
"Kakak... "
Sebuah suara mengejutkan mereka semua yang ada di dalam ruangan.
"Kak sedang apa? Aku cari di pesta kau tidak ada," Amanda berjalan masuk, sedikit aneh melihat banyak orang disana.
Lazarus bereaksi pertama kali, ia segera menghalangi Angela yang sedang memeluk Sean dengan tubuhnya.
Samuel ikut bereaksi, ia berbalik badan lalu memperlihatkan senyum ala dirinya. "Hai Nona Amanda, terimakasih undangannya," seraya berjalan mendekati Amanda, menghalangi pandangannya.
Amanda seketika senang melihat Samuel, " Tuan Samuel sudah datang, kenapa masih disini. Ayo bergabung di pesta."
"Tentu, aku hanya ada sedikit urusan dengan kakakmu. Tapi sekarang sudah selesai, maukah Nona Amanda menemaniku ke Pesta."
"Apakah Tuan Samuel datang sendiri?" Tanya Amanda penasaran, bukankah kata kakaknya dia selalu membawa kekasihnya.
"Ah... pasangan saya akan datang sedikit terlambat. Bagaimana? Kita pergi?" Samuel mengedipkan sebelah matanya, mengeluarkan gaya playboy-nya.
Amanda terseyum sumringah, tak disangka pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tapi Amanda teringat lagi kakaknya, "Sebentar, aku akan bicara dengan kakakku dulu. Dia--" ucapannya terpotong oleh rangkulan Samuel padanya.
"Ayo pergi sekarang. Kakakmu sedang ada sesuatu yang penting. Pesta itu untuk kamu Nona Amanda, jika sang pemeran utama ada disini bagaimana dengan pestanya?" Ucap Samuel seraya merangkul pinggang Amanda sambil berjalan keluar ruangan.
Baby, maafkan aku sayang. Keadaan ini diluar rencana, kau mengerti kan? Lazarus kau harus membayar mahal untukku! Samuel merasa bersalah merayu wanita lain di depan kekasihnya.
Ella berdiri lalu berbalik badan, saat mendengar percakapan kekasihnya dengan Amanda sedikit membuatnya tidak nyaman, apalagi saat melihatnya merangkul pinggang wanita itu. Ella membuang nafasnya kasar.
Sean yang memecahkan keheningan di ruangan saat Samuel dan Amanda sudah tidak terlihat.
"Bibi Kristine, kenapa bibi menangis?" Tanya Sean.
Angela melepaskan pelukannya, menatap putranya penuh kasih. "Mommy sayang, panggil saya Mommy. Saya Ibumu, Angela," ucapnya.
"Sebentar, Mommy akan buka topeng Mommy," tambah Angela seraya membuka kulit topeng dengan perlahan dimulai dari belakang telinganya.
Setelah semua topeng kulit terlepas, Angela menatap Lazarus. "Apakah aku masih Angela-mu?" ia tersipu malu.
Lazarus tersenyum, ia berjongkok menyamaratakan tubuhnya dengan wanita dan putranya. "Kau masih secantik dulu, malah mungkin aku yang semakin jelek dimatamu," godanya.
"Kau masih setampan seperti biasanya, sampai membuatku yang masih membencimu tetap merasa cemburu saat wanita lain bersamamu," Angela balas menggodanya.
__ADS_1
Sorot matanya sarat akan penyesalan dan terlihat jelas perasaan cintanya pada Lazarus.
Mata Sean melirik bergantian Ayahnya dan pengasuhnya.
"Bibi, apakah nama bibi Angela?" Tanya Sean membuyarkan tatapan dua orang yang sedang dilanda cinta.
Angela melepaskan tatapannya dari Lazarus, memandang putranya.
"Ya, sayang," jawabnya.
Sean memandang Ayahnya. "Daddy, apakah bibi ini yang selalu Daddy panggil saat menangis?" Tanya Sean dengan mata polosnya.
"Uh-uk... Sean bisakah kita membicarakannya nanti? Bisakah kamu memberikan muka pada Ayahmu?" Wajah Lazarus merah padam merasa malu dengan perkataan putranya tentang dirinya.
Angela menahan tawanya, "Aku sudah tau, Sean sudah bercerita padaku. Bukankah saatnya kamu terbuka padaku, sayang?" Goda Angela.
Wajah Lazarus semakin merah sekaligus tak percaya dengan pendengarannya, "Sa-sayang... kamu memanggilku sayang," gagap Lazarus.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Daddy, Sean tidak mengerti. Tapi apakah kita bisa kembali ke pesta Tante Amanda? Sean ingin makan ice cream."
"Maafkan Daddy, baiklah. Tapi maukah Sean berjanji satu hal?" Ucap Lazarus seraya mengusap kepalanya sayang.
"Sean jangan bilang pada siapapun yang tadi Sean lihat. Tetap panggil dia Bibi Kristine." Kata Lazarus tegas.
"Baik Daddy, Sean akan menjadi anak baik. Kalau Sean selalu jadi anak baik, apakah Daddy akan selalu seperti ini? Sayang pada Sean?"
Kuku Angela menancap di lengan Lazarus. Menjadi kesal padanya saat mendengar putranya bicara. Mengingat ketidakperdulian Lazarus dan kejahatan Irene pada Sean.
Lazarus hanya meringis, ia tau Angela kesal padanya.
"Sean, maukah Sean memberikan Daddy kesempatan menebus semua kesalahan Daddy selama ini padamu," kata Lazarus.
Sean memeluk leher Ayahnya, mengecup pipinya. "Sean sayang Daddy."
Angela seketika menangis. Begitu juga dengan Lazarus, ia terharu.
"Sekarang maukah Sean kembali ke pesta dengan Tante Ella. Daddy masih ada urusan," lanjut Lazarus.
Ella maju lalu menganggandeng tangan kecil Sean, "Ayo." seraya mengajak Sean berjalan keluar ruangan.
Albert mengikuti Ella dan Sean keluar dari sana. Menutup pintu rapat, berjaga diluar ruangan.
__ADS_1
Lazarus masih terdiam, merasa canggung saat sekarang sudah berhadapan dengan wajah asli Angela.
Angela yang maju lebih dulu, ia menubruk tubuh Lazarus sampai tubuh mereka berdua telentang di lantai.
Angela mencium bibir Lazarus dengan ganas, sengaja menggigit bibir bawah Lazarus.
Lazarus sedikit terkejut tapi dengan cepat membalas ciuman kekasihnya. Tak merasa sakit saat bibirnya digigit, malah membuat hasratnya melonjak.
Lazarus lebih dulu melepaskan pagutan bibir mereka, "Sayang... aku tak keberatan kita bercinta di lantai. Tapi... bukankah ini bukan waktu yang tepat? Bagaimana jika di pesta semua orang mencariku?"
Saat mendengarnya Angela mau tak mau setuju, mereka sepertinya masih harus melanjutkan sandiwaranya.
Angela dengan tak rela bangun dari atas tubuh telentang Lazarus, membenarkan gaunnya yang kusut.
Lazarus ikut bangkit, ia mengecup dahi Angela. "Apa kamu kecewa tidak bisa meniduriku? Hm... " tanya Lazarus menahan tawanya melihat wajah Angela yang tak rela.
"Lazarus! Kamu sedang mengejekku? Menurutmu, Apa aku seorang wanita yang suka meniduri laki-laki?" Angela melotot.
"Ya, apa kamu ingat terakhir kali kita sebagai suami istri. Sudah jelas kamu yang ingin meniduriku," Lazarus semakin menggoda Angela.
"Itu karena... " ucapan Angela terpotong saat Lazarus membungkamnya dengan ciumannya kembali.
Angela memeluk Lazarus menikmati permainan tautan lidah mereka yang sedang bermain di dalam mulut.
"Ahh sakit!" Ucap Lazarus tiba-tiba dan mengakhiri ciumannya.
Wajah Angela pucat.
"Kepalamu sakit? Lazarus!" Cemasnya.
"Bukan sayang, tapi juniorku terlalu bertegangan tinggi. Kalau kita terus begini, aku takut tak bisa menahannya lebih lama," ucap Lazarus sedikit tersenyum.
"Kamu menakutiku!" Seketika Angela mengerti arah bicara Lazarus, wajahnya memerah malu.
"Wajahmu bersemu merah karena malu atau karena bernafsu masih ingin meniduriku?" Lazarus masih betah dengan godaannya.
"Kamu sudah puas menggodaku! Ayo kembali ke pesta," ajak Angela.
"Masuklah ke dalam, benahi dulu penampilanmu sayang... Aku akan menunggumu disini," sekali lagi Lazarus mencium bibir Angela lalu melepaskan pelukannya.
Angela berjalan masuk ke dalam kamar tidur Lazarus, seketika kenangan dulu saat bercinta disana dengan Lazarus dengan cepat menyerbunya. Ia tersenyum, tak menyangka dirinya akan kembali bersama dengan Lazarus kini dengan adanya cinta diantara mereka berdua.
__ADS_1