
Angela selesai mendekorasi kamar untuk putrinya Samantha, hari ini putrinya sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit setelah seminggu lalu di operasi.
Lazarus sendiri setelah dioperasi hanya dirawat menjalani pemulihan selama tiga hari dan dibolehkan pulang, hanya saja Lazarus tidak diperbolehkan beraktivitas berat. Tiga hari berada di rumah, dia terus cemberut karena harus berpuasa menahan gairahnya.
Malam tadi akhirnya Angela merasa kasihan, ia memuaskan Lazarus dengan tangan dan mulutnya.
Alhasil pagi tadi Lazarus tersenyum lebar, membuat Angela menertawakannya.
"Sayang, ayo berangkat."
"Ah ya,"
Lazarus dan Angela bersama Sean berangkat menjemput Samantha.
Beberapa hari ini karena sudah tidak merasakan was-was lagi, hampir setiap hari Sean mengunjungi Samantha. Mereka berdua tak pernah ribut sekalipun, Sean berkata jika adiknya sedang sakit, dia sebagai kakak laki-laki harus banyak mengalah.
Sesampainya di Rumah Sakit, Lazarus memberitahu Angela dia tak bisa pulang bersama karena ada suatu masalah yang mendadak harus diselesaikannya.
"Lazarus, bukan masalah besar bukan?" tanya Angela khawatir.
"Tentu saja, hanya masalah tentang Perusahaan. Maaf, tak bisa pulang bersama anak-anak."
"Daddy, pergilah. Samantha akan ditemani Kak Sean. Lagipula Kak Sean lebih tampan daripada Daddy, Samantha suka laki-laki tampan," ujar Samantha.
Tak elak perkataannya membuat Lazarus dan Angela tertawa.
"Kamu tau dari mana laki-laki tampan, hah?" Lazarus mencubit pipi putrinya gemas.
"Daddy... anak zaman sekarang yang ditonton itu internet. Tentu saja Samantha lihat dari sana, aish Daddy tak sepintar kak Sean," sekali lagi Samantha membandingkan Kakak laki-lakinya dengan Ayahnya .
Lazarus menyerah menghadapi Samantha, putrinya lebih pintar bersilat lidah daripada Ibunya.
"Daddy sakit hati, daddy akan pergi. Sekarang Samantha tak sayang Daddy lagi." Lazarus cemberut.
Samantha tertawa, lalu mengecup pipi Ayahnya, "Love you Daddy, hati-hati di jalan."
Lazarus mengecup balik pipi putrinya, juga mengecup pucuk kepala putranya. Lalu ia mencium bibir Angela sekilas tapi tetap saja membuat kedua anaknya menjerit. "Daddy nakal!"
"Hahaha.... " Lazarus hanya tertawa lalu pergi meninggalkan Angela dan kedua anak kembar mereka.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita bersiap pulang. Sean, ambilkan kursi roda yang ada di sebelahmu."
Sean dengan senang hati menuruti Ibunya, "Ini Mom."
"Makasih putra Mommy yang baik."
"Samantha juga ingin memanggil Mommy, seperti kak Sean." Samantha cemberut.
"Ya, ya... mulai sekarang Samantha panggil juga Mommy. Ok," Angela menggeleng, semenjak bertemu saudara kembarnya, dari pakaian dan makanan Samantha meminta semuanya harus sama dengan Sean.
Saat masuk ke dalam Rumah, Angela merasa aneh karena di dalam Rumah terasa sangat sepi. Biasanya akan ada pelayan atau penjaga yang berlalu lalang di beberapa ruangan.
"Mommy, kenapa sepi sekali." Sean juga merasakan hal yang sama.
"Entahlah, ayo kita bawa dulu saudarimu ke kamarnya."
Sean berjalan di samping kursi roda adiknya dan Angela mendorong kursi rodanya.
Pats!
Tiba-tiba semua lampu padam.
Angela menatap ke arah Lazarus yang memakai pakaian formal dengan jas putih yang menyempurnakan penampilannya.
Lazarus mendekatinya, menekuk salah satu kakinya lalu membuka sebuah kotak yang berisi cincin di dalamnya.
"Sayang, maukah kamu menikah lagi denganku? Aku berjanji akan mencintaimu, menjagamu seumur hidupku."
Angela menatap tak percaya ke arah semua orang, tatapannya berakhir di wajah tampan Lazarus. "Ya, Lazarus."
Tepuk tangan meramaikan kediaman Lazarus, kedua anak kembar mereka pun ikut bahagia untuk kedua orang tua mereka.
*
Dua minggu kemudian, dua wanita dengan gaun pengantinnya sedang berada di ruang tunggu pengantin.
Ella dengan gaun cantiknya terlihat sangat tenang, lain lagi dengan Angela, dia terlihat sangat gugup.
"Ya ampun Jell, kamu seperti baru pertama kali menikah. Lihat kau gugup seperti ini. Harusnya aku yang gugup karena ini pernikahan pertamaku," semprot Ella karena sudah tak tahan lagi melihat kegugupan Angela yang badannya gemetar tak bisa diam.
__ADS_1
"Ella, dulu aku menikah tanpa ada perasaan pada Lazarus. Sekarang beda kan, jadi aku hanya sedikit nervous."
Tok... tok... tok...
Sheril mendorong masuk kursi roda Abraham. Hari ini Abraham sudah berjanji akan menjadi Ayah Angela dan Ella menggantikan Ayah mereka mengiringi mereka berdua ke altar.
"Kalian berdua sudah siap?" Tanya Abraham.
Angela menatap penuh terimakasih pada Ayah mertuanya itu, "Tentu Pah."
Abraham tersenyum, "Mari."
Angela dan Ella pun berjalan bersamaan dan didampingi Sheril dan Abraham.
Tepuk tangan meriah terdengar di dalam gereja yang besar itu. Semua para tamu yang ikut menyaksikan acara sakral menyambut kedua pengantin wanita.
Abraham terus mendampingin Angela dan Ella sampai akhirnya mereka berdua berhadapan dengan calon suami mereka.
Lazarus mengulurkan sebelah tangannya, memegang tangan Angela menariknya maju ke dekatnya.
Samuel juga menarik tangan Ella dan menariknya ke sampingnya.
Lazarus menatap Ayahnya, "Makasih pah... "
Abraham meneteskan air mata, dengan cepat ia menghapusnya. "Sheril, ayo."
Sheril membawa kursi roda Abraham ke tempat khusus keluarga.
Tak lama upacara dan ikrar pernikahan dimulai. Lazarus akhirnya resmi menjadi suami Angela kembali.
Samuel menatap Ella, lalu mencium bibirnya. Sangat lega akhirnya mereka berdua bisa menikah.
Lazarus tak mau kalah, setelah mencium Angela, dia membopongnya pergi berniat membawa kabur Angela dengan mobilnya.
"Albert! Jangan hubungi kami selama sebulan! Jaga anak-anakku! Jika kau berani menggangguku saat bulan madu! Aku akan potong gajimu selama 10 tahun!" Lalu Lazarus menginjak pedal gas mobil dan melajukan mobilnya yang beratap terbuka dengan perlahan pergi dari sana.
Semua orang tertawa melihat kekonyolan seorang Lazarus Abraham. Ayahnya merasa lega, akhirnya bisa melepaskan beban bersalahnya.
"Ayo Sheril, tugas kita selasai. Kita juga harus pergi."
__ADS_1
Sheril tersenyum, dia berpamitam pada Albert.