
Angela masih termenung saat lazarus keluar kamar, masih memandangi hadiah di depan matanya. Sedikit penasaran saat lazarus mengatakan tentang sesuatu dibawah perlengkapan bayinya, ia mengeluarkan satu persatu perlengkapan bayinya dari kotak.
Dibawah sana ada beberapa map, ia mengambil dan segera membukanya satu persatu. Map pertama berisi kartu-kartu kredit dan kartu lainnya juga sebuah kunci mobil.
Ia membuka map kedua, terkejut saat membukanya. Mapnya berisi surat-surat tanah dan rumah yang dulu milik Ayahnya. Beberapa obligasi atas nama dirinya dari saham-saham Ayahnya yang dibeli Lazarus syarat dari pernikahan mereka. Kini semua adalah miliknya, Lazarus memberikan padanya.
Tubuh Angela terhuyung, kepalanya tiba-tiba berputar. Tangannya meraba mencari pegangan, memegang ujung meja dengan erat. "Lazarus sebenarnya siapa kamu? Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah kau adalah pria dingin yang membiarkan anakmu mati dalam kandungan?! Apakah ini juga kompensasimu?" Angela merasa dirinya sudah tak mengenal Lazarus lagi. Bukankah mantan manajer Ayahnya bilang Lazarus lah yang membuat perusahaan brangkut, lalu kenapa semua tanah-tanah beserta semua milik Ayahnya dulu sekarang Lazarus berikan padanya?
Angela menarik nafas, dengan perlahan menghembuskannya. Ia berusaha untuk tenang. Mengambil semua map di meja, melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk menemui Lazarus. Berjalan melewati tangga, menguatkan dirinya.
"Nyonya." Semua pelayan memberi hormat saat berpapasan dengannya. Angela tak membalas sapaan mereka seperti biasa, tetap meneruskan langkahnya.
Langkah Angela terhenti saat di depan pintu ruang kerja Lazarus, mengangguk kepada pelayan penjaga pintu. Saat pintu terbuka, ia segera melangkahkan kakinya berjalan masuk. Perlahan ia mendekati Lazarus yang sedang duduk di kursinya. Lazarus memandangi dirinya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. "Lazarus... "
"Hm, duduklah." ucap Lazarus.
"Nanti, aku ingin bertanya sesuatu lebih dulu." Angela menggeleng.
Lazarus sebenarnya sudah bisa menebak pertanyaan Angela. "Tanyakanlah."
Angela melempar map ditangannya. "Apa ini? Kenapa semua ada padamu? Kenapa kau memberikannya padaku? Apa semua ini kompensasi juga?" Pancingnya, Angela ingin tau kebenaran tentang pria yang dia nikahi selama ini.
__ADS_1
Lazarus menatap sorot mata Angela yang bertekad, tapi tekad dirinya lebih kuat dari Angela. "Menurutmu? Bukankah kau sudah bisa menebaknya? Tentu saja itu semua kompensasi dariku. Angela sebenarnya kau berharap apa dariku?" sahut Lazarus dengan dingin.
Angela tak ingin menyerah, ia berjalan melewati meja semakin mendekati Lazarus. "Kau bohong Lazarus... bukankah kau selama ini perduli denganku, itu buktinya! Semua milik Ayahku kau dapatkan kembali lalu sekarang memberikannya padaku. Untuk apa kau bersusah payah mendapatkan semua itu jika kau tak perduli padaku!"
Lazarus tetap bersikap tenang. "Begitukah menurutmu, ini lihatlah! Wanita ini akan segera menjadi istriku, jadi untuk apa aku perduli padamu sekarang." Lazarus memperlihatkan foto wanita calon istri barunya.
Manik mata Angela menatap ke arah meja, pandangan matanya tertuju pada beberapa lembar foto wanita cantik dan sangat elegan.
"Kau mengerti sekarang, kau sudah bukan apa-apa bagiku sekarang Angela."
Angela menggeleng tak ingin mempercayainya, dirinya cukup yakin selama ini Lazarus memperdulikannya. "Bohong... semua ini kebohongan!" ucap Angela.
Angela tiba-tiba duduk di pangkuannya, mengaitkan kedua tangan di lehernya membuat tubuh Lazarus seketika menegang. Ia berusaha melepaskan rangkulan tangan istrinya, menariknya berdiri. "Angela lepaskan tanganmu! Apa yang kau lakukan?!"
Lazarus terhenyak, tetap dengan akal sehatnya berusaha mendorong tubuh Angela. Angela menolaknya, ciumannya semakin dalam membuat pertahanan dirinya seketika runtuh.
Tangannya bergerak memeluk tubuh Angela, hasrat di dalam tubuhnya mengambil alih. Ia semakin memperdalam ciuman mereka, lalu ciumannya berpindah ke leher istrinya.
"Ahh~~~" erang Angela membuat darah di tubuh Lazarus bergejolak hebat. Ia memangku tubuh Angela tanpa melepaskan ciumannya, membawanya ke ranjang yang ada di ruang kerjanya.
Dengan perlahan lazarus membaringkan tubuh istrinya, tangannya membelai setiap lekuk tubuh istrinya. Mencium bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
Tangan Lazarus sibuk membuka gaun Angela dan pakaian di tubuhnya sendiri. Setelah semua kain terlepas dari tubuh mereka, bibirnya dengan rakus menciumi setiap jengkal tubuh polos istrinya.
Mereka berdua sudah terbuai hasratnya, meninggalkan semua pikiran warasnya.
Tangan Angela mengusap kepala Lazarus yang sedang menciumi tubuh polosnya, menikmati setiap belaian dan ciumannya.
Lazarus mencium perut Angela, terus naik ke dadanya lehernya lalu menyatukan kembali bibir mereka berdua. Mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya, mendorong senjatanya ke dalam milik Angela. "Ahh~~~" erangnya.
Angela menyambut kepemilikannya, tubuhnya bekerjasama dengan gerakan tubuh Lazarus.
Lazarus bergerak dengan hati-hati, tersisa sedikit kewarasan di pikirannya mengingat anak di dalam perut istrinya. Tapi gerakan istrinya yang liar membuat sisa kewarasannya tak bisa bertahan. Ia menambah kecepatan gerakkan tubuh bagian bawahnya, membuat Angela mencakar punggungnya melenguh nikmat. "Lazarus~~~ahh... " erang Angela membisikkan nama Lazarus.
"Bisikkan namaku lagi Angela~~~"
"Lazarus... "
Lazarus tersenyum puas, mempertahankan ritme gerakannya dengan lama, akhirnya ia tak kuat menahannya lagi. Mempercepat gerakannya dan mencapai puncaknya.
Terdengar nafas berat mereka berdua, meresapi kenikmatan yang baru saja terjadi.
Lazarus mengangkat tubuh polosnya dari tubuh istrinya, menarik selimut menyelimuti tubuh Angela. Ia berjalan ke kamar mandi, mendinginkan tubuh dan pikirannya. Merasa sedikit menyesal karena terbuai rayuan Angela, tapi jauh di dalam lubuk hatinya sangat bahagia. "Sial!" umpatnya di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Angela yang ditinggalkan Lazarus, masih terbaring lemas. Pikirannya berprasangka, Lazarus sangat menikmatinya barusan tapi sekarang sikapnya dingin kembali padanya.