
Setelah membersihkan tubuhnya, Michelle sedang bersiap pergi.
"Bagaimana kabar Evelyn? Sekolahnya?"
David sedang berdiri di balkon, mengisap rokoknya. Mendengar pertanyaan Michelle, ia tersenyum getir. Nada suara Michelle yang menanyakan putrinya seolah menanyakan anak orang lain.
"Semakin hari putri kita semakin cantik sepertimu, setiap hari bertanya dimana dan siapa Ibunya. Aku bahkan sudah tak ada alasan lagi menjawabnya."
David mematikan rokoknya, lalu membuangnya. Ia berjalan ke dalam kamar, melihat Michelle sedang duduk di depan cermin merias wajahnya.
"Michelle, tidak bisakah demi Evelyn kamu melepaskan Lazarus. Aku tak butuh kamu menerimaku, tapi setidaknya akui putrimu. Aku berjanji, akan merawatmu apapun keadaanmu. Sekalipun kamu tak mempunyai sepersepun uang."
Gerakan tangan Michelle yang sedang memoles bibirnya terhenti. Sebenarnya pernah terbesit di dalam pikirannya ingin melepaskan semuanya. Tapi saat memikirkan kemarahan Ayahnya, ia menghilangkan pikirannya itu.
Jujur dirinya pun takut akan kehilangan kehidupan mewahnya sekarang, dirinya juga takut akan pandangan orang lain tentangnya jika mereka tau dirinya sudah mempunyai seorang anak dari lelaki lain.
Michelle menggeleng, ia menatap David dari pantulan cermin. Sebenarnya Dalam hal fisik David tak kekurangan apapun, saat pertama bertemu dengannya ia menyukai wajah David yang rupawan.
Tapi waktu itu David hanyalah aktor baru dan tidak mempunyai apapun selain wajah dan tubuhnya yang indah. Usia David bahkan 7 tahun lebih muda darinya, untuk mencapai kesuksesan seperti Lazarus akan memakan waktu lama. Buktinya sekarang setelah 8 tahun meniti karirnya menjadi aktor David masih belum bisa sukses.
Dalam hal wajah David dan Lazarus bisa dibilang sama-sama rupawan. Tapi dalam hal lainnya David tak bisa menandingi Lazarus.
"Kita takkan berhasil Dav... lupakan aku. Meskipun Lazarus selalu menolakku, aku akan tetap bertahan dengannya." Michelle sekali lagi menolak David.
Wajah David muram, dia memang sudah menebak jawaban Michelle tapi dirinya masih tetap berharap Mcihelle akan berubah pikiran saat mengingat putri mereka.
David akhirnya menyerah, ia mengambil jaket kulit dan topinya.
"Ayo, aku antar kebawah."
Michelle tak menolak, ia berjalan mengikuti David untuk pergi keluar Apartemen.
David memakai topinya, menutupi wajah bagian atasnya.
Mereka berdua berjalan ke mobil Michelle, supir Michelle sudah membuka pintu mobil saat melihat majikannya.
Michelle masuk ke dalam mobil di bagian belakang, ia memakai kacamata hitamnya lalu berbalik menatap David dari balik kacamata hitamnya.
David menggerakkan bibirnya tanpa suara. "I love you, Michelle."
Michelle tak mendengar apa yang dikatakan David, dia hanya diam.
"Jalan... "
"Baik Nyonya."
Esok paginya dunia bisnis dan kalangan atas dihebohkan dengan kecelakaan maut yang dialami istri seorang Pembisnis yang ternama, istri seorang Lazarus Abraham. Michelle dinyatakan meninggal dunia saat dalam perawatan medis setelah mobil yang ditumpanginya mengalami tabrakan dengan sebuah truk, nyawanya tak dapat terselamatkan.
*
Lucas menatap layar tab nya, semua saluran internet sedang memberitakan tentang kematian Michelle.
"Bos, Tuan Vincent menelepon." Ucap salah satu anak buahnya.
Lucas mengambil ponselnya.
"Kau hebat Lucas, aku tak menyangka kau sekejam itu."
__ADS_1
"Vincent kau yang minta, katamu ingin membalas Lazarus dengan membuat Ayah mertuanya memusuhinya. Aku hanya membantumu, aku tak sebanding dengan pencetus idenya bukan."
"Hahaha... aku akan memberikan salah satu Kasinoku yang sudah lama kau incar di Macau. Aku tak akan ingkar janji, asal kau membantuku sampai tuntas."
Lucas tadinya ingin menghabisi Vincent dengan menjebak Lazarus. Tapi saat Vincent bilang rencananya berubah, dia mengatakan tidak akan kembali dan hanya akan bersembunyi. Akhirnya rencananya pun ikut berubah.
"Baiklah, sesuai rencanamu. Aku akan menjebak Lazarus dengan kematian Michelle. Kau bilang siapa tadi nama mantan istri Lazarus sekarang?"
"Kristine, dia ada di kediaman Lazarus dan nama aslinya Angela. Saat Interpol akan menangkapku, aku tau Angela sudah gagal mencuri dokumen-dokumen tentangku. Sepertinya Lazarus sudah mengenali Angela dan Angela sudah mengkhianatiku, tapi aku kurang yakin. Aku banyak bukti tentang Lazarus dan Kristine, kau sebarkan Lazarus berselingkuh dengan Kristine. Saat Michelle memergokinya, dia diusir dari kediaman Lazarus. Kau aturlah cerita selanjutnya. Beberapa mata-mataku masih ada di kediaman Lazarus, kau coba lah menghubungi mereka."
Lucas mengiyakan, mereka berdua pun memutuskan sambungan telepon.
"Bird, lepaskan wanita-wanita itu. Bawa mereka kembali ke Rumah mereka. Permainan berubah, aku harus membantu Vincent agar bisa mendapatkan Kasino itu."
"Baik Bos."
*
Mata dan mulut Ella serta Amanda ditutup kain hitam, mereka berdua dimasukkan kedalam mobil. Tak lama tubuh mereka didorong dari dalam mobil di dekat gerbang Harem.
Penjaga gerbang yang melihat mobil yang mencurigakan dan medorong sesuatu dari dalam mobil segera mendekat. Tapi mobil dengan cepat melesat pergi dari sana.
Penjaga terkejut melihat dua wanita mata dan mulutnya terikat. Dia mendekat dan mengenali salah satunya adalah putri majikannya.
"Nona Amanda."
Penjaga itu segera melepaskan ikatan Amanda.
"Telepon pihak Rumah, Ibuku. Tidak tidak... telepon Kak Lazarus. Cepat!"
Mobil belum mengerem sempurna, tapi Samuel sudah meloncat membuka pintu mobil. Ia berlari kencang lalu memeluk Ella.
"Sayang... maafkan aku. Apa kamu terluka?" dengan seksama Samuel memeriksa keadaan Ella.
"Tidak, aku baik-baik saja." Balas Ella memeluk erat Samuel.
"Syukurlah."
Amanda berlari memeluk Kakaknya. "Kakak, huhuhu... "
Lazarus menepuk punggungnya, "Sudah... semua sudah berlalu."
"Albert, gendong Amanda. Tubuhnya sangat lemas."
Albert mematuhi perintah Lazarus, ia maju dan memangku tubuh Amanda. Berjalan ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi.
Saat Albert akan keluar mobil, kemejanya ditarik oleh Amanda. "Jangan pergi."
Albert menatap wajah adik dari Tuannya itu, terlihat gurat ketakutan di wajahnya. Ia akhirnya masuk ke dalam mobil, menemani Amanda.
Lazarus mendekati Samuel dan Ella. "Kalian menginaplah disini dulu, besok baru pulang."
Samuel menggeleng. "Disini terlalu ramai, besok pemakaman Michelle. Kami sepertinya tidak bisa datang, Ella butuh istirahat."
Lazarus tak menahan mereka, dia menepuk pundak Samuel. "Terimakasih atas segalanya. Jaga Ella, hati-hati."
Samuel membawa mobilnya pergi dari Harem, beberapa hari terakhir seperti mimpi buruk baginya.
__ADS_1
Lazarus mendekati mobilnya, melihat di kursi bagian belakang Amanda tertidur dengan memeluk Albert.
Albert merasa canggung, tapi tadi Amanda lah yang merengsek memeluknya.
"Tidak apa-apa, jangan bangunkan dia. Aku duduk di depan." Ucap Lazarus.
Albert memangku Amanda masuk ke dalam kediaman Utama. Lazarus berjalan tegap di depannya.
Marry sedang menangis, memikirkan penculikan Putrinya, bahkan dia belum mendapatkan kabar dari putranya Vincent.
Isakan tangisnya berhenti saat melihat putrinya sedang digendong masuk.
"Putriku... ohhh Amanda." Ia berlari mendekat.
Mendengar teriakan Ibunya, seketika kedua mata Amanda terbuka. Tapi dia tak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa lemas.
"Mama... "
"Amanda masih lemas, biarkan dia berbaring." Ucap Lazarus pada Marry.
Marry hanya mengangguk.
Albert membawa tubuh Amanda masuk ke dalam kamar Amanda. Dia lalu membaringkan Amanda di tempat tidur.
"Ayo Albert, biarkan Ibunya mengurusnya."
Lazarus dan Albert meninggalkan kamar Amanda.
Marry tak tau harus bersikap bagaimana, karena Lazarus sudah membawa putrinya kembali. Jadi ia hanya diam dan menatap kepergian Lazarus.
Lazarus yang sudah merasa lega karena Amanda dan Ella telah kembali, tapi saat memikirkan tentang kematian Michelle yang tiba-tiba malah menimbulkan kegelisahan baru.
Lazarus merasa ada sesuatu yang salah, kenapa tiba-tiba semua berubah?
Lazarus membuka kamar Sean, melihatnya sedang tidur dia lalu menutup pintu kamar.
Lazarus berjalan ke kamar Angela, membuka pintunya. Ia berjalan masuk melihat Angela tertidur di sofa. Ia mengangkat tubuh Angela memindahkannya ke atas ranjang.
"Uhmm... "
Angela membuka matanya.
"Kamu terbangun... tidurlah lagi sayang." Lazarus mengecup dahinya.
"Kamu pasti lelah mengurus Michelle, kemarilah tidur bersamaku."
"Baiklah."
Lazarus membuka pakaiannya yang terasa kotor, lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Angela.
"Lazarus, tidurlah. Selama beberapa hari ini, kamu kurang istirahat. Ditambah kejadian yang menimpa Michelle, kamu pasti banyak pikiran. Ingat peluru di kepalamu, bukankah Dokter bilang jangan terlalu stres. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu. Jangan pernah lupakan itu."
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Lazarus."
Angela memeluk erat Lazarus, ia merasa mulai besok akan ada badai baru menerpa kehidupan mereka.
__ADS_1