HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
BERHATI-HATI


__ADS_3

Saat acara pesta masih berlangsung, Lazarus masih betah berlama duduk di dekat Angela.


"Lazarus, aku datang."


Suara seseorang yang tidak disangkanya akan datang membuatnya menautkan kedua alisnya.


"Hm." Lazarus hanya menatap sekilas Michelle.


Michelle tetap tersenyum meskipun tidak disambut baik oleh Lazarus, "Lazarus, bisakah kita rukun hari ini demi adikmu. Tadinya aku tidak ingin datang, tapi Amanda sendiri yang datang kerumah Papaku mengundangku langsung. Aku tidak akan menganggumu dengan wanita barumu," Michelle mengecilkan volume suaranya, meskipun ingin berteriak mencaci maki wanita yang berada disamping Lazarus tapi ia adalah wanita kelas atas tak ingin mempermalukan citra dirinya sendiri.


Lazarus memandang Angela seakan meminta ijin untuk hari ini saja dirinya harus melakukan akting suami istri dengan Michelle.


Angela tersenyum.


"Baiklah, mari temui Amanda dan Papa," Lazarus lalu bangun dari duduknya, mendekati Michelle.


Michelle merasa senang, dengan cepat tangannya menggandeng lengan suaminya.


Lazarus membiarkannya, ia yakin Michelle tak akan berbuat macam-macam.


"Amanda," panggil Michelle begitu melihatnya.


"Kak Michelle!"


Amanda berseru girang, Michelle adalah kakak ipar kesayangannya. Meskipun hanya beberapa kali bertemu, mereka berdua dari segi apapun sangat cocok.


"Kenapa baru datang, pesta sudah lama dimulai," protes Amanda seraya menggandeng lengannya.


Lazarus terselamatkan, kini Michelle tak menempel lagi padanya. Ia melirik ke arah Angela, melihatnya sedang tertawa bersama putra mereka membuatnya tersenyum bahagia.


"Kakak, Papa memanggilmu," ucap Amanda memanggil Lazarus.


"Ya." Lazarus mendekati Ayahnya.


"Sekarang semua keluarga sudah berkumpul, mari makan bersama, biarkan pelayan melayani para tamu. Bawa juga Putramu!" Abraham memberi perintah.


Lazarus hanya mengangguk, ia berjalan kembali ke meja Sean.


"Sean, mari pergi. Kakek mengajak kita makan bersama. Kristine kau ikut juga. Sean mesti kamu jaga disana," ucap Lazarus.


Angela menurutinya, ia menggandeng tangan Sean dan pergi mengikuti Lazarus untuk bergabung bersama keluarga inti.


Angela gugup karena baru pertama kali dirinya bergabung bersama keluarga Lazarus. Dulu saat masih menjadi istri Lazarus, ia tak pernah diinjinkan menginjakkan kakinya di kediaman utama.

__ADS_1


Ayah mertuanya tak menyukainya entah kenapa, tapi sekarang dirinya tau karena Ayah mertuanya lah yang membuat Perusahaan Ayahnya bangkrut sampai Ayahnya meninggal. Mungkin itu sebabnya Ayah mertuanya tak menyukainya, karena dirinya putri dari orang yang berani menolak keinginannya.


Sedangkan Lazarus melupakan fakta itu, ia baru tersadar saat melihat langkah Angela yang ragu mengikutinya.


"Sayang, tatap aku sebentar. Kamu percaya padaku kan? Meski itu Ayahku sendiri, jika dia menyakitimu dan anak-anak kita, aku tak akan memaafkannya. Vincent tidak ada, hanya ada Ibunya. Tetap bersikaplah seperti pengasuh Sean, jangan memperlihatkan rasa takutmu juga. Kuatlah, aku bersamamu." Bisik Lazarus.


Angela menatapnya, melihat kebenaran dan keyakinan di mata Lazarus. Ia menguatkan hatinya menghadapi orang-orang yang pernah menyakitinya.


Satu meja besar dengan belasan kursi terjajar rapi di pinggirnya. Di atas meja sudah tersaji berbagai makanan, membuat Sean berceloteh senang.


"Yeay... ada kepiting! Sean suka... "


Lazarus tersenyum, dengan refleks mengacak rambut putranya.


Kelakuannya ditatap tajam oleh Marry, merasa heran setelah kepergian Irene dan Michelle begitu cepat Lazarus dan Putranya akrab.


"Sean tenanglah, jangan bising. Kita akan makan!" Bentak Abraham pada cucunya.


Sean menunduk, segera memanjat kursi dengan dibantu Angela, ia duduk dengan tenang.


Angela mundur, ikut berdiri di belakang bersama barisan para pelayan begitu pula Albert. Kecuali keluarga inti, tidak boleh ada yang bergabung di meja makan. Itu sudah aturannya, tentu saja Angela juga tau.


Lazarus merasa tak enak, tapi ia tak bisa bertindak apapun. Sebisa mungkin ia tak ingin memperlihatkan emosinya.


Tunggu saja! Aku akan mencari kelemahan Lazarus! Kita lihat saja nanti! Kau hanya seorang pelayan, beraninya ingin berebut pria denganku! Janji Michelle dalam hatinya.


Mereka semua mulai menyantap makanan mereka.


"Michelle, bagaimana kabar Ayahmu?" Abraham bertanya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Baik pah, beberapa hari lagi Papaku ulang tahun. Jadi aku pulang kerumah orang tuaku sudah beberapa hari ini. Sebenarnya jika Lazarus merindukanku, aku akan segera pulang tidak mau tinggal lama di rumah orang tuaku," kata michelle sedikit memberikan informasi kepada Ayah mertuanya jika rumah tangganya sedang tidak baik.


Mata Abraham seketika melirik Lazarus.


Lazarus tetap mengunyah makanannya dengan tenang, tak ingin terprovokasi oleh perkataan Michelle.


Michelle merasa kesal ia diacuhkan Lazarus, pikiran jahatnya langsung datang. Ia memanggil Berta asistennya.


"Berta kemarilah, ambilkan aku sesuatu." Panggilnya.


Berta yang berbaris di belakang bersama pelayan lain, segera maju mendekati Nyonya-nya.


"Anda perlu apa Nyonya?"

__ADS_1


"Bawakan air panas, aku sedikit tidak enak badan," ucapnya keras, tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arah Berta membisikkan sesuatu.


Berta mengangguk, ia pergi dari sana ke arah dapur. Tak berapa lama ia membawa sebuah air putih panas di sebuah gelas.


Dia berjalan melewati jajaran pelayan termasuk melewati Angela. Berta berpura-pura kakinya tersandung, air putih panas di tangannya tumpah ke arah tubuh Angela.


Lazarus melihatnya, baru saja akan bangkit dari tempatnya duduk untuk menolong, ia duduk kembali.


Albert bergerak cepat, ia menghalangi tubuh Angela yang akan terkena tumpahan air panas. Alhasil air panas itu membasahi kemeja putih yang dipakainya. Punggungnya sedikit terasa perih, mungkin kulitnya sedikit terbakar.


"Tuan Albert! Anda tidak apa-apa?" Tanya Angela masih terkejut dengan situasi barusan.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Albert mendekati Lazarus, "Tuan, saya permisi sebentar. Saya akan berganti pakaian, lalu kembali kesini," pamitnya


"Pergilah." Ucap Lazarus.


Setelah kepergian Albert, suasana tenang kembali. Hanya mata Sheril dan mata Lazarus yang menatap kesal pada Michelle.


Sheril pamit pada Abrahan ingin ke toilet, ia dengan cepat bangun dari duduknya dan pergi dari meja makan. Ia mengikuti Albert dengan tak kentara, masuk ke dalam ruangannya.


"Albert, kau tidak apa-apa nak?" Sheril yang baru masuk melihat Albert sedang membuka kancing kemejanya.


"Tidak Bu, aku baik-baik saja."


Sheril tidak percaya, dengan paksa ia menarik kemeja Albert memperlihatkan luka merah akibat tumpahan air panas tadi.


"Michelle! Ada apa dengannya? Sebenarnya situasi apa yang terjadi di ruangan makan tadi?" Kata Sheril sambil berjalan mencari salep luka bakar.


Albert tak berniat menjawab Ibu angkatnya.


Sheril membawa salep di tangannya, segera mengolesi punggung Albert. "Kenapa tak menjawab Ibu?" Sheril merasa heran Albert tak menjawabnya.


"Apa Lazarus sudah menemukan Angela dan anak mereka?" Selidik Sheril.


"Belum, kami masih mencari keberadaan mereka," jawab Albert bohong.


"Dengan diculiknya Angela dulu oleh Vincent dan Ibunya saat akan melahirkan, membuat kebencian Lazarus pada Marry dan putranya semakin dalam. Kau sudah benar dulu mendengarkan perintahku. Saat Peter pengurus rumah suamiku mengatakan padamu bahwa keadaan Angela sedang terdesak, tapi kamu tetap bungkam tak memberitahu Lazarus. Kamu memang putraku yang berbakti," Sheril tersenyum bangga.


"Lalu, kapan dokumen berisi kejahatan-kejahatan Vincent diberikan ke interpol? Bukankah kemarin kamu bilang sudah siap semuanya, Lazarus akan segera membalas Vincent."


"Tunggu saja Ibu, kamu akan mendapatkan kabar baik secepatnya. Sekarang Vincent sudah tak bisa berkutik di tempatnya berada," Albert menghela nafasnya berat, mengingat kejahatannya dulu kepada Lazarus.

__ADS_1


__ADS_2