HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
TITIK TERANG TENTANG PUTRANYA.


__ADS_3

Lazarus tersenyum getir, melihat keadaan putrinya dadanya terasa begitu sesak. "Bolehkah Daddy duduk?" Dengan sedikit ragu meminta pada putrinya.


Samantha terdiam, kemudian mengangguk.


Lazarus dengan cepat duduk di kursi disamping ranjang, mengambil saputangan di saku atas jas-nya. Mengelap keringat di dahi dan telapak tangannya. Ia tak percaya menghadapi putrinya lebih menggugupkan daripada menghadapi Angela.


Samantha hanya menatapnya heran, "Paman kepanasan? Tapi ruangan ini kata suster ada AC-nya? Samantha juga tidak merasa gerah?"


Lazarus menatap putrinya, nada bicaranya sedikit seperti Angela. Ia tersenyum, "Daddy tadi sedikit makan pedas dirumah, jadi berkeringat. Sekarang bisakah Daddy bicara? Daddy akan bercerita, Samantha mau dengar versi lain cerita dari 'Beauty and the beast' ?"


Samantha mengangguk.


Lazarus mulai bercerita. "Suatu hari sang Pangeran mengutuk dirinya sendiri menjadi buruk rupa, dia tak ingin dekat dengan siapapun, sampai suatu hari dia ditolong oleh seorang Putri cantik saat nyawanya dalam bahaya. Tapi sayang bla... bla... bla... " Lazarus mulai menceritakan awal kehidupannya bersama Angela.


Samantha memajukan tubuhnya mendekat pada Pria yang mengaku Ayahnya itu, ia sangat antusias mendengar ceritanya. Apakah ini kisah Mamanya dan Paman di depannya ini?


"Lalu sekarang bagaimana dengan sang Pangeran?" tanya Samantha.


"Bertahun-tahun hidup dalam topengnya dan memperlihatkan keburukan wajah dan hatinya. Hidupnya akhirnya sangat kesepian, hatinya kesakitan. Sekarang sang Pangeran menunggu sang Putri menemukan kebenaran dan mengetahui jika sang Pangeran tak seburuk sang Putri pikirkan."


Tangan mungil Samantha mengusap tangan besarnya, seakan dia mengerti apa yang diceritakan dalam dongengnya. Lazarus balas menggenggam tangan mungil putrinya, "Apakah Samantha mau membantu menyatukan sang Pangeran dan sang Putri?"


Samantha mengangguk, "Tentu saja Paman, bukankah sang Pangeran sangat mencintai sang Putri?"


"Sangat mencintainya... " mata Lazarus berkaca-kaca.


"Kalau begitu, apakah Paman mau mendengar sebuah rahasia?"


Degh!


Lazarus bersemangat, ia mengangkat genggaman tangannya pada tangan mungil putrinya itu ke bibirnya dan mengecup tangan mungil putrinya. "Tentu saja, sayang."


Pipi Samantha bersemu merah, tersipu malu. "Apakah Samantha boleh memanggilmu Daddy, Ayah?" di kedua matanya terlihat kegugupan juga pengharapan.


Lazarus seketika memeluk tubuh lemah putrinya, merangkulnya dalam pelukan hangatnya. "Tentu boleh sayang, Daddy sangat bahagia. Terimakasih... " ia semakin mengeratkan pelukannya.


Tak ingin membuat putrinya sulit bernafas, Lazarus melepaskan pelukannya. "Rahasia tadi, Daddy boleh tau?"


Samantha mengangguk, "Samantha punya saudara kembar, kata Mama dia saudara laki-laki."

__ADS_1


Kedua mata Lazarus bercahaya penuh semangat, tapi juga merasa tak yakin akan pendengarannya. Ia menatap putrinya, meyakinkan dirinya sekali lagi. "Benarkah? Samantha yakin? Lalu dimana dia sekarang?"


"Samantha belum pernah bertemu dengannya, bahkan Mama sering menangis jika Samantha bertanya. Kata Mama ada monster jahat menculiknya. Apakah Daddy bisa menemukan penculiknya dan membawa saudara Samantha?" Matanya berbinar-binar merasa yakin Ayahnya bisa menemukannnya.


"Tentu, jangan khawatir. Daddy berjanji."


Samantha tersenyum senang, mendekatkan tubuhnya mengecup pipi Ayahnya. "Terimakasih Daddy."


Lazarus terharu, tangannya mengusap lembut pipi putrinya.


"Ahh... Samantha baru ingat. Mama sering mengobrol dengan perawat Samantha dulu Suster Gabby, tapi Samantha bukan anak nakal, jadi tidak pernah menguping Mama jika sedang ngobrol."


Lazarus merasa gemas pada putrinya, sangat pintar bicara dan bisa mengamati sekitarnya. "Tentu, Putri Daddy sangat pintar. Apakah sekarang Daddy boleh pergi? Daddy harus mulai mencari saudara Samantha bukan?"


"Ya Daddy... pergilah."


Lazarus mengecup pipi putrinya, "Daddy janji akan menemukan saudara kembarmu dan Samantha akan segera sehat."


Lazarus bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Albert. "Kau dengar semua kan? Cepat cari putraku! Aku akan tes sumsum tulangku, kita akan segera melakukan operasi secepatnya!" Ucapnya.


"Baik Tuan!"


"Ya"


Lazarus berpamitan pada putrinya sekali lagi, lalu dengan harapan menemukan satu lagi anaknya, ia bergegas mencari informasi-informasi yang bisa membantu.


Albert sibuk dengan tugasnya, ia berpisah dengan Tuannya. Dengan cepat melaju ke Rumah Sakit sebelumnya. "Tuan... tenang saja, saya akan menebus semua kesalahan saya. Meskipun mempertaruhkan nyawa, saya akan menemukan Putra Anda. Maafkan saya masih memberi informasi kepada Ibu saya, tapi itu demi kebaikan Tuan. Saya harus berpura-pura masih mematuhi perintah 'nya'... "


Dengan cepat Albert menemukan sang Perawat, dengan sopan memintanya pergi dengannya. Awalnya sang perawat menolak, tapi saat dirinya menceritakan sedikit kisah tentang Tuan-nya dan Nyonya Angela, akhirnya perawat itu mengikutinya pergi.


Membawa ke rumah rahasia Tuan-nya, tempat menginterogasi para musuhnya. Albert mempersilahkan perawat yang bernama Gabby itu masuk ke dalam sebuah ruangan megah, ruangan Tuan-nya. Diruang bawah tanah adalah tempat para musuh mereka disiksa saat di interogasi.


"Silahkan masuk, Tuan saya sudah menunggu." Ucap Albert seraya membuka pintu.


Dengan gugup Gabby melangkahkan kakinya masuk, tatapannya berkeliling menatap isi ruangan dan akhirnya tatapannya jatuh pada sosok seorang Pria gagah yang berdiri di depan jendela besar sedang membelakanginya.


"Kemarilah!" Ucap Lazarus seraya berbalik badan, menatap wanita di depannya dengan tatapan dalamnya.


Gabby seakan terhipnotis dengan kharisma Lazarus, ia menurutinya melangkah mendekat.

__ADS_1


"Silahkan duduk." Lazarus menunjuk sofa, lalu ia duduk di sebrangnya.


Gabby duduk, ia semakin merasa gugup. "Halo Tuan, saya Gabby, perawat Nona Samantha."


"Hm, berapa lama kamu merawatnya?" Tanya Lazarus.


"Hampir dua tahun, Tuan." Jawab Gabby.


"Apa kamu dekat dengan Ibunya? Jangan berbohong, aku tau kalian sering bertelepon. Bahkan kamu tau tujuan Angela masuk ke Harem agar hamil. Seberapa banyak Angela bercerita padamu?"


Gabby tau dirinya tak punya pilihan, ia mulai menceritakan semua yang ia tau. "Hanya itu Tuan, saya tidak berani bohong."


Lazarus mengetuk-ngetukkan jarinya, mencerna semua perkataan wanita yang duduk di hadapannya. "Baiklah, kamu boleh pergi. Terimakasih atas semua informasinya. Pengawalku akan mengantarmu kembali ke Rumah Sakit, kamu akan aman jangan takut."


"Albert!"


Albert segera masuk, ia mengerti urusan Tuan-nya dengan si perawat sudah selesai. "Silahkan ikut saya Nona."


"Kau tinggal, biarkan Thimoty yang mengantarnya." Titah Lazarus.


"Baik, saya akan memanggil Timothy."


Tak lama di ruangan itu hanya tinggal Lazarus dan Albert.


"Albert, apakah ada sesuatu dalam pikiranmu? Seperti sesuatu yang kita lewatkan selama ini? Tapi aku tau pasti, Putraku dibawa Vincent dan Ibunya." Lazarus memijit kepalanya yang berdenyut sakit.


Albert melihat Tuan-nya memijit kepalanya, ia dengan cepat mengambil obat dan segelas air minum lalu memberikan pada Tuan-nya. Rasa bersalahnya semakin besar, andaikan dulu dirinya tidak melakukan kesalahan itu, maka Tuannya sudah sejak lama berkumpul bersama Nyonya Angela dan kedua anaknya.


Lazarus mengambilnya, dengan cepat memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan meminumnya.


"Apa Anda menemukan sesuatu yang janggal tentang perawat barusan, Tuan?"


"Tidak, kau sudah mengecek semua tentangnya. Dia bersih, tak ada hubungan dengan Vincent atau Marry." Lazarus menggeleng.


"Hanya saja sepertinya kita harus memeriksa ulang kembali orang-orang yang pernah dekat denganku. Misalnya Michelle, Irene. Irene... tunggu!" Lazarus menggebrak meja mendapatkan sesuatu.


"Periksa ulang kehidupan Irene, apakah informasi lima tahun lalu tentangnya benar. Lokasi kami bertemu dan menurutnya kami melakukan hubungan intim sampai dia mengandung Sean! Satu lagi, dulu kita hanya tes DNA Sean denganku, kita tidak tes DNA Sean dengan Irene. Albert cepat ringkus Irene! Jika perlu kita harus mengintrogasinya!" Ucap Lazarus menggebu-gebu.


Albert ikut bersemangat, merasa bisa mengakui kesalahannya yang dulu jika bisa segera menemukan kedua anak Majikannya. Dirinya akan memohon ampunan dan menerima hukuman apapun dari Tuan-nya bahkan jika hukuman itu meminta nyawanya.

__ADS_1


__ADS_2