HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
BAB 21


__ADS_3

Sean Lazarus Abraham, putra Lazarus bersembunyi dibawah tangga melihat kemarahan Ayahnya.


Albert melirik ke arahnya, mengedipkan kedua matanya menandakan untuk tetap sembunyi jangan memperlihatkan wajahnya.


Sean mengangguk, tetap berdiri menatap Ayahnya dari jauh tak berani mendekat.


Michelle menghela nafas, semakin hari kelakuan suaminya semakin membuatnya jengah, tapi apa daya dirinya sungguh tak bisa melepaskan Lazarus. Ia sangat mencintainya. "Kalian bawa kembali makanan ini ke dapur, hidangkan makanan pencuci mulut," titahnya pada para pelayan.


Semua pelayan dengan sigap membereskan semua makanan utama di meja makan, segera bergegas mengambil makanan penutup makan malam.


Lazarus hanya diam dengan wajahnya yang dingin, menatap tajam pada semua orang yang mendekatinya.


Irene wanita simpanan Lazarus yang selalu berani mendekatinya. Ia berdiri dari tempat duduknya di samping kiri Lazarus, tempat duduknya selama lima tahun ini dari saat dirinya membawa Sean Putra mereka datang ke Harem. Dirinya masih belum mendapatkan pengakuan dan belum sah menjadi istri sah kedua Lazarus, tapi dirinya terus berusaha agar segera diakui menjadi Nyonya kedua di kediaman itu.


"Sayang... kau mau aku yang buatkan makanan? Bukankah kau menyukai masakan seafood buatanku?" ucap Irene sambil berjalan ke belakang Lazarus. Tangannya dengan terampil memijit pundak Lazarus, berusaha mengambil hatinya.


Lazarus membiarkan kelakuan Irene, sudah terbiasa dengan kelakuannya yang selalu monggodanya.


Michelle menggenggam gelas ditangannya dengan erat, harusnya ia sudah terbiasa dengan kelakuan wanita simpanan suaminya itu, tapi tetap saja masih sangat menyakitkan baginya harus berbagi suami dengan wanita lain. Apalagi dirinya belum bisa memberikan anak seperti Irene, merasa dirinya tak lebih berharga. Tapi ia tetaplah Nyonya sah dirumah ini, dirinya harus tetap bersikap elegan tak terpengaruh kelakuan wanita murah4n seperti Irene.


Saat makanan penutup datang, semua mulai menikmati kembali makanan mereka.

__ADS_1


Setelah selesai Lazarus melempar serbet bekas membersihkan mulutnya ke meja, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang kerjanya diikuti Albert dibelakangnya.


Sean dengan cepat berlari dari tempatnya bersembunyi setelah melihat Ayahnya pergi dari meja makan. "Mommy," menarik pakaian Irene.


Michelle tak ingin berdiam lebih lama di meja makan setelah Lazarus pergi, ia menatap sekilas Sean lalu berjalan pergi menaiki tangga masuk ke kamarnya.


Setelah Michelle pergi, Irene menatap Sean kesal. "Kau anak nakal, kenapa bersembunyi dari Ayahmu lagi. Mommy bilang terus dekati Ayahmu, lain kali dengarkan mommy. Paham?!"


Sean mengangguk. Ia menunduk memandang lantai lalu mengetuk-ngetukan sebelah ujung kakinya ke lantai. "Iya mommy, maafin Sean."


Irene menatap Sean kesal, lalu pergi dari meja makan meninggalkan Sean sendiri.


Lazarus mengambil dokumen di meja, membaca isi dokumen dengan tidak fokus. Akhirnya ia mengangkat kepalanya menyenderkannya di bantalan kursi. Kepalanya setiap hari semakin terasa sakit, ia tidak ingin mati sebelum menemukan Angela dan anaknya. "Dimana kamu Angela... " matanya menerawang jauh, sebelah tangannya memijit kepalanya yang sakit.


Albert melihat Tuannya kesakitan terus menerus, merasa semakin khawatir. "Tuan, apakah Anda yakin tidak ingin operasi untuk mengeluarkan pelurunya? Sakit Anda semakin hari semakin parah."


"Kau dengar apa kata Theo, keberhasilanku untuk hidup hanya 15%. Jika operasinya gagal, diantara aku buta atau mati. Aku tak bisa mati sekarang, aku belum menemukan Angela dan anakku. Peluru ini tidak akan membuatku menyerah menunggu Angela."


Albert menyerah lagi membujuk Tuannya, petunjuk tentang keberadaan Nyonya Angela sama sekali tidak ada titik terang padahal selama lima tahun mereka sudah mencarinya. "Istirahatlah Tuan, saya pergi."


Seperginya Albert, Lazarus masuk ke dalam kamar tidurnya di ruang kerja. Membaringkan tubuhnya. "Angela... kembalillah," Lazarus menutup matanya, bulir air mata membasahi bantal yang ditidurinya.

__ADS_1


*


Angela sedang sibuk menyuapi Putrinya Samantha, sesuap demi sesuap. Samantha sering terbaring di ranjang rumah sakit sejak dirinya kecil, penyakit yang susah diobati. Leukemia, kanker darah.


"Bayiku sayang, makanmu hari ini banyak sekali. Apakah ingin cepat keluar Rumah Sakit lagi?" Angela mengelus sayang kepala Putrinya yang ditutupi topi rajut untuk menutupi kepala plontosnya karena rambutnya yang rontok akibat dari penyakitnya.


"Mama, mama bilang akan pergi untuk waktu lama. Apakah karena aku?" Samantha memperhatikan mimik wajah Ibunya, ia selalu tau jika terjadi sesuatu.


"Apa maksudmu sayang, mama pergi karena mama harus kerja. Bukankah kita butuh banyak uang untuk membeli banyak makanan kesukaan Samantha dan mama, iya kan?" Angela berbohong, berusaha menyembunyikannya. Putrinya terlalu pintar.


Samantha menilik wajah Ibunya, ia tau ada banyak yang ditutupi Ibunya tapi dirinya tak ingin banyak bertanya lagi. "Ya, kalau begitu saat mama datang lagi nanti, bawakan aku teddy bear besar."


Angela tersenyum. "Tentu saja, mama juga akan bawa banyak sekali permen lolipop kesukaan putri kecilku ini. Emmuach... mama sayang Samantha."


Mereka berpelukan lama, saat putrinya sudah tertidur Angela mengendap keluar ruangan kamar rawat inap putrinya.


Satu jam kemudian, Angela yang sudah merubah penampilannya memakai topeng kulit di wajahnya berubah menjadi wanita berparas biasa saja, tidak cantik dan tidak jelek. Ia memakai pakaian lusuh, berdiri di depan gerbang sebuah kediaman yang pernah dirinya tinggali, HAREM.


"Aku akhirnya kembali kesini, Angela kau pasti bisa," menatap Harem, pemandangan dari luar masih seperti dulu tapi entah apa yang akan menantinya di dalam sana.


Angela merogoh ponsel di kantong celananya, memijit sebuah nomer yang sudah tak asing lagi. "Halo, aku sudah di depan gerbang. Kau bilang aku tinggal memberikan memo ditanganku kepada penjaga? Hm baik... Kau juga tepati janjimu jaga baik-baik putriku di Rumah Sakit dan jangan sakiti Putraku." Angela mematikan ponselnya, mulai berjalan mendekati penjaga di depan gerbang.

__ADS_1


__ADS_2