
Di kediamannya, Sheril sudah mengepak semua barang-barangnya. Beberapa hari lalu, dia sudah bicara dengan Albert.
Albert mengatakan jika Lazarus sudah mengetahui semuanya dan memaafkan semua kesalahan mereka.
Bahkan Lazarus memberikan sebuah kediaman untuk dirinya tinggali bersama Albert.
Sheril mengingat kembali obrolannya dengan putra angkatnya Albert.
"Ibu, semua yang kita lakukan selama ini salah, membalas dendam pada Marry bukan dengan cara menyakiti orang lain apalagi menyakiti Tuan Lazarus dan keluarganya. Ibu jujur... aku sangat menderita saat aku mengkhianati Tuan Lazarus, aku sudah lama berada disisinya. Dia juga sama seperti Ibu, selalu menderita dalam hidupnya. Bahkan dia sudah tau tentang kejahatanku tapi tetap memaafkanku, aku masih menyesal sampai hari ini tentang hari itu." Albert menggenggam tangannya.
"Ibu bisakah kamu menganggapku putra kandungmu yang tidak bisa kamu lahirkan. Tuan bilang dia akan membalas Marry akan sakit hatimu, demi aku bisakah kebencian Ibu berhenti sampai disini. Aku akan menemani Ibu sampai kapanpun. Jangan menyia-nyiakan hidupmu, Ibu."
Sheril merasakan kehangatan yang selama ini ia lupakan. Perkataan Albert benar, untuk apa menyia-nyiakan hidupnya.
Sheril menangis menyesali semua perbuatannya pada Lazarus, padahal Lazarus juga orang yang sama menderitanya seperti dirinya.
"Aku akan pergi sendiri, kamu jangan pernah meninggalkan Lazarus. Memang aku yang menemukanmu di jalanan dan menjadikanmu anakku, tapi Lazarus lah yang membuatmu menjadi manusia. Aku hampir saja membuatmu menjadi monster seperti Marry dan Vincent. Berterimakasih lah pada Lazarus, dengan selalu berada disisinya."
"Tapi Ibu... "
"Aku akan baik-baik saja, selama hidupku aku hanya menjalani balas dendamku. Mulai sekarang aku akan melepaskan masa laluku dan penderitaanku. Aku akan menjelajah dunia diluar sana disisa usiaku. Jangan khawatirkan aku, dimanapun aku berada nanti, kamu tetap putra tersayangku."
Albert menangis mendengarnya.
Kini Sheril sedang berdiri di luar pintu ruangan Abraham, suaminya selama berpuluh tahun. Dia akan tetap pergi, meskipun Abraham melarangnya.
Peter membuka pintu untuknya, Sheril tersenyum. Peter adalah saksi hidup seluruh kehidupan penghuni Harem, tapi Peter juga adalah tipe orang setia pada Tuannya Abraham. Saat dirinya nanti pergi, dia tidak akan terlalu menghkawatirkan Abraham karena ada Peter disisinya.
"Abraham."
Sheril berjalan mendekati Abraham yang duduk di kursi rodanya. Abraham sedang duduk di dekat jendela besar menatap keluar.
Abraham tak menjawab panggilan Sheril.
__ADS_1
"Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu." ucap Sheril yang sudah berdiri di samping kursi rodanya.
Akhirnya Abraham mengalihkan tatapannya dari jendela dan menatap Sheril.
"Aku tau, aku takkan menghentikanmu. Sheril, selama aku menikahimu, aku sadar tak pernah membahagiakanmu bahkan aku selalu menutup mataku saat kamu menderita. Aku tau semua perbuatan Marry padamu, tapi aku tidak ingin ikut campur. Mungkin karena didikan Ayahku dulu yang keras, dia selalu bilang urusan wanita jangan pernah ikut campur. Ayahku bilang lelaki harus kuat dan hanya memikirkan tentang kejayaannya. Dulu aku berpikir semua perkataan Ayahku adalah benar, tapi sekarang aku menyesali semuanya. Akhirnya semua orang meninggalkanku termasuk dirimu." Abraham mengalihkan tatapannya dari wajah Sheril, dia menatap langit biru di luar sana.
"Pergilah, jalani hidupmu dengan baik. Lihatlah dunia baru, begitu indah bukan diluar sana. Mintalah sesuatu padaku untuk terakhir kalinya, aku akan mengabulkannya," mata Abraham menerawang jauh.
Sejujurnya Sheril mencintai suaminya, bukan hanya karena kekayaannya tapi suaminya lah yang dulu menolong keluarganya dari kelaparan. Tidak semua orang tau jika Abraham menikahinya bukan karena dirinya putri orang kaya tapi Abraham pernah bilang dirinya wanita satu-satunya yang bisa mencuri hatinya dan karena itu menikahinya.
"Abraham, maukah kamu pergi denganku. Mari tinggalkan duniamu ini dan mari kita membuat dunia baru diluar sana. Aku masih mencintaimu," Sheril tersenyum hangat, wajahnya masih tersisa gurat-gurat kecantikan masa mudanya.
Abraham tertegun, tak menyangka akan permintaan Sheril. Dia menatap mata Sheril mencari kebohongan didalam sana tapi hanya menemukan ungkapan cinta didalam mata Sheril untuknya.
Peter mengetuk pintu, berjalan masuk mendekati Tuannya Abraham.
"Tuan besar, saya baru saja mendapatkan kabar. Nyonya Marry sedang diperiksa polisi, Tuan Lazarus sudah memasukkannya ke dalam penjara."
"Sheril, maafkan aku. Sekarang Marry sudah mendapatkan ganjarannya, tapi akulah penyebab semuanya. Masih pantaskah aku meraih kebahagiaan bersamamu?"
Sheril melebarkan senyumannya, ia mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh Abraham di kursi roda. Mengelus wajah Abraham yang berkerut semakin tua tapi masih terlihat berkharisma.
"Tak ada kata terlambat untuk semua orang. Jika kamu benar-benar menyesali perbuatanmu, Tuhan akan mengampunimu. Aku juga bukanlah orang baik, tapi aku akan berusaha menjadi orang baik mulai sekarang. Abraham mari kita jalani sama-sama."
Peter tersenyum, akhirnya Tuannya menemukan arti kedamaian dalam hidup. Dia dengan perlahan meninggalkan mereka berdua.
Abraham tersenyum lepas, senyuman yang tak pernah dia dapatkan selama hidupnya.
"Sebelum pergi, aku harus meminta maaf pada seseorang, maukah kamu menemaniku?"
Sheril mengangguk.
Abraham sudah berada di kediaman Lazarus, ia sudah mengetahui jika Kristine adalah Angela kemarin saat keluarga Michelle membahas tentang perselingkuhan putranya Lazarus dengan Kristine, dia menyuruh Peter menyelidikinya dan ternyata itu adalah Angela.
__ADS_1
Abraham tau dulu dia dengan kejam memisahkan putranya dari wanita yang dicintainya. Kini dia takkan mengulangi perbuatan yang sama.
"Angela, kemarilah nak."
Angela yang masih memakai topeng kulit sebagai Kristine tersentak kaget, tubuhnya gemetar ketakutan.
Lazarus baru saja tiba saat Ayahnya memanggil Angela menemuinya. Dia di telepon Timothy, dengan jantung yang berdegup kencang, dia dengan secepatnya pergi dari Perusahaan karena ketakutan Ayahnya akan menyakiti Angela.
"Pah... " Lazarus maju.
"Sheril, bantu aku turun dari kursi roda." Abraham berusaha menjatuhkan tubuhnya untuk bersujud pada Angela.
Sheril sebenarnya juga kaget, ternyata Angela sudah ditemukan. Ia menuruti Abraham dan membantu Abraham sujud pada Angela. Karena merasa dirinya juga bersalah, ia pun ikut bersujud bersama Abraham.
Lazarus tak pernah menyangka akan melihat pemandangan di depannya, Ayahnya bersujud pada orang lain.
Angela lebih kaget lagi, dia bahkan menutup mulutnya tak percaya.
"Nak, dulu aku sangat kesal pada Ayahmu dan menghancurkannya sampai akhirnya dia meninggal. Jangan pernah maafkan aku, aku tak berhak kamu maafkan. Tapi aku bersujud di depanmu sebagai seorang ayah, putraku sangat mencintaimu. Aku yang memisahkan kalian. Sejak kecil putraku aku didik dengan keras, tanganku pun berceceran darahnya karena sering menyiksanya. Aku memintamu untuk membahagiakannya, aku merestui kalian dan kalian berdua berbahagialah." Ucap Abraham dengan tulus.
Lazarus maju tak tega lagi melihat Ayahnya, ia membantu Ayahnya duduk kembali di kursi roda. "Pah... terimakasih banyak."
Abraham menepuk punggung tangan putranya.
"Maafkan aku juga Lazarus, aku sudah menyakiti Angela. Terimakasih atas semuanya, tolong jaga Albert. Ayahmu setuju akan ikut denganku pergi. Kami tidak akan lagi mengurusi kehidupan kalian, kami akan menjalani sisa hidup kami diluar sana dengan baik." Sheril bangun mendekati Abraham, manyatukan tangan mereka berdua.
Albert tersenyum bahagia untuk Ibunya.
Lazarus mendekati Angela dan dengan perlahan membuka topeng kulit di wajah Angela dan memperlihatkan wajah aslinya.
"Kau tak memerlukan ini lagi sayang, dan kini hanya kebahagian yang akan menanti di depan kita." Lazarus mengecup dahi Angela.
Semua orang tersenyum bahagia, saling melepaskan rasa benci dan dendam di hati mereka.
__ADS_1