
Lazarus membuka pintu kerjanya, kepalanya berdenyut sakit. Dengan langkah cepat ia berjalan ke meja kerja tangannya menarik laci kedua, membuka tutup botol obat mengambil dua pil lalu menelannya. "Argghhh!" satu tangannya mencengkram meja, satu tangannya memegang kepalanya. "Albert!"
Albert masuk ke dalam ruangan, terkejut melihat wajah Tuannya yang kesakitan. "Tuan!"
"Masuklah! Tutup pintunya."
Albert segera menutup pintu, berlari kecil menghampiri Tuannya. "Anda ingin saya memanggil Dokter Theo? Atau mau saya antar ke rumah sakitnya?" cemasnya.
Lazarus mendudukkan tubuhnya di kursi, rasa sakit kepalanya sedikit lebih baik setelah meminum obatnya. "Tidak! Jangan membuat kehebohan yang tidak perlu. Aku baru saja meminum obat, sebentar lagi rasa sakitnya akan segera hilang."
Albert merasa kasihan kepada Tuannya, tempo hari ia mendengar teriakan Nyonya nya kalau Tuannya tidak perduli padanya, bahkan disaat dia keguguran. Padahal semua itu tidak benar, dirinya yang selalu mendampingi Tuannya kemanapun tau jelas kalau Nyonya Angela orang adalah orang paling penting dalam hidup Tuannya.
Albert masih ingat setahun lalu saat Nyonya nya mengalami keguguran, Ia dan Tuannya sedang berada di Makau memeriksa proyek pekerjaan disana. Untuk kesekian kalinya seseorang menyerang Tuannya, menembakkan peluru ke kepalanya. Insiden itu mengakibatkan Tuannya koma diantara hidup dan mati selama hampir tiga minggu, saat tersadar semua kejadian yang menimpa istrinya membuatnya semakin menderita.
Albert memberanikan diri bicara. "Tuan, tidakkah sebaiknya Anda jujur kepada Nyonya? Menjelaskan kejadian yang menimpa Anda di Makau membuat Anda tidak bisa disini menemaninya saat keguguran."
Lazarus menghela nafasnya berat, rasa sakit kepalanya akibat peluru yang masih bersarang di kepalanya berangsur hilang. "Tidak perlu, aku tidak ingin menambah bebannya. Sudah cukup dia menderita kehilangan anak dalam kandungannya, padahal aku yang memaksanya untuk hamil tapi aku gagal melindungi mereka berdua. Itu memang kesalahanku tidak bisa menjaga istri dan anakku, biarkan aku yang menanggung semuanya."
__ADS_1
"Aku memang pantas dibenci olehnya... aku kira menikahinya akan membuat dia aman dari Ayahku tapi ternyata aku lah yang membuatnya berada dalam bahaya."
"Biarkan semua berjalan seperti sekarang, sebelum aku memusnahkan semua musuh-musushku, aku tak akan mendekati Angela. Biarkan semua orang tau kami berpisah, maka istriku tidak akan menjadi target siapapun lagi."
Lazarus mengangkat wajahnya menatap Albert, melihatnya membawa sebuah map di tangannya. "Apa itu? Bagaimana dengan pria di foto yang bersama istriku, kau sudah mengetahuinya?"
Albert maju memberikan map di tangannya. "Ini laporan mengenai hidup pria itu dari dia kecil sampai sekarang, tapi mengenai keberadaannya sekarang masih belum ditemukan."
Lazarus membuka map, mengeluarkan beberapa lembar foto, mengenalinya saat sekarang pikirannya sedang jernih. "Aku tau dia, anak diluar nikah keluarga Montana, diacuhkan dan dikucilkan oleh semua anggota dari pihak Ayahnya. Tapi aku dengar dia diberi saham dan warisan oleh Ayahnya yang sudah meninggal. Hm, bagaimana menurutmu Albert? Bukankah dia bisa menjadi rekanku jika aku sedikit membantunya?"
Albert sedikit berpikir. "Mungkin Tuan," jawabnya.
"Baik Tuan."
"Bagaimana dengan si mata-mata? Kau bisa memaksanya membuka mulut siapa kawanannya disini? Apakah dia juga yang memberi obat pada Angela sampai keguguran?"
"Bukan dia Tuan, saya sudah menyiksanya tapi dia bilang tidak tau apa-apa. Tugasnya hanya menyampaikan situasi disini kepada Majikannya."
__ADS_1
"Hm, kita baru mendapatkan dua orang mata-mata selama ini. Mereka benar-benar hati-hati."
"Bagaimana rumah untuk Angela? Sepertinya dia akan segera pindah."
"Semuanya beres Tuan. Anda tidak perlu khawatir, para pengawal sudah dalam posisi mereka tanpa diketahui Nyonya."
"Bagaimana dengan informasi mengenai wanita yang akan menikah denganku?"
"Saya masih menggali lebih dalam Tuan, tapi sementara informasi yang saya dapatkan dia adalah wanita yang sangat sopan dan berkelas."
"Hm... Kau gali lagi lebih dalam mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan kartu-AS ku."
"Baik, masih ada lagi Tuan?"
"Tidak! Kau boleh pergi"
Albert memberi hormat lalu undur diri.
__ADS_1
"Angela... bersabarlah, suatu hari aku akan membalas mereka yang membuatmu menderita sekalipun itu adalah Ayahku," janjinya.