
Lazarus mengendap-ngendap saat masuk ke dalam ruang tidur Angela. Ia tadinya ingin menyerbu masuk dan mengintrogasinya karena tak merespons panggilan atau pesan dari dirinya sejak dari siang. Tapi ia berpikir ulang, sekarang dirinya harus bersabar dan mulai terbuka sepenuhnya pada Angela untuk meraih kepercayaan dan hatinya.
Lazarus semakin masuk ke dalam, melihat sebuah bayangan di balkon. Ia terus mendekati Angela dengan mengendap, saat dirinya sudah mendekat terdengar suara bisikan Angela seperti sedang menelepon seseorang. Ia seketika menghentikan langkahnya, mematung di tempatnya.
Angela menghela nafas. "Terimakasih suster, kamu orang baik. Bagaimana makan Samantha? Apa dia menanyakan aku terus? Dimana orang yang selalu mengamatinya?"
Angela mendengarkan sesekali, lalu melanjutkan bicaranya di telepon. "Begitu, aku disini sedang berusaha agar segera hamil, tentu saja hanya ini yang bisa aku lakukan demi anakku. Dokter sudah bilang jika aku tak bisa mendapatkan sumsum tulang Ayahnya, aku harus melahirkan bayi dari Ayah kandungnya. Aku dalam kondisi yang tidak bisa meminta sumsum tulang, jadi jalan satu-satunya hanya melalui ari-ari bayi."
"Ya, terimakasih Sus. Aku tak bisa membalas kebaikanmu. Sekali lagi aku hanya bisa merepotkanmu, tolong jaga anakku." Angela mengakhiri perkataannya, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Angela memeluk tubuhnya sendiri, menatap sedih pemandangan gelap diluar sana. "Aku bisa, aku bisa... jangan menangis Angela."
Lazarus mendengar dengan jelas semua perkataan Angela, ia membalikan badan lalu pergi dari sana masih dengan berjalan mengendap keluar dari kamarnya.
Dengan langkah besar Lazarus masuk ke ruangannya, memanggil Albert.
"Ada apa Tuan? Aku kira Anda akan dikamar Nyonya Angela." Tanya Albert penasaran.
"Segera temukan seorang anak perempuan bernama Samantha. Berusia lima tahun dan menderita penyakit yang harus mendapatkan donor sumsum tulang. Cari tau dimana Rumah Sakitnya dan cari tau apa penyakitnya. Periksa seluruh Rumah Sakit sampai tempat terpencil! Besok pagi aku harus sudah mendapatkan laporannya!" Ucap Lazarus serius.
__ADS_1
Albert seketika mengerti, Tuannya sudah mendapatkan informasi tentang anaknya. Tak ingin bertanya banyak, ia mengiyakan dan segera melaksanakan tugasnya.
Lazarus ingin mendinginkan kepalanya, ia berjalan ke kamar mandi menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah selesai ia mengeringkan tubuh basahnya, mengambil jubah tidur lalu berjalan keluar menuju ruangan Angela.
Kali ini Lazarus mengetuk pintu, menunggu beberapa saat sebelum pintu ruangan akhirnya terbuka.
Lazarus melihat Angela sudah memakai baju tidurnya, sebuah gaun tidur sopan dibawah lutut berwarna putih dengan rambut lurusnya yang terurai. Wajahnya bisa dibilang tidak cantik tapi juga tidak jelek, meskipun wajah yang berbeda tapi sorot mata Angela masih sama. Ia segera menampilkan senyumannya. "Kau sudah mau tidur?," ucap Lazarus seraya menyelinap masuk memaksa Angela membuka jalan.
Mau tak mau Angela menyingkirkan tubuhnya ke samping, memberikan jalan pada Lazarus. "Sudah malam begini, ada urusan apa Tuan?"
"Tutup pintunya dulu Kristine, aku ingin bicara," masih sambil berjalan mendekati ranjang, Lazarus berbicara sopan membuat Angela mengernyitkan kedua alisnya.
Dengan hati yang tak rela, ia akhirnya meredam ego-nya. Segera berwajah ceria, tersenyum menggoda. "Ah... apakah Anda membutuhkan sesuatu dari saya?" Angela mendekati Lazarus, sebelah tangannya mengelus tubuh depan Lazarus.
Lazarus menatap Angela yang menggodanya, merasa kasihan dengan sandiwaranya yang harus merayunya agar bisa cepat mengandung. Tapi ia harus bertahan, menghargai keputusan angela menyembunyikan semuanya. Dirinya yakin Angela akan segera terbuka padanya dan bisa mengandalkan dirinya. "Tentu saja, apalagi yang aku butuhkan selain kehangatanmu. Ayo... hangatkan aku," bisiknya di telinga Angela.
Angela segera berjinjit, mencium bibir dingin Lazarus. Sepertinya Lazarus baru saja mandi dan bercukur, tercium dari aroma wanginya. Ia menggesekkan tubuhnya ke tubuh Lazarus, melingkarkan kedua tangannya di lehernya. Ciumannya berpindah ke dagunya lalu turun ke lehernya, membuat Lazarus mendesah.
Lazarus hanya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Angela, ingin menikmati permainan wanitanya. Saat dirinya sudah tak tahan, ia mendorong pelan tubuh Angela ke ranjang menindihnya lalu dengan cepat menanggalkan semua pakaian mereka berdua.
__ADS_1
"Bersiaplah, aku akan memasukimu," bisik Lazarus seraya memasukkan miliknya yang sudah membekak besar. "Ah~~~ " merasa puas saat miliknya sudah bersarang di dalam milik Angela.
Lazarus sangat menikmati permainan mereka berdua, ia terus menggempur tubuh Angela tanpa ampun. Membuat Angela beberapa kali menjerit penuh kepuasan, baru dirinya meraih kepuasannya sendiri.
Setelah selesai, Lazarus memeluk tubuh Angela yang lemas, sepertinya kelelahan. Tak lama terdengar suara nafas teraturnya, sepertinya Angela sudah terlelap tidur.
"Selamat tidur Angela cintaku. Aku disini bersamamu, kamu jangan lagi memendam semuanya sendiri. Aku menunggumu mempercayaiku... Aku selalu mencintaimu," ucapnya lembut pada Angela, menarik tubuh Angela kedalam pelukannya kemudian mengikutinya menuju alam mimpi.
Selang tak berapa lama, kedua mata Angela terbuka saat ia sudah yakin mendengar nafas teraturnya Lazarus, dirinya tadi hanya berpura-pura tertidur. Sekarang jantungnya berdetak kencang, merasa telinganya tak salah mendengar. Lazarus memanggilnya Angela, Lazarus ternyata mengenalinya! Kenapa dia berpura-pura? Lalu kenapa dia juga bilang selalu mencintaiku?!
Angela merasa gelisah, malam semakin larut tapi dirinya tak bisa tertidur. Merasa kepalanya akan pecah, ia bangkit dari ranjang dengan perlahan melepaskan pelukan Lazarus. Ia turun dari ranjang, dengan berjalan pelan ke arah lemarinya. Ia mengambil ponsel rahasianya, memeriksa Lazarus yang masih tertidur, lalu memijit nomer Vincent seraya berjalan ke kamar mandi.
Setelah tersambung Angela berbisik. "Halo, kau yakin Dokumen itu ada di brangkas di ruangannya? Apakah informasinya akurat? Aku harus bisa mengambilnya segera, tak ingin lama lagi tinggal disini, " kemudian Angela mematikan sambungannya.
"Aku harus cepat mendapatkan dokumennya dan segera mengandung. Perasaanku semakin dibingungkan dan terjerat dengan perkataan Lazarus. Aku harus lebih meyakinkan diriku sendiri jika semua semua perkataan Lazarus tak akan mempengaruhi kebencianku padanya. Aku tak ingin tertipu," Angela menetapkan pikirannya.
Lazarus terbangun saat Angela melepaskan pelukan dirinya dari tubuhnya. Berpura-pura masih tertidur saat Angela mengendap-ngendap, melihat Angela pergi ke arah kamar mandi. Ia langsung mengikutinya, mendengarkan semua pembicaraannya di telepon. Merasa cukup informasi yang ia dengar, dengan cepat ia menuju ranjang dan berpura-pura tertidur kembali.
Angela berjalan ke lemari, menyimpan telepon rahasianya dengan aman. Menatap Lazarus yang masih terbaring dengan tenang, ia segera naik kembali ke atas ranjang, mencoba menutup kedua matanya agar tertidur.
__ADS_1