HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
RENCANA LAZARUS


__ADS_3

Seketika wajah Lazarus berubah serius. "Aku menemukan Angela kita. Angela-ku... " ia tersenyum penuh kebahagian.


Samuel yang terkejut seketika berdiri, lalu duduk kembali. Tubuhnya gemetar karena terlalu senang, ia memeluk Lazarus. "Lazarus... terimakasih. Terimakasih... hiks... " seketika Samuel menangis.


Lazarus tadinya ingin mendorong tubuh Samuel yang memeluknya, tapi teringat perjuangan Samuel saat mencari Angela dengan putus asa sama seperti dirinya. "Hhhh... " akhirnya ia menepuk punggung Samuel.


Samuel melepaskan pelukannya dari Lazarus, menghapus airmata yang lolos dari matanya. "Ah kenapa aku begini? Aku benar-benar sangat bahagia. Aku hany-- " perkataannya tersekat, ia sangat terharu.


"Aku akan menceritakan semuanya. Dimana Angela sekarang dan aku butuh bantuanmu juga," Lazarus mulai menceritakan awal pertemuannya kembali sampai menceritakan keadaan Angela saat ini.


Samuel mendengarkan dengan wajah serius, setelah Lazarus mengakhiri ceritanya ia menatap Lazarus. "Kau yakin Angela mempunyai motif tersembunyi saat datang lagi sekarang?"


Lazarus mengangguk. "Sangat yakin. Saat aku memancingnya, dia bahkan menggodaku. Kami, hem... bersama. Uhuk... Kau mengerti kan?"


Samuel memutar bola matanya, "Kau benar-benar pria mesum! Baru bertemu dan hal yang pertama kau lakukan adalah 'itu'. Sialan kau!"


"Hei! Bukan aku yang mau, tapi juniorku sudah tak mengeluarkan semburannya selama lima tahun! Bayangkan kau tidak meniduri Ella selama lima tahun, aku jamin junior-mu akan lebih sekarat dariku! Huh!" Lazarus membenarkan perilakunya.


Lazarus benar, ia tanpa Ella tidak akan bisa bertahan seperti Lazarus. Bukan hanya sekarat, ia akan mati mengenaskan. "Jadi bantuan apa yang kau perlukan dariku?" Tanya Samuel.


"Seperti perkataanku tadi, Angela datang bukan karena dia mencintaiku. Aku harus berhati-hati disekitarnya, kau tau sifatnya. Aku membutuhkanmu dan Ella untuk mendekatinya. Berpura-pura tak mengenalnya, biarkan dia terbuka sendiri padamu. Jika aku yang mendekatinya sekarang, sepertinya akan butuh waktu lama."


Samuel mengangguk, ia mengerti. "Baiklah, apa rencanamu sekarang?"


"Dua hari lagi di kediaman Utama akan ada pesta penyambutan kembalinya Amanda. Hanya para tamu dari kalangan atas yang akan berada disana. Datanglah, aku akan berikan undangannya. Kau sekarang bukan lagi keluarga yang dibuang, kau sudah tak dianggap sebelah mata lagi oleh keluargamu. Kau sekarang sudah menanam akarmu di keluarga Montana."


"Semuanya berkat bantuanmu Lazarus, terimakasih atas semuanya."


"Sudahlah! Kepada teman tidak pantas selalu berterimakasih, bukan?" Lazarus tersenyum.

__ADS_1


Samuel tersenyum mengejek. "Teman? Kau dan aku? Yang benar saja! Hei! Apa yang disebut teman itu masih mengirimkan bawahanmu mengikuti dan mematai-mataiku? Itu namanya teman yang tidak tau malu! Ckkk... "


Lazarus tergelak mendengarnya. "Haha ternyata kau tau bawahanku masih mengikutimu. Samuel, aku bukannya tidak percaya padamu! Tapi aku tidak percaya pada Angela... jika saat dia menemuimu lalu memintamu agar jangan memberitahuku, kau pasti menurutinya kan?"


Samuel pikir perkataan Lazarus memang ada benarnya, bagaimanapun perasaan Angela yang terpenting. Meskipun ia tau perasaan Lazarus pada Angela tulus, tapi saat Angela mengetahui perasaan Lazarus padanya, bukankah bukan berarti Angela akan menerima perasaan Lazarus atau bahkan mungkin tak bisa memaafkan kelakuan Lazarus dulu padanya meskipun itu hanya sebuah sandiwara?


"Baiklah, ikuti rencanamu saja. Aku akan mengajak Ella ke pesta itu." Jawab Samuel mengiyakan rencana Lazarus.


"Ok, sekarang aku harus pergi. Amanda menungguku," ucap Lazarus seraya berdiri.


Samuel ikut berdiri, "Kabari aku kalau ada apa-apa." Ia Menepuk lengan Lazarus.


Lazarus mengangguk, ia segera berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Ia memeriksa situasi diluar ruangan, segera melangkahkan kakinya melewati pintu saat merasa aman.


Samuel yang ditinggalkan Lazarus duduk kembali, mengingat kembali kejadian lima tahun silam.


*


Saat mendengar kabar dari temannya Daniel, Angela yang keluar dari Harem, Samuel segera memberitahukannya pada Ella. Ia melacak keberadaannya, tak lama dirinya mengetahui jika Angela tinggal di rumah lamanya.


Tapi berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia hanya bisa mengawasi dari jauh. Saat pertama kali menemukan keberadaan Angela ia segera menyerbu ingin masuk kerumah, tapi dihalangi para pria berbaju hitam seperti pengawal, hanya saja para pengawal itu bersembunyi.


Angela tak pernah menghubunginya, ia mencoba menghubunginya pun tak pernah tersambung, menghubungi lewat email pun tak pernah ada balasan. Mengingat perkataan Angela padanya saat keluar kamar hotel agar ia dan Ella bersembunyi, sepertinya Angela sengaja mengganti nomer ponselnya agar dirinya dan Ella aman.


Saat dirinya pergi menemui Ella pulang ke Apartemen mereka, ia menyesali hari itu. Disaat ia kembali ke rumah Angela, seluruh rumah sudah terbakar oleh api. Ia keluar mobil berteriak memanggil semua orang, tapi tak ada jawaban.


Dengan membuang akal pikirannya, ia mengenderai mobilnya melaju kencang ke tempat kediaman Lazarus, Harem.


Saat sampai di Harem, ia menabrak gerbang depan dengan mobilnya. Saat keluar dari mobil, ia membanting pintunya dengan amarah yang tak bisa ditahan lagi. Para pengawal yang berada disana menyerbunya, mengarahkan pistol mereka padanya. "Aku Samuel, katakan pada Tuan kalian. Biarkan aku bertemu dengannya!" Teriaknya.

__ADS_1


Para pengawal tidak ada yang mau mendengarnya, ia berteriak kembali. "Lazarus! Keluar kau bajingan! Katakan dimana Angela! Keluar kau!"


Tiba-tiba seorang pria berkacamata berjalan mendatanginya, "Berhenti berteriak, ikuti aku!"


Samuel segera mengikutinya ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya ruang kerja, di dalamnya berserakan barang-barang yang sudah hancur. Ia terus mengikuti langkah Pria di depannya memasuki sebuah kamar tidur.


"Lihatlah, kau ingin bertemu Tuan kan?" Ucap pria itu dengan tatapan matanya menatap ke suatu arah.


Samuel mengikuti arah tatapan pria itu, terhenyak melihat pemandangan di depan matanya. Semua pakaian Lazarus bersimbah darah, yang mengenaskan adalah kedua telapak tangannya. Terlihat luka-luka sayatan yang menganga besar, masih mengeluarkan darah yang tidak dihentikan. "Lazarus... kenapa dia?" Tanyanya.


Pria yang mengajaknya ke dalan membalas ucapannya. "Saat tadi Tuan tau Nyonya Angela akan melahirkan, ia sangat khawatir tapi juga bersemangat ingin segera menemuinya, lalu kami segera berangkat. Tapi saat diperjalanan ingin memeriksa keadaan Nyonya, kami segera menelepon pihak Rumah Sakit. Mereka bilang Nyonya yang akan melahirkan belum juga datang. Kami berputar arah menuju kediaman Nyonya, merasa ada sesuatu yang salah. Tapi saat kami melewati jalan menuju Rumah Nyonya, semua kejadian mengenaskan itu sudah terjadi. Nyonya kami hilang, mencari kemana-mana selama beberapa jam tapi tak menemukannya. Saat pulang Tuan menyakiti dirinya sendiri seperti yang Anda lihat sekarang." Suaranya sarat kesedihan.


"Tuan Lazarus sangat mencintai Nyonya Angela, selama ini semua yang dilakukan Tuan demi kebaikan Nyonya." lanjutnya.


Samuel kemudian mendengar semua cerita tentang pertama kali Lazarus bertemu Angela yang menyelamatkannya, lalu kedua kalinya di pesta juga semua kelakuan pura-pura Lazarus yang kejam dan semua kejadian yang selama ini menimpa pada Lazarus dan Angela.


Tubuh Samuel gemetar, ia tak menyangka selama ini Lazarus selalu menjaga Angela, selalu mencintainya.


"Namaku Albert, Tuan Samuel Montana."


"Kau kenal aku?" Ucap Samuel.


"Semuanya Tuan. Bahkan Tuan Lazarus sudah tau sandiwara Anda dengan Nyonya. Tuan pernah bilang ingin berterimakasih karena Anda selalu menjaga Nyonya."


Ia masih tak percaya mendengar semuanya, ternyata selama ini kabar buruk tentang Lazarus semuanya tidak benar. "A-ku ak--" suara Samuel tercekat tak bisa meneruskan kata-katanya.


"Begini saja, sekarang saya sibuk. Saya harus mengurus Tuan Lazarus. Jika memungkinkan, saya akan menghubungi Anda. Tuan Lazarus sangat ingin membantu Anda mendapatkan hak Anda di keluarga Montana."


Sekali lagi Samuel terhenyak, tak menjawabnya. Ia benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Dirinya berbalik badan pergi dari sana, tak sanggup lagi melihat keadaan Lazarus yang menyedihkan.

__ADS_1


KILAS BALIK LIMA TAHUN LALU OFF.


__ADS_2