HAREM Sang PENGUASA

HAREM Sang PENGUASA
KEKAYAAN UNTUK EVELYN


__ADS_3

Esok harinya pemakaman Michelle dihadiri oleh puluhan pengantar yang berasal dari keluarga Michelle juga teman-temannya.


David juga datang dengan wajahnya yang sangat kusut. Saat dia tahu tentang kematian Michelle, ingin rasanya dia ikut menyusul mati dengannya. Tapi mengingat lagi tentang putrinya Evelyn, dia hanya bisa menerima dengan ikhlas kepergian Michelle.


David memberanikan diri datang ke Harem dengan menuntun tangan mungil Evelyn yang berusia hampir 7 tahun. Wajah Evelyn perpaduan antara David dan Michelle, teramat sangat cantik dengan manik mata berwarna gunesh grey. David bergabung dengan para pelayat lain di depan pintu masuk, dia juga memakai pakaian serba hitam seperti yang lainnya.


Lazarus tak sengaja melihat sosok David yang sedang menggandeng seorang anak kecil perempuan. Ia memperhatikan wajah David yang terlihat sangat sedih, gurat kesedihannya sangat terlihat jelas dimatanya.


Lazarus menatap Albert memberi kode dengan matanya, membuat Albert menatap ke arah pandangan Tuannya, seketika dia mengerti.


Albert mendekati Lazarus yang sedang berdiri di samping peti mati.


"Pergilah, bawa dia ke dalam ruanganku. Aku ingin bicara dengannya."


Albert mengangguk, ia berjalan menghampiri David saat David sudah akan mendekat ke peti mati.


"Maaf Tuan. Silahkan ikut saya, Tuan Lazarus ingin berbicara dengan Anda."


David terkejut tak menyangka Lazarus akan mengenalinya.


"Baiklah."


David menggandeng putrinya mengikuti langkah Albert yang berada di depan mereka.


Saat sampai di ruangan Lazarus, Albert membuka pintu. "Silahkan masuk."


David sedikit agak ragu, tapi sepertinya memang sudah waktunya bertemu dengan lelaki yang sangat dicintai oleh Michelle.


Dengan langkah pasti David memasuki ruangan Lazarus.


Di dalam, Lazarus sedang duduk menunggunya.


"Duduklah," ucap Lazarus.

__ADS_1


David menurutinya, ia mendudukkan putrinya di sampingnya.


"Dia putri kalian? Siapa namanya?"


David seketika mengerti, Lazarus benar-benar sudah mengenalinya sebagai kekasih Michelle.


"Evelyn, sering dipanggil Eve. Umurnya 7 tahun," jelas David.


Tak disangka oleh David, Lazarus tersenyum. Tak seperti perkataan orang-orang tentangnya yang mengatakan Lazarus sangat angkuh.


"Hai Eve, matamu sangat indah. Apakah kamu bersekolah?" tanya Lazarus.


"Makasih Paman, Eve baru masuk sekolah. Eve senang masuk sekolah, disana Eve punya banyak sekali teman." Evelyn berbicara dengan memperlihatkan senyuman cantiknya.


"Paman juga punya seorang putra, namanya Sean. Dia berumur hampir 6 tahun."


"Apa dia baik Paman? Eve tak suka anak lelaki jahat," jawab Evelyn polos.


"Haha... Kamu sangat pintar."


Evelyn mengangguk.


"Baiklah, Eve tunggu Daddy diluar sebentar ya," David mengusap pucuk kepala anaknya.


"Ya, Daddy. Love you Daddy," ucap Evelyn pada Ayahnya.


"Love you too baby... " David menatap penuh sayang ke arah putrinya yang sedang berjalan pergi.


Evelyn dengan gaun hitam panjang selututnya dan rambut pirangnya yang diikat pita kuning, dia menggandeng tangan Albert keluar.


Lazarus dengan tanpa basa basi lagi berbicara pada David.


"Aku tau semuanya tentang Michelle dan kamu serta anak kalian. Aku sekarang tak bermaksud apapun, dalam pernikahan kami memang tak pernah ada cinta untukku pada Michelle. Aku memang memperalat Michelle dalam pernikahan ini, tapi Michelle pun sama, dia tak pernah jujur padaku tentang masa lalunya."

__ADS_1


Lazarus menjeda ucapannya, ia memperhatikan wajah datar David entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.


"Jujur saja tadinya sebentar lagi aku akan menceraikannya, aku sudah berjanji padanya akan memberikan kekayaan yang cukup untuknya dan mungkin dia bisa memulai hidup baru denganmu dan anak kalian. Jika orang tua Michelle menganggu kehidupan kalian, aku yang akan melindungi kalian. Tapi sekarang keadaannya sudah menjadi begini, tapi karena aku sudah berjanji akan memberikan kekayaanku untuk Michele, maka semua yang seharusnya milik Michelle akan menjadi milikmu."


Barulah David bereaksi, wajahnya terlihat merasa enggan dan bersalah.


"Tuan, saya tidak ingin menerima kekayaan yang seharusnya milik Michelle. Saya mencintainya dengan tulus, meskipun dia selalu menolak cinta saya tapi jika nyawanya harus dibayar dengan kekayaan itu, saya tak sanggup menerimanya," David menolak.


"Kekayaan itu bukan untukmu, tapi untuk putrimu. Orang tua Michelle belum mengetahui tentang kalian berdua, aku takut nyawa kalian berdua dalam bahaya karena keluarga Michelle takkan pernah bisa menerima keturunan diluar nikah apalagi darimu yang bukan dari kalangan atas. Kekayaan ini untukmu menjaga putrimu, seperti misalnya kalian berdua bisa pergi keluar negeri dan menghilangkan jejak. Dengan uang itu kalian tidak akan kekurangan apapun sampai putrimu dewasa."


David memikirkan perkataan Lazarus, ia memang hanya seorang aktor tidak terkenal. Dan jika perkataan Lazarus benar tentang keluarga Michelle yang bahaya, maka pergi keluar negeri memang solusi terbaik saat ini.


Akhirnya David menyetujuinya.


"Baiklah, ikut perkataanmu Tuan."


"Kalau begitu aku akan menghubungimu lagi, tunggu kabar selanjutnya. Senang bertemu denganmu."


Lazarus berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya.


David ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Lazarus.


"Saya yang senang berkenalan dengan Anda. Maafkan saya karena selama ini masih berhubungan dengan Michelle di belakang Anda dan saya ucapkan terimakasih banyak untuk semuanya."


Lazarus tersenyum, dia lalu melepaskan jabatan tangannya dan menepuk pelan bahu David. "Tak usah dipikirkan, aku juga tak pernah menyentuh Michelle selama pernikahan kami. Setidaknya tubuhnya hanya milikmu."


David sedikit terkejut tak menyangka selama ini Michelle tak pernah disentuh oleh Lazarus. Seketika dirinya merasa sedikit bahagia bercampur sedih mengetahui kenyataan itu. "Ya."


"Ayo temui Michelle untuk terakhir kalinya. Dan saat disana jangan dekat-dekat denganku, aku tak ingin orang mencurigaimu."


David mengangguk.


Mereka berdua pun keluar, Lazarus melihat Evelyn sedang mengajak bicara Sean.

__ADS_1


Lazarus merasa penasaran melihat Sean malah bersembunyi di belakang Angela dengan wajahnya yang memerah, apakah putranya merasa malu pada seorang anak perempuan?


Ingin sekali Lazarus tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan putranya, tapi melihat situasinya kurang memungkinkan ia hanya mengulum bibirnya menahan senyum.


__ADS_2