HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
ORANG TUA BRENGSEK


__ADS_3

Irene sedang gelisah, semua kartu kreditnya dibekukan Lazarus. Ia menggigiti kukunya berpikir keras, akhirnya dirinya memutuskan menelepon. "Halo... " sapanya pada orang yang ia telepon.


Irene merasa kesal karna tak ada jawaban, "Vincent! Jawab aku! Aku sudah menuruti semua perkataanmu sejak lima tahun lalu! Kau berjanji akan menikahiku jika aku selalu berada di samping Lazarus memata-matainya! Buktikan sekarang!" Irene berjalan mondar-mandir di kamar Hotelnya.


"Hahaha.... "


Irene malah mendengar suara tawanya, ketika ia akan berbicara lagi perkataan Vincent membungkamnya.


"Kau manuruti perkataanku? Kau? Irene? Haha... yang benar saja! Kau bahkan mencoba naik ke atas ranjangnya untuk merayunya! Apa aku tidak tau apa yang ada di otakmu itu? Kau ingin menjadi Nyonya disana! Bahkan aku menyuruhmu menghasut Lazarus agar membenci Putranya! Tapi yang aku dengar kau bahkan ingin mendekatkan mereka berdua!"


Irene semakin gelisah, memang kesalahannya terlalu tamak. Vincent hanya memintanya untuk menempel pada Lazarus, menggali informasi yang benar-benar rahasia. Dirinya hanya ingin menjadi Nyonya Harem dengan siapapun ia menikah tak menjadi masalah. Tapi ia sekarang tau semua keserakahannya membuat dirinya sendiri celaka.


"Vincent selama lima tahun ini aku sudah berusaha menghasut Lazarus, kau pasti tau Lazarus tidak pernah menyayangi anak itu! Hanya saja sekarang aku mendekatkan mereka dan merayu Lazarus karna aku sudah tak sabar lagi. Lima tahun! Aku bahkan sering membocorkan klien-klien penting Lazarus dan kau bisa merebutnya. Terakhir bahkan aku memberimu informasi Lazarus sedang mengumpulkan data-datamu dan dana rahasiamu. Hanya saja aku sudah bilang padamu, aku tak bisa mencuri dokumen itu dan kau menyetujuinya!"


Tak ada jawaban dari sebrang telepon, Irene sudah kehabisan akal.


"Kau tunggulah keputusanku lagi! Diam saja jangan bikin ulah!"


Irene segera berkata kembali, "Tunggu! Aku butuh uang, Lazarus memblokir semua kartu-ku."


"Baiklah tunggu! Akan kukirimkan. Jangan berperilaku mencurigakan!"


Sambungan telepon terputus, Irene masih menatap layar ponselnya. "Untunglah, aku masih bisa hidup. Brengsek kau Lazarus! Aku mengurus anakmu selama lima tahun dan ini balasannya!" Geramnya.


*


Pagi itu Lazarus terbangun lebih dulu, ia tak beranjak dari tempat tidurnya. Memandang wajah Angela yang tidur disampingnya, merasa sangat bahagia.


Jarinya memainkan rambut Angela yang diluruskan, dulu rambutnya ikal alami. Sangat disayangkan ia sangat menyukai rambut alaminya dulu. Lazarus memajukan wajahnya, mengecup dahi Angela. Merasa tak cukup bibirnya turun ke bibir Angela, mengecup ringan. Juniornya melonjak bangun, tak elak membuatnya menginginkan lebih lagi. Ia mencium leher Angela, memainkan tulang selangkanya.


Angela merasa ada sebuah batu beton menindihnya juga suara kecupan-kecupan berisik di telinganya. Ia seketika membuka kedua matanya, terkejut melihat rambut pirang kecoklatan menutupi pandangannya. Sebuah kepala?


Angela akhirnya tersadar, semalam ia tidur bersama Lazarus. "Sedang apa Tuan?" Ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk kabur tapi kedua lengannya malah ditahan.

__ADS_1


Lazarus mengangkat wajahnya, "Jangan banyak bergerak, kau tidur saja tubuhku sudah terangsang. Aku sedang menahannya, kecuali kau ingin memuaskanku, aku tak akan melarangmu untuk terus bergerak," ucapnya seraya menggesekkan bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang ke tubuh Angela.


"Tapi jika kau menolakku sekarang aku tidak akan protes," lanjut Lazarus dengan wajahnya yang berpura-pura kecewa.


Angela menghela nafas, ia sudah mengetahui Lazarus sedang bersandiwara. Bahkan sekarang ia ingin tertawa dengan sandiwara Lazarus yang sedikit kentara, tapi akhirnya ia melayani kemauan Lazarus.


Baiklah Lazarus, kau sedang berpura-pura tak mengenaliku. Aku lihat apa maumu!


Sekali lagi mereka berdua menyatukan raga yang sudah terpisah selama lima tahun.


Setelah selesai Lazarus turun dari atas ranjang memakai jubah tidurnya, ia berbalik menatap Angela yang sedang menatapnya dengan seluruh tubuhnya yang dibungkus selimut. Lazarus merasa lucu, ia sudah melihat suluruh tubuh telanjangnya, kenapa dia menutupi semuanya sampai tak terlihat sedikitpun anggota tubuhnya?


"Jika tak ada kerjaan, aku benar-benar tak ingin meninggalkanmu. Kau tau Krisitine? Kau sudah membuatku candu padamu." Ucap Lazarus seraya berbalik badan dan pergi dari kamar Angela.


Angela menatap kepergian Lazarus dengan perasaannya yang tak menentu. Ia tak ingin berpikir banyak, segera turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai, Angela berias sedikit lalu segara pergi ke kamar Sean. Ia sudah berjanji akan mengajaknya keluar hari ini tapi ia lupa meminta ijin pada Lazarus. "Ahh... aku lupa minta ijin. Sudahlah nanti saja," seraya berjalan menuju ke kamar Sean.


Saat Angela masuk, ia melihat Sean baru saja bangun. Pelayan yang melayaninya mandi sudah berada disana. Pelayan yang bernama Cleo itu selalu ketakutan ketika melihat dirinya, padahal ia tak pernah melakukan apapun padanya.


Angela berjalan dengan senyum manisnya, mendekati Sean yang masih di atas ranjangnya. "Tuan muda siap bermain diluar bersamaku? Tapi tumben kenapa hari ini belum mandi? Tuan mau aku bantu?" Tawar Angela tanpa maksud apa-apa karena memang itu bukan tugasnya.


"Jangan! Biar saya saja!" Cleo yang biasanya bertugas memandikan dan membantu Sean berpakaian dengan cepat menolaknya.


Angela sedikit terkejut dengan penolakannya, terkesan menyembunyikan sesuatu. Rasa penasarannya seketika terpancing, ia berpura-pura bersikap biasa. "Cleo, hanya hari ini aku akan membantu Tuan Muda. Aku tau ini tugasmu, tapi biar aku lakukan hari ini ya," bujuknya.


"Tidak!" Cleo tetap menolak sedikit gemetar ketakutan.


Angela menatap Sean, anak itu seketika ikut gugup juga. Hatinya seketika merasa ada sesuatu yang salah, ia langsung menarik lengan Cleo mengeluarkannya dari kamar Sean. "Tunggu diluar, aku bilang akan membantu Tuan Muda hari ini!" Mendorong tubub Cleo keluar kamar, langsung mengunci pintunya.


"Buka!!!"


Terdengar suara Cleo diluar meminta dibukakan pintu kamar, Angela tak mengindahkannya, ia berjalan ke arah Sean yang ketakutan.

__ADS_1


"Sayang... jangan takut. Lihat saya, bukankah Anda menyukai saya?" Selangkah demi selangkah mendekati Sean.


Sean menatapnya ragu tapi tak menghindar.


Angela merasa lega, ia semakin dekat dengan Sean. "Bagus, Tuan Muda anak baik," seraya duduk di atas ranjangnya.


Angela mengelus wajah tampannya, benar-benar keturuan Lazarus masih kecil tapi sudah berkarisma. "Bibi akan bertanya, kenapa Tuan Muda ketakutan?"


Sean masih tak mau menjawab, ia menggelengkan kepala kecilnya.


Angela tak ingin menyerah, ia mencoba lagi. "Apakah saya tidak seharusnya tau?"


Sean mengangguk, tapi kemudian menggeleng seperti ragu.


Angela bisa sedikit menduga, karna ia punya Samantha. Bukankah setiap anak terkadang membentuk suatu sikap yang hampir sama. Ia mencoba kembali, "Apa ada yang menyakiti Tuan Muda?"


Seketika kedua mata mungil Sean terkejut, "Kenapa Bibi Krisitine bisa tau?" Sean Mengedip polos.


Seketika Angela geram, beraninya ada yang menyakiti seorang anak kecil, tapi siapa yang berani menyakiti seorang Tuan Muda!


Angela mencoba bersabar, ia memaksakan senyumannya. "Bisakah Tuan beritahu saya dimana Tuan Muda disakiti? Saya janji akan menjadi rahasia kita berdua?"


Sean menatap ragu, tapi akhirnya ia bicara dengan suara pelan. "Disini, lalu disini tapi itu karena Sean yang nakal. Kata Mommy anak nakal harus dipukul." Ucap Sean apa adanya, ia menunjuk satu persatu tubuhnya yang pernah sakit karena dipukul.


Angela mencengkram seprai, merasa ikut sakit di sekujur tubuhnya. "Apa masih sakit?" Ia memaksakan suaranya bertanya, padahal ingin sekali berteriak marah.


"Tidak, tapi saat Sean banyak bermain disini sering sakit." Menunjuk perut kirinya.


"Bagaimana Mommy Tuan memukulnya?"


"Mommy menendangnya, kata Mommy Sean anak tidak berguna dan mulut Mommy bau minuman orang dewasa."


"Dimana Daddy? Kenapa tidak menghentikan Mommy?"

__ADS_1


Sean diam tak menjawab tapi akhirnya ia membuka mulutnya kembali. "Kata Mommy, Daddy tak pernah sayang sama Sean. Daddy juga pernah bilang pada Mommy di depan Sean, jika Sean hanyalah anak yang tidak Daddy inginkan." Wajahnya seketika sedih, ia menunduk memainkan jemari kecilnya.


Angela merasa semakin geram, ia saja ingin bertemu Putranya dan berusaha melakukan apapun agar bisa bersama. Tapi kedua orang itu dengan brengseknya memperlakukan Putra mereka seperti ini!


__ADS_2