
Selesai makan Angela membawa Sean ke kamarnya, membersihkan wajah mungilnya. "Tuan Muda, mau saya bersihkan giginya juga?"
Sean menggeleng. "Aku sudah besar Bibi, aku bisa sendiri." Sean mulai membersihkan gigi susunya, membuat Angela gemas.
Angela sejenak melupakan kesedihannya mengingat Putranya dengan mengurus Sean, hanya berharap hari dimana dirinya bertemu Putranya akan segera tiba.
Angela membenarkan selimut Sean yang beberapa menit lalu baru saja terlelap. Sean terus saja menanyakan Ibunya, ia hanya bisa berbohong mengatakan jika Ibunya sedang ada pekerjaan diluar.
*
Dengan wajah kesal Michelle masuk ke dalam ruangan kerja Lazarus, mendekatinya di meja. "Kau akan terus seperti ini Lazarus!? Saat kau membawa Irene wanita mur4han itu dan anaknya aku menerimanya karena Ayahmu menginginkan seorang cucu laki-laki! Tapi sekarang bahkan kau menggoda seorang pelayan! Kau keterlaluan Lazarus! Aku sudah bosan mengalah! Aku sangat mencintaimu... sampai kapan kau memperlakukanku begini?"
Akhirnya waktunya tiba, Lazarus dengan tenang menutup dokumen yang sedang dibacanya. Mengangkat wajahnya, menatap tajam wanita yang berstatus istri sah-nya. "Michelle." Menjeda kata-katanya.
"Menurutmu kau berhak mengatakan semua ini padaku? Bukankah kau juga menerima Irene disini karena dia tau rahasiamu? Menurutmu kalau Irene saja tau, apakah aku tidak?" Tatapan tajam Lazarus tak pernah lepas dari wajah istrinya.
__ADS_1
Michelle terhenyak, seketika tubuhnya terhuyung. Tangannya dengan cepat mencengkram meja menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, telapak tangannya basah oleh keringat dingin.
Selama ini Lazarus tau?! Michelle ketakutan.
Lazarus bangun dari duduknya, berjalan perlahan mendekati Michelle.
Michelle berbalik badan, tubuh belakangnya bersender di meja, bergetar ketakutan.
Lazarus mengukung tubuh Michelle, menghalangi Michelle kabur dengan kedua tangannya. "Michelle... menurutmu apa yang akan terjadi kalau aku membuka rahasia gelapmu pada Ayahmu? Kau bahkan tau Ayahmu sangat memujaku sebagai menantu yang hebat. Saat dia tau kau mempunyai seorang anak dengan pria gelapmu sebelun kau menikah denganku, apakah kau yakin akan selamat? Bagaimana dengan anakmu?" Jari Lazarus mengelus pipi Michelle, terseyum jahat.
"Tidak! Jangan tentang anakku! Jangan Lazarus! Jangan katakan apapun pada Ayahku!" Histeris Michelle.
Michelle sudah kalah, selama lima tahun menikah berharap akan mendapatkan cinta Lazarus seketika sirna. Ia tak bisa berharap lagi. "Aku akan menurutimu," dirinya hanya bisa pasrah.
Lazarus melepaskan kungkungannya dari tubuh Michelle, berjalan kembali ke tempat duduknya. "Sekarang kau cukup diam saja, jadilah Nyonya Lazarus seperti biasa. Pergilah dengan teman-teman sosialitamu, berpesta seperti biasanya. Jangan hiraukan kelakuanku apapun itu. Pelayan yang kau sebut tadi, memang benar aku menyukainya. Apa kau tidak setuju?"
__ADS_1
Michelle menormalkan wajahnya, berbalik badan menatap Lazarus. "Tentu saja aku setuju, lakukan semaumu. Aku pergi." berbalik badan mulai melangkahkan kakinya, baru saja dua langkah perkataan Lazarus menghentikan langkahnya.
"Michelle ingat perkataanku! Jangan pernah kau memperlakukan buruk atau bahkan berani menyakiti wanita baruku! Jangan salahkan aku, bukan hanya Ayahmu yang akan tau rahasiamu tapi seluruh dunia akan mengetahuinya!"
Ancaman terakhir Lazarus membuat tubuhnya semakin gemetar. Michelle berjalan dengan sempoyongan keluar dari ruangan.
"Haaahhh... " Lazarus menghembuskan nafasnya. "Sayang... Tunggulah! Satu persatu aku akan membereskan semuanya."
"Albert! Masuklah."
Sebenarnya Albert mendengar teriakan-teriakan dari luar, tapi dirinya berpura-pura tak mendengar menunggu Tuannya bercerita sendiri.
"Albert, bagaimana dokumen-dokumen rahasia tentang semua dana kotor dan juga kejahatan Vincent di Swedia? Kau sudah amankan?"
"Selalu aman Tuan, saya masukkan ke brangkas Anda di dalam, kecuali saya dan Tuan tidak ada yang bisa mengambilnya."
__ADS_1
"Hm, kita akan segera membongkarnya. Matikan langkah Vincent setelah itu Ibunya dan semua para pengikutnya! Kali ini jangan sampai mereka semua lolos!"
"Baik Tuan!"