
Amanda melajukan mobilnya ke sebuah Bar, rasa takut sekaligus geram masih ia rasakan mendengar celotehan Ella padanya.
Amanda duduk di kursi bar, lalu memesan Moctail minuman tak beralkohol.
"Hai, Nona Amanda."
Lucas menyapa Amanda, saat tadi ia melihatnya dari jendela atas di kantor Perusahaannya, ia langsung menyusul turun kebawah dan tak sengaja mendengar perkataan Ella pada Amanda. Ternyata Amanda menyukai Samuel, orang yang paling dibencinya.
Tapi Lucas berpikir itu adalah kesempatannya untuk mendekati wanita penting dari orang yang paling berpengaruh dalam dunia Bisnis.
Jabatannya di Perusahaan sekarang sama dengan Samuel, ia adalah seorang Manager. Kakak laki-laki pertamanya menjabat sebagai Presdir, Kakak keduanya menjabat wakil Presdir. Kakak-kakaknya menganggap dirinya kurang mumpuni mempunyai jabatan lebih tinggi lagi, harga dirinya sebagai anak sah merasa tak bisa menerima jabatannya disamakan dengan Samuel yang hanya anak diluar nikah Ayahnya.
Tapi pekerjaan di Perusahaan memang hanya kedok untuk menutupi pekerjaan dunia hitamnya. Kedua Kakaknya akan marah besar jika tau pekerjaannya yang sebenarnya.
Lucas tersenyum ramah pada Amanda. "Kamu sendirian?" Tanyanya.
Amanda merasa tak mengenal Pria di depannya, ia tak menjawabnya dan mengacuhkannya.
Kau angkuh juga Amanda! Atau hanya ada Samuel di matamu! Cih!
"Namaku Lucas Montana, waktu itu aku datang ke pestamu. Samuel adalah saudara tiriku," Lucas sengaja menyinggung nama Samuel.
Benar saja Amanda seketika menatapnya, sorot matanya menunjukkan ketertarikan.
"Apa aku menganggumu?" Kata Lucas.
Amanda dengan cepat menggeleng, "Oh tidak, bergabunglah denganku."
Lucas duduk di sampingnya, lalu memesan Vodka pada bartender.
"Jadi... kamu dan Samuel adalah saudara?" Tanya Amanda yang tak sabar ingin menggali informasi tentang Samuel.
"Yups... saudara tiri. Dia anak haram Ayahku," jawab Lucas santai.
"Anak haram! Samuel?" Amanda tak percaya.
__ADS_1
"Hm, perkataanku valid. Kalau boleh tau sejak kapan kamu kenal Samuel? Bukankah belum lama kamu baru datang dari luar negeri?"
"Hanya kebetulan, saat aku makan di Restoran bersama Kakakku. Sepertinya Kakakku kenal dekat dengan Samuel. Tapi entahlah..." Kata Amanda.
Lucas mengerutkan dahinya, sepertinya sekarang ia tau kenapa Samuel berhasil masuk ke dalam Perusahaan dan juga diakui oleh kedua Kakaknya di keluarga Montana. Ternyata ada campur tangan dari Lazarus.
"Bagaimana kabar Kakakmu Vincent?"
"Kamu kenal dekat dengan Kak Vincent?"
"Bisa dibilang kami sering bekerja sama, sesekali menghadiri pertemuan yang sama juga. Tapi hubungan kami bisa dibilang lebih dalam juga... " tersirat sesuatu dalam perkataannya.
Amanda hanya mengangguk, "Begitu, apa kamu tau kabar Kak Vincent? Tadi Ibuku resah karena Kakak tidak bisa dihubungi selama dua hari ini."
Lucas tak menyangka akan mendapatkan beberapa informasi dari Amanda. Tapi apa ada yang terjadi pada Vincent? Jika ya, kenapa dirinya belum tau?
Mereka berdua adalah rekanan dalam berbisnis di dunia hitam. Memperjualkan-belikan senjata ilegal dan n4rkoba juga organ-organ manusia.
Seketika perasaan Lucas tak enak, ia segera berdiri. "Maaf Amanda, aku mendadak baru ingat ada pekerjaan penting. Bisakah aku meminta nomer ponselmu?"
"Baiklah Nona Amanda, sampai jumpa. Kita akan segera bertemu lagi. Kali ini aku yang traktir," Ia membayar minuman mereka lalu pergi dengan tergesa-gesa dari sana.
Saat berjalan keluar, ia menghubungi ponsel Vincent tapi tak ada jawaban.
Akhirnya ia menelepon anak buahnya, "Cepat lacak keberadaan Vincent! Dan cari tau apa yang terjadi padanya!" Perintahnya lalu ia memutuskan sambungan.
"Sialan Vincent! Jangan sampai terjadi apa-apa padamu dan membawa-bawa namaku!"
Lucas lalu melajukan mobilnya pergi dari Bar, menuju kediamannya.
"Bos!!!" Serentak para anak buah Lucas memberi hormat saat Lucas tiba.
"Katakan, apa sudah ada kabar?" Tanya Lucas pada salah satu anak buahnya seraya menuangkan Vodka ke gelas.
"Orang kita yang ada disana baru saja mencari informasi, dia mengatakan jika pihak Interpol sedang mencari Tuan Vincent. Ada seseorang yang melaporkan kegiatan ilegalnya disana."
__ADS_1
Lucas mencengkram gelas di tangannya, dengan marah melemparkan gelas itu ke dinding. "Sialan!"
"Tuan!" Salah satu anak buahnya berteriak seraya berlari membawa sebuah ponsel.
"Ada telepon masuk dari nomer yang dirahasiakan, tapi dia mengatakan dirinya adalah Tuan Vincent."
Lucas dengan cepat mengambil ponsel dari tangan anak buahnya. "Halo?"
Lama tak terdengar suara balasan dari si penelepon.
"Vincent? Apa ini kau?" Tanya Lucas.
"Ya, aku perlu bantuan Lucas. Jika kau berhasil membantuku menyelundupkan diri keluar dari sini, aku akan melakukan apapun permintaanmu!" Balas Vincent.
"Ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba pihak Interpol mengincarmu. Aku dengar seseorang melaporkanmu, apa itu Lazarus?"
"Ya, itu pasti dia! Lihat saja saat aku pulang, aku akan membunuhnya!"
"Baiklah, akan aku siapkan anak buahku yang ada disana. Apa kau bersama anak buahmu?"
"Anak buahku sudah tertangkap, hanya ada beberapa bersamaku," jawab Vincent.
"Ok, bersiaplah. Berikan lokasimu sekarang. Anak buahku akan segera tiba." Lucas lalu mencatat alamatnya.
"Ok, aku tutup teleponnya."
Lucas mematikan panggilannnya, menatap ponsel lama berpikir keras.
"Situasiku saat ini tidak aman, meskipun Vincent bisa kembali dia akan membahayakan posisiku. Bagaimana menurutmu Bird? Apakah aku harus membantunya dulu baru melenyapkannya dan mengambing-hitamkan Lazarus?" Tanyanya pada salah satu anak buahnya.
"Ide bagus, aku setuju Bos." Jawabnya.
"Kalau begitu, segera persiapkan. Culik beberapa orang untukku, aku akan memancing Lazarus dan Samuel. Aku akan mempertemukan Vincent dengan mereka semua!"
Lucas tersenyum kejam, ia akan menghancurkan mereka semua yang menghalangi jalannya sekaligus.
__ADS_1