HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
ELLA VS AMANDA + ISTRI KE-2 VS ISTRI KE-3


__ADS_3

Lazarus masuk ke dalam pesta lebih dulu, ia mendekati Amanda yang berada di tengah aula pesta.


Amanda yang sedang bicara dengan teman-temannya memalingkan wajahnya ke arah kakaknya.


"Kakak, kamu datang juga," seraya mendekati kakaknya.


Lazarus menjetikkan jarinya, Albert segera membuka sebuah kotak yang berisi sebuah kunci mobil sport yang diinginkan Amanda sejak lama tapi tidak bisa karena Amanda masih dibawah umur. Sekarang usianya sudah cukup dewasa, Amanda bisa mengendarainya.


Amanda manatap tak percaya Kakaknya, memeluknya lalu mengecup pipinya.


"Terimakasih Kak! Aku semakin menyayangimu!"


Angela yang baru masuk ternganga melihat pemandangan di hadapannya.


"Dia Amanda, saudara perempuan Lazarus? Wanita yang memeluknya kemarin. Ya ampun!" Ucap Angela merasa malu sempat cemburu pada adik iparnya sendiri.


Tak sengaja mata Lazarus mengarah padanya, ia tersenyum melihat wajah Angela yang terkejut.


Angela lalu dengan sengaja memalingkan wajahnya, tak ingin diolok Lazarus.


Lazarus melepaskan pelukan Amanda, saat ia melihat Ayahnya yang duduk di kursi roda sudah bergabung di pesta.


Lazarus menghampirinya. "Papa," sapanya.


Amanda tersenyum melihat Ayahnya, beruntung dirinya sangat dimanja oleh Ayahnya.


"Papa sudah datang, hadiahku mana?" Mengulurkan kedua tangannya.


Abraham hanya tersenyum datar, lalu menjetikkan jarinya.


Peter Pengurus Harem segera maju membawa sebuah baki, membuka tutupnya. Diatas baki terdapat miniatur sebuah pulau, lengkap dengan miniatur sebuah kediaman mewah serta sebuah pernyataan pembagian saham untuknya.


Amanda menutup mulutnya dengan kesepuluh jarinya, tak percaya hadiah yang diberikan Ayahnya.


"Papa, makasih. Manda sayang Papa," ia maju mengecup pipi Ayahnya.

__ADS_1


Decak kagum dari semua orang yang berada di Pesta terdengar terutama Lucas.


Lucas memandang Amanda. "Aku harus mendapatkannya," gumamnya.


Pesta segera dimulai, dengan diiringi musik para pasangan mulai berdansa di Aula pesta.


Amanda mengajak Lazarus untuk pertama berdansa dengannya, setelah selesai ia melirik ke arah Samuel. Bibirnya seketika cemberut kesal, melihat ada seorang perempuan yang sedang menggandeng Samuel.


Amanda dengan cepat tersenyum kembali, berjalan mendekati Samuel. "Tuan Samuel, ternyata pasangan Anda sudah datang?" Ia tersenyum dengan dibuat-buat.


Samuel menatap Ella, tersenyum penuh cinta untuknya. "Ya, kenalkan Ella. Dia adalah wanitaku satu-satunya," ia mengetatkan pelukannya di pinggang Ella menempelkan tubuh mereka berdua.


Amanda menahan emosinya, ia tak akan mundur sebelum berperang.


"Halo, aku Amanda. Senang bertemu kamu," Amanda mengulurkan tangannya pada Ella.


Ella adalah wanita berpengalaman, dirinya sudah bisa merasakan Amanda menyukai kekasihnya. Ia tersenyum, lalu menyambut uluran tangan Amanda.


"Hai, saya Ella. Senang berkenalan dengan adik Tuan Lazarus yang terkenal karena kecantikannya. Saya sungguh merasa bangga bisa bertemu Anda Nona. Apalagi kekasih saya pernah bercerita tentang Anda," Ella tak ingin memperlihatkan dirinya tak suka.


"Benarkah? Tuan Samuel bercerita apa tentang saya? Apakah tentang pertemuan pertama kami? Anda tau, kekasih Anda sangat pandai menjaga wanita," Amanda sengaja memanasi Ella.


Ella menatap wajah Samuel yang sedikit kesal, ia tau kekasihnya tak suka pada Amanda sedikitpun.


"Ah, ya. Anda benar Nona Amanda. Bahkan kekasih saya ini sering menjaga teman-teman wanita saya jika mereka sedang dalam kesulitan. Kekasih saya akan menolong siapapun, dia terlalu baik hati," skak Ella.


Amanda kesal tak bisa membuat Ella marah pada Samuel. Ia akhirnya memutuskan untuk mundur dulu. "Baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senang di pesta ini," ucapnya lalu berjalan menjauh.


"Baby, kau tidak berpikir macam-macam kan. Aku bersumpah tidak ada yang terjadi diantara kami," ucap Samuel menatap mata Ella, takut Ella salah paham padanya.


"Kau sudah tau apa akibatnya bermain api dengan wanita lain. Jadi aku percaya padamu," Ella mengangkat bahu.


Samuel tersenyum, ini baru wanitanya. Ia lalu membawa Ella ke lantai dansa, bergabung dengan pasangan lainnya.


Angela sedang menyuapi Sean di meja, ia dikagetkan suara Lazarus yang mendekati mejanya.

__ADS_1


"Sean," ucapnya seraya duduk begitu saja di samping Angela tanpa ijin.


Angela menginjak kaki Lazarus saat tangannya di bawah meja diusap Lazarus.


"Aww... "


Mata Sean berkedip, "Apa Daddy digigit semut? "


Angela mengulum bibirnya menahan tawanya.


Lazarus melepaskan kenakalan tangannya dibawah meja pada Angela, ia menumpuk kedua kakinya duduk dengan santai. "Kamu benar nak, barusan ada semut nakal menggigit Daddy," ia berusaha menahan tawanya.


Angela tak terima dipanggil semut nakal, ia berbisik membuat suaranya hanya bisa didengar Lazarus. "Kau belum merasakannya, bagaimana semut nakal ini nanti akan menggigitmu dengan ganas," godanya.


Lazarus tak tahan lagi menahan tawanya, ia terbahak membuat beberapa orang yang berada di dekatnya berbalik menatapnya. "Maaf, barusan putraku bertanya tentang hal lucu. Lanjutkan pestanya," ia menjelaskan pada beberapa tamu.


Saat itulah muncul Istri ketiga Ayahnya, ia mengenakan gaun anggun dengan wajahnya yang sangat awet muda.


Sheril berjalan dengan anggun, menyapa beberapa tamu yang dilewatinya. Ia berjalan ke arah suaminya Abraham, tersenyum penuh ketulusan.


"Sayang, aku sudah bilang akan menemanimu ke Pesta. Kenapa kamu meninggalkanku?" raut wajahnya sedih.


Abraham menarik tangan Sheril ke pangkuan kakinya yang lumpuh terkena struk. Ia mengusap lembut punggung tangan istri ketiganya. "Kata pelayanmu, kau sedang sakit. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu." Ucap Abraham penuh cinta.


Kelakuan mereka berdua ditatap tajam oleh Marry yang berdiri di belakang kursi roda, sudah lama dirinya dihadapkan situasi seperti sekarang, tapi tetap saja dirinya tau kasih sayang dan cinta suaminya hanya untuk Sheril. Jika dulu dirinya tak membunuh janin di perut Sheril dan memberinya obat terus menerus agar tak bisa hamil kembali, sudah bisa dibayangkan nasib dirinya dan kedua anaknya akan tersingkir.


Sheril menatap benci pada Marry, tapi ia segera menutupinya, tersenyum penuh hormat pada Marry.


"Kakak," sapa Sheril pada Marry.


Marry balas tersenyum, "Aku kira kamu akan berada di kamarmu, kudengar dari pelayanmu kamu sakit dan tak bisa menghadiri pesta Anakku."


Aku sengaja menyuruh pelayan memasukkan obat pencahar, agar kau tak hadir di Pesta Putriku! Tapi bisa-bisanya kau datang! Rutuk Marry.


"Terimakasih perhatian Kakak, aku sudah minum obat dan sekarang baik-baik saja," jawab Sheril.

__ADS_1


Kau wanita keji Marry! Aku tau sakitku adalah ulahmu! Kau akan segera mendapatkan hukumanmu! Ucap Sheril dalam hati.


Sheril memandang ke arah Albert, perasaan kesalnya terobati mengingat Putra angkatnya selalu berbakti padanya.


__ADS_2