HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
INGATAN LIMA TAHUN SILAM


__ADS_3

Pukul empat pagi semua para pelayan sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, termasuk Angela.


Tugasnya membantu menyiapkan bahan makanan di dapur bersama beberapa pelayan lainnya. Menyiangi bahan-bahan yang akan dimasak oleh koki-koki yang sudah ahli.


"Anak baru, bantu aku membersihkan ikan ini," teriak salah satu asisten koki.


Angela mengambilnya, dengan telaten bekerja. Sesekali mendengarkan pembicaraan para pelayan, tapi tak seorang pun yang membicarakan tentang Lazarus. Sampai waktunya istirahat siang, ia berjalan ke tempat makan, tempat para pelayan berkumpul disana.


Saat sampai disana, Angela tak mengenal seseorang yang dikenalnya. Saat ia kebingungan, Nana datang dan menariknya ke tempat pengambilan makan. "Kristine sini, ikut aku."


Saat dirinya makan sama saja, tidak ada berita atau gosip apapun. Semua mulut para pelayan terkunci, tidak ada seorangpun berani membicarakan para majikan. Mereka benar-benar mematuhi aturan tentang jangan pernah membicarakan kehidupan para majikan mereka.


Saat malam tiba, lelah bekerja keras untuk pertama kalinya, Angela membaringkan tubuhnya. Ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya apalagi kakinya yang terasa pegal, dirinya tadi banyak berdiri. "Fiuhhh... " menyelondorkan kedua kakinya.


Di kamar hanya ada dirinya, ketiga teman sekamarnya entah masih bekerja atau entah berada dimana. Ia mengambil ponselnya, menelepon nomer khusus di ponselnya. Lama tak diangkat, ia menunggu tak ingin menyerah.


"Halo... " akhirnya terdengar suara jawaban dari seberang sana.


"Kau hanya membutuhkan benda yang kau mau kan? Jika aku berhasil mengambilnya kau janji aku bisa melihat langsung Putraku. Kau jangan ingkar janji," Angela berbisik.


"Kau baru saja masuk kesana, jangan banyak menuntut! Bawakan saja barang yang aku mau! Patuhi saja semua perintahku!" nada sinis terdengar dari seberang telepon.


Angela menancapkan kukunya menembus kulit tangannya. Mencoba tidak menangis menahan semuanya. Hanya demi anak-anaknya, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Aku bertahan selama lima tahun ini menuruti perkataanmu, kau menyuruhku untuk menunggu perintahmu. Tapi selama lima tahun aku hanya mendengar suara Putraku, aku hanya ingin melihat wajahnya sekali saja. Biarkan aku melihatnya, aku mohon. Aku janji akan segera mendapatkan yang kau mau."


"Baik, tunggu kau mendapatkan barang yang kumau. Saat itu kau bahkan bisa mendapatkan Putramu, bukan hanya melihat wajahnya. Cukup! Tutup!" sambungan terputus.


Ponsel yang Angela pegang di telinganya meluncur turun karena tangannya gemetar menahan amarah, air mata lolos dari kedua matanya.

__ADS_1


"Anak-anakku yang malang, semua ini karena Lazarus! Aku tak akan pernah memaafkannya! Tak akan pernah!" meremas dadanya sakit, semua kemalangan menimpa dirinya hanya karena Lazarus.


Ia teringat lima tahun lalu saat dirinya terbangun di sebuah ruangan serba putih, alat-alat Rumah Sakit berjejer di sekelilingnya. Saat tersadar tangannya meraba perutnya, tapi hanya ada perut yang sudah rata. "Anakku! Dimana anakku! Ibu Anna! Ibu!!!" meronta mencabut semua jarum selang ditubuhnya.


Orang-orang berjubah putih lari berdatangan, seseorang memegang tubuhnya dan yang lain menahan lengannya dan menyuntikkan sesuatu padanya. Ia berteriak, semua orang terus menahannya. Akhirnya tubuhnya tak lagi memberontak hanya terbaring lemah. "Anakku... anakku... "


Seorang Pria berpakaian setelan rapi, wajahnya sangat mirip dengan Lazarus berjalan mendekati dirinya.


"Hai kakak ipar, akhirnya kita bertemu untuk pertama kalinya. Bagaimana menjadi bagian dari hidup kakakku Lazarus? Bahagiakah, haha... "


"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Kau pasti sudah tau Lazarus mempunyai seorang adik lelaki, maaf tidak datang di pernikahan kalian. Aku orang sibuk... sangat sibuk. Kau tau namaku kan? Baiklah... aku perkenalkan sekali lagi, namaku Vincent Abraham. Calon pewaris semua kekayaan HAREM. Haahaa... "


Angela tak ingin mendengarkan omong kosong Pria di depannya, hanya menginginkan anak-anaknya. "Aku tidak perduli siapa kamu, berikan anak-anakku! Dimana mereka?!"


Pria di depannya yang memperkenalkan dirinya Vincent tak menjawabnya, dia hanya tersenyum padanya. "Ah... anakmu dengan Lazarus tapi kau bilang anak lelaki lain itu. Itu juga kesalahanmu jika anak-anakmu mati! Kau berbohong pada Lazarus sampai aku ikut bodoh mempercainya!"


"Shhhtttt, kakak ipar jangan berteriak. Itu tidak baik untukmu. Kau baru saja melahirkan, ah... aku lupa, kau bahkan tidak sadar saat perutmu kami belah dan kami ambil anak-anakmu. Bahkan dua anak! Wow bravo, kau luar biasa kakak ipar. Tapi... dimana Lazarus?"


"Kau tau Kakak Ipar? Selama ini Lazarus membohongimu, dia sebenarnya tau anak yang kau kandung adalah anaknya. Tapi dia berpura-pura tidak tau itu anaknya agar ia bisa segera menceraikanmu untuk menikahi wanita lain yang lebih menguntungkan baginya daripada dirimu dan akhirnya menyingkirkan kalian! Dari awal dia hanya memanfaatkanmu! Ah... bahkan dia tau Ayahnya yang membuat Perusahaan Ayahmu brangkut hingga membuat Ayahmu mati. Lazarus menutupi semua kejahatan Ayahnya. Ups... aku lupa. Dia Ayahku juga."


"Tidak! Kau bohong! Lazarus bahkan tidak tau anak yang kukandung anaknya. Bahkan dia mengembalikkan semua aset-aset Ayahku. Jika dia memang ingin memanfaatkanku untuk apa dia mengembalikan semuanya! Lazarus tidak mungkin sejahat itu!"


Vincent semakin tersenyum lebar, membuat seluruh tubuh Angela merinding.


"Dasar wanita bodoh! Itu hanya intriknya agar kau terpedaya! Bahkan tidak lama kalian berpisah dia kembali menikah, dan kau pikir apa yang sedang dia lakukan sekarang? Dia sedang bermesraan dengan istri barunya, bahkan dikabarkan mereka pasangan yang tidak bisa berjauhan, Lazarus sangat mencintai istri barunya."


Angela menolak menerima kebenaran. "Tidak! Tidak! Kau bohong... kau bohong! Bohong... Lazarus tidak... dia tidak... " seketika matanya terasa berat, perlahan dirinya menutup mata, menutup hatinya, menutup semuanya.

__ADS_1


Angela menarik kembali pikirannya dari ingatan lima tahun silam, dengan cepat kembali tersadar dirinya sedang berada dimana. Ia mengusap air mata di wajahnya, mengambil ponsel rahasianya, mematikannya dan menyimpannya di tempat aman.


Pintu kamar terbuka, Nana dan Meta masuk dengan wajah yang kelelahan.


"Aku tidak sanggup mengurus anak itu, dia sangat aktif. Badanku remuk semua, dia mengerjaiku seharian," Nana mengeluhkan tugasnya menjaga majikan Tuan mudanya Sean, ia merangkak masuk ke dalam dengan wajahnya yang kesal.


"Maksudmu Tuan muda Putra Tuan Lazarus? Siapa namanya aku lupa?" tanya Angela.


"Tuan muda Sean, dia benar-benar anak nakal. Aku sudah tak sanggup, apalagi hari ini dia membuat keributan, mencari Ibunya yang tiba-tiba hilang."


Angela penasaran, ia berusaha untuk tenang. "Ibunya? Nyonya kedua itu?" terus mengorek informasi yang kurang lebih dirinya sudah tau.


"Huh! Nyonya kedua apa. Sini aku bisikkan info yang terbaru," Nana membisikkan berita tentang keributan semalam yang dilakukan Irene.


Angela membulatkan matanya, mencerna informasinya. "Jadi Nyonya Irene ini belum dinikahi dan belum menjadi Nyonya sah. Lalu semalam ada kejadian di ruang kerja Tuan Lazarus tapi sebelum keributan itu terjadi seorang pelayan melihat Nyonya Irene keluar dengan wajahnya yang ketakutan. Begitu?"


"Ya... aku tadi mendapatkan gosipnya dari temanku di bagian dalam. Saat itu temanku sedang mengambil seprai baru yang diminta istri Tuan Lazarus, Nyonya Michelle."


Pikiran Angela berputar-putar, memikirkan semuanya.


"Hari ini tidak diketahui keberadaan Nyonya Irene, tapi kabarnya dia melarikan diri," ucap Nana.


"Hei sudah, jangan bergosip lagi. Nanti ada yang mendengar," Meta yang sedari tadi diam saja mengingatkan Angela dan Nana.


Mereka bertiga akhirnya bersiap untuk tidur setelah bergantian mandi, membersihkan tubuh lengket mereka karena berkeringat saat bekerja.


Tak lama setelah mereka bertiga tertidur, pintu kamar terbuka dan seseorang masuk ke dalam, dia mendekati Angela yang tertidur di lantai beralaskan kasur kecil.

__ADS_1


__ADS_2