
Lazarus sedang memeriksa laporan dari Albert tentang Samantha, sesekali mengepalkan telapak tangannya. Ia merasa sedih bercampur benci pada dirinya sendiri karena kehilangan Angela dan anaknya lima tahun lalu, membuat Angela menanggung penderitaannya sendirian.
"Apa semua ini benar? Putriku sakit leukemia dan harus segera melalukan operasi? Disini tertulis jika tidak ada donor sumsum tulang, Dokter menyarankan menggunakan ari-ari bayi untuk pengobatan?"
"Benar Tuan, saya sendiri yang bertanya langsung pada Dokternya."
"Kau cari tau apa penyebab penyakitnya?"
Albert menarik nafas, takut Tuan-nya semakin menyalahkan dirinya sendiri, ia bungkam.
Lazarus menatap tajam wajah Albert, ia tau ada sesuatu yang disembunyikan. "Albert... "
Albert menyerah. "Menurut Dokter, saat Nona Samantha dilahirkan, Nona terkena infeksi dan virus dari peralatan atau tempat Nona dilahirkan. Dengan kata lain kondisinya saat itu kurang steril Tuan."
Lazarus melempar barang diatas meja, "Vincent, Marry! Kalian berdua sudah benar-benar menguji semua kesabaranku! Aku tak akan mengampuni kalian berdua!" raungnya marah.
"Bagaimana dengan hal lainnya? Apa ada yang mencurigakan?"
"Ada Tuan, seseorang mengawasi ruangan Putri Anda. Saya sudah meringkusnya dan mengamankannya. Juga ada salah satu perawat yang selalu merawat Putri Anda tapi sepertinya dia bukan orang jahat, saya memintanya untuk tidak memberitahukan siapapun juga termasuk Nyonya Angela. Saya juga sudah memindahkan Putri Anda ke Rumah Sakit Tuan Theo, di kamar khusus Anda jika sedang dirawat disana."
Lazarus tak ingin berlama lagi, segera beranjak dari duduknya. "Ayo pergi kesana!"
Tok! Tok! Tok! Baru saja ucapannya keluar, pintu ruangan diketuk.
"Masuk!"
Penjaga membuka pintunya dari luar, terlihat Angela masuk dengan wajahnya yang seperti sedang menahan amarah.
Lazarus menautkan kedua alisnya melihat raut wajah Angela. "Albert keluar sebentar!"
Albert segera undur diri.
"Ada apa Kristine?" Lazarus melewati mejanya mendekati Angela.
__ADS_1
Angela berusaha mengontrol emosinya, ingin sekali mencaci maki lelaki di hadapannya itu tapi ia menahannya. "Hanya ingin meminta ijin Anda untuk keluar membawa Tuan Muda Sean. Saya berjanji akan membelikannya krayon baru, dia sangat suka menggambar."
"Hm, hanya itu?" Lazarus tak percaya, jika hanya itu saja kenapa wajahnya terkesan marah, apa mungkin Angela tau dirinya membawa anak mereka? Tidak mungkin! Jika benar, Angela akan langsung mengamuk bukan?
"Ya Tuan," jawab Angela datar.
"Baiklah, tapi besok luangkan waktu untuk menemani Sean ke Pesta. Aku akan siapkan gaunnya, kau tidak perlu memikirkannya."
Oh tidak! Besok adalah kesempatanku mengambil dokumennya, saat semua orang memperhatikan acara Pesta. Bagaimana ini? Cemas Angela.
"Ada apa?" Tanya Lazarus.
"Tidak Tuan, baiklah sesuai perintah Anda. Kalau begitu saya pergi sekarang, Tuan muda sudah menunggu saya," pamit Angela lalu segera pergi dari sana.
Lazarus mengetuk-ngetukan jarinya, berpikir keras merasakan sesuatu yang janggal dari sikap Angela. "Apa itu Angela? Dokumen apa sebenarnya yang semalam kamu bicarakan di telepon? Apa itu seperti yang aku pikirkan? Vincent?"
Setelah Angela pergi, Albert masuk kembali. Melihat Tuan-nya sedang berpikir keras, ia hanya diam menunggu.
"Albert!"
"Dokumen tentang Vincent kau taruh di brangkas kan?"
"Ya Tuan, ada apa?"
Lazarus menggeleng. "Tidak! Kau tunggulah aku dimobil, aku akan menyusul."
Setelah ditinggal sendiri, Lazarus segera memeriksa brangkasnya. Membuka serangkaian kode, lalu mengambil sebuah dokumen dari dalam.
"Inikah yang kau incar Angela? Baiklah, aku akan membantumu. Entah kenapa kau melakukannya, tapi ini hanya sebuah dokumen, jika dengan ini aku bisa mendapatkanmu kembali maka akan aku berikan." Lazarus memasukkan kembali dokumen ke dalam brangkas, lalu memasukan kode kunci dengan kode yang mudah, tanggal ulang tahun Angela.
Lazarus merasa rela kehilangan apapun, asal Angela dan anaknya kembali padanya. Ia tersenyum, lalu segera pergi keluar untuk menemui Putrinya.
Untuk pertama kalinya ia akan bertemu anaknya, di dalam mobil Lazarus merasa gugup sekaligus senang.
__ADS_1
"Anda sangat bahagia Tuan?" Ucap Albert seraya fokus mengemudi.
"Menurutmu? Aku bukan hanya bahagia tapi merasa darahku membeku, aku akhirnya akan bertemu anakku Albert!"
Albert merasa ikut senang, tapi dirinya juga mempunyai dosa besar pada Tuan-nya. Tatapannya seketika redup, ia merasa dirinya orang yang paling tidak bisa dimaafkan oleh Tuan-nya. Ia sendiri tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Mobil sampai di Rumah Sakit, dengan langkah cepat Lazarus diikuti para pengawalnya di belakang memasuki lift.
Lift terhenti di lantai anaknya berada, keluar dari dalam lift Lazarus tiba-tiba diam di depan pintu lift yang perlahan tertutup.
"Ada apa Tuan?" Tanya Albert merasa heran.
Lazarus menarik nafas dalam, mengeluarkannya dengan perlahan. "Hanya sedikit gugup, ini yang selalu aku rasakan saat bersama Angela."
"Ayo!" Lazarus melanjutkan langkahnya.
Tanpa mengetuk, Albert membuka pintu ruangan tempat Samantha berada.
Pintu perlahan terbuka, Lazarus diam memandang tubuh Putrinya yang sedang bersender duduk di ranjangnya, wajah mungilnya tertunduk, kedua lututnya terangkat seperti sedang menahan sebuah buku gambar. Tangan kanan mungilnya sibuk bergerak dan bibir mungilnya sedang tersenyum.
Lazarus melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, ia dengan perlahan mendekati ranjang. "Samantha, Putriku."
Samantha mengangkat wajah mungilnya, menatap lama pria yang memanggilnya Putri. "Paman siapa?"
Butir air mata lolos dari kedua mata Lazarus, menatap wajah Putrinya yang terlihat pucat. Merasa sakit di hatinya saat melihatnya, merasa sudah gagal menjadi seorang Ayah.
Putriku, berilah aku kesempatan menebus semuanya. Aku akan mengorbankan apapun demi Ibumu dan kamu.
"Aku Ayahmu sayang."
Samantha masih belum bereaksi, ia hanya menatap tak mengerti. "Ayahku?"
"Daddy-mu, seseorang yang sangat mencintai Ibumu dan kamu sayang. Selalu Menyayangi kalian berdua."
__ADS_1
Akhirnya Samantha mengerti, Ayah yang tidak pernah Mamanya ceritakan padanya. Seorang Ayah yang jika dirinya bertanya, Mamanya tidak pernah mau membicarakannya.