya kekasih, bahkan dia tidak bisa hidup tanpanya. Mereka seperti satu paket, saling melengkapi satu sama lain." Lazarus menekankan kata-katanya.


Amanda menatap wajah Kakaknya yang serius, sepertinya ucapannya benar. "Kakak mengenal baik dia?"


"Tidak cukup dekat, hanya beberapa kali berpapasan di acara pesta Perusahaan. Dia selalu membawa kekasihnya, kau benar-benar sudah tidak ada harapan." Balas Lazarus.


Bukan Amanda namanya jika menyerah dengan keinginannya. Ia akan berpura-pura menuruti Kakaknya. "Baiklah, aku menyerah. Lagipula laki-laki diluar sana masih banyak yang antri padaku," ia tersenyum manis.


Lazarus tersenyum, merasa puas dengan perkataan adiknya. "Sudah, mulai pesan makananmu. Nanti Kakak berikan hadiah di Pesta dua hari lagi," mendorong buku menu ke arah Amanda. Ia sendiri mengambil satu buku menu dan matanya mulai melihat-lihat menu makanan yang tertulis di buku menu.


"Kakak tau pestanya dua hari lagi? Padahal aku belum bilang."


"Menurutmu apa yang tidak aku tau?" Lazarus menjawab asal.


"Ada. Keberadaan mantan istri kakak," jawab cuek Amanda, ia hanya ingin tau perasaan Kakaknya sekarang.


Seketika jemari Lazarus yang memegang buku menu mengerat, meskipun ia tau Amanda tidak ada hubungannya dengan kekejaman Ibu Tirinya tapi sebaiknya dirinya berhati-hati.


"Kakak sudah siap memesan." Tak ingin menjawab, ia menutup buku menunya, segera memanggil manajer untuk segera memesan.


Amanda menghela nafas, perasaannya sedikit kesal karena Kakaknya tak mau jujur padanya. "Aku juga."


*

__ADS_1


Seorang Wanita di dalam Harem sedang menelepon, dari wajahnya yang masih sangat cantik, elegan dan sangat terlihat penurut. Dia terlihat seperti berusia akhir tiga puluhan menginjak awal empat puluh. Padahal usianya yang sebenarnya akan segera menginjak usia lima puluh tahun sebentar lagi.


Bibir sensu4l Wanita itu tersenyum puas. "Benarkah? Akhirnya akan ada hasil dari dua domba yang aku adu selama ini bukan. Kau memang Putraku tersayang. Ingatlah, meskipun kau bukan Putra kandungku, tapi saat aku menemukanmu saat bayi tergeletak begitu saja di pinggir jalan saat salju turun, seperti cuaca hari ini. Kau sudah menjadi bagian dari darah dagingku. Jangan pernah lupakan itu, jika saat itu aku tak membawamu bersamaku, kau akan mati kedinginan disana. Aku selama ini hanya duduk diam menjadi penonton, ah... tidak! Apakah aku yang menentukan peran mereka semua, " memutuskan sambungan teleponnya, ia menatap ke dalam cermin di dalam kamarnya yang megah, tersenyum menyeramkan.


"Akhirnya sebentar lagi tiba, saat kau mendapatkan balasanmu Mary! Kau merenggut kehidupan kecil dalam rahimku, bahkan setiap hari kau memberiku obat agar aku tak bisa mengandung kembali. Selama bertahun-tahun aku bertahan menunggu dan menyaksikan penderitaanmu kehilangan semuanya! Hahaha... hahaha... " seketika mengambil sebuah pisau, menusuk foto seorang wanita bersama kedua anaknya.


*


Setelah kembali ke Perusahaan, Lazarus terus menerus merasa kesal. Bahkan ia uring-uringan disaat sedang rapat, membuat semua para bawahannya berwajah ketakutan. Mereka sering terkena amarah Lazarus selama Lazarus menjabat sebagai Presdir, tapi lebih sering lagi selama lima tahun terakhir. Mereka terdiam saat Lazarus menatap kesal pada layar ponselnya, entah apa yang Presdir mereka pikirkan.


Albert berdehem. "Tuan Adrigo silahkan lanjutkan laporan Anda."


Adrigo seorang Manajer Keuangan melanjutkan laporannya. "Dalam hal ini, Perusahaan kita perlu memberikan lag--" ucapannya terpotong.


"Sebenarnya Kau sedang apa!?" Bentak Lazarus.


"Kau membalas pesanku saja tidak! Apalagi teleponku kau abaikan! Maumu apa!?" suara Lazarus semakin keras, tak menyadari sekelilingnya. Membuat semua yang hadir disana semakin tak ada yang berani menatapnya.


"Ehm!!! Tuan?" Albert berdehem lebih keras.


Lazarus seketika mengangkat wajahnya dari layar ponselnya, menatap bingung Albert.


"Tuan, kita sedang rapat." Wajah Albert memerah, bukan karena takut pada Tuan-nya tapi malu melihat kelakuan Tuan-nya yang sedang dimabuk cinta itu.


Semalam selain memerintahkan Kepala Pengurus memindahkan Nyonya Angela ke ruangan sebelah Tuan-nya, ia juga memberikan ponsel baru khusus agar Tuan-nya bisa menghubungi Nyonya Angela kapanpun. Tak disangka sejak keluar dari Restoran Tuan sudah berusaha menghubunginya, tapi tak ada sedikitpun tanggapan.


Lazarus tersadar, menormalkan wajahnya tak ingin ketahuan sedang tak fokus mengurusi pekerjaan. "Ehm... Sampai dimana?"

__ADS_1


Albert menjawabnya. "Laporan Manajer keuangan."


"Lanjutkan!" titah Lazarus berusaha fokus kembali.


*


Angela merasa jengah, seorang Lazarus meneleponnya hampir 20 kali. Dua puluh kali! Bayangkan. Tak berhenti sampai disitu, dirinya tak mengangkat telepon darinya, pesan masuk menyerbu ponselnya sampai bergetar terus menerus saat dirinya sedang mengajar Sean sambil bermain. Ia benar-benar tidak berniat meladeni Lazarus, mengingat kejadian tadi pagi di depan matanya. "Heh! Kau kira kau siapa?! Aku juga harus berusaha jual mahal kan? Huh!"


"Bibi Kristine, apa itu jual mahal?" tanya Sean menatapnya dengan wajah imutnya.


Angela terkejut, melupakan keberadaan Sean di dekatnya. "Maaf, apa saya mengagetkan Tuan Muda Sean? Hm, jual mahal itu seperti kita jangan mudah memberikan keinginan orang lain."


Mata Sean berkedip tak mengerti, ia menggelengkan kepalanyan. "Sean masih kecil, tidak bisa mengerti bicara orang dewasa. Tapi Sean sering dengar ucapan Daddy di ruangannya. Ruangan Daddy, Sean tak boleh masuk. Tapi Sean sering diam-diam bersembunyi di dalam sana saat penjaga pintu tidak melihat Sean masuk. Bibi ingin mendengar apa ucapan Daddy?"


Rasa penasaran Angela tergelitik. "Tentu saja mau, apa itu?"


Sean menatap Angela seperti sedang berpikir tapi akhirnya membuka mulutnya kembali. "Tapi ini rahasia kita berdua, Bibi Krisitine janji?" ia berbisik.


Angela mengangguk. "Janji"


"Daddy sering menangis di dalam kamar tidurnya. Daddy juga sering memanggil seseorang. Tapi apa Bibi tau? Sean ikut menangis saat mendengar Daddy memanggil namanya."


"Nama siapa?" tanya Angela semakin penasaran.


"Angela... " ucap Sean.


Kedua mata Angela membelalak tak percaya, seorang Lazarus menangisi dirinya? Kenapa?

__ADS_1


__ADS_2