
Angela setiap malam tak pernah sekalipun tertidur nyenyak. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang di kamar mereka. Ditimpa kemalangan berulang kali, membuat instingnya selalu waspada. Satu teman sekamarnya Elisa sudah kembali satu jam lalu, jadi siapa yang masuk ke kamar mereka?
Angela membuka matanya perlahan, masih membelakanginya. Dengan perlahan membalikkan tubuh menyampingnya, tatapannya bertubrukan dengan sepasang mata mungil, manik mata mungilnya berwarna sama dengan Lazarus. Anak ini mirip Lazarus? Apakah Sean, putra Lazarus?
Angela bangkit dari tidurnya, berdiri melangkahkan kakinya mendekati Sean. "Hum, apakah Anda Tuan Muda Sean?" Angela tersenyum hangat memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Sean mengucek kedua matanya, mulutnya menguap masih merasa ngantuk. "Mommy... dimana mommy... " ucapnya.
Hati Angela merasa hangat sekaligus terenyuh, membayangkan Putranya mencari-carinya seperti ini. "Apakah Tuan muda kecil belum menemukan Mommy-mu?" secara naluriah sebelah tangannya terangkat, mengelus kepala Sean.
Merasakan elusan di kepalanya seketika membuat kedua mata mungil Sean terbuka sepenuhnya tidak merasakan kantuk lagi. "Apa kau tau dimana Mommy-ku?"
Angela tersenyum. "Tentu saja, Mommy Tuan ada di-... "
"Tuan muda!!! Tuan muda Sean dimana Anda!! Tuan muda," suara beberapa orang berteriak pelan mencari Sean.
"Tidak! Aku tidak mau kembali... aku ingin mommy. Huwaaa... " tangisnya mulai pecah, membuat semua orang yang mencarinya berdatangan ke kamar Angela dan membangunkan ketiga teman sekamarnya.
Nana terbangun dan terkejut melihat Putra majikan asuhannya berada di kamarnya. "Tuan muda!" berlari mendekati Sean.
Kepala pengurus rumah yang sudah berumur tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. "Tuan muda! Anda disini, jantung saya mau copot tuan. Anda membuat kami semua ketakutan."
"Aku tidak mau kembali! Aku ingin Mommy... Mommy... " tangisannya semakin kencang, membuat semua orang yang berada disana kewalahan takut Tuan mereka Lazarus mendengarnya.
Semua orang akan terkena hukumannya jika Lazarus mengetahui kelakuan Sean, Sudah bukan rahasia umum lagi jika Tuan mereka tidak menyayangi Putranya Sean, jika sekarang mereka ketahuan bukan hanya mereka yang akan dihukum tapi juga Sean.
"Tuan muda jangan begini, nanti Ayah Anda tau dan kita semua akan kena hukuman. Anda ingat saat Anda masuk ke ruang kerja Ayah Anda kan. Anda tidak boleh keluar kamar selama tiga hari dan tidak boleh bermain. Apa Anda ingin dihukum lagi?" pengurus rumah mengingatkan.
__ADS_1
"Mommy... aku mau mommy... " tetap menangis.
Wajah pengurus rumah semakin panik, takut suara tangisannya membangunkan Tuan Lazarus.
"Tuan muda, ini Nana. Mau bermain sama Nana? Tapi kita kembali dulu ke kamar. Ayo." Nana ikut berusaha merayu Sean.
Tangisan Sean semakin menjadi. "Huwaa... hikss... huwaa... "
Angela merasakan sakit di hatinya mendengar tangisannya, ia segera memeluk Sean tanpa sadar. "Cup... cup... sayang. Tuan muda ingin bertemu Mommy Tuan kan? Tapi Tuan harus mendengarkan saya, Ya?" kedua tangannya mengelus sayang kepala dan punggung Sean.
Tiba-tiba suara tangisannya mereda, masih terisak isak. "Benarkah?" bola mata mungilnya mengedip tak percaya.
"Tentu, sekarang kembali tidur dulu. Besok ketemu Mommy, ya?"
Sean menggangguk, mulai melangkahkan kaki kecilnya untuk keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti, ia berbalik badan kembali. "Ayo pergi!" menarik tangan Angela agar ikut dengannya.
Semua orang mengikuti dalam diam di belakang Angela dan Sean. Sampai mereka tiba di kamar Sean, mereka membubarkan diri dan hanya tinggal Kepala pengurus rumah.
"Siapa namamu?" tanya Kepala pengurus rumah.
"Kristine Tuan."
"Kau temanilah dulu Tuan muda, selanjutnya bagamana nanti. Jika kau perlu apa-apa, aku ada diluar." ucapnya lalu pergi keluar kamar.
Angela menatap Sean, sebenarnya bingung harus melakukan apa. Kenapa tadi dirinya sangat impulsif ketika berhadapan dengan anak kecil dihadapannya ini?
Tangan mungil Sean masih bergelantung memegang tangannya, ia berjongkok. "Tuan muda, mau aku bantu tidur? Mau minum susu sebelum tidur?"
__ADS_1
"Tadi sudah minum susu, kau mau menemaniku tidur?"
Angela tersenyum, mengelus lembut kepalanya. Kenapa ia tak punya perasaan benci terhadap anak ini? Anak ini adalah anak Lazarus. "Tuan mau aku gendong naik ke kasur? Atau bisa naik sendiri?"
Sean melihat tubuh kurus wanita di hadapannya, menggeleng lalu melepaskan cekalan tangannya. Ia segera memanjat ranjangnya, lalu berbaring tidur. "Kemarilah."
Angela berdiri dari jongkoknya, berjalan menuju ranjang Sean. Duduk di samping ranjang, menarik selimut menutupi tubuh mungil Sean. "Tidurlah Tuan muda, aku akan bernyanyi. Anda tau saya selalu bernyanyi ketika bertemu keponakan saya. Dia akan tertidur dengan nyanyian bobo ini."
"Benarkah? Dimana keponakanmu?"
"Dia sakit, sangat sakit jadi harus dirawat di Rumah Sakit. Tapi dia seumuran Anda, namanya Samantha."
"Kalau begitu ceritakan tentang dia," pinta Sean.
Angela mulai bercerita, Sean tersenyum mendegarkan cerita tentang Samantha, tentang makanan kesukaannya, mainan kesukaannya dan tentang betapa cerianya dia meskipun selalu sakit.
Angela menghentikan ceritanya ketika melihat Sean sudah tertidur, tersenyum mengelus pipinya dengan lembut. "Apakah Putraku juga terlihat seperti ini?" airmata jatuh menimpa lengannya, Angela segera menghapusnya. Ia dengan perlahan bangun dari duduknya di ranjang, sekali lagi menatap wajah Sean, membenarkan selimutnya lalu berbalik badan berjalan keluar kamar.
Bruk!
Diluar kamar tubuhnya bertabrakan dengan seseorang, Angela merasa tubuhnya melayang, tangannya sibuk mencari pegangan agar tidak terjatuh. Saat merasa dirinya akan terjatuh, tangan seseorang merangkul pinggangnya menarik tubuhnya bertemu dada bidang seorang pria.
Degh!
Tatapan keduanya beradu, nafas hangat Lazarus menerpa wajahnya. Tangan Angela yang berada di diantara tubuh mereka tanpa sadar mendorong mundur tubuh Lazarus, dirinya dengan cepat berbalik badan berlari melarikan diri.
"ANGELA!!!"
__ADS_1