HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
TETAP SIAGA


__ADS_3

Amanda melenguh, merasakan pusing di kepalanya. Ia dengan cepat mengingat saat dirinya akan masuk ke dalam mobil, ada seseorang yang membekap mulutnya.


Ia mengerjapkan mata, menelisik sekelilingnya. Sepertinya dirinya berada di sebuah gudang terbengkalai, banyak sarang laba-laba di sudut-sudut ruangan.


"Kau sudah bangun."


Seseorang berbicara padanya, Amanda memalingkan tatapannya ke arah sumber suara.


"Ella? Kau yang menculikku?!" Nada suara Amanda meninggi.


Ella dengan cepat membekap mulut Amanda dengan tangannya. "Stttt! Diam! Aku juga diculik."


Amanda mengangguk, Ella segera melepaskan tangannya dari mulut Amanda.


"Ada apa ini? Siapa yang menculik kita?" Tanya Amanda.


"Entahlah, aku tadi baru saja sampai di parkiran Apartemen. Tiba-tiba seseorang membekapku." Balas Ella.


"Apakah musuh kakakku?" Amanda menebak-nebak.


"Hm, entahlah. Kau diamlah... aku akan menumpuk barang-barang itu di bawah jendela dan memanjatnya. Sepertinya jika berusaha lebih kuat, jendela itu bisa aku buka dan kita bisa kabur dari sini. Jangan bersuara... Ok! " Ella menyuruh Amanda diam.


Amanda mengangguk, " Tapi buka dulu ikatanku."


Ella melihat ikatan yang masih melilit di pergelangan tangan dan kaki Amanda, ia sendiri sudah berhasil melepaskan ikatannya sendiri. "Ups, gue lupa."


Ella dengan cekatan membuka ikatan Amanda. "Tunggu disini, jangan bersuara."


Ella menjinjit kakinya tak ingin bersuara, dengan perlahan ia memindahkan barang-barang berat yang sudah tergeletak di ruangan gudang itu seperti kursi dan meja kecil.


Ella berhasil menumpuk kursi dan meja, ia berusaha naik ke atasnya. Perlahan tapi pasti akhirnya ia berhasil naik ke atasnya. Tangannya menggapai pinggiran bingkai jendela, berpegangan disana menahan tubuhnya agar tidah terjatuh.


Matanya memeriksa keluar jendela, matanya membelalak tak percaya. Diluar sana belasan pria berjaga dengan senjata di tangan mereka. Mungkin di sekitar tempat mereka disekap, lebih banyak lagi.

__ADS_1


"Shittt! Sial!" Umpatnya.


Ella perlahan turun kembali, berjalan ke arah Amanda yang menatapnya seakan dirinya adalah dewi penolongnya.


"Jangan menatapku begitu, aku tidak bisa menolong kita berdua. Mereka terlalu banyak dan bersenjata, meskipun aku bisa bela diri tapi tak bisa mengalahkan mereka semua," Ella menggeleng lalu ikut duduk di samping Amanda dan menyandarkan kepalanya ke dinding.


"Kakakku akan segera datang, aku tau pasti. Aku adalah adik kesayangannya, kalau mereka tidak menemukan aku dirumah pasti mereka panik," ucap Amanda.


Ella tak membalas perkataan Amanda, memang benar Amanda adalah seseorang yang jika hilang sebentar saja akan segera dicari. Tapi ia juga mempunyai seseorang yang pasti mengkhawatirkannya, cintanya Samuel. Ella tersenyum, dirinya yakin Samuel akan mencari dan menemukannya.


*


Samuel sedang bersama Lazarus, memikirkan rencana mereka dengan matang.


"Menurutku Vincent tidak ada hubungannya dengan penculikan ini. Amanda adalah adiknya, kenapa dia harus menyakiti adiknya sendiri?" Samuel menyuarakan pendapatnya.


Lazarus mengangguk, menyetujui ucapan Samuel. "Kau benar, ini ulah Lucas sendirian. Kenapa dia harus melakukannya?"


"Apa ini ada hubungannya dengan kerjasama mereka berdua?"


"Ya," Lazarus menjawab panggilannya.


"Datanglah ke alamat yang kuberikan tiga hari lagi."


Kemudian sambungan terputus.


"Sepertinya Lucas tidak tau kalau kita sudah mengetahui dia dibalik penculikan ini. Apakah aku harus mendekatinya dan berpura-pura?" Kata Samuel.


"Tidak, kita tunggu dulu. Lucas adalah orang yang licik, aku belum bisa menemukan motifnya menculik Amanda dan Ella. Kita harus mencari motifnya lebih dulu." Kata Lazarus.


"Hm, Albert. Bagaimana dengan informasi tentang Vincent?"


"Belum ada informasi lagi Tuan."

__ADS_1


"Baiklah, tetap waspada. Bilang pada para pengawal, siaga dengan senjata mereka."


"Baik Tuan."


*


Michelle sedang mendengarkan seseorang bicara melalui ponselnya melaporkan dari kediaman Lazarus.


Meskipun Lazarus sangat hati-hati, tapi Michelle sebenarnya selalu mencari kabar mengenai Lazarus. Bahkan ia tahu Lazarus setiap malam selalu pergi ke kamar pelayan itu yang bernama Krsitine.


"Bagus Elisa, tetap kabari semua kabar yang bisa kamu dapatkan disana." Lalu Michelle mematikan panggilannya.


Michelle tersenyum, sepertinya ia bisa kembali ke kediaman Lazarus setelah Ayahnya berulang tahun besok. Lazarus sedang sibuk mencari keberadaan adik tersayangnya.


"Apa kau mendapatkan kabar baik," tanya laki-laki yang sedang mencumbu tubuh telanjang Michelle di atas ranjang sebuah Apartemen.


"Ya, sepertinya aku akan bisa masuk lagi ke kediaman suamiku," ucap Michelle seraya menggeliat menikmati permainan dari kekasih gelapnya.


"Bisakah kau menghentikan semua ini sayang, aku bisa membahagiakanmu. Meskipun aku tidak bisa seperti Lazarus, tapi setidaknya hanya kamu satu-satunya di hidupku," ucap David kekasih gelapnya.


Dulu saat pertama kali berjumpa Michelle, David adalah seorang artis baru yang kurang terkenal, ia terpaut usia yang jauh lebih muda dari Michelle. Meskipun dirinya tau perbedaannya terlalu jauh dari hal materi dan usia, tapi ia tetap tak bisa menahan rasa suka pada Michelle, bahkan hanya demi bersamanya ia bersedia menjadi kekasih gelapnya.


Mereka sempat berpisah saat Michelle mengatakan ingin menikah dan berkata akan setia pada suaminya. David menerima semua keputusan Michelle, hanya dengan Michelle bahagia dirinya akan ikut bahagia. Tapi entah kenapa, hanya beberapa bulan setelah pernikahannya Michelle kembali menghubunginya.


"David diamlah! Kau hanya perlu selalu ada saat aku membutuhkanmu. Sejak awal aku sudah bilang, kita tak mungkin bersama. Ayahku takkan mengijinkannya dan aku tidak pernah mencintaimu. Sebelum menikah dengan Lazarus, aku sudah lama menginginkannya. Hanya saja dia lebih memilih menikah dengan wanita lain. Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk melahirkan anakmu dan tidak menggugurkannya saat tau aku hamil. Jangan melewati batasmu, selama ini aku tetap mensponsori filmmu, bukan?"


Rasanya ingin sekali David berteriak kalau ia tak membutuhkan semua itu, dirinya hanya membutuhkan Michelle. Sehina apapun Michelle selalu merendahkannya, dirinya tak bisa meninggalkannya, ia sangat mencintai Michelle.


"Sekarang, puaskan aku," Michelle menarik kepala David yang sedang berada ditengah gundukan kembarnya.


David mencium lembut bibir Michelle, kepalanya turun kembali ke dada telanjangnya. Mulutnya mengulum pucuk sebelah gundukan Michelle, satu tangannya memainkan pucuk gundukannya satu lagi, membuat Michelle berteriak.


"Yahhh Davidddd... ahh~~ " Michelle melenguh puas, tak kuasa menahan kenikmatannya.

__ADS_1


David melanjutkan cumbuannya, dengan cepat menyatukan milik mereka berdua. Dengan tubuhnya yang gagah, ia bergerak sesuai irama kekasihnya. Berusaha memuaskan Michelle, merengkuh setitik kebahagiaannya.


__ADS_2