HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
KEBENARAN 1


__ADS_3

Lazarus tak menunggu lama, malam itu semua laporan terbaru tentang Irene ada di hadapannya. Sebuah laporan tes DNA yang menyatakan jika Irene bukan Ibu kandung dari Sean. Juga laporan yang menyatakan jika Sean adalah putranya dengan Angela.


"Apa Irene masih diruangan bawah?" Lazarus sangat murka dengan kebohongan Irene selama ini.


"Ya Tuan, maafkan saya karena kurang teliti ketika memeriksa latar belakangnya. Tidak seharusnya waktu itu saya menyuruh orang lain yang memeriksanya, orang yang memalsukan laporan tentang Nyonya Irene juga sudah saya tangkap." Albert semakin merasa bersalah.


"Sudahlah, itu bukan salahmu. Waktu itu aku sedang depresi memikirkan Angela dan anakku, aku yang lengah. Kau bahkan saat itu membantuku mengurus Perusahaan saat aku terpuruk, sudah pasti kau sangat sibuk saat itu." Lazarus tak ingin menyalahkan siapapun soal itu, ia sendiri yang kurang teliti karena sedang terpuruk.


"Aku akan menemui Irene," ucap Lazarus sembari mengambil sebuah pecut kuda yang tergantung di dinding.


Lazarus berjalan dengan wajah yang sangat menyeramkan, membuat semua para pengawal tak berani menatapnya. Lazarus membuka pintu ruang bawah tanah, menyusuri lorong yang lebarnya sekitar 1 meter. Sepanjang lorong Lazarus melewati sel-sel seperti sebuah penjara, jeruji-jeruji besi seakan tunduk juga kepadanya.


Setelah melewati enam sel, akhirnya Lazarus berhenti di sebuah sel yang berukuran 3×4 meter persegi.


Albert membuka gembok sel, membuka pintunya lebar.


Lazarus melangkah masuk, mengeratkan pegangannya pada pecut di tangannya. Ingin sekali langsung menyiksa wanita yang sedang duduk terikat di kursi kayu di hadapannya itu.


"Umm... um... " Irene memberontak, tubuhnya berusaha melepaskan diri dari ikatannya di kursi. Ia tak bisa berteriak karena mulutnya di sumpal sebuah kain.


"Buka ikatan mulutnya!"


Albert dengan sigap membukanya.


"Arggghhtt! Lazarus brengsek kau! Lepaskan aku! Aku Ibu dari anakmu, apa begini kau memperlakukanku!" Jerit Irene.


Lazarus mendekat, mencengkram dagu Irene dengan kuat membuat Irene meringis kesakitan.


"Kau bahkan masih berani berbohong! Katakan! Apa Vincent yang menyuruhmu menjadikan anak Angela menjadi anakmu?!" Bentak Lazarus semakin mengetatkan cengkraman di dagu Irene.


"Tidak! Sean adalah putraku! Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengenal Vincent!" Irene menyangkalnya.


"Kau masih ingin berbohong, baiklah jangan salahkan aku jika menyiksamu wanita j4lang!"


Lazarus memukul tembok dengan pecutnya, seketika suara pecutan membuat Irene bergidik. Baru saja ia akan membuka mulutnya, satu cambukan sudah melayang ke lengannya.


"Ahhhh, sakit Lazarus! Jangan! Lepaskan aku... ak-- ahh... " baru saja Irene meminta ampun, cambukan kedua melesat ke punggungnya.


Tubuh terikat Irene bergetar kesakitan, ia menangis memohon ampun. "Baiklah Lazarus, ak-u akan ju-jur. Jangan sakiti aku lagi... aku mohon." Suaranya sarat akan kesakitan.


Lazarus menghentikan pecutannya, ia duduk di depan Irene. "Katakan! Aku akan mendengarkan!"

__ADS_1


Irene kemudian menceritakan jika dirinya adalah kekasih Vincent. Ia dijanjikan akan dinikahi saat melakukan perintahnya mendekati Lazarus untuk mencuri informasi yang bisa didapatkan dari dekat. Beberapa kali dirinya masuk ke ruangan kerja Lazarus dan membuka dokumen-dokumen penting lalu menyalinnya. Cctv ia palsukan dengan dibantu beberapa orang Vincent yang ada di dalam kediaman. Penjaga pintu terkadang membiarkannya masuk ketika ia berbohong jika Lazarus menyuruhnya mengambil dokumen.


"Lalu Sean? Bagaimana dengannya?"


"Bukankah jawabannya sudah ada? Sean mempunyai darah yang sama denganmu, itu adalah jalanku bisa masuk ke dalam dan berada di sampingmu," ucap Irene.


"Katakan semuanya! Irene kau sudah menarik batas kesabaranku saat kau naik ke atas ranjangku dan mencoba merayuku saat itu! Sekarang aku benar-benar akan menyiksamu! Dengan perlahan akan kunikmati, kalau kau masih menutupi semuanya!"


Airmata Irene bercucuran mengotorai wajahnya, menangis dengan penyesalan. "Aku juga diperintahkan membuatmu membenci darah dagingmu sendiri, agar kau menyesal saat tau dia anakmu dengan Angela. Wanita yang sangat kau cintai. Hanya itu Lazarus," Akhirnya ia menjawab, tapi ia masih menutupi kejahatannya yang sering menyiksa Sean. Jika dirinya jujur sekarang, sudah pasti nyawanya tidak akan tertolong.


Lazarus bangkit dari duduknya, menatap Albert. "Urus dia, obati. Tapi jangan dulu dilepaskan! Mungkin saja aku masih membutuhkannya!" Kata Lazarus, kemudian berjalan keluar dari dalam sel.


*


Lazarus memasuki kediamannya di Harem, saat akan masuk ke ruangannya, ia ingat akan perlakuannya pada Putranya selama lima tahun. Ia berbelok arah berjalan menuju kamar putranya.


Lazarus membuka sedikit pintu, melihat putranya sudah tertidur. Ia membuka dengan pelan pintu kamar, berjalan masuk mendekati ranjang. Menatap lembut putranya, buah cintanya dengan Angela yang selama ini dirinya cari, ternyata sangat dekat dengannya.


Lazarus mengusap air mara disudut matanya, dirinya benar-benar seorang b4jingan. Harusnya ia memperlakukan Sean dengan baik sejak awal, meskipun waktu itu dirinya tidak tau Sean adalah putranya bersama Angela.


"Putraku, maafkan Daddy. Apakah kamu terluka nak? Aku dulu pernah berjanji jika suatu hari aku mempunyai anak, aku tidak ingin anakku bernasib sama denganku. Tapi lihatlah sekarang, aku bahkan tidak pernah memperdulikanmu. Maafkan Daddy... " Lazarus menarik tangan mungilnya yang keluar selimut, memasukkannya ke dalam selimut. Mengecup dahi putranya, lalu keluar dari kamarnya.


*


Malam itu Harem sangat ramai, semua kalangan atas satu-persatu turun dari mobil mewah mereka. Beberapa membawa pasangannya, beberapa lagi orang tua yang membawa putra-putri mereka untuk dikenalkan. Pesta menjadi ajang memperluas bisnis atau sekadar memperluas koneksi pribadi.


Samuel turun dengan gagahnya dari dalam mobil, berjalan ke dalam dengan menggandeng Ella.


"Sayang, penampilanku malam ini memuaskanmu tidak?" Tanya Ella berbisik. Ia mengenakan gaun hitam panjang elegan, dengan bagian bahu yang terbuka.


"Tentu saja tidak! Penampilanmu paling memuaskanku saat kau tidak memakai apa-apa di tubuh indahmu," goda Samuel, sontak saja perkataanya menghasilkan cubitan di lengannya.


"Sekrup di otakmu kapan bergeser lagi? Padahal malam ini sudah aku pasangkan dengan benar pada tempatnya biar tidak koslet," bisik Ella greget.


Samuel malah menampilkan gigi rapinya, nyengir ala dirinya membuat Ella tak bisa menahan tawanya.


Mereka meneruskan masuk ke dalam, sepanjang mereka berjalan suasananya sangat kental akan kemewahan dan keglamoran.


Saat Samuel dan Ella berkeliling, beberapa kenalan Samuel menyapanya. Ia menjawabnya "Tentu saja saya baik, kita bicarakan bisnis lain waktu Tuan ferguso. Kalau begitu saya akan menyapa yang lainnya. Permisi," ucapnya sedikit berbasa-basi dengan kenalannya.


"Wah... wah... anak berdarah kotor berani datang ke acara ini. Cih! Membawa wanita rendahan pula!" Seorang lelaki berusia sekitar 26 tahun yang tak lain saudara lelaki Samuel berbeda Ibu bernama Lucas.

__ADS_1


Samuel sudah terbiasa, ia hanya tersenyum. "Kau tau Lucas? Aku memang berdarah kotor tidak sepertimu anak resmi dari Ayah kita. Tapi... hidupku tidak kotor sepertimu yang pekerjaannya di Perusahaan hanya kedok untuk menutupi pekerjaanmu di dunia hitam. Bahkan kau yang rendahan brother bukan kekasihku, Apakah perlu aku mengatakan pekerjaan aslimu pada semua orang yang ada disini?" Bisik Samuel.


Lucas geram tapi merasa tak bisa membalas perkataan Samuel ia memilih pergi menjauh.


Ella sangat bangga, Samuel yang dulu dikenalnya bahkan tidak akan berani menatap saudara tirinya seperti sekarang tapi lihatlah, kini Samuel dengan berani menantangnya. "Kau terbaik sayang... aku semakin mencintaimu. Nanti pulang aku akan memakai kostum kucing, bagaimana? Kau suka?" Goda Ella.


Samuel seketika mengencangkan pelukannya di pinggang Ella. "Kau semakin nakal, tapi aku suka baby."


"Lepaskan pelukannmu, sekarang kita harus fokus dengan misi kita dengan Angela." Ucap Ella


Samuel melepaskan pelukannya, tatapannya berkeliling mencari sebuah wajah yang Lazarus kirim padanya lewat sebuah foto.


"Baby, itu dia. Ayo beraksi!" Samuel menarik tangan Ella, mendekati Angela yang menggandeng seorang anak kecil.


"Hallo Sean, masih ingat Paman?" Sapa Samuel pada Sean.


Angela terkejut, pegangan tangannya pada Sean terlepas. Ia tak menyangka di Pesta khusus para kalangan atas ini akan bertemu dengan Samuel juga Ella.


Ella mengamati raut wajah Angela yang berbeda wajah, ada kesedihan dan keterkejutan di sorot matanya. Ingin rasanya langsung memeluknya, mengatakan dia tak sendiri ada dirinya dan Samuel bersamanya.


Ella berjongkok menatap lurus Sean, Lazarus menelepon mereka semalam mengatakan sudah menemukan juga kedua anaknya bersama Angela. Sean adalah putra mereka berdua.


"Tuan Muda, mau berkeliling bersama saya? Disana ada cake enak, bukankah Tuan Muda menyukainya?"


"Mau Tante. Bibi Kristine, Sean kenal Paman dan Tante ini. Paman pernah belikan Sean mainan. Ia kan Paman?" Ucap Sean.


"Iya," jawab Samuel tapi matanya menatap Angela.


Angela merasa gugup di tatap Samuel, mungkinkah dirinya dikenali?


"Apakah Anda sakit Nona? Sepertinya agak pucat? Apakah Anda pengasuh Sean?" Tanya Samuel.


"Ya, sa-ya pengasuhnya. Saya baik-baik saja, terimakasih." Jawab Angela gugup.


"Saya akan membawa Tuan Muda Sean berkeliling, sudah meminta ijin pada Tuan Lazarus juga. Anda bisa bebas beberapa waktu, saya yang akan menjaganya. Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Ella kepada Angela seraya menggandeng tangan Sean dan pergi dari sana.


Angela semakin gugup ditinggal berdua dengan Samuel. "Kalau begitu saya juga permisi, " mencoba kabur dari Samuel.


Tapi sayang, lengannya dicengkram Samuel, ia ditarik pergi dari sana.


Samuel menarik tangan Angela tanpa menarik perhatian orang-orang. Ia berjalan santai melewati para tamu, sampai akhirnya tiba ditempat yang jauh dari para tamu. Menempatkan tubuh mereka berdua ke pojok, tempat tidak ada seorangpun bisa melihat mereka.

__ADS_1


__ADS_2