HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
KEMARAHAN ELLA


__ADS_3

Marry sedang cemas, selama dua hari ia menelepon Vincent tapi tidak ada kabar sedikitpun dari putranya itu.


"Apa aku harus menemui Angela, menanyakan apa dia berhasil mengambil dokumen dari Lazarus. Kenapa perasaanku tidak enak." Marry bicara sendiri.


"Mama, ada apa?" Amanda berjalan masuk ke dalam kamar Ibunya. Melihat Ibunya berjalan mondar-mandir seperti mencemaskan sesuatu.


"Amanda, kemarilah. Bantu Mama telepon Kakakmu Vincent. Mama tidak bisa menghubunginya selama dua hari ini."


Amanda menuruti Ibunya, ia segera menelepon Kakaknya Vincent.


Panggilannya tak tersambung, ia mencoba lagi tapi tetap sama.


"Ponselnya sepertinya tak aktif, ada apa sebenarnya?" Tanya Amanda.


"Tidak apa-apa, kau sudah berdandan cantik seperti ini, mau kemana?" Tanya Marry.


"Aku ada janji dengan teman-temanku. Aku akan pulang malam, dah mah... " pamit Amanda lalu pergi dari kamar Ibunya.


*


Lazarus sedang mendengarkan laporan Albert tentang Vincent yang berhasil kabur saat akan ditangkap pihak Interpol di luar negeri.


"Perketat keamanan, disini dan di Rumah Sakit." Lazarus memijt kepalanya, merasa gelisah dengan kaburnya Vincent.


"Tuan... " Ucap Albert sedikit ragu, ia ingin mengakui tentang kesalahanya tapi waktunya sepertinya tidak tepat. Tapi jika disembunyikan lebih lama, hatinya merasa tak tenang.


"Ada lagi Albert?"


"Tidak Tuan," akhirnya Albert tak mengatakannya.


Albert lalu dengan sigap segera memasang Cctv keamanan tingkat tinggi di setiap area yang tersambung langsung ke Tab Tuannya. Ia juga sengaja menyambungkan semuanya pada tab yang dirinya miliki. Kali ini nyawanya sekalipun akan ia berikan untuk menjaga keamanan Tuannya dan keluarganya.

__ADS_1


"Timothy!" panggilnya.


"Ya, Tuan Albert." Timothy menghampirinya.


"Kau adalah wakilku, Tuan sangat percaya juga padamu. Jika sesuatu terjadi padaku, gantikan aku di sisi Tuan," ucap Albert.


"Tuan?" Timothy tidak mengerti, seolah-olah Albert akan pergi jauh.


"Jangan banyak berpikir, aku hanya ingin kau berjaga-jaga. Kau tau kan situasi kita saat ini, level keamanan keluarga Tuan sudah level-1. Jangan lengah, apapun yang terjadi utamakan keluarga Tuan. Hanya kita berdua yang tau tentang Nyonya Angela dan kedua anak Tuan. Mengerti!"


"Ya."


*


Amanda berbohong pada Ibunya, ia sebenarnya ingin menemui Samuel di Perusahaannya. Pendekatan secara halus tak berhasil, ia akan melakukan dengan agresif.


"Tunggu Samuel, sekali aku menargetkan sesuatu. Aku harus mendapatkannya." Ucap Amanda.


"Silahkan tunggu di dalam Nona, Pak Samuel sedang rapat, saya akan memberitahunya." ucap Sekertaris Samuel.


Amanda lalu masuk ke ruangan Samuel, ia melihat-lihat sekeliling isi kantornya. Melihat foto Samuel dan kekasihnya di dalam bingkai foto di atas meja kerjanya.


Amanda mangambil bingkai foto itu, mengusap wajah samuel. "Samuel, kau akan menjadi milikku. Tak perduli apapun caranya."


"Sedang apa kamu?" Tanya Samuel, dengan cepat merebut bingkai foto dari tangan Amanda.


"Nona Amanda, lain kali tolong hormati privasi orang lain dan aku paling tidak suka barang-barangku disentuh orang lain." Ucap Samuel ketus tak seperti biasanya yang selalu ramah pada siapapun.


"Maafkan aku, aku hany--" Amanda terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berakting menangis dengan sempurna.


Samuel terkejut melihatnya menangis, tadi dirinya hanya spontan berkata kasar. Tapi Jujur saja ia memang tidak suka barang-barangnya disentuh orang lain. Kini melihat Amanda menangis, ia merasa bersalah. Bagaimanapun Amanda adalah adik kesayangan Lazarus.

__ADS_1


Samuel menepuk pundak Amanda, "Maaf, barusan aku hanya spontan. Jangan menangis lagi, apa yang harus aku katakan nanti pada Kakakmu."


Tak disangka Amanda malah menarik tubuhnya dan memeluknya sambil menangis. Samuel berusaha melepaskan diri, tapi sepertinya terlambat, suara Ella membuatnya tak bisa bergerak.


"Samuel!" Ella tak percaya apa yang dilihatnya, Kekasihnya sedang memeluk Amanda.


Ella adalah asisten Samuel, ia baru selesai membereskan sisa-sisa rapat diruangan pertemuan. Tak disangka saat menyusul Samuel masuk, matanya disuguhkan pemandangan yang tak bisa dirinya percaya.


Ella keluar ruangan dengan amarah di hatinya, sudah berapa kali ia mengingatkan Samuel agar menjauhi Amanda. Ia masuk ke dalam lift, saat di dalam lift ia melihat Samuel berlari menyusulnya dengan wajah panik. Pintu lift tertutup, wajah panik Samuel tak terlihat lagi.


Samuel menjambak rambutnya kesal, memukul dadanya sendiri merasa salahnya sejak awal terlalu baik pada Amanda.


Ia kembali ke ruangannya, melihat Amanda masih disana membuatnya semakin marah.


"Nona Amanda, aku menghormatimu karena Tuan Lazarus adalah kenalan saya. Sekarang bisakah kamu pergi," ucap Samuel menekan amarahnya.


Amanda dengan wajah tak berdosanya, mengusap air mata palsunya. "Maaf, karena aku kekasihmu salah paham. Jika perlu aku akan menjelaskan padanya kalau tadi hanya salah paham."


"Tidak perlu, kami berdua bisa menyelesaikannya sendiri," tolak Samuel.


"Baiklah, aku pamit. Aku hanya ingin mengajak kamu makan malam bersama di kediaman kakakku, tapi sepertinya sekarang tidak bisa. Aku pamit, sekali lagi maaf."


Amanda keluar dari ruangan Samuel, ia masuk ke dalam lift dan berjalan keluar Perusahaan ke arah mobilnya. Wajahnya penuh dengan kemenangan, bibirnya tersenyum senang. Saat ia membuka pintu mobilnya, seketika pintu mobilnya didorong tertutup kembali.


Amanda melihat tangan seorang wanita, ia menatap pemilik tangan itu. Dirinya terkejut, tubuhnya mundur ke belakang.


"Kenapa wajahmu? Kaget melihatku? Kemana hilangnya wajahmu tadi yang seperti seorang pemenang? Cih! Hei wanita tak tau malu! Seharusnya saat aku memperlakukanmu dengan hormat seperti di pestamu kemarin, kau bersikap sama. Tapi aku lihat kau memancing perselisihan antara aku dan Samuel. Yah... Tadi kau sebenarnya sempat berhasil. Aku tadi sempat curiga pada kekasihku, tapi aku bukan wanita yang buta hati. Aku tau sifat asli seseorang, apalagi sifatmu. Tapi Amanda... kau salah menilaiku. Aku tak akan pernah tertipu olehmu!" Ella berkata sinis pada Amanda.


"Aku peringatkan kau! Aku akan biarkan tipu dayamu kali ini mengakali Samuel. Tapi ingat, sekali lagi kau berusaha memakai trik pada Samuel, camkan ini! Aku Ella, memang bukan siapa-siapa sepertimu. Tapi saat seseorang menggangguku dan orang-orang yang kucintai. Aku akan menjadi orang gila! Aku bisa melakukan apapun!" Ancam Ella.


Mulut Amanda terkunci, tak bisa membalas semua perkataan Ella padanya. Tubuhnya seketika bergetar ketakutan melihat mata tajam Ella yang terlihat seperti akan membunuhnya.

__ADS_1


__ADS_2