
Angela yang ditinggalkan Lazarus, masih terbaring lemas. Pikirannya terus berprasangka, Lazarus sangat menikmatinya barusan tapi sekarang sikapnya dingin kembali padanya. Dirinya mencoba mencerna kembali sikap Lazarus padanya selama menikah, memang banyak sekali keanehan.
Angela masih terganggu dengan pikiran-pikirannya saat Lazarus keluar dari kamar mandi. Tubuh polos bagian bawahnya hanya dililit sebuah handuk yang tidak bisa menutupi betis berototnya, rambut basahnya menutupi sebagian matanya terkesan berantakan tapi terlihat sangat segar. Bagian atas tubuh Lazarus yang kekar menggodanya untuk menyentuhnya, serta perut lazarus mengundangnya untuk memakannya terlihat seperti roti sobek kesukaannya, sangat menggiurkan.
Semenjak menikah ia tak pernah menyukai Lazarus, pemandangan hebat seperti sekarang tak pernah mau dirinya saksikan. Dulu saat ia melihatnya terkesan biasa saja, hanya sekedar melayani Lazarus di atas ranjang sesuai kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi kenapa sekarang dirinya bahkan ingin menarik paksa tubuh seksi pria di hadapannya ini dan menidurinya kembali?
Kau sudah gila Angela! Meniduri katamu! Hei sejak kapan otakmu berubah mesum! Mengomeli dirinya sendiri.
Lazarus tak menyadari pikiran mesum istrinya, ia mendekati Angela di ranjang, bisa melihat kedua mata Angela yang mengaguminya. Dalam hatinya merasa luar biasa bahagia, tapi kenyataan tak seindah kemauannya. Memikirkan lagi ancaman Ayahnya dan semua bahaya jika Angela terus bersamanya. Kekuasaan dan kekuataannya belum bisa mengalahkan semua musuh-musuhnya. Lazarus menghembuskan nafas beratnya.
Lazarus berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil jubah lalu melemparkannya pada istrinya dari jauh, ia tak ingin mereka berdua berdekatan. "Mandilah, setelah itu kita bicara lagi. Hanya bicara! Jangan mencoba melakukan apapun lagi," menekankan kata-katanya, dirinya takut tubuhnya tidak menuruti pikirannya kembali.
Angela menurutinya, mengambil jubah dengan sebelah tangan dan tangan lainnya menahan seprai putih yang melilit tubuh polosnya. Ia turun dari ranjang, berdiri lalu melangkah mendekati Lazarus masih dengan sorot mata memujanya.
Lazarus memundurkan tubuhnya saat istrinya mendekatinya, perasaan gugup dan tak percaya diri menghampirinya. Dalam hidupnya Angela lah satu-satunya orang yang bisa membuatnya seperti sekarang. "Angela! Aku peringatkan menjauh! Jika tidak ingin aku menyakitimu lagi!"
Langkah Angela seketika terhenti, menatap mata Lazarus. "Kau ingin menyakitiku, seperti kemarin? Bukankah kau melakukannya karena cemburu? Bukankah karena kau mencintaiku?" Pancing Angela kembali.
Lazarus tak akan terpancing untuk kedua kalinya. "Cemburu? Kau tau watakku Angela! Kau sudah melihat semuanya selama ini bukan? Aku adalah Lazarus, apapun yang ingin kumiliki harus kumiliki, jika ada yang menyentuh barang milikku aku akan menghancurkannya atau membuangnya. Kau sama seperti barang-barangku, kau sudah disentuh lelaki lain, bukankah sudah sepantasnya kemarin aku marah dan membuangmu."
"Sekarang pergi! Bersihkan tubuhmu!" Lazarus dengan cepat berjalan ke lemari pakaian dan mengambil sepasang pakaian untuk dirinya sendiri lalu berjalan keluar ruangan tidur dengan tergesa-gesa tak ingin kecolongan lagi.
Mendengar ucapan kejam Lazarus, membuat hatinya sekali lagi merasa sakit. Meskipun akal sehatnya mengatakan perkataan Lazarus padanya sepertinya bukan yang sebenarnya.
Angela menarik nafas dalam, memikirkan semuanya membuat kepalanya sakit. Ia akhirnya menyeret tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.
Lazarus menekan tombol telepon rumah di meja kerja, memerintahkan Albert untuk menyuruh Greta membawa satu set pakaian untuk Angela dari kamarnya dilantai atas juga memerintahkan membawa segelas kopi dan susu hangat untuk istrinya.
__ADS_1
Lazarus bergegas memakai pakaiannya, menunggu Angela dengan pikiran yang matang, dirinya tidak akan terjebak lagi.
Tok tok tok...
"Masuk!"
Greta dan seorang pelayan masuk, pelayan itu berjalan ke arah meja sofa dan menaruh satu persatu gelas yang dibawanya di tangan.
Greta berjalan menghampiri Lazarus di meja kerjanya. "Tuan, pakaian Nyonya."
"Masuklah bawa ke dalam, simpan saja disana."
Tanpa banyak bertanya Greta masuk ke dalam ruangan tidur Tuannya, menaruh pakaian Nyonyanya lalu kembali keluar.
Saat Greta keluar, Ia melihat pelayan yang masuk bersamanya sudah pergi, ia pun undur diri.
Lazarus memeriksa arloji di pergelangan tangannya, Ia sudah menunggu istrinya hampir satu jam. Merasa khawatir terjadi apa-apa karena terlalu lama, ia bangkit dari duduknya ingin memeriksanya, tepat saat itu istrinya keluar ruangan.
"Duduklah di sofa, susunya sudah dingin. Kau mau aku perintahkan lagi membuat susu hangat yang baru?" tanya Lazarus.
"Tidak usah, sebaiknya kita cepat selesaikan masalah ini." Angela berjalan ke sofa, mendaratkan tubuhnya disana.
Lazarus membawa surat cerai yang sudah ia tanda tangani di tangannya, membawanya ke hadapan Angela. "Ini, tanda tangani. Perjanjian pertama sudah kau tepati. Aku juga menepati janjiku menceraikanmu." ujar Lazarus sembari duduk di sofa bersebrangan dengan duduk istrinya. Menyilangkan sebelah kakinya, seolah bersikap santai.
Angela mengambil surat cerai yang tergeletak di meja, membaca semua syarat-syarat perjanjian mereka berdua di dalamnya. "Kau bilang jika aku keberatan dengan syarat-syaratnya, kau tidak akan menceraikanku meskipun aku mengandung anak lelaki lain. Apakah perkataanmu masih berlaku? Aku tidak ingin bercerai sekarang... "Angela melempar kembali surat cerai di tangannya ke meja.
Lazarus menatap dalam Angela, memikirkan perkataan istrinya. "Tidak! Perkataanku sebelumnya sudah tidak berlaku. Pertama, sekarang aku yang benar-benar ingin bercerai darimu. Kenapa? Karena aku harus mematuhi perintah Ayahku menikah kembali dengan wanita pilihan darinya. Bukan hanya itu, aku membutuhkan pernikahan keduaku untuk memperluas bisnisku. Kau tau calon istri baruku adalah pewaris dengan sumber kekayaannya yang melimpah. Kau tau watakku, uang adalah segalanya bagiku."
__ADS_1
"Kedua, jika kau berkeras tidak ingin bercerai. Baiklah... tapi ada syarat tambahan. Kau gugurkan anak di dalam kandunganmu dengan lelaki lain dan aku akan tetap menikah kembali dan membawa istri keduaku kesini. Kalian berdua harus hidup berdampingan, kau bersedia?" kenyataannya mengatakan semua itu kepada istrinya, membuat Lazarus menderita dan hatinya hancur.
Angela menatap tak percaya pada pria di hadapannya yang masih berstatus suaminya itu. Betapa mudahnya dan teganya semua kalimat itu keluar dari mulutnya. Dirinya tak kuasa lagi menahan emosinya dan tak ingin mendengar lebih banyak lagi perkataan Lazarus padanya.
Angela mengambil surat cerai lalu menandatanganinya. "Lazarus tadi saat di dalam mobil kau bertanya padaku, apakah aku akan menyesal? Jawabanku sekarang tetap tidak! Sekarang aku akan bertanya padamu, apakah kau tidak akan menyesalinya?" Angela hanya melemparkan pertanyaan tanpa ingin mendengar jawabannya. Ia menarik tubuhnya, berdiri dari duduknya. Menatap Lazarus untuk terakhir kalinya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tanpa ada keinginan berbalik kembali.
Setelah pintu tertutup, ucapan terakhir Angela masih terus melekat di pikirannya. "Menyesal? Aku sudah pasti menyesal, menyesali semua penderitaan yang terjadi padamu. Tapi sekarang aku mengerti, memaksamu menikahiku hingga membahayakanmu aku tak menyesalinya, karena kehadiranmu dalam hidupku dan juga kehadiran anak kita di rahimmu adalah satu-satunya yang tak pernah aku sesali sekarang. Angela... cintaku... "
Angela tak ingin berlama-lama lagi tinggal, ia segera meminta Greta menyampaikan ucapannya kepada Lazarus bahwa dirinya akan segera pergi malam itu juga. Lazarus mengijinkannya.
Sekitar dua jam perjalanan, Angela akhirnya sampai di rumahnya dulu saat bersama Ibu dan Ayahnya. Ia segera membuka gembok pintu lalu mendorong pintunya.
Sebelum masuk Angela melihat ke Ibu susu Lazarus yang ikut dengannya. Melihat kebaikannya, ia menyetujuinya saat Greta bilang Ibu susu Lazarus yang akan menemaninya di rumah yang ia tinggali mulai sekarang.
"Ibu Anna, ayo masuk," ajaknya menggandeng lengan Ibu susu Lazarus yang bernama Anna.
Anna tersenyum, mengikuti langkah Angela masuk ke dalam rumah. "Nak, ini rumahmu dari sejak kecil?" tanyanya sambil berkeliling melihat isi ruangan.
"Ya bu, dulu kamarku di lantai atas tapi karena sekarang aku hamil sepertinya aku akan tinggal di kamar bawah. Ibu pilihlah kamar yang ibu suka, ada dua kamar di lantai atas dan tiga kamar dibawah."
"Baik, ibu akan melihat lihat ke lantai atas lebih dulu." Anna menaiki satu persatu anak tangga sampai ke atas. Melihat ke arah bawah tangga memeriksa keberadaan Angela, melihat Angela sedang berbicara dengan asiten Lazarus Albert. Anna tersenyum kejam lalu melangkahkan kakinya ke dalam salah satu kamar dan menutup pintunya.
Anna mengambil ponsel lipat yang ia ikat di dalam stoking kakinya, menghidupkannya lalu menekan salah satu tombol. Mendekatkan ponsel pada telinganya, menunggu salurannya tersambung. "Pecahkan batu dengan darah," terdengar kode dari seberang telepon, menandakan teleponnya tidak salah alamat.
"Darah dibalas darah, nyawa dibayar nyawa," jawabnya. Ia terus berbicara di telepon, sesekali mendengarkan perintah selanjutnya.
Anna mengakhiri teleponnya lalu tersenyum kejam. "Kau harus bersyukur Lazarus, anak yang dikandung Angela sekarang bukan anakmu. Jika dia mengandung anakmu, maka untuk kedua kalinya anakmu akan kubunuh. Jangan salahkan aku! Salahkan Ayahmu, dulu dengan tega membunuh anak yang aku lahirkan, darah dagingnya sendiri! Hanya karena aku seorang pelayan! Aku harus menerima semuanya bahkan dengan tega Ayahmu menyuruhku menyusuimu! Jika bukan karna janji Nyonya kedua yang akan membalaskan dendamku, saat kau bayi, aku sudah membunuhmu! Ah... anakku yang malang, sebentar lagi sayang, Ibu akan menghancurkan semua milik Ayahmu Abraham! Dia akan segera menangis darah,haha... "
__ADS_1
Anna tertawa dengan puas, sorot matanya kejam dan tak waras. Kesakitan di dalam hatinya sudah menggorogoti jiwanya.