
Angela keluar dari dapur mencari Kepala Pengurus, ia melihatnya sedang bersama Sean. "Permisi Tuan."
Kepala Pengurus menatapnya, mengenalinya. " Ah kau, bukankah pelayan yang semalam. Ada apa Kristine?"
Sean sedang duduk bermain seketika mendongak mengangkat wajahnya dari mobil mainannya mendengar nama Kristine. " Halo Bibi, Aku boleh memanggilmu bibi kan seperti Samantha?"
Angela mengangguk, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sean. "Tentu saja, kalau membuat Tuan Muda senang. Anda sedang bermain sendiri? Dimana Nana?"
"Dia aku pindahkan ke bagian cuci, Tuan Sean tidak mengingikannya. Kami sedang mencari pengasuh baru, kamu mau?" ucap Kepala Pengurus.
Kedua mata Sean seketika berbinar. "Bibi jadi pengasuhku ya, mau ya Bi? Bibi juga sudah berjanji semalam akan membawaku bertemu Mommy?"
Angela berpikir lama, jika dirinya menjadi pengasuh Sean ia akan bekerja di dalam kediaman. Lebih dekat lagi selangkah dengan Lazarus untuk menyelidiki semuanya juga mendapatkan barang yang diinginkan orang itu. "Baiklah, tapi hari ini saya ada pekerjaan lain. Bisakah Tuan Muda menunggu saya?"
Sean berteriak senang. "Yeahhh... "
Angela tersenyum lalu berdiri meminta ijin untuk mengantarkan makanan ke Perusahaan.
"Pergilah, tapi kau harus berpakaian rapi. Ikut denganku," ajak Kepala Pengurus.
Kepala Pengurus memberikan satu set pakaian wanita formal. Kemeja putih, pants hitam dipadukan dengan blazer berwarna hitam. Angela membawanya ke kamar, segera mengganti pakaiannya, merias tipis wajahnya tapi lebih terlihat cerah dan fresh dibanding wajah biasanya. Ia mengikat rambut lurusnya kuncir ekor kuda, tanpa sadar memperlihatkan leher jenjang putihnya.
__ADS_1
Menenteng bekal makan siang Lazarus, Angela kini sedang berada di depan Perusahaan. Merapikan blazernya, ia melangkah kakinya masuk ke dalam.
Ia berjalan ke arah resepsionis wanita. "Halo Nona, saya dari kediaman Tuan Lazarus mengantarkan makan siang"
"Tunggu sebentar," jawab sang resepsionis.
Tak menunggu lama, Angela disuruh naik lift ke lantai 36, lantai Presdir.
Pintu lift terbuka, Angela melangkahkan kakinya keluar. Berjalan lurus menuju kantor Lazarus, melewati beberapa ruangan.
Lazarus baru saja keluar dari ruangan rapat, saat mata tajamnya melihat wanita yang dirinya peluk semalam berdiri di depan meja sekertarisnya. Tak kuasa menahan penasarannya, ia mempercepat langkahnya.
"Presdir," Calista sekertarisnya menyapanya.
"Siapa kau?" Lazarus berpura-pura tak mengenalnya.
Angela berbalik badan, tersenyum sopan. "Saya pelayan kediaman Anda Tuan. Saya bertugas membawakan makan siang Anda."
Lazarus menaikkan sebelah alisnya, semalam dirinya kurang memperhatikan suaranya tapi sekarang ia merasa pernah mengenal suaranya. Ia melangkahkan kakinya ke ruangannya. "Albert! Biarkan dia masuk!"
Albert juga sedikit merasa aneh, tatapannya jatuh ke wajah wanita pelayan di depannya. Wajah yang biasa saja tapi anehnya terlihat familiar juga sedikit menarik. "Masuklah!" ucap Albert ikut melangkahkan kakinya mengekor Lazarus masuk.
__ADS_1
Angela menarik nafas, membuangnya dengan cepat. Menyiapkan mentalnya, harus bisa melewatinya. Ia sangat yakin Lazarus tak akan pernah bisa mengenalinya karena Lazarus tak pernah mencintainya, semalam saat bilang mengenal aroma tubuhnya bukankah hanya sebuah kebetulan saja?
Angela memantapkan pijakan kakinya, melangkah masuk dengan percaya diri.
"Albert taruh dokumen di meja, kau keluarlah!"
Albert menurutinya, menyimpan dokumen di tangannya ke meja lalu berjalan keluar meninggalkan Tuannya.
"Kau sudah boleh menyiapkan makanannya, pergilah ke meja makan disana," Lazarus menunjuk ke arah meja khusus untuk dirinya makan.
Angela berjalan ke arah meja, mulai membuka bekal makan siang Lazarus. Satu persatu wadah makanan dia keluarkan, tanpa sadar Lazarus mendekatinya dari belakang.
Langkah Lazarus terhenti satu langkah di belakang wanita di depannya yang sedang menunduk sibuk menyiapkan makanannya.
Tadi pagi dirinya sudah memeriksa data kepegawaian, menelepon beberapa kenalannya untuk mencari informasi wanita bernama Kristine. Ada beberapa kejanggalan, wanita berdata Kristine telah meninggalkan negaranya tiga tahun lalu, belum ada pemberitahuan sudah memasuki negaranya kembali.
Tatapan Lazarus menyorot tubuh wanita yang mengaku bernama Kristine itu. Memperhatikan tubuhnya dari bawah sampai atas, tatapannya terhenti di leher belakang putih mulusnya, terdapat tanda hitam seperti sebuah titik di bagian kirinya, mirip seperti kepunyaan Angela.
Degh! Jantung Lazarus seketika memacu darahnya cepat. Berdetak penuh semangat, dengan berbekal kecurigaan dirinya hanya butuh memastikan.
Angela!
__ADS_1
Lazarus bersemangat maju ingin memeluknya, tapi seketika mengingat kejadian semalam saat dirinya didorong. Angela masih membencinya, ia harus berhati-hati memperlakukannya. Dirinya harus meraih keyakinannya lebih dahulu, baru kemudian membongkar penyamarannya.